Monthly Archives: Juni 2011

Catatan Kaki 1 : Iqro’ Apa Iqra’?

Standar


Hari ini, tepat 2 tahun lalu anak kami yang ke-2 lahir.

Dan sejak kehamilannya, ummi berkali meminta bahwa ini adalah anak kami yang terakhir.

Karena pada kehamilan pertama, dokter sudah memvonis bahwa ummi tidak akan bisa melahirkan normal. Maka aku mengamini permintaan ummi, yang sudah mempertaruhkan nyawa hingga 2 kali. Meski pun dalam canda, sering kujawab dengan tanya tawa, “anak terakhir dari istri pertama?” Namun itu hanya sebatas just kidding and just for laugh belaka.

Seperti juga orang tua lainnya, jauh hari sebelum kelahiran, kami sudah memersiapkan nama untuknya. Dan kami memilih memberikan nama yang mudah-mudah saja. Tak perlu mikir lama, tinggal comot dari Al-Qur’an. Kami berkeyakinan, ayat Allah adalah kalimat pilihan.

Aku sendiri punya ayat favorit penenang hati, yang dicuplik dari Surat Arrahman. Pengulangan yang sangat puitis melodius itu membuatku terbius. Sejak pertama membacanya, pada 20 tahun silam ketika aku baru bisa terbata. Hingga hari ini, tak berkurang sekerling pun kilau pesonanya. Dalam surat pendek yang hanya 78 ayat, kalimat itu berulang 30 kali dilafal. Seperti rapal mantra yang mudah dihapal. “Fabbiayyi alaairabbikumma tukadzdzibaan.” Sebuah pengingat agar kami selalu berkaca, “maka nikmat Tuhan manakah yang hendak kamu dustakan?”

Namun kemudian, ‘doa pengingat jiwa’ itu tak jadi kami berikan padanya.

Ummi bilang sulit diucapkan, dan terlalu panjang. Maka aku berpikir ulang untuk menggantinya dengan ayat yang mudah saja. Maka ketemulah kalimat indah itu. Ayat yang familiar di bibir setiap orang: “Iqra’ Bismi Rabbika.”

 

“Singkat, hemat, jelas, tegas, bernas.” Begitu alasan yang kusampaikan pada ummi dengan cerdas. Sekadar menutupi rasa seganku untuk mencari ayat lain lagi. Sedikit malas.

Namun sesungguhnya, aku memang terpesona betul dengan ayat yang pertama turun itu.

Karena (menurut ustadz Quraish Shihab) kata iqra’ diambil dari kata qara’a yang pada mulanya berarti ‘menghimpun’. Dalam berbagai kamus dapat ditemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain, ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu’, dan sebagainya.

Sebuah makna yang dalam dan indah. Bahwa perintah membaca, bukan hanya mengeja yang terbaca mata. Tapi mencakup semua yang tertangkap panca indera.

Dan kata iqra’ itu bersambung dengan ‘bismi rabbika’. Yang memerintahkan agar proses ‘menghimpun’ itu selalu berkaitan dengan tindakan ‘demi karena Allah’. Bukan demi yang lainnya. Bukan demi kesombongan keilmuan, atau pun tepuk dada keangkuhan pengetahuan belaka. Tapi menjadi bentuk sujud syukur ibadah terindah untuk membaca nikmat alam raya.

Karena dengan iqra’ yang bismi rabbika, Allah telah menjanjikan, ia akan memeroleh kemurahan anugerah-Nya berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru, walaupun obyek bacaannya sama.

Maka benarlah, bahwa perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yagn dapat diberikan pada ummat manusia.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ‘membaca’ adalah syarat utama guna membangun peradaban. Semakin mantap bacaan, semakin tinggi pula peradaban. Dan demikian pula sebaliknya. Tidak mustahil suatu ketika, ‘manusia’ akan didefinisikan sebagai ‘makhluk membaca’. Suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya, semacam ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berpikir’.

Dan itulah doa yang kami sematkan pada anakku. Seperti juga orang tua lainnya, kami meyakini bahwa anak adalah harta yang sangat berharga. Kami menyebutnya, investasi dunia akhirat. Maka bagi kami, nama adalah sebenar doa. Pengharapan segala keinginan. Kebetulan kami bukan penganut Shakespearian yang sering mencibir, “apalah arti sebuah nama?”

“Yakin ga diganti lagi? Mantap?” tanyaku pada ummi sebelum mengetuk palu keputusan.

