Melodi Sunyi 1: Seminggu Di Maluku

Standar

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Dengan permadani terbang pinjaman Jin dan Jun, aku melayang di atas awan. Bertolak dari bumi Purwokerto nun jauh di sana, dengan menjejak kaki ke tanah dan mengucap bismillah tiga kali. Blas. Langsung mengangkasa. Aku mampu mengalahkan pesawat mister Habibie, yang dulu sukses dibarter dengan beras ketan Tailand.

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Di bumi Ambon Manise, yang darah mengalir sungguh amise. Tak tahan aku mendengar kabar, manusia dicincang bagai binatang buruan. Tak tahan aku merasakan, kepala dipenggal dan dijadikan sepak bola di lapangan. Tak tahan aku mendengar kabar Indonesiaku menjadi negeri bar-bar.

Dan kini aku sudah di sini. Permadani aku gulung dan kusimpan di saku. Di hutan pala dan raga ganggang aku mendarat. Aku tahu hutan telah aman. Aku tahu hutan telah aman. Sebab kuntilanak dan wewe gombel tak lagi sembunyi di perut hutan rimba. Lantaran terdesak parang para pemegang HPH. Yang rajin menebang, malas reboisasinya.

Hari ini kuntilanak keluar dari ceruk-ceruk gunung. Menyusur dusun menyisir kampung. Menculik remaja dan anak-anak. Melatihnya minum arak menenggak tuak. Memberi fantasi dan mimpi-mimpi khayali. Dan bermacam alat kontrasepsi.

Di pulau Jawa nun jauh di sana. Wewe gombel kuntilanak meliuk di panggung-panggung hiburan. Berpose panas di majalah, tabloid, dan koran. Orang-orang tua pun asyik terlena. Anak-anak matang sebelum waktunya.

Kuntilanak di sini tak ada. Bersama wewe gombel dan genit sundel bolong, menelusuri gang menapaki lorong. Didukung sponsor sosok-sosok nekat, menyebarkan virus penyakit laknat. Menularkan kuman tak mempan obat. Mengajari generasiku jatuh di prostitusi. Dan menganggapnya sebagai prestasi yang prestisius.

Senin siang. Aku keluar dari hutan. Menyaksikan rumah-rumah roboh hangus bekar dibakar. Dan ditinggal penghuninya. Berpuluhpuluh desa jadi kawasan mati. Asap mengepul di mana-mana. Hampir aku tak percaya, inikah jazirah al-mulku, wajah indah Indonesiaku. Kenapa, kenapa, kenapa. Saudaraku nun jauh di Jawa sana, mengatakan bahwa di Maluku sudah aman pulih sedia kala.

Di reruntuhan masjid yang roboh kubahnya. Aku mencoba bersujud dan ruku’ di salah satu sudutnya. Ya Allah, ayat-ayatMu telah lupa kueja. Surat-suratMu telah lupa kumakna. Dan ini pasti, peringatanMu jua.

Selasa pagi. Aku selesai shubuhan dan tilawah. Aku kaget bukan kepalang. Aku tersentak bukan buatan. Aku intip di sudut jendela yang copot daunnya. Sorak-sorai di pelataran jalan, memekakkan telinga. Berpuluh beratus manusia, tua muda laki-laki wanita, berteriak bersuka ria.

Itu penggalan kepala siapa, ditusuk ditombak diacung-acungkan ke udara. Itu pecahan hati dan jantung siapa, yang dimamah sungguh nikmatnya. Itu untaian usus-usus siapa, yang dibuat kalung bergelantungan di dada.

Ya Allah, sudah sedemikiankah manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Menjelma binatang hanya membayangkan mangsa.

Rabu pagi. Ini perut minta diisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Aku beranikan diri berjalan, bersembunyi, hati-hati. Masuk ke desa yang aman, yang dijadikan penampungan pengungsian.

Aku masuk ke sana. Dan aku saksikan beribu-ribu pengungsi tanah air, terusir di kampong halaman sendiri. Mereka berteduh di bawah kenda-tenda sederhana sekali. Di lapangan terbuka, dipukul angina dan gerimis malam hari.

Tubuh memar hasil menyelamatkan diri. Jerit tertelan habis sunyi. Rintih anak gadis, janda, dan istri. Ada bayi menjerit mengiris hati. Dia tak tahu ayah dan ibunya tiada lagi. Siapa itu terputus susunan syarafnya. Termangu dan terbahak bicara menangis sendiri. Tak ada lagi yang bicara kemungkinan nafkah dan rejeki.

Kampong sempurna jadi abu. Membawa bungkusan sarung, mengungsi. Terusir dari kampong halaman. Jadi pelarian di negeri sendiri. Siapa memindahkan Bosnia dan Kosovo sepuluh ribu kilometer jauhnya dari sini.

Tak terdengar lagi nyanyi ‘pelagandong’ yang merdu menyentuh hati. Mana nampak orang bertolong-menolong membantu masjid dan gereja lagi. Tak terasa angin sejuk yang menyapu hutan cengkeh dan pala yang teduh ini. Kekejaman tak masuk akal dalam sandirwara politik luar biasa keji. Jadi pengungsi di kampung halaman sendiri. Dizalimi, disiksa, dibakari, digagahi di sini.

