Catatan Kaki 3: Sriban, Prasasti Yang Sulit Terganti!

Standar

Mata kupejamkan. Aku berbaring di beranda depan. Di teras rumah sebelah kanan.

Aku ingin mengenali seisi halaman, yang sudah bertahun menjadi wajah rumahku. Namun bukan dengan melihat langsung. Melainkan dengan hanya membayangkan, seolah melihat sekeliling halaman dari kiri ke kanan, dan dengan mata terpejam.

Akan kuhafalkan semua benda di halaman. Yang sehari-hari kulihat, dan selalu ada di pelataran, namun selalu luput dari perhatian. Benda-benda yang keberadaannya sering kali diremehkan.

Sungguh ini hanya keisengan. Sekadar melatih ingatan, yang seminggu ini sulit dikonsentrasikan.

Maka aku pun mulai melihat dengan mata ‘batinku’ dengan cara memutarkan pandangan. Di sebelah kiri ada bangku beton, jemuran baju, motor tuaku, sepeda onthel lawasku, dan sepeda kecil milik Ahya. Lalu di sebelah depan ada pintu pagar, jajaran pot-pot bunga, pohon rambutan, pohon anggur, dan pohon mangga. Kemudian di sebelah kanan terpancang tiang teras rumah, kursi plastik biru tua, kursi kayu panjang warna coklat muda. Sedang di belakang ada kaca-kaca nako, kaca besar, pintu rumah, stiker-stiker tertempel di kaca, dan plat nomor rumah.

Setelah itu mata kubuka. Dan kulihat kembali apa yang tadi kulihat dengan terpejam.

Ternyata semua sama. Seperti yang sesungguhnya. Jadi mestinya, otakku masih tajam ingatan. Namun kenapa seminggu ini, kunci motor dan kaca mata selalu lupa di mana kuletakan?

Aku mecoba mengulang lagi. Mata kupejamkan lagi. Kuulang kembali ketajaman ingatanku. Dan sekarang kubalik arahnya, dari sebelah kanan ke sebelah kiri. Dari plat rumah yang terpasang di atas pintu rumah, hingga bangku beton yang merapat dengan tong sampah.

Semua terlihat. Berikut warna dan bentuknya.

Tapi entah kenapa, dari bermacam benda yang ada dalam bayangan, mendadak muncul satu benda yang tak mau lepas dari ingatan. Tetap membayang setelah mata tak lagi kupejamkan. Bahkanm meski aku telah meninggalkan halaman, masuk ke rumah untuk mengambil sarapan.

Entah kenapa, dalam ingatanku tadi pagi, melekat sebuah kursi kayu panjang warna coklat muda.

Di antara benda-benda yang berjajar menyesak di halaman, hanya kursi itu yang paling jelas dalam bayangan. Hingga aku pikir-pikir ulang, kenapa begitu melekat dalam ingatan.

Kursi kayu panjang sederhana berwarna coklat muda. Kursi panjang yang biasa dijajakan orang di jalan-jalan. Kursi panjang yang kalau di kampungku, disebut dengan nama sriban. Sriban, ya sriban. Mungkin nama itulah menyebabkan benda sederhana itu demikian lekat dalam ingatan.

Sriban. Aku jadi terkenang dengan kursi panjang bernama sriban. Itu adalah kursi panjang kesayanganku waktu masih di kampung.

Menjadi kesayangan, karena di rumahku tak tersedia sofa sudut, atau pun mebel ukir, apalagi seperangkat kursi tamu. Di balai-balai yang luas itu, hanya berisi 2 perangkat meja kayu tua sederhana, berikut 4 kursi kayu, dan 2 sriban panjang. Sebuah meja dan kursi buatan tukang kayu yang mungkin masih blajaran. Belum ahli mengetam, karena terlihat kasar papannya. Dan bentuknya yang sangat-sangat sederhana, bahkan tak rapat pada sambungannya.

Namun di sriban itulah dulu aku sering melakukan bermacam kegiatan. Dari mulai membaca, menulis, atau pun menggambar. Membaca apa saja. Menulis apa saja. Pun menggambar apa saja.

Dengan duduk di sriban sebelah utara, yang berada tepat di dekat jendela. Biar bertambah terang, pintu jendela aku buka, kemudian aku asyik melahap buku apa saja.

