Catatan Kaki 4: Perutku Lembut. Perutmu?

Standar

 

Konon, perut yang lembut bisa menghaluskan perasaan dan pikiran.

Bisa mengurangi stress dan segala macam kecemasan, kegelisahan, juga kekhawatiran.

Menurut buku yang pernah kubaca, kita menghabiskan banyak waktu untuk menyimpan segala sesuatu di dalam perut. Ketegangan tubuh dan pikiran juga menghabiskan banyak energi yang sebenarnya menghambat lancarnya aliran darah.

Napas lah yang sebenarnya bisa menjadi pengenyang. Dengan menjadikannya rileks, hingga bisa merasa lebih tenang dan nyaman.

Maka kucoba praktekkan ilmu yang baru kudapatkan.

Aku pun duduk bersila di lantai kamar. Kedua telapak tangan kuletakan di atas perut. Kubayangkan perutku adalah balon yang akan kutiup. Kutarik nafas dalam-dalam, dan kusimpan dalam perut yang kubayangkan sebagai balon udara. Kutahan sebentar. Kuhembuskan pelan-pelan dan kubayangkan balon sedang kukempeskan perlahan.

Pikiran yang semrawut kukosongkan. Kufokuskan pada perut yang maju ketika kutarik nafas, dan mundur waktu kuhembuskan. Perutku yang menggelembung (kata istri, mirip orang hamil lima bulan), terlihat maju mundur dalam tiap tiupan.

Dalam setiap hembusan, akan kukeluarkan pula segala macam masalah yang berdiam di pikiranku. Aku ingin mengendurkan ketegangan yang bermula dari otak dan berdiam di hatiku. Aku tengah merindukan kesegaran dan kenyamanan. Kedamaian.

Berulang kali kucoba, dan ternyata tak bisa sesuai dengan yang disarankan.

Kutarik nafas dalam-dalam, kusimpan dalam perut, dan terus kutahan.

Menurut teori, harus menahannya selama 3 menit. Tidak boleh kurang. Dan menghembuskannya pun pelan-pelan. Tepat 5 detik. Namun aku gagal. Aku hanya mampu menahannya paling lama 2 menit. Itu pun sudah dengan perut kaku, dan sudah benar-benar tak tertahan.

Kemudian aku pun menghembuskannya tak bisa pelan. Begitu terasa sudah tak tahan, langsung nafas itu berhembus sangat cepat. Seperti berebutan. Mungkin tak sampai 5 detik, sudah habis semua nafas yang tertahan. Jadi cepat sekali udara yang kutahan itu dikeluarkan.

“Astaghfirullahal’adziem…..”

Istighfarku berulang, untuk sedikit mencari tenang.

Mungkin benar inilah kunci dari semua kekacauan batinku.

Karena aku tak kuat menahan nafas, membuatku cenderung emosional. Dan dengan terlalu cepat menghembuskannya, membuatku terlalu cepat naik darah.

Mungkin. Karena itulah yang sepekan ini kurasakan. Seminggu ini aku menjadi mudah emosi. Mudah kecewa, mudah jengkel, mudah sedih, juga mudah marah.

Suatu yang kalau ditelusuri (dan dijadikan pembenaran), semua bermula dari perasaan tertekan, yang tak bisa tersampaikan. Suatu perasaan yang hanya disimpan dan dipendam dalam hati. Suatu perasaan yang tak terungkapkan, ternyata memang lebih mudah membuat sakit hati.

Dari sakit hati macam itulah, katanya bisa menyebabkan timbulnya Hepatitis C. Penyakit yang membuat gosong hati, dan satu-satunya jalan adalah dengan mengganti hati. Persis seperti yang beberapa tahun lalu dilakukan Dahlan Iskan, bos Jawa Pos. Operasi mencangkok hati, yang biayanya (waktu itu) senilai sedan mercy. Hingga dengan berseloroh, Dahlan mengatakan ‘ada symbol mercy’ di perutnya. Karena luka bekas operasi benar-benar membentuk segi tiga mercy.

Dan aku sadar diri, aku tak mungkin ada cadangan biaya untuk mencangkok hati. Maka petuah lama terasa kembali membelai diri. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Oleh karena itu, aku pun terus akan mencoba kembali teraphy ini. Nafas akan kutahan selama 3 menit, dan kuhembuskan dalam 5 detik. Aku akan terus mencoba melembutkan perut, untuk bisa menstabilkan emosi.

Karena konon, ketika kita bisa  mengendurkan semua ketegangan dalam perut, kita akan menemukan kesegaran dan kekuatan dalam hidup.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 19 Desember 2010 pukul 19:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s