Bismillah. Insya Allah,” jawab ummi kemudian. Sambil memberikan alasan, bahwa nama Iqro’ juga punya kenangan tersendiri padanya. Karena konon, ummi pertama mengenalku adalah sebagai pengajar TPA yang waktu itu menggunakan metode iqro’.

Aku cuma tersenyum mendengar pengakuannya. Dengan sedikit tersanjung. Bangga juga dikenal sebagai orang baik oleh calon istri, meski hanya pengajar iqro’ di masjid kampung.

Maka sehari setelah kelahirannya, kemudian didaftarkanlah nama itu pada catatan sipil.

Iqra’ Bismi Rabbika.” Tulisku di blangko yang diberikan petugas dengan sederet keterangan.

Petugaspun membaca ulang, untuk meneliti data yang kami berikan.

Namun kemudian ia bertanya, “Ini yang benar Iqra’ Bismi Rabbika atau Iqro’ Bismi Robbika?”

Iqra’ Bismi Rabbika, pak!” jawabku mantap sambil menjelaskan, bahwa tulisan di Akta adalahIqra’ Bismi Rabbika. Namun kami membaca dan memanggilnya menjadi Iqro’ Bismi Robbika.

Petugas pun mengangguk. Lalu menyalami kami, sambil tersenyum ramah setelah menerima amplop dari ummi. Dia menjanjikan 2 pekan lagi jadi. Dab bisa diambil di rumahnya.

Namun dalam perjalanan pulang istri bilang, “Kok bukan Iqro’Bismi Robbika saja to Bi?”

“Emang kenapa?”

“Nanti kalau di sekolahan tulisannya gitu, temen-teman pasti manggilnya Iqra’. Bukan Iqro’ lho bi. Kan sesuai yang tertulis di daftar absen. Bisa-bisa dipanggil Rabbika!”

Sampai rumah kami ingin mengubah lagi. Akan aku hubungi kembali petugasnya, untuk diubah menjadi Iqro’ Bismi Robbika saja. Namun ketika aku ke tempatnya, tak ketemu langsung dengan orangnya. Berkali-kali dihubungi, juga sulit tersambung dengan HPnya. Dari pada repot, kami mantapkan lagi ke nama semula. Toh untuk sebutan, bisa kita biasakan dalam pergaulan.

Dua pekan kemudian Akta Kelahiran kami ambil. Kami baca dengan teliti dan hati sedikit berdebar. Takut kalau terjadi kesalahan tulis lagi. Seperti pada anak kami yang pertama.

“Pencatatan Sipil. Kutipan Akta Kelahiran. Berdasarkan Akta Kelahiran Nomor 008/2009, menurut stbld, bahwa di Surakarta pada tanggal enam belas Desember dua ribu delapan telah lahir IQRA’ BISMI RABBIKA. Anak kedua, jenis kelamin perempuan….”

“Perempuan?” tanya kami berdua pada si petugas, “anak kami ini laki-laki, pak!”

Petugas pun turut kaget. Dan dia memberikan alasan, “Namanya Rabbika, sih mas, mirip nama perempuan….”

by Nassirun Purwokartun on Thursday, 16 December 2010 at 08:47

Iklan

Melodi Sunyi 2 : Salah, Aku Kalah

Standar

“Kembang tumelung kembang kecubung

kembang manglung ati mentiyung

kembang ati kang gawe wuyung

kaya mendem kembang kecubung”

Bunga putih ungu itu pun dibelai-belainya. Satu kuntum kembang dipetik untuk dicium wanginya.

Kuntum kecubung yang kemudian dilepaskan kelopaknya. Dibuang satu persatu ke tengah aliran air sungai yang mengalir tenang. Kelopak-kelopak pun hanyut terseret arusnya. Timbul tenggelam dalam kebeningan air dengan timpaan mentari pagi. Sesekali tersangkut pada sampah rumputan. Lalu dengan datangnya pusaran air membuatnya berputar, kelopak kecubung pun keluar dari rintangan.

Namun pusaran air itu justru menjadi halangan berikutnya. Ketika kelopak-kelopak kembang putih ungu itu kemudian malah masuk mata pusaran. Tenggelam dalam arus air yang berpusar memutar. Untuk kemudian tak muncul lagi ke permukaan.

Namun ia tetap menunggu.

Sambil menatap kencangnya pusaran air, lelaki itu tersenyum sendiri. Matanya menyipit memerhatikan kembang kecubung yang tak kunjung muncul ke permukaan.

Dari bibirnya terdengar lirih nyanyian. Sebuah kidung kesedihan yang memilukan.

