KENANGAN RAMADHAN 7: BLABUR IWAK

Standar

Kami menyebutnya blabur iwak atau banjir ikan. Karena di hari-hari itu, bahkan selama sepekan kemudian, akan terjadi banjir masakan ikan di semua meja makan.

Pada hari itu, bisa dipastikan, semua rumah di kampungku, lauk utamanya adalah ikan. Ada yang disayur santan, dicampur oseng, digoreng, dibakar, dipepes, disate, dan bermacam cara olahan lainnya. Termasuk juga dijemur untuk dijadikan ikan asin atau diasap, agar lebih lama disimpan.

Hanya ketika ada yang butuh dan tidak sempat mendapatkan saja, ikan itu baru kami dijual. Tentu dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pada hari-hari biasa. Banjir ikan di tiap rumah yang kemudian membuat harga ikan di pasar pun jatuh drastis, bahkan sampai tidak laku.

Hari itu memang menjadi hari istimewa. Lauk ikan menjadi terbalik porsinya dengan nasi. Bagi keluargaku yang jarang makan ikan, makan dengan lauk ikan adalah istimewa. Yang biasanya sepiring nasi, lauk ikannya cuma sepotong, hari itu boleh berpotong-potong. Bahkan porsi nasinya lebih sedikit daripada lauknya. Hingga lebih seperti ikan itu menjadi nasi, dan nasi menjadi lauknya.

Hari pertama benar-benar menjadi pesta ikan. Bermacam masakan dengan bahan utama ikan terhidang di meja makan. Bisa karena dimasak oleh ibuku sendiri, bisa juga dari pemberian tetangga atau saudara. Apa yang ibu masak, sebagian dibagikan ke tetangga. Dan, tetangga pun memberikan masakan ikan yang diolahnya dengan cara yang berbeda.

Maka, nikmat pun berlebih di hari itu. Kenikmatan yang akan berlanjut hingga hari ke dua atau ke tiga. Perasaan nikmat akan ikan yang masih bisa kami rasa. Namun mulai hari ke empat atau ke lima, ada perasaan bosan juga dengan tiap hari makan ikan. Apa yang sebelumnya sangat istimewa, berubah menjadi biasa, bahkan menjemukan, karena terlalu banyaknya yang dimakan.

Karena bosan itu, bisa berakibat pada hilangnya nafsu makan ikan. Bahkan aku pernah sampai beberapa bulan tidak doyan makan ikan. Mencium amisnya saja sudah mual ingin muntah. Orang-orang menyebutnya dengan istilah mendem iwak atau mabuk ikan.

Kenangan blabur iwak itu mendadak kukenang, ketika selama Ramadhan ini, kami selalu sahur dan berbuka dengan menu masakan ikan.

Kenangan blabur iwak adalah kenangan ketika Sungai Serayu yang mengalir di kampungku, tengah membagikan ikan-ikannya pada kami. Ketika kami sebagai pemukim di sepanjang pinggiran sungai menjadi akrab dengan berkah tahunan itu.

Bahkan bukan hanya orang tua yang paham akan datangnya penanda, aku pun yang saat itu baru kelas 1 SD sudah bisa menengarai. Pokoknya, setelah terjadi kemarau panjang, saat air sungai Serayu menjadi bening dan dangkal, kemudian datang hujan pertama semalaman, itulah saat datangnya blabur iwak .

Selama semalaman kami tidur tidak tenang karena sambil berharap dan berdoa, semoga esok harinya adalah saat blabur iwak datang. Maka, begitu pagi menjelang, kami beramai-ramai ke pinggiran sungai, untuk mengecek apakah berkah itu sudah datang. Berkah dari panen ikan.

Ketika blabur iwak benar-benar datang, orang yang pertama mengetahui akan segera membunyikan kentongan. Setelah itu, berbondong-bondong penduduk seluruh kampung menyerbu sungai. Pagi buta selepas shubuh seluruh pinggiran sungai pun telah penuh jajaran orang.

Hanya beralatkan alat tangkap sederhana, kami dengan mudah mendapatkan ikan. Ada yang menggunakan ember, baskom, tudung saji, keranjang, pengki, dan lainnya. Hanya dengan itu saja, ikan berember-ember bisa kami dapatkan, tanpa susah-susah dengan menjaring atau memancing. Bahkan, cukup dengan tangan kosong saja, ikan itu bisa dengan mudah kami tangkap.

Bahkan pernah saat Ramadhan, ketika banjir iwak datang, semua jamaah tak melanjutkan dengan kuliah shubuh seperti biasa. Tidak juga diteruskan tadarus pagi. Begitu sholat selesai, semuanya langsung berhamburan ke sungai. Termasuk aku pun ikut-ikutan tidak pulang ke rumah dulu. Sarung yang kami pakai saat itu, bisa langsung dijadikan alat penangkap ikan.

Hari itu memang hari istimewa yang selalu kami tunggu. Hari ketika air sungai Serayu yang sebelumnya bening, dengan adanya hujan lebat semalaman, mengakibatkan banjir. Banjir besar yang membuat air sungai menjadi pekat coklat bercampur lumpur. Banjir itulah yang membuat ikan-ikan di sungai Serayu menjadi mabuk. Ikan-ikan yang kemudian berenang ke pinggir, hingga dengan mudah ditangkap oleh para penduduk.

Peristiwa itu selalu berulang setiap kemarau datang. Saat hujan pertama turun lebat, esoknya dipastikan akan terjadi blabur iwak.

Namun,hal itu sekarang tinggal kenangan. Terakhir blabur iwak terjadi, saat aku kelas 2 STM. Aku yang asyik menangkap iklan dari shubuh sampai jam 9, sampai lupa untuk berangkat sekolah.

Berkah blabur iwak  berhenti, setelah Bendung Gerak Serayu selesai dibangun. Bendungan besar yang diresmikan oleh Presiden Soeharto itulah yang membuat air Sungai Serayu selalu menggenang, hingga tidak mengalir lancar seperti sebelumnya. Genangan yang tak memungkinkan terjadi banjir lagi, ketika hujan pertama datang setelah kemarau panjang.

Sambil sahur dengan lauk ikan, sambil mengenang blabur iwak, aku membayangkan bahwa fenomena banjir ikan pun seperti juga Ramadhan.

Setelah kemarau iman berkepanjangan selama 11 bulan, hujan ampunan akan membanjir saat Ramadhan, hingga pahala pun lebih mudah ditangkap.

oleh Nassirun Purwokartun (Catatan) pada 26 Juli 2012 pukul 6:10

KENANGAN RAMADHAN 5: MALU HATI PADA MBAH HAJI

Standar

Mendengar banyaknya komentar miring tentang “ustadz selebritis”, yang konon bertarif tinggi saat mengisi kajian Ramadhan di tivi, membuatku terkenang pada Mbah Haji.

Waktu itu, mushola belum ada. Orang yang sholat pun masih jarang. Sampai kemudian seorang haji dari desa tetangga datang ke kampung kami. Berkeliling tiap rumah, mengajak orang-orang tua, kakek-kakek dan nenek-nenek, untuk mengaji. Mengajari mereka bacaan dan gerakan sholat.

Salah satunya yang diajak adalah nenekku.

Karena tiap pekan didatangi, tiap datang diajari, nenek pun jadi bisa sholat. Padahal umurnya sudah lebih dari 60 tahun, dan buta huruf juga. Jadi, nenek adalah generasi awal yang sholat, bersama kakek-kakek dan nenek-nenek yang lain.

Dari mengajar ngaji keliling rumah itu, lama kelamaan mulai banyak kakek-nenek yang sholat. Sholat sendiri-sendiri, di rumahnya masing-masing. Penandanya adalah adzan dari kampung seberang, dari masjid besar Mbah Haji.

