Catatan Kaki 13: Majalah Wanita di Rak Piring Tetangga

Standar

lembaran buncil yang ada di dalam majalah ayahbunda. dengan tokoh tongki si bebek yang dulu suka kutiru gambarnya. amazing!


Aku mengenal majalah sejak ayahku tak lagi ikut Kejar Paket A.

Sejak ayah mogok sekolah lagi seperti waktu kecil dulu, maka tak ada buku bacaan yang bisa kudapatkan di rumah. Modul Kejar Paket A yang itu-itu saja, telah berulang kubaca. Hingga hafal ceritanya, bahkan ketika aku tidak membacanya. Karena seringnya dibuka dan kuulang menggambarnya.

Akhirnya aku suka main ke tetangga yang kutahu, punya banyak simpanan majalah. Beberapa ibu-ibu tetangga sering pinjam ke rumahnya. Karena kebanyakan majalah yang disimpannya di lemari piringnya adalah majalah-majalah wanita.  Ada majalah Kartini, Famili, Sarinah, Femina, dan Ayahbunda.

Tetanggaku sebenarnya tidak langganan majalah-majalah itu. Bahkan setahuku, sekampungku tak ada seorang pun yang langganan majalah semacam itu waktu aku kecil. Bahkan yang beli eceran sekalipun. Dan di lingkunganku, hanya dialah yang punya banyak simpanan majalah. Majalah yang bertumpuk-tumpuk itu disimpan di lemari piring yang terletak di ruang tamu. Di rak paling bawah yang ada si samping kiri dan kanan. Bermacam majalah yang rata-rata sudah kusam dan beberapa yang sobek halamannya. Bukan majalah baru lagi, bahkan ada yang sudah 4 – 5 tahun yang lampau. Tapi tetap kami baca, karena hanya itu yang ada.

Aku sering bermain ke tetanggaku itu, karena kebetulan anak bungsunya seusia denganku. Teman sepermainanku. Di pelatarannya yang luas, setiap sore selalu dijadikan tempat mangkal anak-anak untuk bermain. Selepas ashar, anak-anak di lingkunganku berkumpul di bawah pohon jambu yang rindang. Bermain sesuai kesepakatan bersama. Tapi lebih sering bermain umbul wayang, gundu, gangsingan, dan main lempar karet. Sesekali gobak sodor atau petak umpet, yang waktu itu kami menyebutnya ‘chip-chipan’. Kami sedang demam film bertema polisi berjudul ‘Chip’ yang sedang tayang di TVRI waktu itu.

Di antara banyak teman sebaya, hanya aku yang datang tiap sore bukan untuk bermain di halaman rumahnya. Melainkan datang paling awal, hanya dengan niat untuk numpang membaca. Aku hanya diam menonton teman-teman yang lain riang bermain. Setelah itu aku mengambil beberapa majalah untuk dibaca di teras depan. Pada bangku beton di kanan kiri teras yang bentuknya berundak, hingga nyaman ketika aku jadikan meja baca. Aku bisa membaca dengan membungkuk, selama 2-3 jam lamanya.

Menjelang petang, aku pun pulang dengan kepuasan membaca.

Tidak mudah untuk sekadar ikut numpang baca di tetanggaku itu. Karena ibunya tidak suka kalau ada anak yang asyik membaca. Bahkan anak-anaknya sendiri, kalau terlalu sering membaca akan dimarahi. Katanya anak yang suka baca jadi malas. Sulit diperintah untuk bersih-bersih atau membantu di dapur. Jadi pintar alasan kalau diperintah dan suka membantah.

Hingga pernah, majalah satu rak dibakar di tempat sampah, karena anaknya disuruh menyapu halaman tidak segera dikerjakan. Anaknya minta menunggu setelah selesai membaca cerita yang ada di majalah. Tapi si ibu tidak sabar lagi, hingga hilanglah majalah yang selama ini menjadi bahan bacaanku.

Maka aku harus kucing-kucingan dengan si ibu tetanggaku itu. Jangan sampai ketahuan aku ikut numpang membaca. Harus melihat situasi dulu. Kalau aku datang si ibu itu masih di rumah, maka aku akan ikut bermain dengan teman-teman yang lain. Tapi kalau si ibu itu sedang berada di kebun dan belum pulang, aku langsung asyik dengan majalah-majalah wanita itu.