“tentang sungai kesepian

tentang muara kesedihan

yang hanya bisa kurenangi sendiri

yang hanya bisa kuselami sendiri

terjebak aku dalam pusaran sunyi

salah, aku salah

 

telah merindu dalam bisu

tetap mengharap dalam diam”

 

Lelaki muda itu pun terdiam.

Mendadak dalam benaknya melintas bayangan yang sangat jelas dikenangnya. Sosok yang sangat telah dikenalnya. Bayangan seorang wajah perempuan dengan mata lembut yang senyumnya selalu mengembang. Manis anggun dalam tatapan pandangnya yang meremang. Cahaya matanya yang teduh menawarkan kedamaian bening telaga. Bibir tipisnya menyunggingkan selarik senyum manis menawan. Pipinya merona merah penuh pesona. Pada lentik bulu matanya ia melihat ketajaman yang mampu menusuk jiwa.

Sejenak ia pun berbisik menyebut sebuah nama. Nama yang sedang dihapuskan dari kenangannya. Nama yang harus dilupakan dari ingatannya. Dari hati dan dari jiwanya.

Nama yang tak boleh ada rasa apa pun padanya, sejak kesepakatan yang mereka buat dalam pertemuan terakhirnya. Pertemuan yang basah oleh air mata. Pertemuan yang membuatnya berkidung semalaman.

Kidung yang pagi itu pun mendadak dikenangnya. Sambil memerhatikan kelopak kecubung yang baru dipetik dan kembali ia tebarkan di tengah aliran.

Lelaki muda dengan wajah sayu itu terus memerhatikan bunga putih ungu yang terseret arus pusaran. Dari bibirknya yang bergetar terlantun sebuah kidungan. Sepotong nyanyian yang dibarengi dengan tetesan ari bening dari ujung pelupuk matanya.

 

“air mataku telah jauh dari mata air

mengalir resah di sela buih pikir

mengantarkan pesan dari telaga rasa

tinggal lara kala diammu mendera

kalah, aku kalah

 

janjiku tiada marah

sebab geram jiwaku telah karam

tenggelam ke dasar lelah”

 

Ia menghela nafas barat.

“Saya menghormati laki-laki yang berani menyampaikan perasaan. Tapi saya lebih menghargai laki-laki yang berani memberikan kepastian.”

Demikian terbaca dalam salah satu isi suratnya.

Surat yang kemudian membuatnya bergetar, ketika membacanya di dalam kamar. Surat yang membuatnya menggigil. Panas dingin semalaman.

Surat yang telah membuatnya menyingkir dari keramaian. Membuatnya merasa ingin menenangkan diri ke pedalaman.

Namun ternyata, ketenangan batin tak juga ia dapatkan. Justru semakin dikenang, perasaan sakit dan kecewa itu makin sering datang.

Ia pun menjadi sering mengutuk kebimbangannya. Mengutuk ketidakberaniannya. Mengutuk diamnya. Mengutuk ragunya.

Kekecewaan yang membuat hatinya sakit. Bahkan kemudian badannya.

“salah, aku salah

kalah, aku kalah”

Dan kelopak bunga kecubung itu pun telah habis ia tebarkan. Telah jatuh ke dalam aliran sungai yang mengalir perlahan.

Tenggelam dalam pusaran.

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 19 January 2011 at 23:26

Melodi Sunyi 1: Seminggu Di Maluku

Standar

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Dengan permadani terbang pinjaman Jin dan Jun, aku melayang di atas awan. Bertolak dari bumi Purwokerto nun jauh di sana, dengan menjejak kaki ke tanah dan mengucap bismillah tiga kali. Blas. Langsung mengangkasa. Aku mampu mengalahkan pesawat mister Habibie, yang dulu sukses dibarter dengan beras ketan Tailand.

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Di bumi Ambon Manise, yang darah mengalir sungguh amise. Tak tahan aku mendengar kabar, manusia dicincang bagai binatang buruan. Tak tahan aku merasakan, kepala dipenggal dan dijadikan sepak bola di lapangan. Tak tahan aku mendengar kabar Indonesiaku menjadi negeri bar-bar.

Dan kini aku sudah di sini. Permadani aku gulung dan kusimpan di saku. Di hutan pala dan raga ganggang aku mendarat. Aku tahu hutan telah aman. Aku tahu hutan telah aman. Sebab kuntilanak dan wewe gombel tak lagi sembunyi di perut hutan rimba. Lantaran terdesak parang para pemegang HPH. Yang rajin menebang, malas reboisasinya.