Karena rumah kami berlantai tanah, nenek sholatnya di amben kayu. Dengan menggelar tikar pandan sebagai sajadahnya. Aku ingat, amben itu juga yang ketika nenek meninggal digunakan untuk memandikan.

Lama kelamaan, banyak orang muda yang ikut belajar sholat. Terutama yang pekerjaannya adalah pegawai negeri, golongan terpandang di kampung kami. Mereka tidak diajari satu persatu di rumahnya, namun berombongan di rumah salah seorang dari mereka. Kemudian, dari kumpulan merekalah tercetus untuk memulai sholat berjamaah. Dengan memanfaatkan rumah kosong sebagai musholanya.

Lama aku memendam tanya, mengapa dulu Mbah Haji memilih orang-orang tua sebagai sasaran awal dakwahnya? Mengapa hanya para kakek-nenek saja yang diajaknya sholat? Mengapa bukan orang yang lebih muda dulu, seperti kedua orang tuaku, misalnya.

Ada jawaban dari ibu yang pernah kudapat. Konon, karena saat itu, kakek-nenek adalah para penghuni rumah. Mereka yang selalu berada di rumah sejak pagi hingga sore. Sementara orang yang lebih muda, sepantaran orang tua kami waktu itu, siang hari tak pernah di rumah. Sejak pagi ayah dan ibu sudah berangkat ke sawah. Siangnya, ayah mencari rumput untuk pakan sapi ke hutan. Ibu berkebun ke ladang. Jadi, Mbah Haji hanya menemui para orang tua saja, yang bisa diajarinya sholat.

Namun ada pendapat lain. Katanya memang ia sengaja mencari yang tua, sebab dalam pandangan umum, merekalah yang sudah memikirkan jalan pulang. Lebih mencari ketenangan jiwa, daripada sibuk mengejar kebutuhan dunia. Jadi, lebih mudah ketika diajak sholat. Meluangkan waktu untuk belajar dan menyempatkan waktunya untuk menjalankan sholat 5 waktu.

Sementara yang muda, yang masih harus bekerja keras, apalagi sebagai petani penggarap yang tak punya sawah seperti orang tuaku, selalu beralasan kehabisan waktu. Sudah kerja keras banting tulang pun, kebutuhan harian masih tidak mencukupi.

Dua puluhan tahun kemudian, saat melihat mushola telah ramai dengan anak yang mengaji, remaja yang giat berdakwah, orang tua yang mendukung kegiatan kami, aku terkenang pada sosok haji itu. Kalau tak ada “kerja dakwah”nya, mungkin tak ada orang yang sholat di kampung kami. Dan, mushola pun mustahil berdiri.

Namun, yang kemudian selalu terkenang di hati, adalah ketekunannya datang berkeliling dari rumah ke rumah. Mengakrabi satu per satu orang yang ditemui di rumah yang didatangi, sebelum mengajaknya sholat. Telaten datang tiap hari, berganti-ganti orang yang berbeda-beda taraf kecerdasan dan emosinya.

Seorang pendakwah yang mengingatkanku pada para ustadz generasi kami. Harus ada jamaah yang banyak dulu, baru mau datang mengajari. Harus diundang dulu, baru mau mengisi. Itu pun hanya sekadar memberi kajian dari mimbar. Bukan yang telaten mengajari satu per satu, dengan pendekatan personal sekali. Mengajak mendekat Illahi dengan sentuhan hati.

Maka kini, setiap melihat “ustadz selebritis”, aku selalu terkenang sosok Mbah Haji. Bukan untuk membandingkan “kerja dakwah” mereka lagi. Tapi sekedar menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Berkaca pada ketekunannya yang membuatku malu hati.

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Juli 2012 pukul 9:42

KENANGAN RAMADHAN 4: MUSHOLA YANG HILANG

Standar

Selain rumah orang tua, tempat yang selalu menawarkan kedamaian dan kenangan saat aku pulang kampung adalah mushola.

Bangunan itu pertama kali berdiri, seingatku, waktu aku SD kelas 1. Sebelumnya warga kampung menumpang di sebuah rumah tua untuk melaksanakan sholat maghrib, dilanjutkan mengaji, dan sholat isya. Waktu itu bangunannya masih kecil dan sangat sederhana. Dinding sudah ditembok, tapi lantai masih kasar, hingga yang sholat harus menggelar tikar.

Aku jarang ikut ke mushola untuk sholat maghrib dan mengaji. Namun, karena waktu siang bangunan itu juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, aku pun sering berada di sana. Bermacam permainan anak-anak kami gelar dengan riang gembira, seperti di poskamling saja.

Aku masih sangat ingat bentuk bangunannya. Atapnya yang susun dua, dengan lapis bawah dari genting dan lapis atas dari ijuk dengan pinggiran seng. Dua bingkai jendela kayu tanpa daun di kiri dan kanan, serta pintu bentuk kupu tarung yang hanya ada satu berada di tengah. Sebuah mushola yang sering mengingatkanku pada bangunan cungkup kuburan.

Dengan iuran warga, bangunan mulai diperbaiki. Lantai diplester semen, jendela yang hanya bingkai diganti, pintu pun diubah model engsel. Namun jendela tetap tanpa daun, hanya dipasang jeruji kayu bulat-bulat berjajar di tengahnya, membuatku terbayang pada pintu penjara.

Sampai masuk SMP, aku masih sering di mushola. Tentu untuk bermain umbul wayang di siang hari, dan bukannya mengaji turutan pada sore harinya. Atau permainan dam-daman (catur Jawa) dengan bidak pecahan genting dan bermain karet atau kelereng yang sangat menyenangkan.

Aku baru benar-benar menjadi penghuni mushola sesungguhnya saat STM kelas 1. Ketika ada “panggilan” yang entah datang dari mana, mendorongku untuk belajar iqro. Waktu aku menjadi tontonan anak kecil yang mungkin keheranan, ada remaja yang masih belajar iqro jilid 1.

Mushola saat itu sudah dalam perbaikan kembali. Eternit pada langit-langit sudah dipasang, hingga tokek yang ada di atap tidak bisa buang kotoran seenaknya ke lantai. Pintu yang di tengah ditutup dan dibuat pintu baru di kanan dan kiri, sebagai pintu putra dan putri. Lantai plester semen pun diganti tegel sumbangan orang. Hanya jendela “penjara” saja yang masih asli seperti sebelumnya.

Ada yang beda saat aku mulai aktiv di mushola. Siang hari sudah tidak menjadi “taman bermain” anak-anak lagi. Mungkin ini pengaruh tontonan di tivi yang lebih menarik. Namun sore harinya tetap ramai untuk anak-anak yang belajar iqro’. Metode pembelajaran baca qur’an yang baru “in” saat itu, menggantikan metode turutan yang kami kenal waktu kecil dulu.

Setiap maghrib sampai isya, mushola selalu ramai. Ada remaja yang mengajar anak-anak, juga ibu-ibu yang mengaji bersama. Sementara bapak-bapak mengadakan pengajiannya selepas isya. Suasana yang hangat akrab penuh kedamaian, yang selalu aku rindukan.

Sebab sekarang, setiap aku pulang kampung, suasana itu sudah tak kutemukan lagi. Tak ada anak-anak ataupun ibu-ibu yang ramai mengaji dengan para remaja yang mengajari. Alasannya, karena anak-anak sudah TPA di masjid besar saat sore harinya, juga karena banyak yang sudah bersekolah di TK dan SD Islam. Jadi waktu malam mereka gunakan untuk belajar pelajaran sekolah.

Hingga setiap selepas maghrib, saat jamaah pulang ke rumah masing-masing, aku sengaja berdiam sendirian di mushola. Mengenang saat masih ramai dengan canda tawa anak-anak yang tengah mengaji dalam lingkaran.

