Catatan Kaki 14: Bukan Cerita dari Negeri Dongeng!

Standar

aku menemukan majalah bobo taun 1984-1986 di kios gladag. majalah yang aku baca 20an tahun silam. alhamdulillah!


Pada waktu kelas 3 SD, kami kedatangan murid baru.

Anak baru itu pindahan dari Ambon. Ayahnya yang tentara pindah dinas di Purwokerto. Atau tepatnya pulang kampung, setelah bertahun-tahun bertugas di Ambon. Karena orang tuanya sebenarnya kelahiran Purwokerto. Ayahnya asli kampung kami, sementara ibunya berasal dari desa sebelah.

Keluarga baru itu menempati rumah yang dibangun kakeknya, di daerah paling barat kampung kami.

Di antara teman sekelas yang lain, akulah yang pertama diajaknya berkenalan. Karena kebetulan aku adalah ketua kelasnya. Hingga suatu hari diajak main ke rumahnya, dan aku pun memenuhinya.

Sewaktu main ke rumah barunya itulah, di bawah meja ruang tamu kutemukan setumpuk majalah anak-anak. Nafsu membacaku langsung berbinar. Kuambil satu persatu majalah dengan sampul depan bergambar lucu-lucu itu. Kubaca nama-namanya. Ada Bobo, Tomtom, Ananda, Kawanku, dan Siswa.

Sontak aku berbahagia. Setelah hilangnya majalah-majalah wanita yang ada di rumah tetanggaku, kini aku menemukan majalah anak-anak. Seketika, kesedihanku pun terobati. Dan sejak saat itu, setiap sore aku jadi makin sering datang ke rumahnya. Dengan alasan belajar kelompok atau sekadar bermain saja.

Kebetulan rumah teman baruku itu ada di pinggir sungai Serayu. Setiap kemarau datang, permainan yang paling mengasyikkan bagi anak-anak di kampungku adalah di tepian sungai Serayu. Dari mencari udang kecil di bebatuan, balapan berenang menyeberang, atau sekadar main pasir di pinggirannya. Dengan membuat sumur yang dalam, atau membangun istana. Aku termasuk yang paling suka berlomba menyeberang. Demikian juga teman baruku itu, yang ternyata juga pandai berenang.

Maka sebelum berangkat ke sungai di sore hari, aku mampir dulu ke rumah temanku itu untuk membaca majalah-majalahnya. Aku dan temanku asyik membaca di teras samping rumahnya, sambil menunggu teman-teman yang lain lewat untuk berangkat bersama-sama.

Ternyata orang tuanya pun senang dengan persahabatan kami. Karena aku telah menjadi teman akrabnya yang pertama. Bahkan ketika mengetahui aku suka membaca, ibunya sangat mendukungnya. Setiap pulang dari rapat istri-istri tentara, selalu membawakan majalah-majalah baru untuk kami baca.

Sejak saat itu, aku seperti menikmati berlangganan majalah. Bukan majalah bekas seperti sebelumnya, melainkan majalah baru. Dan juga bukan majalah yang sebenarnya untuk ibu rumah tangga, tapi majalah anak-anak. Aku merasa sangat bangga dan berbahagia. Meskipun hanya sekadar numpang baca.

Dan di antara majalah-majalah yang sering dibelinya itu, yang terbanyak adalah majalah Bobo. Maka aku pun kemudian sangat menikmati majalah Bobo.

Aku begitu terpesona dengan seluruh isi majalah tersebut.

Diriku yang anak kampung seolah diajak masuk dalam dunia imajinasi yang ditawarkan olehnya. Berkenalan dengan ‘keluarga Bobo’, yang terdiri dari Bapak yang bertanggungjawab, Emak yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Juga Bobo sebagai anak sulung yang sayang pada adik-adiknya, Coreng dan Upik yang bandel tapi menyenangkan. Sebuah potret keluarga bahagia yang sempat terekam dalam benakku saat itu. Sebagai anak tunggal yang sedang terpancing iri, karena tak bisa berbagi kasih sayang atau sekadar menikmati kebandelan adik-adiknya.

Setelah itu, aku pun berkenalan dengan dunia fantasi lainnya. Aku diajaknya bertamasya dalam ‘Cerita dari Negeri Dongeng’ oleh Oki dan Nirmala. Oki sang adik lelaki yang bandel, berpasangan dengan Nirmala yang cantik dan baik hatinya. Kakak beradik yang saling sayang menyayangi di sebuah istana antah berantah, tempat Ratu Bidadari bertahta sebagai rajanya.

Kemudian aku pun diajaknya bertemu dengan Paman Kikuk, Husin, dan Asta.  Paman Kikuk yang selalu kikuk dalam setiap tindakannya, mempunyai keponakan laki-laki bernama Husin yang cerdas, berikut anjing putih belang piaraannya yang bernama Asta. Kejadian yang menggelikan selalu terjadi, karena kesialan Paman Kikuk yang diakibatkan dari tindakan cerobohnya.