Tetanggaku itu sebenarnya tidak langganan majalah. Tetapi anak perempuannya yang sulung jadi pembantu di Jakarta. Tiap pulang lebaran, selalu bawa oleh-oleh majalah-majalah dari rumah majikannya. Jadi semuanya bukan majalah baru. Tapi majalah yang mungkin harusnya diloakkan, oleh anak tetanggaku dibawa pulang untuk oleh-oleh adik-adiknya yang perempuan. Mereka suka sekali dibawakan majalah-majalah, yang berisi cerita-cerita orang kota. Dari mulai rumah-rumah yang gedungnya megah dan mewah, cerita-cerita kehidupan orang kaya dan para artis ibu kota, cerita-cerita kota-kota di Indonesia dan luar negeri yang menjadi tujuan wisata, hingga bentuk-bentuk pakaian-pakaian yang tak pernah kelihatan dipakai di desa.

Aku yang waktu itu masih kelas 2, seringnya hanya melihat-lihat gambar-gambarnya saja. Karena hurufnya terlalu kecil untuk ukuranku waktu itu. Dan lagi aku kurang begitu tahu maksudnya. Hanya majalah Ayahbunda yang sering kupinjam, karena di tengahnya ada sisipan untuk anak.

Aku suka sekali dengan cerita-cerita anak dan gambarnya. Tokoh bebek yang menjadi sampulnya sangat memikatku, dengan warna kuning dan oranyenya. Terrekam sampai aku dewasa. Dan setelah dewasa pula, baru aku tahu bahwa sisipan itu sebenarnya untuk anak balita. Bukan untuk anak SD kelas 2.

Tapi waktu itu, aku sungguh menikmati semua bacaan yang ada sisipan itu. Dari mulai cerita, cergam, hingga permainannya. Maka aku tidak merasa bahwa itu adalah bacaan anak balita. Sebab aku pun suka.

Saat itu sering aku berpikir, betapa bahagianya jadi anak balita orang kaya, yang sejak kecil sudah disediakan bacaan untuk mereka. Bahkan orang tuanya mendukung mengajarinya, dengan dibacakan atau dituntun belajar. Sementara sebagai anak desa, baru di kelas 2 aku mengenal yang namanya majalah. Itupun majalah ibu-ibu rumah tangga. Dan bacaan yang dibacanya ternyata adalah konsumsi anak balita. Bahkan untuk membacanya pun harus kucing-kucingan dengan yang punya.

Setahun kemudian anak perempuan tetanggaku itu menikah. Dengan seorang tukang kebun majikannya yang dikenalnya ketika menjadi pembantu rumah tangga. Setelah menikah, ia pun tak jadi pembantu lagi di Jakarta. Ikut suaminya di lain kota, sebagai buruh pembuat batu bata. Maka sejak saat itu, otomatis tak ada lagi majalah yang dibawa pulang ketika lebaran. Tak lagi ada bacaan ‘orang kota’ yang bisa dipinjam untuk ikut kubaca. Tak lagi ada majalah yang bisa kubaca.

Dan setelah anaknya menikah, majalah itu pun tak lagi kutemukan di rak lemari piring yang ada di ruang tamu. Mungkin ikut dibawa oleh anak perempuannya itu. Atau mungkin sudah dibakar juga oleh ibunya.

Sejak itu, aku sungguh sangat kehilangan.

Susahnya menjadi orang miskin yang tak bisa mendapat bahan bacaan, menjadi pemikiran yang terus terbawa sampai aku dewasa. Hingga setelah itu aku berniat, kalau kelak punya anak, akan kusediakan bermacam buku bacaan dan majalah. Agar sejak sekecil mungkin, ia telah akrab dengan kegiatan membaca. Agar otaknya terasah sempurna. Dan tak ada alasan, tak suka membaca karena tak ada buku yang hendak dibaca.

Dan itu sudah kulakukan sekarang. Bermacam buku dan majalah kusediakan di rumah. Sejak anakku baru berusia 6 bulan, sudah kubelikan buku untuknya. Buku-buku bersampul tebal yang berisi pengenalan huruf dan angka. Sampai dia sekarang hendak bersekolah di SD. Buku selalu kubelikan tiap bulannya.

Namun sepertinya, tak selamanya buah jatuh dekat dari pohonnya. Anakku justru sama sekali tak ada gairah untuk menyentuhnya. Meskipun sudah dipaksa menyukainya. Bahkan dengan membacakannya.

Dan ia tetap lebih suka menonton film daripada membaca.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Desember 2010 pukul 17:12

One response »

  1. podo banget karo aku mas, asli…. , sampai pas aku sudah di jakarta, nemu gramedia rasanya gimana gitu, dan aku ngiri banget sama orang2 yg bisa main comot buku-buku yg dia suka, sementara aku harus nabung dulu untuk beli satu buku saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s