Sambil menunggu saat ‘isya tiba, aku mencoba “menikmati” mushola yang sudah terbangun megah. Luasnya sudah lebih dari 4 kali bangunan semula, karena mendapat wakaf tambahan. Dibangun kembali dengan gaya modern yang kokoh dan mewah. Lengkap dengan lantai keramik yang licin mengkilat, serta dinding-dinding yang kuat. Pintu-pintu dari kayu jati tebal dan mahal, serta jendela kaca penuh hiasan.

Saat itulah, entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama di sana. Menikmati kesendirian dalam larut kenangan. Kedamaian yang memprihatinkan. Saat aku seperti meratapi musholaku yang hilang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2012 pukul 11:31

KENANGAN RAMADHAN 3: BAHAGIA BERSAMA MEREKA

Standar

Kenangan tentang qur’an kado nikah dari santriku, membuatku teringat pada semua sosok mereka. Sepuluh anak yang pada belasan tahun silam begitu akrab denganku. Kehangatan yang membuatku mendadak membayangkan mereka seperti juga anak-anak Laskar Pelangi yang kompak dan bahagia.

Dulu, aku menamakan mereka adalah anak-anak “Pesan Ashkaf”, Pengajar Santri Ashhabul Kahfi. Karena disingkat “Pesan”, aku pun membuatkan ikrar pesan bagi mereka. Satu, menjaga rasa persaudaraan-persahabatan antar mereka. Dua, menjaga kemakmuran mushola dengan selalu meramaikannya.

Anak-anak itu, meski hampir 20 tahun lewat, tapi wajah-wajah mereka masih lekat di ingatanku. Dan, pagi ini akan aku ingat kembali nama-nama mereka.

Satu, Dwi. Anak kelas 4 SD. Tubuhnya tinggi, kurus, kulit kuning, rambut lurus. Anaknya rame, ramah, dan mudah menangkap pelajaran. Dengan santri yang diajar cukup hangat. Ini juga yang mungkin membuatnya tertarik menjadi guru. Hingga setelah kuliah di Unnes, kemudian mengajar di SD Al-Irsyad Purwokerto.

Dua, Sodiq. Anak kelas 5 SD. Nama aslinya Supriyadi, tapi karena sering sakit-sakitan, akhirnya ganti nama menjadi Muhammad Soqiq. Oleh teman-temannya dipanggil Qidos. Badannya tegap, wajahnya keras, murah senyum. Sabar dalam menghadapi santri, meskipun kemampuannya pas-pasan . Tapi telaten dan tak mudah menyerah. Sekarang bekerja sebagai satpam di Jakarta.

Tiga, Sugi. Anak kelas 4 SD. Sifatnya pemalu, lembut, dan sopan. Masa kecilnya terkenal sebagai anak nakal dan sulit diatur. Tapi setelah masuk TPA, berubah drastis, menjadi sangat santun. Anaknya rapi, meskipun masih menyisakan sifat sulit diatur. Suara adzannya paling merdu dibanding yang lain. Sekarang menjadi sopir di Jakarta.

Empat, Anto. Anak kelas 4 SD. Paling cerdas di antara yang lain. Daya ingatnya luar biasa, juga  kemampuan menghafalnya. Namun sering mengeluh ketika mengajar santri, karena sifatnya yang sulit bisa sabar, dan cenderung kurang hati-hati. Sekarang menjadi pegawai PJKA di Purworejo.

Lima, Seno. Anak paling kecil di antara yang lain, karena baru kelas 3 SD. Hinga sering dianggap sebagai adik terkecil mereka. Anaknya lucu, lugu, namun sering sok tahu. Suaranya paling cempreng, terutama kalau sedang tadarus. Sekarang bekerja di Jambi, konon di sebuah perusahaan operator seluler.

Enam, Atiq. Anak paling besar, sudah kelas 1 SMP. Anak bungsu dari keluarga kaya, yang sering dianggap manja oleh teman yang lain, meski paling tua secara usia. Selalu ingin diperhatikan dibanding yang lain. Anaknya suka terus terang, namun mudah diatur. Sekarang menjadi perawat di RS Margono Purwokerto.

Tujuh, Ari. Anak kelas 4 SD. Anaknya gendut, lucu, dan imut. Sejak bayi sudah pandai berenang di sungai serayu. Itu pula yang mungkin mengantarkannya menjadi guru olah raga. Paling lembut perasaannya, namun di saat yang lain cueknya minta ampun.

Delapan, Sini. Anak kelas 6 SD. Anaknya pemalu, namun di antara yang lain paling duluan nikah. Mudah diatur, dan dekat dengan santri yang diajar. Hanya sekolah sampai SMA, kemudian menikah.

Sembilan, Yanti. Anak kelas 1 SMP. Anak tunggal yang selalu ingin diperhatikan. Mudah hangat dengan santri yang diajar, dan mudah diterima ketika mengajar. Anaknya tertutup, dan sulit ditebak keinginannya. Sekarang menjadi perawat di RS Islam Purwokerto.

Sepuluh, Gotri. Anaknya keras, kasar ketika berbicara dengan teman. Selalu ingin menang dan didengar pendapatnya. Dialah yang memberiku al-qur’an saat pernikahanku.

Sepuluh anak itu, sekarang sudah menikah dan semua sudah punya anak. Bukan lagi anak-anak seperti saat masih akrab denganku. Saat masih lekat dan lengkap dengan sifat kekanakan mereka yang khas dan beda, yang justru membuatku selalu berbahagia saat bersama mereka.

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Juli 2012 pukul 10:51

KENANGAN RAMADHAN 2: TAK PERNAH LAGI

Standar

Qur’annya sederhana saja. Bukan yang warna, karena ada penanda tajwidnya. Bukan pula yang lengkap dengan terjemah atau bahkan lafdhiyah per kata. Bukan juga yang lengkap berikut “miracle the reference” yang mempunyai 22 manfaat itu.

Namun, ternyata itulah qur’an istimewa. Qur’an yang selama ini selalu aku baca setiap tahun, saat tadarus Ramadhan. Tepatnya, sejak aku menikah, dan mendapatkan itu sebagai kado pernikahan.

Saat tilawah tadi pagi, tak sengaja aku tersadar akan keberadaan qur’an itu. Qur’an paling sederhana yang kupunya. Karena hanya berisi larik ayat dan surat. Dengan cover warna keemasan yang kasar, serta cetakan isi kertas putih biasa. Tapi qur’an itu tiba-tiba jadi istimewa, karena mendadak aku teringat pada yang memberikan.

“Hanya bisa kasih ini saja, mas,” katanya saat ia memberikan kado pada pernikahanku.

Aku tersenyum, dan melupakan apa yang ia berikan. Bukan untuk menyepelekan, tapi ia mampu memberikan kado saja sudah luar biasa bagiku. Ia datang dari keluarga sederhana. Ayahnya dikenal sebagai penjudi, dan ibunya penghutang. Ia pun dikenal sebagai anak yang keras wataknya. Bicaranya kasar, meskipun seorang bocah perempuan. Namun setelah kenal denganku, kami akrab, dan kekerasannya mulai berkurang. Paling tidak ketika bersama kami di mushola.

Aku pertama mengenalnya, sejak ia ikut TPA. Bersama seorang temanku , aku mengajar lebih dari 60 santri. Karena pengajar hanya 2, akhirnya aku memilih anak-anak yang sudah hampir iqro 6 untuk aku training. Aku dapatkan 10 anak yang sudah iqro’ jilid 6. Mereka kuajar lebih intens, agar bisa membantu kami, mengajar santri yang lain. Santri yang iqro’nya di bawah mereka,  iqro 1 sampai 4. Sementara santri iqro jilid 5 diajar oleh temanku.