Selanjutnya, aku pun berkenalan dengan Si Sirik yang jahat dan Juwita yang baik hatinya. Aku seolah diajak untuk mengenali kebaikan dan kejahatan dari kedua tokoh itu. Juwita yang berpakaian seperti peri hijau lengkap dengan tongkat ajaibnya yang bisa mengubah apa saja, cukup dengan mengucap ‘Abrakadabra’. Lalu Si Sirik sang penyihir licik yang selalu sirik yang tak lepas dari sapu terbangnya. Juga mantra khasnya yang berbunyi ‘Alakazam’ yang selalu mengantarkan pada kesialan.

Di Bobo pula aku diajak masuk dalam sebuah petualangan Pak Janggut yang selalu menegangkan. Petualangan manusia cebol berjanggut dengan kantong ajaib yang selalu dipanggulnya ke mana pun ia pergi mengembara. Kantong yang selalu menyediakan jalan keluar, di saat keadaan terjepit menimpanya. Dari seluruh petualangan yang diikuti, aku sangat terpesona dengan petualangannya ketika bertemu Monster Danau Kabut. Sebuah monster menakutkan berbentuk Dinosaurus yang sangat menyeramkan. Yang ternyata adalah hasil dari kelicikan sosok jahat musuh Pak Janggut yang bernama Ludo.

Selain itu, aku pun berteman dengan seekor gajah kecil yang lugu dan seekor kucing yang lucu. Persahabatan dua binatang yang sangat mengesankan. Gajah kecil bernama Bona, yang bisa memanjangkan belalainya ketika akan menolong sesama. Berteman dengan Rong Rong, seekor kucing belang yang manis, yang sering usil pada si Gajah yang lebih sering mengalah.

Aku menikmati majalah Bobo, sama persis dengan menyantap makanan yang nikmat. Tak sedikit pun kulewatkan dari bacaan. Semua dibaca, dari sampul depan hingga halaman terakhir. Aku baca tuntas seluruh isi majalah itu. Bukan hanya cergam-cergamnya saja, namun juga seluruh cerita-ceritanya. Bahkan aku amati betul sampai dengan bentuk judul huruf dan gambarnya. Hingga aku hafal siapa saja penggambar ilustrasi pada cerita-cerita yang ada, dari nama yang tertera di pojok gambarnya.

Aku juga kemudian hafal urutan isi majalah Bobo. Dari halaman pertama yang berisi ‘Menu Minggu Ini’ dan ‘Halo Apa Kabar, Bo?” yang berisi daftar isi majalah itu, dan surat-surat dari para pembaca. Masuk halaman berikutnya akan ada cerita-cerita. Dari mulai cerpen, hingga cerita bersambung yang sangat kusuka, yaitu ‘Kelompok Tangan Hitam’. Sebuah cerita bersambung yang mengisahkan tentang detektif cilik. Berikutnya akan bertemu dengan ‘Tertawa Sejenak’ yang berisi cerita-cerita lelucon.

Lalu ada rubrik ‘Arena Kecil’ yang berisi cerita pengalaman berkesan, bersama “Tak Disangka’ yang bercerita tentang kisah yang menggelikan. Disambung kisah ‘Cici dan Sekitar Kita’ yang sarat pengetahuan, yang ditulis dan digambar oleh Cik DK. Aku suka gambarnya, karena lucu dan sederhananya. Selain rubrik ‘Untuk Latihan Di Rumah’ yang sangat membantuku untuk belajar sendiri, pelajaran yang sama seperti yang tengah kupelajari di sekolah.

Satu rubrik lagi yang sampai hari ini masih terkenang adalah ‘Uji Imajinasi’. Aku benar-benar diajak berpikir untuk menyelesaikan soal yang diajukan, yang berisi kisah keseharian. Pertanyaan yang setelah aku dewasa baru sadar, bahwa soal-soal itu adalah untuk menguji kecerdasan emosional anak-anak.

Tapi yang tak bisa kulupakan dari Bobo adalah ternyata, dari majalah itu, aku menjadi tahu seluk beluk majalah. Dari penamaan rubrik hingga isi-isinya. Yang di kemudian hari sangat membantuku memahami isi dan karakter majalah, ketika kemudian aku benar-benar bekerja di sebuah majalah.

Maka kalau sekarang aku pun masih bekerja di media, semua bermula dari persahabatan dengan teman baruku itu. Pertemanan yang membuatku berkenalan dengan Si Sirik dan Juwita. Persahabatan yang membuat masa kecilku bahagia, bisa belajar mengenal baik dan buruk dan segala akibatnya.

Dan juga pelajaran kehidupan, bahwa segala sesuatu tak bisa berubah hanya dengan ‘Abrakadabra’ saja, atau ‘Alakazam’ semata. Karena hidup yang sesungguhnya, bukan seperti ‘Cerita dari Negeri Dongeng’.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Desember 2010 pukul 16:58

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s