Hari ini kuntilanak keluar dari ceruk-ceruk gunung. Menyusur dusun menyisir kampung. Menculik remaja dan anak-anak. Melatihnya minum arak menenggak tuak. Memberi fantasi dan mimpi-mimpi khayali. Dan bermacam alat kontrasepsi.

Di pulau Jawa nun jauh di sana. Wewe gombel kuntilanak meliuk di panggung-panggung hiburan. Berpose panas di majalah, tabloid, dan koran. Orang-orang tua pun asyik terlena. Anak-anak matang sebelum waktunya.

Kuntilanak di sini tak ada. Bersama wewe gombel dan genit sundel bolong, menelusuri gang menapaki lorong. Didukung sponsor sosok-sosok nekat, menyebarkan virus penyakit laknat. Menularkan kuman tak mempan obat. Mengajari generasiku jatuh di prostitusi. Dan menganggapnya sebagai prestasi yang prestisius.

Senin siang. Aku keluar dari hutan. Menyaksikan rumah-rumah roboh hangus bekar dibakar. Dan ditinggal penghuninya. Berpuluhpuluh desa jadi kawasan mati. Asap mengepul di mana-mana. Hampir aku tak percaya, inikah jazirah al-mulku, wajah indah Indonesiaku. Kenapa, kenapa, kenapa. Saudaraku nun jauh di Jawa sana, mengatakan bahwa di Maluku sudah aman pulih sedia kala.

Di reruntuhan masjid yang roboh kubahnya. Aku mencoba bersujud dan ruku’ di salah satu sudutnya. Ya Allah, ayat-ayatMu telah lupa kueja. Surat-suratMu telah lupa kumakna. Dan ini pasti, peringatanMu jua.

Selasa pagi. Aku selesai shubuhan dan tilawah. Aku kaget bukan kepalang. Aku tersentak bukan buatan. Aku intip di sudut jendela yang copot daunnya. Sorak-sorai di pelataran jalan, memekakkan telinga. Berpuluh beratus manusia, tua muda laki-laki wanita, berteriak bersuka ria.

Itu penggalan kepala siapa, ditusuk ditombak diacung-acungkan ke udara. Itu pecahan hati dan jantung siapa, yang dimamah sungguh nikmatnya. Itu untaian usus-usus siapa, yang dibuat kalung bergelantungan di dada.

Ya Allah, sudah sedemikiankah manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Menjelma binatang hanya membayangkan mangsa.

Rabu pagi. Ini perut minta diisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Aku beranikan diri berjalan, bersembunyi, hati-hati. Masuk ke desa yang aman, yang dijadikan penampungan pengungsian.

Aku masuk ke sana. Dan aku saksikan beribu-ribu pengungsi tanah air, terusir di kampong halaman sendiri. Mereka berteduh di bawah kenda-tenda sederhana sekali. Di lapangan terbuka, dipukul angina dan gerimis malam hari.

Tubuh memar hasil menyelamatkan diri. Jerit tertelan habis sunyi. Rintih anak gadis, janda, dan istri. Ada bayi menjerit mengiris hati. Dia tak tahu ayah dan ibunya tiada lagi. Siapa itu terputus susunan syarafnya. Termangu dan terbahak bicara menangis sendiri. Tak ada lagi yang bicara kemungkinan nafkah dan rejeki.

Kampong sempurna jadi abu. Membawa bungkusan sarung, mengungsi. Terusir dari kampong halaman. Jadi pelarian di negeri sendiri. Siapa memindahkan Bosnia dan Kosovo sepuluh ribu kilometer jauhnya dari sini.

Tak terdengar lagi nyanyi ‘pelagandong’ yang merdu menyentuh hati. Mana nampak orang bertolong-menolong membantu masjid dan gereja lagi. Tak terasa angin sejuk yang menyapu hutan cengkeh dan pala yang teduh ini. Kekejaman tak masuk akal dalam sandirwara politik luar biasa keji. Jadi pengungsi di kampung halaman sendiri. Dizalimi, disiksa, dibakari, digagahi di sini.

Suram. Suram hitam langit kupandang. Nestapa. Nestapa. Nestapanya cuaca bangsa.

Saudaraku, duka demikian besar luar biasa. Rontok di dalam rongga dada. Inilah aku, datang jauh-jauh, merengkuh memelukmu saudaraku.

Kamis pagi. Aku bercengkerama dengan pengungsi. Ada kabar siang nanti bakal ada kunjungan pejabat tinggi. Rencananya bantuan kemanusiaan akan diantar Wapres Megawati ke sini. Yang memang ditunjuk Presiden Gus Dur untuk mengurusi.