Ia adalah 1 dari 10 anak yang kuajar di kelasku. Bersamanya ada 5 santri putra dan 5 santri putri. Secara kemampuan, ia hanya rata-rata saja. Hingga hanya aku percayakan 2 santri yang diajar olehnya. Tentu selain pertimbangan, karena dia pun kasar pada anak kecil dan masih suka bicara kasar.

Bermula dari sekadar membantu mengajar iqro, 10 anak itu aku arahkan menjadi pengurus mushola. Anak usia kelas 4 dan 6 SD, serta 2 anak yang kelas 1 SMP. Aku sendiri saat itu kelas 2 SMA. Aku beri nama pada kelompok mereka, Pesan Ashkaf. Singkatan dari Pengajar Santri Ashhabul Kahfi. Yang selain membantu mengajar santri, juga bertanggungjawab atas mushola. Dari soal kebersihan, sampai jadwal adzan.

Karena menjadi pengurus mushola, kemampuan mereka pun selalu kami tingkatkan. Setelah lulus iqro,mereka lanjut ke tadarus qur’an. Kebetulan, saat itu menjelang Ramadhan. Kami berencana melakukan suatu pencapaian yang “beda”di Ramadhan itu.

Biasanya, para remaja dan ibu-ibu bertadarus bersama, dan khatam 1 kali. Kami merencanakan yang lebih. Yakni, berencana mengkhatamkan qur’an sebanyak 5 kali. Caranya, setiap shalat jamaah, kami melingkar dan bertadarus bersama sebanyak 1 juz. Hingga sehari selesai 5 juz, dan khatam dalam 6 hari. Alhamdulillah berhasil khatam 5 kali, meski ada 2 santri yang gagal. Bukan karena malas, tapi karena 2 santri putri itu ternyata sudah mendapatkan “tanda kedewasaan” mereka.

Tadi pagi, saat aku bertadarus memakai qur’an pemberiannya, aku jadi terkenang peristiwa yang telah lewat belasan tahun silam itu. Mengenang anak-anak kecil yang baru lulus iqro, namun langsung bisa bersemangat untuk sholat berjamaah tanpa putus saat Ramadhan, dan dilanjutkan tadarus 1 juz. Bisa dibayangkan, bagaimana lamanya menghabiskan 1 juz dari anak yang masih terbata-bata membaca 1 ayat.

Mendadak, kenangan itu membayang kembali. Bahkan, ada malu dalam hati, sebab itulah kali pertama dan satu-satunya, aku pernah mengkhatamkan sampai 5 kali. Sesudahnya tak pernah lagi.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 21 Juli 2012 pukul 13:05

KENANGAN RAMADHAN 1: JALAN MENDAKI

Standar

Jalan Sendiri

telah kupilih jalan sendiri 

jalan mendaki 

 

Sore ini, aku terkenang penggal puisi yang pernah kutulis belasan tahun silam itu. Tentang pilihan hidup yang saat itu akan aku tentukan, untuk berjalan sendiri. Tentang pilihan jalan yang harus aku tentukan, memilih jalan mendaki. Itulah jalan spiritual yang ingin kulalui. Sebuah perjalanan panjang menemukan diri sendiri.

Perjalanan yang segera kumulai hari itu juga, sepekan sebelum Ramadhan, saat aku memancangkan niat dalam diri. Setelah berbelas tahun merasakan kegelapan yang panjang. Kegelapan yang telah membuatku merindukan terang. Saat pengap sangat kurasakan. Hingga aku tersadar untuk  segera menuju terang. Minadhdhulumatil illa nur.

Telah kupilih jalan mendaki, jalan untuk menemukan diriku sendiri. Harus segera kumulai. Kata bijak mengatakan ‘perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama…’.

Kusebut jalan itu mendaki, karena memang bukan jalan yang lurus datar saja. Namun, sebuah jalan yang konon penuh liku tanjak dan onak duri. Benar-benar sebuah jalan yang belum pernah kutempuh. Sebuah perjalanan kembali, sesuatu yang kadang lebih berat untuk dilakukan.

“Dimulai dari memahami satu langkah, perlahan-lahan engkau akan memahami seribu langkah. Setelah itu engkau akan melihat Jalan dan akan diliputi rasa percaya diri. Hal yang lebih menakutkan adalah bila engkau tidak memahami hakikat diri sehingga terjebak dalam kebingungan dan penderitaan.” Begitu kata Cheng Yen pernah kuhafalkan.

Ya, aku memulainya dengan memahami langkah pertama. Agar perlahan-lahan aku akan memahami langkah-langkah berikutnya. Yang penting adalah mengawali langkah pertama. Karena yakin, setelah melangkahlah akan bertemu Jalan.

Ketakutan adalah ancaman yang selalu membayang sebelum melangkah. Keberanian untuk melangkah adalah sebuah kemenangan. Atau kalau tidak, awal dari sebuah kemenangan.

Sore ini aku terkenang saat pertama aku mulai melangkahkan kaki. Seperti juga ibadah yang lain, shalat atau pun wudhu, langkah pertama adalah niat. Saat itu, aku pun mantap berniat. Betul-betul berniat untuk kembali menjadi diri yang sebenarnya. Biarlah hari kemarin aku hanya begitu-begitu saja. Biasa-biasa saja. Namun dengan menempuh jalan sunyi, jalan sendiri, jalan mendaki, akan yakin akan ketemu Jalan sejati.

Tak terasa, peristiwa “langkah pertama” dan “kemantapan niat” itu telah lewat belasan tahun lamanya. Yang artinya, belasan tahun pula aku menyusuri jalan mendaki ini.

Maka doaku hari ini, kuatkan terus kaki ini, menapak di Jalan ini. Aamiin.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Juli 2012 pukul 17:28

Catatan Kaki 95: Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

Standar

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa.

Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’, disebutkan tentang kesimpulan hokum menggambar, sebagai berikut:

Satu, jenis gambar yang paling berat keharamannya dan dosanya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Karena ia menyebabkan pembuatnya kafir, apabila ia mengetahui hal itu dan sengaja berbuat.

Dua, menggambar suatu objek yang tidak disembah, namun dengan tujuan meniru ciptaan Allah. Dan menganggap diri bisa mencipta sebagaimana Allah mencipta.

Tiga, menggambar tokoh-tokoh yang tidak disembah, tapi dipajang dan ditempelkan untuk diagung-agungkan. Seperti gambar raja-raja, panglima, pemimpin, dan tokoh idola lainnya.

Empat, menggambar yang tidak diagungkan, tapi menjadi gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. Seperti untuk menghias dinding dan semacamnya. Hal ini hukumnya makruh.

Lima, menggambar yang tidak bernyawa, seperti pohon, gunung, laut, sawah, yang merupakan pemandangan alam, maka yang menggambar dan merawatnya tidak berdosa. Asalkan hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan atau mengarah pada kemewahan hidup. Jika itu terjadi, makruh hukumnya.

Enam, karya fotografi, hukumnya mubah, asalkan objeknya tidak mengandung unsur haram.

Tujuh, gambar yang diharamkan atau dimakruhkan, apabila sudah dialihfungsikan, maka bergeser hukumnya dari haram dan makruh kepada mubah.

Dengan bersandar itulah, aku meniatkan, agar gambarkut terhindar dari keharaman dan kemakruhan. Melainkan sesuatu yang telah difungsikan sebagai penyampai pesan pendidikan dan kebenaran, hingga bisa bermanfaat. Dan mubahlah hukumnya.

Sebab aku mantap berkartun pun sesungguhnya berawal dari sebuah keprihatinan.