Suram. Suram hitam langit kupandang. Nestapa. Nestapa. Nestapanya cuaca bangsa.

Saudaraku, duka demikian besar luar biasa. Rontok di dalam rongga dada. Inilah aku, datang jauh-jauh, merengkuh memelukmu saudaraku.

Kamis pagi. Aku bercengkerama dengan pengungsi. Ada kabar siang nanti bakal ada kunjungan pejabat tinggi. Rencananya bantuan kemanusiaan akan diantar Wapres Megawati ke sini. Yang memang ditunjuk Presiden Gus Dur untuk mengurusi.

Aku gembira bukan kepalang. Ketika siang rombongan itu benar-benar datang. Berpuluh truk mengangkut bahan makanan. Di belakangnya mengangkut bahan bangunan. Lengkap dengan satgas-satgasnya. Berpakaian hitam-hitam sungguh gagahnya. Satgas perjuanganku yang kekar berwibawa. Menurunkan bahan makanan dari truk ke pengungsian. Mendirikan juga tenda-tenda yang kuat untuk perlindungan.

Dan esoknya, akan masuk ke desa-desa. Membangun kembalu bangunan yang hancur berantakan. Para pengungsi mencium tangan Wapres Megawati. Dan menyelaminya ketika sore hari, pamitan pulang lagi.

Jum’at pagi. Senyum ceria menghiasi bibir pengungsi. Bantuam makan tak kekurangan lagi. Ada kabar bantuan akan datang lagi hari ini. Diantar oleh Ketua DPR dan MPR berupa obat-obatan dan tenaga medisnya. Sebagai tanda solitaritas duka bangsa.

Dan betul begitulah adanya. Sebelum Jum’atan rombongan datang. Pak Amien Rais didaulat memimpin sholat Jumat. Dan Pak Akbar Tanjung memberikan khotbahnya. Aku lihat para pejabat menyalami para pengungsi di bara-barak dan tenda-tenda. Berbincang akrab dengan anak-anak yang berlarian di lapangan.

Aku lihat juga. Tenaga medis langsung bersikap tanggap. Mengobati pengungsi dan melakukan operasi. Mencabut panah yang nancap di kepala. Membalut luka yang busuk dirubung semut.

Ah, sungguh indah persaudaraan. Kala yang satu sakit yang lain meringankan. Takkan ada luka bangsa yang terus menganga.

Sabtu pagi. Embun menitik di pucuk daun. Beningnya menyejukkan mata. Di Maluku tak ada pertikaian lagi. Yang kemarin tragedy dilupakan kini. Yang dendam dipendam dilupakan sudah. Dan tak akan dibongkar lagi.

Perjanjian damai akan dilakukan. Kesepakatan bersama akan dinyatakan. Takkan lagi bertikai senjata dan menumpahkan darah antar sesama.

Hari itu, sabtu siang. Dua pemuka golongan berjabat tangan. Senjata diletakkan. Janji bersaudara kembali diikrarkan. Dengan disaksikan aparat dan seluruh pejabat.

Dan kedatangan khusus Presiden Gus Dur, setelah jadwal kunjungan ke luar negeri diundur. Menambah kesakralan acara sumpah setia pada Indonesia.

Betapa indah dahulu kalimat Indonesia merdeka. Betapa ngilu kini mendengar kalimat, ingin merdeka dari Indonesia.

Di luar gedung pertemuan. Aku lihat banser sigap berjaga-jaga. Rakyat Maluku berdendang ria. Bertari lenso bersama.

Saksikanlah kini. Bahwa Indonesia tetap satu. Presidenku sungguh peduli pada tragedi negeri ini.

Minggu pagi. Barak pengungsian sudah sepi. Semua pengungsi sudah kembali ke kampung halaman sendiri. Hidup rukun bahagia sedia kala. Sejahtera sentausa dalam indahnya hidup bersama.

Indahnya perdamaian. Tak terasa sudut mataku basah. Bahagianya ini dada.

Aku gelar kembali permadani terbangku. Aku duduk bersila dengan mata terpejam. Aku pulang ke Purwokerto. Senin besok, aku harus kembali kerja.

Senin pagi. Seperti biasa lagi. Aku selalu menulis puisi, sambil bermimpi.

CATATAN:

tulisan ini aku buat 11 tahun lalu. akhir tahun 1999 sampai 2000an. ketika meledak kerusuhan sara di Maluku. tak sengaja ketikan itu tadi aku temukan. masih ketikan dengan mesin ketik. aku terkenang masa itu. ketika aku sangat suka menggabungkan cerpen dan puisi. dan ternyata itu laku. aku sering diundang untuk mengisi acara pengumpulan dana solidaritas. salah satunya adalah ini. ketika digelar untuk solidaritas Maluku.

dan di tulisan itu, kumasukkan sentilan pada para pejabat tinggi negera. yang seolah menutup mata pada pembantaian di Maluku. termasuk sang presiden yang sibuk plesiran. dan pejabat di bawahnya sibuk saling sikut-sikutan.

aku kangen bikin tulisan semacam ini lagi. meski tak kuketahui jenisnya, ini cerpen, apa puisi?

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 06 April 2011 at 18:53

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s