Catatan Kaki 1 : Iqro’ Apa Iqra’?

Standar


Hari ini, tepat 2 tahun lalu anak kami yang ke-2 lahir.

Dan sejak kehamilannya, ummi berkali meminta bahwa ini adalah anak kami yang terakhir.

Karena pada kehamilan pertama, dokter sudah memvonis bahwa ummi tidak akan bisa melahirkan normal. Maka aku mengamini permintaan ummi, yang sudah mempertaruhkan nyawa hingga 2 kali. Meski pun dalam canda, sering kujawab dengan tanya tawa, “anak terakhir dari istri pertama?” Namun itu hanya sebatas just kidding and just for laugh belaka.

Seperti juga orang tua lainnya, jauh hari sebelum kelahiran, kami sudah memersiapkan nama untuknya. Dan kami memilih memberikan nama yang mudah-mudah saja. Tak perlu mikir lama, tinggal comot dari Al-Qur’an. Kami berkeyakinan, ayat Allah adalah kalimat pilihan.

Aku sendiri punya ayat favorit penenang hati, yang dicuplik dari Surat Arrahman. Pengulangan yang sangat puitis melodius itu membuatku terbius. Sejak pertama membacanya, pada 20 tahun silam ketika aku baru bisa terbata. Hingga hari ini, tak berkurang sekerling pun kilau pesonanya. Dalam surat pendek yang hanya 78 ayat, kalimat itu berulang 30 kali dilafal. Seperti rapal mantra yang mudah dihapal. “Fabbiayyi alaairabbikumma tukadzdzibaan.” Sebuah pengingat agar kami selalu berkaca, “maka nikmat Tuhan manakah yang hendak kamu dustakan?”

Namun kemudian, ‘doa pengingat jiwa’ itu tak jadi kami berikan padanya.

Ummi bilang sulit diucapkan, dan terlalu panjang. Maka aku berpikir ulang untuk menggantinya dengan ayat yang mudah saja. Maka ketemulah kalimat indah itu. Ayat yang familiar di bibir setiap orang: “Iqra’ Bismi Rabbika.”

 

“Singkat, hemat, jelas, tegas, bernas.” Begitu alasan yang kusampaikan pada ummi dengan cerdas. Sekadar menutupi rasa seganku untuk mencari ayat lain lagi. Sedikit malas.

Namun sesungguhnya, aku memang terpesona betul dengan ayat yang pertama turun itu.

Karena (menurut ustadz Quraish Shihab) kata iqra’ diambil dari kata qara’a yang pada mulanya berarti ‘menghimpun’. Dalam berbagai kamus dapat ditemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain, ‘menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu’, dan sebagainya.

Sebuah makna yang dalam dan indah. Bahwa perintah membaca, bukan hanya mengeja yang terbaca mata. Tapi mencakup semua yang tertangkap panca indera.

Dan kata iqra’ itu bersambung dengan ‘bismi rabbika’. Yang memerintahkan agar proses ‘menghimpun’ itu selalu berkaitan dengan tindakan ‘demi karena Allah’. Bukan demi yang lainnya. Bukan demi kesombongan keilmuan, atau pun tepuk dada keangkuhan pengetahuan belaka. Tapi menjadi bentuk sujud syukur ibadah terindah untuk membaca nikmat alam raya.

Karena dengan iqra’ yang bismi rabbika, Allah telah menjanjikan, ia akan memeroleh kemurahan anugerah-Nya berupa pengetahuan, pemahaman, dan wawasan baru, walaupun obyek bacaannya sama.

Maka benarlah, bahwa perintah membaca merupakan perintah paling berharga yang pernah dan yagn dapat diberikan pada ummat manusia.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ‘membaca’ adalah syarat utama guna membangun peradaban. Semakin mantap bacaan, semakin tinggi pula peradaban. Dan demikian pula sebaliknya. Tidak mustahil suatu ketika, ‘manusia’ akan didefinisikan sebagai ‘makhluk membaca’. Suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya, semacam ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berpikir’.

Dan itulah doa yang kami sematkan pada anakku. Seperti juga orang tua lainnya, kami meyakini bahwa anak adalah harta yang sangat berharga. Kami menyebutnya, investasi dunia akhirat. Maka bagi kami, nama adalah sebenar doa. Pengharapan segala keinginan. Kebetulan kami bukan penganut Shakespearian yang sering mencibir, “apalah arti sebuah nama?”

“Yakin ga diganti lagi? Mantap?” tanyaku pada ummi sebelum mengetuk palu keputusan.

Bismillah. Insya Allah,” jawab ummi kemudian. Sambil memberikan alasan, bahwa nama Iqro’ juga punya kenangan tersendiri padanya. Karena konon, ummi pertama mengenalku adalah sebagai pengajar TPA yang waktu itu menggunakan metode iqro’.

Aku cuma tersenyum mendengar pengakuannya. Dengan sedikit tersanjung. Bangga juga dikenal sebagai orang baik oleh calon istri, meski hanya pengajar iqro’ di masjid kampung.

Maka sehari setelah kelahirannya, kemudian didaftarkanlah nama itu pada catatan sipil.

Iqra’ Bismi Rabbika.” Tulisku di blangko yang diberikan petugas dengan sederet keterangan.

Petugaspun membaca ulang, untuk meneliti data yang kami berikan.

Namun kemudian ia bertanya, “Ini yang benar Iqra’ Bismi Rabbika atau Iqro’ Bismi Robbika?”

Iqra’ Bismi Rabbika, pak!” jawabku mantap sambil menjelaskan, bahwa tulisan di Akta adalahIqra’ Bismi Rabbika. Namun kami membaca dan memanggilnya menjadi Iqro’ Bismi Robbika.

Petugas pun mengangguk. Lalu menyalami kami, sambil tersenyum ramah setelah menerima amplop dari ummi. Dia menjanjikan 2 pekan lagi jadi. Dab bisa diambil di rumahnya.

Namun dalam perjalanan pulang istri bilang, “Kok bukan Iqro’Bismi Robbika saja to Bi?”

“Emang kenapa?”

“Nanti kalau di sekolahan tulisannya gitu, temen-teman pasti manggilnya Iqra’. Bukan Iqro’ lho bi. Kan sesuai yang tertulis di daftar absen. Bisa-bisa dipanggil Rabbika!”

Sampai rumah kami ingin mengubah lagi. Akan aku hubungi kembali petugasnya, untuk diubah menjadi Iqro’ Bismi Robbika saja. Namun ketika aku ke tempatnya, tak ketemu langsung dengan orangnya. Berkali-kali dihubungi, juga sulit tersambung dengan HPnya. Dari pada repot, kami mantapkan lagi ke nama semula. Toh untuk sebutan, bisa kita biasakan dalam pergaulan.

Dua pekan kemudian Akta Kelahiran kami ambil. Kami baca dengan teliti dan hati sedikit berdebar. Takut kalau terjadi kesalahan tulis lagi. Seperti pada anak kami yang pertama.

“Pencatatan Sipil. Kutipan Akta Kelahiran. Berdasarkan Akta Kelahiran Nomor 008/2009, menurut stbld, bahwa di Surakarta pada tanggal enam belas Desember dua ribu delapan telah lahir IQRA’ BISMI RABBIKA. Anak kedua, jenis kelamin perempuan….”

“Perempuan?” tanya kami berdua pada si petugas, “anak kami ini laki-laki, pak!”

Petugas pun turut kaget. Dan dia memberikan alasan, “Namanya Rabbika, sih mas, mirip nama perempuan….”

by Nassirun Purwokartun on Thursday, 16 December 2010 at 08:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s