Ketika kartun pun bisa menjelma menjadi senjata untuk memojokan Islam, sementara kita tak punya senjata untuk melawannya.

Di waktu kecil, tetanggaku yang aktivis agama lain sering membagi-bagikan buku-buku komik yang ceritanya diambil dari kitab mereka. Ternyata banyak yang suka, dan ajarannya pun mudah dicerna oleh teman-teman sebayaku.

Hingga timbul pertanyaan, apakah kita tidak bisa membuat hal yang serupa. Mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bentuk komik dan cergam. Hingga mudah diterima dan disukai oleh anak kecil?

Kemudian beranjak ketika remaja, aku berkenalan dengan banyak kartun dari banyak media. Yang masing-masing mereka membawa misinya sendiri-sendiri. Aku pun mulai berkenalan dengan media Islam. Tapi tak kutemukan kartun di sana.

Kalaupun ada, adalah saduran dari majalah-majalah Timur Tengah, yang kurang dimengerti pesan-pesannya. Karena beberapa ilustrasinya ditambah dengan huruf-huruf Arab gundul, yang tak semua orang bisa mudah membacanya.

Hingga timbul pertanyaan serupa, apakaah tidak ada kartunis muslim yang tergerak ke sana?

Maka sepertinya aku setuju pada Iqbal, bahwa ‘seni adalah juga merupakan sebagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam’.

Maka aku mantapkan aku akan berseni kartun, untuk menghadapi manuver tersebut. Aku mantap terjun ke dalamnya.

Kalau orang lain berdakwah dengan khotbah-khotbahnya, dengan tulisan-tulisannya, dengan pedangnya, dengan uangnya, dengan segala potensinya, maka biarlah aku mencoba dengan gambar-gambarku saja.

Akan kuasah mata pena gambarku sejatam pedang, sebagai senjata untuk mengajak kebenaran dan menghunus kemungkaran.

Itulah niatanku berdakwah lewat kartun, yang telah hamper 17 tahun aku pancangkan.

Dan niatan itu belum padam, meski belum banyak yang memahami niatan ini.

Namun aku terus mencoba. Terus berusaha. Semampu kekuatanku saja, tentunya.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 April 2011 pukul 23:16

Catatan Kaki 94: Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (1)

Standar

Kartun dan karikatur itu ibarat binatang dan gajah.

Begitu yang dulu kudapatkan dari Pramono R. Pramoedjo, kartunis senior Indonesia, pendiri Persatuan Kartunis Indonesia. Kalimat yang diucapkannya dalam pembukaan Pameran Kartun Nasional, di Gedung Purna Budaya Jogja, pada tahun 1994 silam.

Kartun adalah binatang, sedangkan karikatur adalah gajah. Gajah adalah binatang, karena karikatur adalah bagian dari kartun. Tapi kartun bukan hanya karikatur, karena ada kartun murni (gag kartun), komik kartun, kartun animasi, kartun strip, kartun opini, dan bentuk-bentuk kartun lainnya.

Kartun, konon berasal dari bahasa Italia ‘cartoone’ yang berarti kertas. Kartun secara istilah berarti gambar yang bersifat representasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor.

Dalam kartun terdapat 2 tipe yang berbeda. Pertama, kartun murni atau kartun humor, yang sering juga disebut dengan gag kartun. Kartun ini mengangkat humor-humor yang sudah dipahami secara umum oleh masyarakat, dan sekarar berfungsi lucu-lucuan atau menghibur.

Kedua, kartun politik atau political cartoone, yang sering disebut juga dengan kartun opini atau kartun editorial. Disebut kartun politik, karena tujuan utamanya adalah menyindir masalah atau peristiwa politik. Dinamakan kartun editorial, karena kartun ini sebenarnya visualisasi dari tajuk rencana atau editorial suatu majalah atau surat kabar.

Kartun opini selalu mengangkat topik tentang situasi politik yang bisa dibuat lelucon segar, namun sarat dengan kritik tajam yang menggigit.

Di dalam pembuatan kartun, humor merupakan salah satu teknik yang harus dikuasai sebagai media kartunis untuk mengemas visualisasi imajenasinya, agar bisa menjadi sarana kritik yang ‘segar’.

Sebagai kartun opini, setidaknya ada empat hal teknis yang harus diingat. Pertama, harus informatif dan komunikatif. Kedua, harus situasional dengan pengungkapan yang hangat. Ketiga, cukup mengandung muatan humor. Keempat, harus mempunyai gambar yang baik. Dan bila kurang salah satu, ibarat mobil beroda empat, maka bobotnya akan berkurang.

Karikatur, konon juga berasal dari bahasa Italia ‘caricatura’, dari asal kata ‘caricare’, yang berarti melebih-lebihkan.

Secara istilah, karikatur adalah potret wajah yang diberi muatan lebih, sehingga anatomi wajah tersebut terkesan distorsif karena mengalamai deformasi bentuk, namun secara fisual masih dapat dikenali objeknya.

Deformasi ini dapat berarti penghinaan, atau bahkan penghormatan. Tidaklah mudah mendeformasikan sesuatu menjadi bentuk yang dianggap aneh dan sangat brilian, bila sang kartunis tidak dapat menjadikannya sebagai bentuk penghormatan. Seperti mencubit tanpa rasa sakit. Atau mengajak tersenyum sambil merenung.

Banyak orang Barat yang justru senang dikarikaturkan daripada difoto. Mantan presiden Amerika, seperti Jimmy Carter dan Ronald Reagan sangat bangga bila dikarikaturkan dengan gigi-geliginya yang besar dan jambulnya yang tinggi. Mereka menganggap, bila dikarikaturkan berarti mendapat penghormatan.

Ini berbeda dengan orang Timur, macam Indonesia, yang cenderung merasa terhina bila wajah dan fisiknya dipletat-pletotkan dengan gaya karikatur.

Pengertian komik, secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau buku, yang mudah dicerna dengan kelucuannya, atau keseriusannya. Sosiolog Prancis, F. Lacasin mengatakan bahwa komik adalah sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal, karena menggabungkan gambar dan tulisan.

Komik selain sebagai media hiburan, juga dapat berperan sebagai media propaganda, alat bantu pendidikan dan pengajaran, serta lain sebagainya. Di Jepang, komik atau manga sudah biasa dimanfaatkan untuk kepentingan pengajaran di kalangan masyarakat umum dan pendidikan di sekolah.

“Sebagai aktivis rohis, mengapa antum tetap memilih menjadi kartunis? Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Begitu yang dulu selalu dilontarkan teman ketika aku masih STM, dan sudah mengisi rubrik karikatur majalah Ishlah.

Dan entah kekuatan dari mana, saat itu aku justru mantap menjawab,” Karena aku ingin berdakwah lewat kartun.”

Sahabatku yang ketua remaja masjid itu hanya tersenyum. Entah mendukung, atau bahkan meragukan.

Namun dari pertanyaan dan senyuman itu, aku jadi terpacu untuk mewujudkan. Membekali diri dengan pemahaman kartun yang mencukupi, karena itulah senjata utama bagi seorang kartunis. Dan memperdalam pemahaman ilmu agama, karena itulah rambu-rambu yang harus aku patuhi, ketika meniatkan kartun sebagai sarana dakwah.

Seni dan agama bertemu di kedalaman jiwa manusia. Agama memberikan materi dasar bagi ekspresi estetika melalui persepsi dasar tentang Tuhan, alam, manusia, dan kehidupan.

Sementara seni, member respon emosional terhadap muatan-muatan kebenaran yang terdapat dalam persepsi-persepsi dasar itu, melalui suatu bentuk ekspresi yang indah, ilustratif, dan memiliki daya pengaruh yang kuat. Allahu jamilun yuhibbul jamal. Allah itu maha indah, dan mencintai keindahan. Begitu bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Iqbal pun pernah mengatakan bahwa seni adalah juga merupakan bagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam untuk mengembalikan pemikiran, sikap, dan tindak tanduk kaum muslimin kepada nilai-nilai jahili.