Aku gembira bukan kepalang. Ketika siang rombongan itu benar-benar datang. Berpuluh truk mengangkut bahan makanan. Di belakangnya mengangkut bahan bangunan. Lengkap dengan satgas-satgasnya. Berpakaian hitam-hitam sungguh gagahnya. Satgas perjuanganku yang kekar berwibawa. Menurunkan bahan makanan dari truk ke pengungsian. Mendirikan juga tenda-tenda yang kuat untuk perlindungan.

Dan esoknya, akan masuk ke desa-desa. Membangun kembalu bangunan yang hancur berantakan. Para pengungsi mencium tangan Wapres Megawati. Dan menyelaminya ketika sore hari, pamitan pulang lagi.

Jum’at pagi. Senyum ceria menghiasi bibir pengungsi. Bantuam makan tak kekurangan lagi. Ada kabar bantuan akan datang lagi hari ini. Diantar oleh Ketua DPR dan MPR berupa obat-obatan dan tenaga medisnya. Sebagai tanda solitaritas duka bangsa.

Dan betul begitulah adanya. Sebelum Jum’atan rombongan datang. Pak Amien Rais didaulat memimpin sholat Jumat. Dan Pak Akbar Tanjung memberikan khotbahnya. Aku lihat para pejabat menyalami para pengungsi di bara-barak dan tenda-tenda. Berbincang akrab dengan anak-anak yang berlarian di lapangan.

Aku lihat juga. Tenaga medis langsung bersikap tanggap. Mengobati pengungsi dan melakukan operasi. Mencabut panah yang nancap di kepala. Membalut luka yang busuk dirubung semut.

Ah, sungguh indah persaudaraan. Kala yang satu sakit yang lain meringankan. Takkan ada luka bangsa yang terus menganga.

Sabtu pagi. Embun menitik di pucuk daun. Beningnya menyejukkan mata. Di Maluku tak ada pertikaian lagi. Yang kemarin tragedy dilupakan kini. Yang dendam dipendam dilupakan sudah. Dan tak akan dibongkar lagi.

Perjanjian damai akan dilakukan. Kesepakatan bersama akan dinyatakan. Takkan lagi bertikai senjata dan menumpahkan darah antar sesama.

Hari itu, sabtu siang. Dua pemuka golongan berjabat tangan. Senjata diletakkan. Janji bersaudara kembali diikrarkan. Dengan disaksikan aparat dan seluruh pejabat.

Dan kedatangan khusus Presiden Gus Dur, setelah jadwal kunjungan ke luar negeri diundur. Menambah kesakralan acara sumpah setia pada Indonesia.

Betapa indah dahulu kalimat Indonesia merdeka. Betapa ngilu kini mendengar kalimat, ingin merdeka dari Indonesia.

Di luar gedung pertemuan. Aku lihat banser sigap berjaga-jaga. Rakyat Maluku berdendang ria. Bertari lenso bersama.

Saksikanlah kini. Bahwa Indonesia tetap satu. Presidenku sungguh peduli pada tragedi negeri ini.

Minggu pagi. Barak pengungsian sudah sepi. Semua pengungsi sudah kembali ke kampung halaman sendiri. Hidup rukun bahagia sedia kala. Sejahtera sentausa dalam indahnya hidup bersama.

Indahnya perdamaian. Tak terasa sudut mataku basah. Bahagianya ini dada.

Aku gelar kembali permadani terbangku. Aku duduk bersila dengan mata terpejam. Aku pulang ke Purwokerto. Senin besok, aku harus kembali kerja.

Senin pagi. Seperti biasa lagi. Aku selalu menulis puisi, sambil bermimpi.

CATATAN:

tulisan ini aku buat 11 tahun lalu. akhir tahun 1999 sampai 2000an. ketika meledak kerusuhan sara di Maluku. tak sengaja ketikan itu tadi aku temukan. masih ketikan dengan mesin ketik. aku terkenang masa itu. ketika aku sangat suka menggabungkan cerpen dan puisi. dan ternyata itu laku. aku sering diundang untuk mengisi acara pengumpulan dana solidaritas. salah satunya adalah ini. ketika digelar untuk solidaritas Maluku.

dan di tulisan itu, kumasukkan sentilan pada para pejabat tinggi negera. yang seolah menutup mata pada pembantaian di Maluku. termasuk sang presiden yang sibuk plesiran. dan pejabat di bawahnya sibuk saling sikut-sikutan.

aku kangen bikin tulisan semacam ini lagi. meski tak kuketahui jenisnya, ini cerpen, apa puisi?

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 06 April 2011 at 18:53