Di sriban itulah, buku-buku sastra berat (untuk ukuran anak SMP waktu itu) karya Arswendo Atmowiloto, Emha Ainun Najib, Umar Kayam, Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, Rendra, Ahmad Tohari, dan yang lainnya aku kunyah dengan kemampuan membaca yang masih payah. Dan beberapa tahun sebelumnya, buku-buku Lupus-nya Hilman Hariwijaya dan Balada si Roy-nya Golagong aku mamah di waktu SD. Berikut novel-novel remaja yang tengah booming di saat itu. Karya Gus TF Sakai, Gustin Suradji, Bubin Lantang, Zarra Zettira, dan yang lainnya.

Di sriban itu juga, aku sering belajar menulis puisi dan cerpen. Baik tulisan coretan awal, atau tulisan tangan yang kubikin rapi, untuk dikirim ke majalah.  Sejak aku masih SD, hingga akhir remaja, ketika aku bisa mengumpulkan uang untuk beli mesin ketik.

Duduk di sriban itu, aku bisa demikian asyik menggambar dari siang sampai malam. Aku menggambar tugas sekolah atau pun kartun yang akan kukirim ke majalah. Juga kartun-kartun yang kusertakan dalam lomba nasional maupun internasional.

Di sriban itu, karya-karya kartun yang aku anggap ‘monumental’ lahir. Kartun yang kuikutkan dengan bangga dalam Pameran Kartun Nasional, ketika aku duduk di kelas 1 SMA. Serasa menjadi ‘ijazah’, bahwa sejak saat iu aku telah diakui sebagai kartunis Indonesia. Juga kartun yang turut dipamerkan dalam ‘Pameran Kartun Nasional’ yang digelar di Taman Ismail Marzuki, beberapa tahun kemudian. Sebuah pameran hasil kerjasama dengan Friederich Nouman Stiftung.

Di sriban itu pula, kartun-kartunku aku buat untuk mengisi rubrik tetap di sebuah majalah di Jakarta. Waktu itu aku masih kelas 2 SMA, dan sudah menjadi koresponden karikatur bertema politik dunia Islam. Dan dari honor kartun tetap itu, aku bisa membiayai sekolah sendiri. Membeli bermacam buku sastra, dan seluruh keperluanku, tanpa meminta lagi pada orang tua.

Di sriban itu juga, kubuat kartun-kartun untuk pameran. Baik pameran tunggal, ataupun pameran bersama seniman Purwokerto lainnya. Termasuk pameran tunggalku yang masih berkesan hingga hari ini. Yaitu pameran kartun yang kuberi tajuk ‘Presidenku Gus Dur Sekali.’ Karena dalam pameran itu, aku sempat diterror untuk menutupnya. Dan dalam persiapan pameran berikutnya, yang kuberi judul ‘Presidenku Makin Gus Dur!’, mendadak Presiden yang Gus itu mendekritkan takhtanya. Pameran pun batal digelar, karena telah kehilangan momentnya.

Maka sadarlah kini, mengapa aku mendadak terkenang dengan kursi panjang di teras rumahku.

Ternyata karena secara tak sengaja, selalu mengingatkan pada sriban kesayanganku di kampung. Sriban yang telah begitu dekat dan akrab denganku. Yang menjadi saksi sejarah perjalanan ‘kesenimananku’ sejak memutuskan ingin menjadi seorang kartunis, sekaligus penulis.

Mata pu kembali kupejamkan. Kubayangkan sriban yang telah sepuluh tahun lebih kutinggalkan. Sriban yang masih teronggok di balai-balai rumahku yang tak ada sedikit pun perubahan.

Sebuah kursi panjang sederhana saja. Dengan tangkai sandaran tangan yang melengkung dan membesar pada salah satu ujungnya. Lalu sandaran berbentuk wajikan saling melintang dengan ukiran kasar khas desa. Juga kaki-kakinya yang kokoh dengan bubutan model botolan biasa.

Aku jadi terkenang, bahwa dulu aku memang sangat menyayangi sriban itu. Sampai-sampai, waktu dipinjam tetangga yang hajatan, dan kembalinya ada sandaran yang patah, aku sempat marah. Sayang sekali, sriban yang sangat antik dan berjasa, menjadi rusak sandarannya.

Sriban kasar dan sederhana itu, pagi ini sangat melekat di hati. Seperti menjadi saksi sejarah pahatan kasar jiwaku, ketika dulu aku tengah mencari dan menemukan diri.

Sriban itu, prasasti sederhana yang sulit terganti.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Desember 2010 pukul 19:17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s