Dan Roger Garaudy juga pernah mengungkapkan perasaannya tentang hakikat seni Islam dalam untaian kata, ‘semua seni bisa membawa ke masjid, dan setiap masjid membawa kita kepada sholat.’

Masjid sebagai tempat sholat, pusat menyinarnya segala aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan masyarakat yang tengah diemban oleh dakwah Islam. Yang hal itu bagai tak terpisahkannya perasaan dari jiwa manusia.

Karena itu, seni Islam bukan saja bertindak sebagai bagian dari dakwah, namun ia adalah front tersendiri dalam sebuah pertarungan suatu ideologi.

Seni bergerak mengikuti langkah besar dakwah islam di tengah-tengah peradaban manusia. Apa yang tampak pada dunia seni hari ini, adalah sebuah upaya membentuk wajah masyarakat yang akan dihadirkan oleh cita-cita dakwah Islam.

Annis Matta, yang saat itu menjadi redaktur majalah Ishlah tempat kartunku dimuat, pernah mengatakan, bahwa seni Islam memiliki karakter yang kuat pada tendensinya terhadap muatan pemikiran dan esensi nilai. Sebab seni bukan sekadar memiliki fungsi hiburan, tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah manfaat untuk turut secara aktif membentuk pola kehidupan manusia.

Namun demikian, itu tidak berarti bahwa seni Islam harus berisi nasehat, hukum, arahan, dan semacamnya.

Bentuk seperti itu justru akan merusak nilai kesenian itu sendiri. Seni di satu sisi, memang mempunyai fungsi tertentu. Tapi ia juga tidak boleh diberi beban melebihi kadar kemampuannya.

Keindahan dan pesona merupakan sifat azali kesenian, dan fungsi apa pun yang dibebankan padanya harus selalu dalam batas-batas yang tidak merusak dan mengurangi keindahan. Bentuk-bentuk ekspresi estetika harus selalu dikembangkan agar kekuatan pesonanya sama besarnya dengan dengan kekuatan pemikirannya.

Dan dari paparan itulah, dari rangkuman pendapat itulah, saat itu, aku mantap untuk meneruskan niat menjadi seorang kartunis.

Kemantapan yang sudah kupasang sejak tujuh belas tahun silam.

Bahwa kemudian sampai hari ini aku merasa belum bisa menganggap diri sebagai kartunis yang bisa berdakwah dengan kartun, aku pikir hanya soal waktu.

Karena yang penting aku sudah berusaha. Membekali dengan pemahaman tentang kartun yang lumayan mencukupi. Dan juga bekal pemahaman keagamaan, agar tidak melewati batas yang dibenarkan dalam hukum-hukum agama.

Bismillah.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 April 2011 pukul 21:49

Catatan Kaki 93: Bukittinggi dan Buku yang Dibeli Tiga Kali

Standar

“Bukittinggi adalah sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah dataran tinggi Agam.

Letaknya indah di ujung Gunung Merapi dan Gunung Singgalang dan di sebelah utaranya kelihatan pula melingkung cabang-cabang Bukit Barisan.

Antara Bukittinggi dan Gunung Singgalang terbentang sebuah ngarai yang dalam dan bagus pemandangannya. Agak jauh dari tempat itu, di jurusan sebelah timur, tampak Gunung Sago.”

 

Kalimat itu aku baca sepuluhan tahun belakangan. Ketika aku menemukan sebuah buku bersampul coklat tua, terbitan tahun tujuh puluhan. Sebuah buku langka, yang kudapatkan di kios buku loakan Gladhag, ujung utara alun-alun Solo. Buku tebal berjudul ‘Memoir’, yang merupakan autobiografi Bung Hatta. Yang konon ditulis sendiri oleh Bung Hatta bertahun-tahun lamanya. Sejak akhir tahun enam puluhan, hingga akhir delapan puluhan. Beberapa saat sebelum beliau wafat pada 14 Maret 1980.

Sejak SD aku sudah mengagumi pribadi Bung Hatta. Sejak membaca kisah hidupnya, dalam buku cerita yang kudapatkan di perpustakaan sekolah. Buku bersampul kuning, dengan foto Bung Hatta yang botak kepalanya. Dengan kaca mata dan pandangan mata lurus ke depan mencerminkan keteguhan dan keseriusan. Buku tipis berjudul ‘Bung Hatta Sang Proklamator’, yang sudah aku lupa entah karangan siapa. Namun kalau tak salah, penerbitnya adalah Aries Lima, dan merupakan buku proyek inpres pemerintah.

Aku terpesona dengan sosok Bung Hatta, karena kecintaannya pada buku, yang menurutku sangat mengagumkan. Dan itu sangat membekas di hatiku, sebagai anak kecil yang juga sedang sangat bergelora semangat membacanya. Hingga selama setahun di kelas 6, seluruh buku bacaan yang ada di perpustakaan, yang memang jumlahnya tak lebih dari satu rak saja, sudah habis aku baca.

Menginjak SMP, aku menemukan buku yang lebih berat lagi. Sebuah buku bersampul hitam yang kutemukan di pojok almari perpustakaan sekolah. Buku tebal dengan kertas buram yang terhimpit di antara ratusan buku pelajaran. Buku yang mungkin tak pernah seorang pun sempat memegangnya, apalagi membacanya. Terlihat dari licinnya sampul dan rapatnya kertas isi dalamnya. Buku berjudul ‘Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan’. Buku berisi kumpulan kenangan sahabat-sahabat Bung Hatta, yang dikumpulkan oleh Meutia Farida, anak sulungnya.

Namun sayang sungguh sayang, aku tak sempat merampungkan buku itu. Karena baru beberapa hari membacanya, mendadak buku itu tak kudapatkan lagi di lemari perpustakaan. Dan ketika kutanyakan pada penjaganya, konon dipinjam oleh seorang guru kelas tiga. Namun aku tunggu sekian lama, berhari-hari berbulan-bulan, bahkan sampai kemudian lulus, sepertinya buku itu tak pernah kembali ke perpustakaan.

Dan karena terkenang pada buku itu, aku pun selalu merindukan untuk bisa kembali mendapatkan. Untuk kemudian merampungkan bacanya. Dan baru lima belas tahun kemudian, aku mendapatkan kembali di kios loakan di Pasar Senen, Jakarta. Ketika aku datang ke Jakarta, ketika memenangkan juara I lomba karikatur KPK. Sebagian hadiahnya aku belikan buku di sana, sampai sekardus AQUA banyaknya.

Kekaguman pada Hatta, membuatku ingin terus menelusuri jejaknya. Bahkan ada niatan untuk mendatangi rumah kelahirannya, yang sudah kuidamkan sejak kelas 2 SMP. Yang terus kuniatkan, kalau ada dana dan kesempatan, harus segera kutunaikan.

Dan cita-cita itu baru tertunai setelah aku keluar dari kerja. Dengan tak lagi terikat jam kerja, aku jadi bisa bebas ke mana-mana. Termasuk ke Bukitinggi dan Padang selama delapan hari lamanya. Tentu dengan menabung selama setahun dari honor kartunku di sebuah media. Agar biaya selama perjalanan dan selama di sana tak mengganggu ‘perekonomian’ rumah tangga.

Aku pun berbahagia, bisa tiduran sejenak di lantai kamarnya. Sebuah rumah yang terletak di pusat kota Bukittinggi. Tak jauh dari bangunan Jam Gadang yang merupakan landmark kota itu. Rumah besar peninggalan saudagar kaya kakek Hatta, yang dibangun ulang karena rumah aslinya sudah lama runtuh. Dan karena pelebaran jalan, akhirnya bentuk bangunan pun digeser beberapa meter ke belakang dari letak aslinya.

