Catatan Kaki 7: Anakku, Kau Boleh Bangga, Atau Bahkan Kecewa Padaku!

Standar


 

KUKATAKAN YANG SEBENARNYA

Sejak kecil, kita dilatih untuk berbohong. Tidak secara langsung, tentunya.

Akhirnya kita belajar untuk mengatakan apa yang orang lain ingin dengar, dan kita bersikap sesuai dengan hal itu. Padahal konon, justru dengan mengatakan yang sebenarnya, akan menciptakan sebuah perubahan kimiawi positip dalam tubuh.

Maka ketika aku menulis catatan ini, aku ingin menceritakan yang sebenarnya. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diriku sendiri, yang ingin mencoba belajar berkata yang benar. Sepahit apa pun itu, baik ketika dituliskan, juga setelah dibacakan.

Dan aku pun sedang ingin belajar berkata jujur, terutama pada anak-anakku. Agar kelak, mereka pun berani berkata jujur. Paling tidak ketika berkata padaku.

Maka aku menuliskan ini, agar bisa dibaca anak-anakku kelak. Rencananya akan kuwariskan, untuk dibaca oleh mereka, setelah dewasa. Tentu karena aku sadar, aku tak mampu mewariskan kekayaan. Maka yang bisa kusiapkan, hanyalah sekadar pandangan, pemikiran, dan sedikit kebijakan dari pengalaman. Tentu bukan untuk langsung ditelan.

Aku menginginkan semua yang kurasakan, bisa terbaca oleh mereka. Bagaimana perjalanan hidupku, dari kecil hingga setua ini. Dari masa kanak-kanakku yang manis, masa anak-anak yang asam, masa remaja yang kecut, masa dewasa yang asin, hingga masa tua yang pahit. Aku menginginkan mereka semua sedikit mengerti dan memahami, gejolak pergolakan batinku. Tentu bukan untuk menggurui. Hanya sekadar berbagi.

Bagaimana dulu aku mencoba menyusun batu-bata kepercayaan diri, dari keterpurukan panjang yang membuatku tak yakin bahwa aku masih ada. Bagaimana aku mencoba merangkak kembali dari pingsan setelah dihajar penghinaan yang menurutku sangat kelewatan. Bagaimana aku bangkit kembali. Mencoba belajar berdiri kembali di atas dua kaki, untuk menopang kegalauan hati. Bagaimana aku pernah tidak percaya bahwa aku masih mampu berdiri, bahkan bahwa aku masih punya sepasang kaki.

Aku ingin rasa kalahku dibaca oleh anakku. Rasa kalah ketika dikalahkan dan disalahkan. Bukan untuk belajar dendam. Sekadar agar mereka tahu, aku pernah jatuh. Aku juga pernah salah. Pernah terjungkal, terjungkir, bahkan terpelanting, oleh langkahku sendiri.

Namun mereka juga harus membaca, bahwa aku bisa bangkit dari keterpurukan yang panjang. Bisa naik dari lumpur keminderan yang sangat, keterpojokan jiwa yang berat. Aku pernah beranjak dari dasar jurang ketakutan yang membuatku hampir putus asa.

Aku ingin semua yang kualami sejak merasa kehilangan diri, hingga proses mencari kembali, dan berusaha menemukannya lagi bisa dimengerti. Aku ingin anakku memahami jalan berliku yang kupilih. Juga liku-liku hidupku yang mungkin aneh di mata orang tua dan saudara, sementara aku pun tak bisa menjelaskan itu semua pada mereka. Aku hanya bisa menceritakan segalanya pada istri. Belahan jiwa yang tak mungkin terganti.

Aku juga ingin anakku tahu, bahwa aku pernah dirundung kepiluan yang sangat. Juga ketakutan yang mencekam, tentang masa depan mereka. Ketika pada suatu waktu, aku yang tanpa pekerjaan sama sekali tak menghasilkan pendapatan. Yang membuat biaya hidup tiap bulan menjadi momok yang menakutkan. Hari-hari yang menyedihkan.

Aku pernah merasa sangat bersedih, ketika tak bisa membelikan celana untuk Iqo. Merasa amat bersalah, ketika selama ini ia hanya memakai celana bekas Ahya dulu. Merasa berdosa ketika tak bisa memberikan jaminan kesehatan padanya yang mengidap mikrosefalus. Ketika sampai umurnya yang lebih 2 tahun belum juga bisa jalan.

Sama ketika Ahya sakit, atau pun Umminya sakit. Tak ada biaya ke dokter, apalagi spesialis. Hingga harus rela antri di puskesmas, karena bisa berobat tanpa biaya.

Sedih sekali ketika aku seolah tak bisa membahagiakan mereka. Sekadar membelikan mainan pada Iqo dan Ahya. Memberikan baju, celana, sepatu, sandal, tas, atau topi baru. Atau mengajaknya sekadar jalan-jalan di Minggu pagi di Balaikambang atau Manahan.

Aku ingin menuliskan semua yang kurasakan. Tak akan aku tutupi dengan cerita-cerita heroik yang membuat mereka bangga dengan seluruh yang pernah kupunya. Segala cerita orang yang pernah mereka dengar tentangku. Bahwa aku bisa ini itu. Bisa menulis, bisa menggambar, bisa mendesain, atau bisa berpuisi.

Aku lebih ingin mereka tahu, tentang ‘apa-apa’ yang ada pada diriku. Bukan siapa diriku. Mungkin mereka akan kecewa. Tak lagi berbangga. Tapi kejujuran ini, justru membuatku bahagia. Aku telah menceritakan bagaimana diriku sebenarnya.

Dan pada ujung tulisanku nanti, aku pun ingin menceritakan semua pada mereka. Suatu mimpi yang sampai saat ini belum kuraih. Tentang keinginanku membahagiakan mereka, orang-orang terdekatku. Orang-orang yang sangat aku perlukan, karena mereka pun membutuhkan aku. Mereka adalah orang tuaku, lalu istriku, kemudian anak-anakku.

Aku (mungkin!) sangat dibutuhkan oleh kedua orang tuaku, karena aku adalah anak tunggal, tempat pangkal segala harapan dan keinginan. Aku (pasti!) sangat dibutuhkan oleh istriku, karena aku adalah seorang suami dan ayah dari anak-anakku. Aku (yakin!) sangat diperlukan oleh anak-anakku, karena merekalah kebahagiaan terbesarku.

Dan aku pun membutuhkan mereka.Aku (haqul yakin!) sangat memerlukan kedua orang tuaku, karena doanya lah aku bisa menjadi apa saja. Aku sangat-sangat memerlukan istriku, karena dialah yang mendukung segala rencanaku, termasuk yang gila dan di luar logika. Aku juga amat memerlukan anak-anakku, karena merekalah cahaya hidupku.

Aku ingin membahagiakan mereka, sebagai ujung bahagiaku. Puncak terindah usahaku.

Setelah itu, barulah membahagiakan orang lain, tentu.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 21 Desember 2010 pukul 22:56

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s