Melodi Sunyi 2 : Salah, Aku Kalah

Standar

“Kembang tumelung kembang kecubung

kembang manglung ati mentiyung

kembang ati kang gawe wuyung

kaya mendem kembang kecubung”

Bunga putih ungu itu pun dibelai-belainya. Satu kuntum kembang dipetik untuk dicium wanginya.

Kuntum kecubung yang kemudian dilepaskan kelopaknya. Dibuang satu persatu ke tengah aliran air sungai yang mengalir tenang. Kelopak-kelopak pun hanyut terseret arusnya. Timbul tenggelam dalam kebeningan air dengan timpaan mentari pagi. Sesekali tersangkut pada sampah rumputan. Lalu dengan datangnya pusaran air membuatnya berputar, kelopak kecubung pun keluar dari rintangan.

Namun pusaran air itu justru menjadi halangan berikutnya. Ketika kelopak-kelopak kembang putih ungu itu kemudian malah masuk mata pusaran. Tenggelam dalam arus air yang berpusar memutar. Untuk kemudian tak muncul lagi ke permukaan.

Namun ia tetap menunggu.

Sambil menatap kencangnya pusaran air, lelaki itu tersenyum sendiri. Matanya menyipit memerhatikan kembang kecubung yang tak kunjung muncul ke permukaan.

Dari bibirnya terdengar lirih nyanyian. Sebuah kidung kesedihan yang memilukan.

“tentang sungai kesepian

tentang muara kesedihan

yang hanya bisa kurenangi sendiri

yang hanya bisa kuselami sendiri

terjebak aku dalam pusaran sunyi

salah, aku salah

 

telah merindu dalam bisu

tetap mengharap dalam diam”

 

Lelaki muda itu pun terdiam.

Mendadak dalam benaknya melintas bayangan yang sangat jelas dikenangnya. Sosok yang sangat telah dikenalnya. Bayangan seorang wajah perempuan dengan mata lembut yang senyumnya selalu mengembang. Manis anggun dalam tatapan pandangnya yang meremang. Cahaya matanya yang teduh menawarkan kedamaian bening telaga. Bibir tipisnya menyunggingkan selarik senyum manis menawan. Pipinya merona merah penuh pesona. Pada lentik bulu matanya ia melihat ketajaman yang mampu menusuk jiwa.

Sejenak ia pun berbisik menyebut sebuah nama. Nama yang sedang dihapuskan dari kenangannya. Nama yang harus dilupakan dari ingatannya. Dari hati dan dari jiwanya.

Nama yang tak boleh ada rasa apa pun padanya, sejak kesepakatan yang mereka buat dalam pertemuan terakhirnya. Pertemuan yang basah oleh air mata. Pertemuan yang membuatnya berkidung semalaman.

Kidung yang pagi itu pun mendadak dikenangnya. Sambil memerhatikan kelopak kecubung yang baru dipetik dan kembali ia tebarkan di tengah aliran.

Lelaki muda dengan wajah sayu itu terus memerhatikan bunga putih ungu yang terseret arus pusaran. Dari bibirknya yang bergetar terlantun sebuah kidungan. Sepotong nyanyian yang dibarengi dengan tetesan ari bening dari ujung pelupuk matanya.

 

“air mataku telah jauh dari mata air

mengalir resah di sela buih pikir

mengantarkan pesan dari telaga rasa

tinggal lara kala diammu mendera

kalah, aku kalah

 

janjiku tiada marah

sebab geram jiwaku telah karam

tenggelam ke dasar lelah”

 

Ia menghela nafas barat.

“Saya menghormati laki-laki yang berani menyampaikan perasaan. Tapi saya lebih menghargai laki-laki yang berani memberikan kepastian.”

Demikian terbaca dalam salah satu isi suratnya.

Surat yang kemudian membuatnya bergetar, ketika membacanya di dalam kamar. Surat yang membuatnya menggigil. Panas dingin semalaman.

Surat yang telah membuatnya menyingkir dari keramaian. Membuatnya merasa ingin menenangkan diri ke pedalaman.

Namun ternyata, ketenangan batin tak juga ia dapatkan. Justru semakin dikenang, perasaan sakit dan kecewa itu makin sering datang.

Ia pun menjadi sering mengutuk kebimbangannya. Mengutuk ketidakberaniannya. Mengutuk diamnya. Mengutuk ragunya.

Kekecewaan yang membuat hatinya sakit. Bahkan kemudian badannya.

“salah, aku salah

kalah, aku kalah”

Dan kelopak bunga kecubung itu pun telah habis ia tebarkan. Telah jatuh ke dalam aliran sungai yang mengalir perlahan.

Tenggelam dalam pusaran.

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 19 January 2011 at 23:26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s