Satu kenanganku pada Bung Hatta, yang membuatku kagum, adalah kecintaannya pada buku. Yang secara tak sadar, ternyata aku pun kemudian mengikuti jejaknya.

Ketika Hatta dibuang ke Digul, untuk kemudian diasingkan ke Banda, Hatta yang selama di pembuangan rajin menulis, meminta honornya diganti dengan buku. Dan selama bertahun-tahun di Tanah Merah, semakin banyaklah buku yang terkirim dari berbagai koran. Dan terbukti, ketika mendarat di pelabuhan Banda bersama Syahrir yang sama-sama diasingkan di sana, ada 16 peti besar yang berisi buku-buku Hatta.

Kecintaannya pada buku terus berlanjut hingga tua. Hingga saat Hatta tak lagi sepaham dengan karibnya, Bung Karno, yang tengah menjalankan ide demokrasi terpimpin. Akibat provokasi PKI yang tak suka dengan Hatta, akhirnya Dwi Tunggal pun tanggal. PKI yang mengetahui Hatta sosok yang sangat anti komunis, tak ingin pendapatnya tersebut bisa mempengaruhi Bung Karno yang tengah terbuai dengan ide NASAKOMnya. Hingga pada 1 Desember 1956, Hatta pun meletakan jabatannya sebagai wakil presiden Indonesia. Yang otomatis harus pindah dari rumah dinasnya di Jalan Merdeka Selatan 13 ke rumah di Jalan Diponegoro.

Dalam prosesi pindah rumah itulah, Hatta yang sangat cinta buku lebih mendahulukan buku-bukunya daripada perabotan rumah tangga lainnya. Buku-buku yang ribuan itu telah diikat sesuai tanda raknya, dan dimasukan dalam peti aluminium agar terhindar dari kerusakan. Karena memang kehati-hatian dalam merawat buku, sudah menjadi kebiasaannya. Hingga Hatta bisa sangat marah, ketika ada pembantu yang mengotori bukunya, atau bahkan ada yang menatanya dengan terbalik atas bawahnya.

“Mana ada orang yang berjalan dengan kepala di bawah,” begitu selalu hardiknya.

Dan kecintaan pada buku berlanjut ketika perpustakaannya makin banyak koleksinya. Hatta membayar pembantu untuk merawat ribuan bukunya. Yang tugasnya khusus untuk mengelap buku satu per satu buku koleksinya. Yang harus penuh kehati-hatian, supaya tidak terjatuh dan robek.

Dan itu pun terjadi padaku, ketika pindah rumah beberapa tahun lalu. Untuk mengangkut lima ribu bukuku, membutuhkan diangkut pickup sebanyak enam kali. Berikut dengan lemari dan rak-raknya. Sementara perabot lainnya kupindah belakangan. Setelah selesai menata buku di kamar kerjaku.

Kekaguman pada Hatta, membuat aku pun mengoleksi semua karya tulisnya. Dari naskah pidatonya ketika masih jadi mahasiswa di Belanda, kumpulan karangannya ketika dalam pengasingan, kumpulan pidatonya ketika menjadi wakil presiden, kumpulan surat-suratnya kepada Bung Karno setelah tak lagi jadi wakilnya, biografi yang ditulis oleh sejarawan, otobiografi yang ditulisnya sendiri oleh Hatta, bahkan beberapa buku yang berisi kenang-kenangan dari pada sahabat ketika Hatta berulang tahun.

Intinya semua tulisan yang berkaitan dengan Bung Hatta, aku koleksi, dan tak akan terlewatkan untuk menambah kelengkapan pengetahuan.

Maka begitu kemarin ada teman yang memberitahu, bahwa ada buku baru tentang Hatta aku pun langsung mencarinya. Buku baru berjudul ‘Untuk Negeriku’, yang konon ditulis oleh Bung Hatta sendiri. Aku pun langsung tertarik, karena sebelumnya aku sudah mempunyai otobiografi Hatta yang berjudul ‘Memoir’.

Sampai di Gramedia, tanpa banyak tanya, aku langsung membelinya. Harganya 125 ribu rupiah, terdiri dari 3 buku. Termasuk murah untuk buku trilogy semacam itu. Yang jilid satu berjudul ‘Dari Bukittinggi ke Rotterdam Lewat Betawi’, yang menceritakan perjalanan masa kecil Hatta hingga remaja, ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Buku kedua berjudul ‘Berjuang dan Dibuang’, berisi kisah hidupnya setelah kembali ke Indonesia, menjadi aktivis pergerakan yang kemudian akrab dengan pembuangan. Sedangkan buku terakhir berjudul ‘Menuju Gerbang Kemerdekaan’, yang bercerita tentang persiapan menuju dan menjelang kemerdekaan yang penuh perdebatan.

Sebuah buku luar biasa, yang begitu sampai rumah langsung aku baca.

Pertama aku baca pengantarnya, yang disampaikan Meutia Farida mewakili pihak keluarga Hatta.

Kekagetan langsung terjadi, ketika baru membaca beberapa paragrafnya. Karena ternyata, buku ‘Untuk Negeriku’ ini adalah bukan buku baru. Melainkan buku lama yang diterbitkan dengan judul baru. Dan buku lama itu adalah ‘Memoir’, yang terbit pada 32 tahun lalu.

Untuk meyakinkan, aku buka lembar berikutnya. Lembar awal dari otobiografi itu, yang berjudul ‘Bukittinggi’. Di sana tertulis kalimat yang masih sangat kuhafal di luar kepala. Yakni tentang pelukisan suasana Bukittinggi, yang sangat indah dan mempesona.

 

“Apabila tidak ada kabut, kelihatan dari jauh barat laut Gunung Pasaman yang tersohor dalam dongeng sebagai gunung yang mengandung emas. Ngarai dan gunung-gunung serta Bukit-bukit Barisan yang kelihatan sekitarnya itu memberikan kepada kota Bukittinggi suatu pemandangan yang indah sekali. Hawanya sejuk, pada malam hari malahan dingin. Berbagai jenis bunga subur tumbuh di sana. Orang-orang yagn datang bertamasya dari daerah pesisir sering menamakan Bukittinggi ‘Kota Kebun Bunga Mawar’.”

 

Aku sempat kecewa, karena ternyata aku membeli buku yang sudah aku miliki sebelumnya.

Ini adalah buku ketiga yang aku beli berulang. Karena ‘Memoir’ yang kubeli pertama dulu dipinjam adikku, namun sampai sekarang tidak dikembalikan. Maka ketika tahun lalu aku menemukan buku langka itu di Jogja, aku langsung membelinya.

Dan ternyata, yang kubeli sekarang pun buku yang sama.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 April 2011 pukul 21:46

Catatan Kaki 92: Kalaulah Memang Anakmu Harus Pergi Meninggalkanmu

Standar

Tadi pagi ibu pulang ke Purwokerto, setelah dua minggu di Solo.

Ibu sengaja datang, karena sudah hampir setahun aku tak bisa pulang. Karena banyaknya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan anakku yang memang harus selalu terapi selama empat tahun proses penyembuhan.

Aku sebenarnya ingin pulang tiap bulan, menjenguk orang tua dan rumah yang sudah dua puluh tahun kutinggalkan. Apalagi aku adalah anak tunggal, yang sejak kecil sudah jarang berada di rumah. Sejak SD aku sudah jarang tidur di kamarku. Lebih sering menginap di mushola, setelah membantu orang tua dan belajar malam. Begitu pun ketika SMP dan STM, aku lebih sering menginap di masjid dan di rumah saudara.

