Catatan Kaki 5: Adam, Turun Dari Surga Langsung Ke Minang?

Standar


MENGENANG MINANG

Kalau nanti ada waktu luang, ingin sekali ‘menggelandang’ di Minang.

Meski dulu sudah pernah ke sana, tapi hati masih selalu merindu untuk mengulang. Rasanya perjalanan 8 hari itu, belum memuaskan hausku akan pesona Minang yang indah ‘takambang’.

Perjalanan tahun lalu, aku hanya sempat menjenguk rumah Tan

Malaka di Payakumbuh. Kemudian rumah kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, rumah kelahiran Buya Hamka di tepian Maninjau, lalu melihat kuburan Siti Nurbaya di bukit Padang.

Keinginan ke Minang, bermula karena terpesona sosok Bung Hatta.

Waktu SMP aku menjadikannya tokoh idola Karena kecerdasan intelektualnya yang bisa memadukan dengan kematangan emosional. Menurutku saat itu, Hatta merupakan perpaduan yang sangat ideal dari sosok negarawan yang nasionalis religius.

Beranjak remaja, aku mulai tertarik Tan Malaka. Karena kejeniusannya dalam melahirkan teori-teori politik untuk menuju kemerdekaan Indonesia. Kecemerlangan pandangannya yang jauh ke depan, mampu menjadi tonggak titian perjuangan bangsa. Hingga Bung Karno pun mengakui, bahwa Tan Malaka adalah guru politiknya. Guru imajiner, karena sang Bung Besar itu hanya membaca pikiran-pikirannya, tanpa pernah

bertemu orangnya.

Di mataku, keduanya adalah seorang patriotik yang menarik. Karena sama-sama berlatar Minang yang islami. Alam Minang yang religius ternyata bisa melahirkan dua sosok yang berbeda pandangan. Melahirkan seorang Hatta yang nasionalis, sekaligus Tan Malaka yang sosialis.

Dari dua sosok itu, ketertarikan pada tokoh Minang semakin bertambah. Karena kemudian aku mengenal ulama yang juga sastrawan, Buya Hamka. Penulis novel legendaris ini pun kelahiran Minang. Lahir di desa Tanah Sirah, Sungai Batang, pada tepian danau Maninjau.

Maka sungguh, datang ke Minang seolah mewujudkan mimpi masa kecil. Keinginan yang terus kupendam, dan akhirnya terlaksana, setelah tertunda hampir 15 tahun lamanya.

Dan syukurku, aku benar-benar berbahagia bisa jalan-jalan ke Minang.

Di Padang, aku sempatkan jalan-jalan ke Muaro Padang. Tempat yang penuh keelokan pada sebuah kawasan kota lama. Dengan bangunan-bangunan tuanya, arsitektur gaya Cina yang tak lagi terawat, tapi menyisakan eksotisme Padang tempo dulu. Di saat ketika pinang dan lada menjadi dagangan yang sangat meraja di perdagangan dunia. Gudang-gudang yang dibangun berderet di sepanjang jalan tepian muara, menjadi bukti kejayaan yang tersisa.

Pusat perdagangan sejak ratusan tahun silam yang berada di tepian Selat Batang Arau. Tempat bermula kehidupan kota Padang sebagai pelabuhan, sejak penjajahan kolonial Belanda. Bahkan mungkin jauh sebelum itu, ketika Portugis masih mengincar kawasan barat Sumatra.
Di Batang Arau, aku menyaksikan jejak sejarah perdagangan itu. Banyak kapal-kapal kecil hilir mudik di genangan air kumuh yang di atasnya melintang gagah jembatan Siti Nurbaya. Jembatan yang dibangun pada era Orde Baru, ketika mba Tutut masih menjadi raja bisnis jalan raya.

Pada malam hari, di tepian jembatan yang sangat tinggi dari dari aliran sungai, terpancang lampu merkuri yang indah. Nyala lampu-lampu yang bila dipandang dari jauh membentuk ornamen atap bagonjong khas Minang. Atap yang menyerupai tanduk kerbau pada dua ujungnya. Bercahaya indah dalam keremangan malam yang menebarkan hawa terkesima.

Di tepi jembatan layang itulah, merupakan tempat yang sangat asyik untuk menikmati eloknya kota Padang. Menatap ke bawah, terlihat hilir mudik kapal-kapal kecil melayari Batang Arau, dan melewati bawah jembatan yang tinggi menjulang. Menatap ke kanan, menikmati indahnya bukit Siti Nurbaya, tempat kuburnya berada di balik bukit batu, dalam pesona bukit yang membayang. Memandang ke utara, hamparan tepian pantai Padang yang membentang luas ke lautan lepas. Melihat kerlip merkuri di sepanjang pantai Padang hingga Purus yang tertata indah. Dan tengadah ke tengah, terpancar c

ahaya berpendar menjulang mengangkasa dari pusat kota.

Menikmati malam yang indah itu, semakin lengkap dengan diselingi mencicipi pisang bakar yang nikmat. Pisang kapok besar yang ditumbuk ditipiskan, lalu dibakar hingga matang kegosongan. Di atasnya ditaburi

butiran misis dan coklat, atau dengan parutan keju. Dinikmati panas-panas, dengan potongan kecil dan mengunyah penuh perasaan.

Setelah minum teh panas khas Sumatra, dilanjutkan dengan menikmati jagung bakar yang lezat. Jagung besar yang manis, dengan bumbu balado Minang yang sangat pedas. Sangat pas dinikmati malam-malam sambil bercanda, bercerita di antara ramai hilir mudik mobil dan orang.

