Catatan Kaki 15: Sejarah Mengapa Aku Suka Sejarah

Standar

ANANDA yang umurnya telah 26 tahun itu. yang gambarnya masih terbayang di ingatanku. bagaimana aku susahnya menjiplak itu!


“Kok bisa sih, Abi suka sejarah?” tanya Ummi suatu kali.

Karena menurutnya, mata pelajaran Sejarah adalah yang paling menyebalkan dan membosankan untuk dipelajari. Harus menghafalkan bermacam kejadian dan tragedi, yang semua itu berhubungan dengan nama tokoh dan tanggal kapan peristiwa tersebut terjadi. Pelajaran yang membikin Ummi alergi.

“Makanya Ummi memilih kuliah di Ekonomi?” tanyaku seolah menegaskan. Padahal sebenarnya karena aku sungguh tak bisa memberikan jawaban. Bahkan tak bisa menjelaskan apa yang menjadi alasan.

“Iya, ya? Kok aku bisa jadi sangat suka dengan sejarah?” renungku kemudian.

Padahal aku dulu sekolahnya di STM Bangunan Gedung. Mata pelajaran Sejarah hanya sampai di kelas 1 saja. Setelah kelas 2 dan penjurusan, lebih banyak mempelajari mata pelajaran Bangunan. Semacam Mekanika Teknik, Rencana Anggaran Bangunan, Gambar Konstruksi, dan bermacam bentuk pondasi.

Aku jadi bertanya pada diriku sendiri. Tersadar secara tak sengaja karena pertanyaan Ummi.

Dan ketika kemudian aku masuk ‘gudang’ku, kudapati tiga lemari penuh yang berisi buku-buku bertemakan sejarah. Lalu setelah kubaca ulang cerpen-cerpen yang pernah kutulis, ternyata sebagian besar juga bertemakan sejarah. Semua ceritanya berlatarkan sejarah orang-orang yang kalah.

Kemudian sekarang, novel ‘Penangsang’ jilid kedua yang sedang kurampungkan pun merupakan novel sejarah. Novel yang membutuhkan banyak referensi dari buku-buku ‘babon’ sejarah, yang setelah aku data untuk keperluan daftar pustaka, ada 80 judul buku yang mendukungnya.

Bahkan ketika aku melihat novel-grafis ‘Slow in Solo’ yang sedang kurancang, itu pun ternyata berlatarkan sejarah. Sejarah kota Solo sebagai pusata budaya Jawa, dan berkembangnya pergerakan nasional di jaman kejayaan batik Laweyan dan Kauman. Pun era keruntuhan dan kebangkrutannya.

Sejenak aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Ummi. Pertanyaan yang baginya mungkin hanya sekadar celetukan sederhana. Pertanyaan sambil lalu saja, dari sekadar obrolan biasa. Namun bagiku justru menjadi suatu pertanyaan serius, yang sangat mengusik rasa penasaran.

Lama aku merenungkannya. Berminggu pula memikirkannya.

Hingga kemudian aku teringat pada sebuah majalah yang pernah menemani masa kecilku. Dan sepertinya, itulah jawaban sederhana yang bisa mengawali terbukanya penasaran atas minatku.

Bermula waktu masih kelas 5 SD juga, ketika setiap pagi membaca di ruang Kepala Sekolah. Di antara buku-buku bacaan inpres pemerintah, ada satu rak yang berisi jajaran majalah. Majalah-majalah anak yang ada dalam lemari tua, yang aku masih hafal namanya. Ada Ceria, Belia, Mitra, dan Ananda.

Majalah Ananda lah yang sepertinya akan menjadi jawaban dari seluruh rasa penasaran.

Aku sangat ingat, dalam majalah Ananda pada halaman 2 dan 3, selalu ada cerita kepahlawanan. Cerita para pahlawan yang menurutku waktu itu, dikisahkan dengan sangat menarik oleh penceritanya. Dan juga digambarkan dengan sangat asyik oleh ilustratornya. Nama rubriknya adalah ‘Serial Kepahlawanan’.

Dari lembaran majalah itulah aku kemudian mengenal siapa itu Pangeran Diponegoro yang berjuang gigih melawan Belanda dari Goa Selarong. Tuanku Imam Bonjol yang memimpin perang Paderi dan membangun benteng di Bonjol. Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram yang menggempur VOC di Batavia. Kapiten Patimura, pemuda Maluku yang memimpin penyerbuan ke benteng Duurstede. Pangeran Antasari dari Kesultanan Banjar yang memimpin perlawanan terhadap Belanda, namun wafat karena penyakit cacar. Teuku Cik Di Tiro yang bernama asli Mohammad Saman, pemimpin perang Aceh dalam pasukan Angkatan Perang Sabil. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Cerita tentang pahlawan yang hanya sekilas-sekilat itu, ternyata mampu menjadi dasar pemahamanku pada Sejarah Indonesia.

