Catatan Kaki 2: Membayangkan Bayang-Bayang

Standar


Ketika ngonthel shubuh tadi, secara tak sengaja kuperhatikan roda sepedaku.

Setiap melewati lampu pinggir jalan, bayang-bayang sepedaku datang. Lalu dengan cepat bayang-bayang itu akan berjalan ke belakang, ketika onthelku maju ke depan. Hingga kalau diperhatikan seksama, bayang-bayang itu selalu berjalan menuju belakang, sekalipun ketika dia datang dari arah depan.

Ketika lampu jalan ada di depanku, bayangan itu belum nampak. Begitu masuk area nyala lampu, bayangan pun muncul. Dan saat sepeda melewatinya, bayangan akan bergerak ke belakang. Tentu tepatnya seolah bergerak ke belakang. Karena yang sebenarnya terjadi adalah sepedakulah yang tengah maju ke depan.

Lalu sambil menghirup segarnya hawa pagi, tiba-tiba aku tercenung soal bayang-bayang.

Bahwa mungkin sebaik-sebaik kita adalah jangan pernah mau jadi bayang-bayang. Karena ketika si obyek itu berhenti, bayangan memang akan sama dengan obyeknya. Persis, tiada beda. Tapi ketika si obyek mulai bergerak, bayangan justru akan berubah langkah menuju ke belakang. Dan ketika obyek maju, bayangan akan bergerak mundur. Begitu seterusnya, nasib kita kalau mau hanya sekadar menjadi bayang-bayang.

Maka sambil tersenyum, aku membaca basmallah sejenak. Sambil meniatkan diri, ingin menjadi sepeda yang maju ke depan, bukan bayangan yang terus mundur ke belakang.

Sambil membaca bayang-bayang pepohonan di pinggir jalan pulang, aku benar-benar terpukau dengan pesona bayang-bayang.

Aku jadi teringat beberapa hari lalu, ketika terjadi pemadaman listrik di kampungku

Ketika listrik mati, maka gelaplah seisi rumah. Sebagai penerang, ummi menyalakan sebatang lilin. Lilin diletakkan di tengah ruangan. Aku, ummi, ahya, dan iqo duduk mengelilinginya. Mengitari lilin yang meliuk-liuk nyalanya dihembus angin dari jendela.

Ahya tertawa-tawa ketika melihat ke dinding kamarnya. Di belakangku, ada bayangan yang besar sekali.

“Bayangan hantu,” kata ahya.

Aku pun menoleh ke belakang. Bayangan yang besar sekali, dengan punggung melengkung menyentuh ujung eternit. Dan kepalanya memenuhi seluruh eternit ruangan.

Aku pun tertawa. Melihat bayangan ‘hantu’ itu Karena itulah bayangan tubuhku sendiri.

Aku pun kemudian mengulurkan telapak tanganku ke dekat nyala lilin. Dan ahya kusuruh untuk melihat ke dinding. Dengan genggaman tangan yang dibentuk sedemikian rupa, bayangan di dinding berubah membentuk kepala bebek, kepala ular, kepala harimau, bahkan gurita. Ahya kembali tertawa-tawa. Iqo pun turut tertawa. Melihat bermacam binatang bergerak-gerak di dinding kamarnya.

Lalu Ahya tertarik mencobanya sendiri. Tangannya diulurkan ke dekat nyala lilin. Dan di dinding ia membentuk tangan raksasa, yang gerakannya seperti mau mencengkeram kepalaku. Kakinya pun kemudian diangkat. Di dinding pun tergambar kaki raksasa yang hendak menginjak kepalaku. Besar luar biasa, ujung-ujung jarinya yang luar biasa besar, bergerak-gerak bagai mendesak ke ujung atap.

Dan semua itu hanya bayang-bayang. Sesuatu yang seolah menakutkan, namun bukanlah sesuatu yang sesungguhnya. Bukan yang sebenarnya. Bukan yang senyatanya.

Semua menjadi ada, karena bayangan itu ada dalam pikiran kita.

Ketakutan kita, kecemasan kita, kegelisahan kita, kadang seperti bayang-bayang. Sesuatu yang lebih menakutkan dan mengerikan, dari hal yang sebenarnya.

Yang ada di dinding bukanlah ular, harimau, atau bahkan gurita.. Tapi hanya bayang-bayang telapak tanganku saja.

Yang tergambar di dinding bukanlah tangan atau kaki raksasa yang siap mencengkeram kepala. Tapi hanya sekadar tangan dan kaki ahya.

Maka mestinya kita bisa melihat dengan jernih. Agar ketakutan tak selalu menghantu. Seperti bayang-bayang, bukan sesuatu yang sesungguhnya menakutkan.

Seringkali, ketakutan itu kita bikin sendiri. Dari bayangan-bayangan kita sendiri.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 17 Desember 2010 pukul 22:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s