Aku datang ke Jembatan Siti Nurbaya, tepat ketika gerimis baru saja habis. Maka suasana melankolis menambah keeksotikan Padang di waktu malam. Dalam dingin yang berhembus dari arah pantai, diselingi musik minang yang mengalun dalam gesekan rabab dan tiupan saluang.

‘Padang Kota Tercinta’, demikian slogan yang terpancang di mana-mana, di seantero kota. Dan dalam kedatanganku yang pertama, benar adanya, pada Padang aku pun telah jatuh cinta.

Setiap pagi selepas shubuh, aku bisa berlama-lama tiduran di tepian pantai. Telentang begitu saja di hamparan kerikil yang bersih. Memejamkan mata memusatkan seluruh panca indra. Jiwa bagai dibuka dengan suka rela untuk menerima segala pelajaran dari alam. Benarlah pepatah Minang, ‘alam takambang jadi guru.’ Alam benar-benar terkambang memberikan pelajarannya bagi hidup dan kehidupan. Termasuk gemuruh laut Padang yang tak pernah tenang.

Aku nikmati benar gemuruh pantai yang terhampar luas. Deburnya yang bergemuruh membuat semangat hidup bagai selalu terpancing menyeluruh. Luasnya yang seolah tanpa tepi bagai mengajarkan kesabaran yang tak berbatas. Dalamnya pun turut mengajarkan ketenangan.

Keterpesonaan berikutnya adalah perjalananku dari Padang ke Bukittinggi. Perjalanan menuju ke rumah kelahiran Bung Hatta di Aur Tajungkang, tak jauh dari Pasar Bawah. Di bukit yang tinggi dan indah, yang juga terdapat Jam Gadang yang menjadi penanda kota tua. Dengan benteng Fort De Kock sebagai sisa-sisa kejayaan kolonial Belanda. Lengkap dengan bukit panorama, di mana Lobang Jepang berada dan Ngarai Sianok yang benar-benar mempesona.

Perjalanan ke Bukittinggi, melewati jalan berkelok, dengan kanan kiri panorama alam yang mengesankan. Pohon-pohon hijau berusia ratusan tahun yang besar dan lebat menjulang. Dengan jalan merayap di tepian perbukitan. Di sebelah kiri merupakan perbukitan curam, sementara kanan adalah lembah yang dalam. Udara yang sangat segar menyeruap dalam perjalanan yang panjang, yang hampir mencapai 2 jam. Namun tak terasa, karena dibuai lembutnya AC alam.

Demikian juga dengan perjalanan dari Bukittinggi ke Payakumbuh. Perjalanan yang kulalui ketika berkunjung ke rumah kelahiran Tan Malaka di Gunung Omeh, Pandan Gadang. Hamparan padang yang luas membentang, dengan semak dan pepohonan yang terlihat indah dipandang. Di kanan kiri yang hanya terisi luasnya padang rumputan, pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang dan terus bergoyang. Sebuah lukisan alam karya cipta Sang Maha Seniman.

Begitu pu ketika perjalanan dilanjutkan ke Maninjau. Tempat kelahiran Buya Hamka di dusun Tanah Sirah, Sungai Batang. Hamparan sawah yang indah, dengan panorama yang khas Minang. Lebih-lebih di Kelok Ampek Puluah, kelokan tajam yang berjumlah empat puluh buah. Jalan menurun yang curam dan dalam dari atas tebing, dengan kelokan menikun

g menuju ke bawah. Hati selalu dibuat berdebar ketika harus berpapasan mobil lain dari arah berlawanan.

Panorama alam Minang benar-benar indah. Tak salah Hamka pernah berseloroh, bahwa Minang adalah sebuah bocoran taman surga yang jatuh ke alam Sumatra. Tempat Nabi Adam dulu pernah turun dan menginjakkan kaki kaki pertamanya.

Danau Maninjau yang tenang dan luas, kalau dilihat dari atas, benar-benar seperti bentuk telapak kaki kanan manusia. Lengkap dengan pangkal yang membentuk tumit, dan ujung yang menyerupai jempol, berikut jari-jemarinya. S
ubhanallah!

Dan kenangan pada Minang, tentu bukan hanya pada alamnya. Tapi juga pada masakannya.

Pada tapai lamang yang kunikmati di Lobang Jepang. Sate sapi Painan yang kusantap di halaman Museum Adityawarman. Pada sambo lada jariang yang pedasnya menambah nafsu makan terus tertantang. Soto Padang yang kuahnya sangat memanjakan lidah. Ikan baka dan abuih pucuak ubi yang kunikmati di kedai kapau, di Pasar Lereng Bukittinggi. Berikut tambunsu yang melingkar besar, lauk dari telur yang dimasukkan dalam usus lembu. Juga pada pical sikai yang kucicipi di jalan keluar Ngarai Sianok, karena terpesona promosi ‘maknyus’nya Bondan Winarno. Tentu tak lupa randang balado daging sapi yang kunikmati ketika ke Suliki.

Dan masih banyak yang lainnya. Masakan Padang yang kunikmati langsung di tanah aslinya. Yang kemudian benar-benar membuatku tak lagi berselera masuk ke Rumah Makan Padang ketika sudah di Jawa. Jauh sekali rasanya. Bumbunya tidak terasa. Lidah yang telah termanjakan benar di sana, membuat masakan yang sama di Jawa tak lagi ada apa-apanya.

Maka, kapan-kapan aku ingin kembali ke Minang. Kalau ada waktu luang, juga umur panjang.

Dan tentu, kalau punya uang!

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Desember 2010 pukul 12:32

 

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s