Dan ketika kemarin aku membongkar koleksiku, aku menemukan majalah Ananda itu. Majalah yang waktu kelas 5 SD dulu pernah kubaca. Tentu yang kupunya sekarang, bukan majalah asli yang dulu pernah akrab kubaca. Karena majalah itu hanya kubaca di sekolah saja. Tapi majalah yang kumiliki ini adalah majalah dengan edisi yang sama. Majalah Ananda terbitan tanggal 20 – 26 Januari 1984.

Baru tahun kemarin aku menemukannya di kios loak Gladhag di pojok barat alun-alun utara. Tempat aku biasa bertamasya memanjakan hasrat dahaga baca yang tak pernah tuntas dilunaskan. Di antara majalah lama yang sedang kubongkar, kutemukan majalah terbitan 26 tahun silam itu.

Sewaktu aku beli untuk kemudian kukoleksi, bukan berpikiran bahwa (ternyata!) dari majalah Ananda lah aku pertama menyukai sejarah. Namun karena di majalah Ananda itu, aku terkenang pada gambarku dulu.

Waktu kelas 5 SD pula, aku pernah menjadi wakil sekolah untuk maju ke Porseni tingkat Kecamatan. Dan inilah kebahagiaan yang mampu mengganti kecewaku, karena ketika maju sebagai Siswa Teladan aku kalah. Namun dengan gambarku ini, aku bisa maju ke Porseni tingkat Kabupaten.

Dan gambar yang kubuat waktu itu adalah suasana pertempuran perang Aceh. Perang rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Cik Di Tiro melawan tentara Belanda di bawah pimpinan Van Der Hooven.

Aku sangat hafal adegan pertempuran itu.

Bahkan ketika pertama kali melihat gambar itu di kios loak, hatiku langsung bergetar. Aku seperti bertemu dengan ‘saudara’ yang telah puluhan tahun berpisah. Karena suasana perang itu, masih membayang di ingatanku. Gambar ilustrasi itu benar-benar pernah aku contoh persis dari semua bagiannya. Aku pernah berusaha keras untuk menjiplak gambar itu. Berusaha menggambar semirip mungkin dengan gambar tersebut. Bagaimana bentuk senjata laras panjangnya, bagaimana pakaian tentara Belanda lengkap dengan topi bajanya, juga wajah-wajah tentara dan rakyat yang tertembak.

Porseni yang kuikuti saat itu diadakan di Depdikbud Kecamatan. Peserta dilarang membawa contekan untuk menggambar. Namun aku berhasil membawa contekan, yang telah kuhafalkan di dalam ingatan.

Aku telah latihan menggambar berhari-hari di rumah. Jadi gambar yang ada di majalah Ananda itu telah berulang kali aku gambar ulang di buku gambarku. Pertama dengan melihat gambar yang ada di majalah, baru kemudian kutirukan. Berkali-kali meniru, hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas gambar.

Tiap hari aku menggambar gambar yang sama, sampai benar-benar tak memerlukan melihat gambar yang ada di majalah lagi. Sampai benar-benar hafal gambar itu untuk kemudian bisa kugambar sendiri. Aku hafalkan bagaimana bentuk senjatanya, bentuk penutup kepalanya, bentuk wajah orang menembak, bentuk wajah orang tertembak, dan semua yang ada dalam gambar itu. Aku hafalkan habis-habisan.

Jadi kemenanganku pada Porseni waktu itu, adalah karena gambar contekan dari majalah Ananda. Majalah yang ternyata memantikku pertama kali untuk menyukai sejarah. Dan kebahagiaan kemenangan itu masih terasa sampai saat ini, ketika aku membuka kembali halaman yang terdapat gambar itu.

Kebahagiaan yang sama, yang mungkin dirasakan oleh anakku juga. Ketika beberapa bulan lalu ia membawa pulang piala lomba menggambar, ketika mewakili sekolahnya.

Anakku yang tak suka baca buku itu, sepertinya mewarisi kesukaanku dalam keasyikan menggambar. Buktinya seluruh dinding rumah telah penuh oleh coretan-coretannya. Namun bagaimanapun, aku selalu mencoba mendukung minatnya. Karena sepertinya dia lebih berbakat dari ayahnya.

Anakku menang lomba, karena menggambar murni hanya mengandalkan imajenasinya. Sementara aku, menang lomba karena hasil menjiplak gambar dari majalah Ananda.

Hingga rasanya tak perlu kukatakan padanya, bahwa bukan hanya Matematika saja yang membutuhkan contekan. Ternyata, menggambar pun juga.

Alhamdulillah, … eh, Astaghfirullah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Desember 2010 pukul 16:23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s