Awalnya sebenarnya sekadar niatan ’emosional’ seorang anak kecil, ketika aku SD, sering risih dianggap anak manja karena aku anak tunggal. Akhirnya aku menunjukkan, dengan giat belajar agar bisa meraih prestasi tertinggi di sekolahan, dan jarang sekali meminta apa pun pada orang tua. Selain juga karena memang, keadaan orang tua pun tidak berpunya. Jadi tak mungkin meminta yang tidak-tidak, untuk sekedar beli tas atau sepatu, misalnya.

Ketika aku SD, aku punya sepatu hanya waktu kelas 1. Setelah sepatu itu tak lagi muat di kakiku, aku tak beli sepatu lagi. Dan aku gembira-gembira saja sekolah tanpa alas kaki, karena saat itu bukan aku saja yang sekolah dengan kaki nyeker. Banyak teman lainnya, yang orang tuanya tidak berpunya, yang sekolah dengan kaki telanjang.

Aku beli sepatu lagi, setelah naik ke kelas 5. Itu pun karena aku terpilih oleh sekolah untuk menjadi pemimpin regu pramuka, untuk maju ke perlombaan tingkat kecamatan. Sepatu murahan warna hitam, yang kalau dipakai justru bikin kaki lecet. Sepatu yang dibeli setelah ibu dapat arisan RT.

Dan karena sepatu yang bikin lecet itu, ketika sekolah pun aku jarang memakainya. Lebih aman dan nyaman dengan nyeker saja. Aku memakainya hanya setiap hari Senin, kalau bertugas sebagai pemimpin upacara. Itu pun hanya di saat upacara saja. Setelah selesai upacara dan masuk kelas, sepatu kucopot kembali. Dan pulang pun dengan ditenteng.

Setelah itu, tak pernah lagi beli sepatu sampai lulus SD.

Dan sungguh, awalnya aku tak tidur di rumah karena ingin menunjukkan pada tetangga-tetangga yang suka bilang, bahwa anak tunggal pasti manja. Maka dengan prestasi di sekolah, kutunjukkan pada mereka, meski aku anak tunggal, tapi bisa untuk tidak manja.

Namun semangat menunjukkan itu kebablasan. Setelah kelas 5 aku sudah tak pernah di rumah. Setelah pulang sekolah, setelah makan siang, aku membantu ayah ke hutan untuk mencari rumput. Ayahku memelihara seekor sapi, hasil maro dengan tetangga. Jadi sapi itu milik tetangga, yang ketika nanti dipelihara dan beranak, anaknya itu menjadi milik berdua. Separoh milik ayahku, sebagai upah memelihara sekian lama.

Setelah mencari rumput di hutan pinus, aku pulang sambil membawa sekarung rumput. Sementara ayah membawa lebih banyak, dengan dipikul dan berat yang sangat. Sebuah pasokan makan untuk selama dua hari. Karena esoknya, ayah harus menggarap sawah. Sebidang sawah yang harus ditanami, yang juga bukan milik keluarga kami. Melainkan milik saudara, yang orang tuaku hanya menggarapkan saja. Dengan upah, ketika panen akan mendapatkan bagian.

Dari hasil panenan itulah, kami makan sekeluarga. Dan dari anak sapi yang dijual itulah, nantinya yang menjadi biayaku selama SMP.

Hari ini, aku teringat ibu, setelah tadi pagi mengantarkan kepulangannya. Mendadak ada rasa bersalah, ketika dulu aku selalu meninggalkannya.

Setelah mencari rumput, aku membantu ayah lagi. Membersihkan kandang sapi, dari rumput-rumput kering yang tak dimakan, dan dari kotoran yang berserakan. Dibuang ke jugangan yang berada di belakang kandang. Dikumpulkan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.

Hari sore aku habiskan dengan menyapu rumah. Lantai yang masih tanah, dibersihkan dengan diperciki air terlebih dulu, agar bersih dari debu. Setelah itu, barulah disapu.

Sambil menunggu senja datang, aku buka buku pelajaran. Kubelajar dengan iringan musik dari RRI, dengan nyanyian lagu-lagu pop cengeng, yang saat itu sedang menjadi trend. Ada banyak lagu romantis yang banyak kudengarkan, dan kuhafalkan, dan masih terkenang sampai sekarang.

Setelah malam datang, waktu maghrib menjelang, aku berangkat ke mushola. Sholat maghrib dan mengaji di sana. Dan setelah isya, bermain di pelataran. Untuk kemudian menginap di mushola bersama-sama. Pagi setelah shubuh, barulah kami pulang. Untuk mandi, sarapan, dan berangkat sekolah.

Jadi sejak SD aku memang jarang tidur di rumah. Yang itu berlanjut ketika SMP dan STM. Bahkan setelah lulus, hanya berjarak setengah bulan, aku sudah langsung ke Bandung. Hampir delapan bulan di sana, kemudian pulang ke Purwokerto. Namun itu pun tak lama, karena aku kemudian ke Kalimantan, dan pindah lagi ke Cilacap.

Jadi sejak dulu aku memang tak pernah tidur di rumah. Kamarku hanya kujadikan ruang ganti baju, dan tempat menyimpan ratusan buku.

Dan hari ini, ketika aku tadi pagi mengantarkan kepulangan ibu, tiba-tiba aku terkenang kenangan rumah. Mendadak ada kerinduan untuk mencium pengap kamarku, yang telah dua puluh tahun tak pernah kutempati. Karena ketika pulang ke Purwokerto pun, aku lebih sering tidur di rumah istri.

Maka malam ini, entah mengapa, mendadak aku terkenang rumah. Dan mungkin, bulan depan aku niatkan untuk pulang. Untuk sekadar tidur di kamar tengah. Kamar yang dulu kujadikan gudang buku, dengan berantakan dan serakan buku yang memenuhi tempat tidurku. Buku-buku yang ketika kutinggal ke Solo, entah telah hilang ke mana. Konon banyak dipinjam orang, tapi tak pernah dikembalikan.

Dan setelah sepuluh tahun menetap di Solo, sungguh malam ini aku ingin merasakan kepengapan kamarku. Kamar dengan jendela kecil di sebelah barat, yang kordennya dari jarik ibu yang disobek menjadi empat. Kamar yang konon menjadi tempatku dilahirkan oleh ibuku, pada tiga puluhan tahun silam.

Malam ini aku belum bisa tidur di kamar itu.

Namun tadi aku sempat pesan, agar malam ini ibu mau tidur di kamarku.

Ada yang menyesak dalam batinku, ketika tadi ibu sempat memintaku untuk pulang. Setelah sepuluh tahun menetap di Solo menjadi perantauan sebagai kaum kabur kanginan. Namun dengan keadaanku yang sekarang, sepertinya aku belum berani pulang.

Maka malam ini, dengan terkenang pada ibu, aku teringat sebuah puisi yang kutulis sepuluh tahun lalu, ketika  berpamitan pada ibu.

 

“kalaulah memang

anakmu harus pergi meninggalkamu

sebab buah tak harus menggantung

di pohon selamanya

sesekali anak panah

harus lepas dari busurnya

tuk coba cari arah mata angin

sendiri

 

bebas

lepas

seperti anak burung

yang coba susun sarang

di dahan tinggi

 

tak usah khawatir

tak perlu bimbang

anakmu tak akan lupa

jalan pulang

 

yakinlah

sebab sesekali kapal pasti merapat

di pelabuhan

tuk membongkar muatan

 

dan kerbau pun akan pulang kandang

bila datang petang

 


(‘Catatan Kaki’ paling cepat yang pernah aku buat. Hanya 34 menit! Karena dari pagi hingga malam ini, sulit sekali ‘mencuri waktu’.)

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 April 2011 pukul 23:47