Catatan Kaki 17: Sobekan ‘Koran Doyok’ Pembungkus Nasi

Standar

bertahun-tahun aku mencari koran doyok yang sangat bersejarah itu. edisi 22 september 1988. dan kudapatkan di museum pers solo. tentu bukan dalam bentuk sobekan bungkus nasi. tapi dokumentasi utuh


“Kang Nass ini sebenarnya kartunis apa penulis?”

Seorang teman pernah bertanya begitu padaku. Dan hanya kujawab dengan senyuman saja, waktu itu.

Karena bagiku, yang disebut petani adalah mereka yang pekerjaannya memang bertani. Atau mereka yang mempunyai sawah untuk menanam padi. Atau seperti ayahku, yang tak punya sawah sendiri, hingga rela menjadi buruh tani. Tiap hari pergi ke sawah, untuk mencangkul, menyemai benih, mengairi, menyiangi, dan memanennya di kemudian hari. Yakni mereka yang makan nasi dari padi hasil keringatnya sendiri.

Maka demikian pula dengan seorang yang disebut kartunis atau juga penulis. Mestinya sebutan itu untuk mereka yang pekerjaannya memang betul-betul menggambar kartun atau yang benar-benar menulis.

Sementara aku? Apa tidak malu mengaku kartunis, kalau selama ini hanya membuat kartun asal jadi yang hasilnya tidak terpublish? Karena tidak bekerja di koran/majalah (seperti juga sawah bagi petani), tempat aku bisa menerbitkan (seperti juga menyebar benih dan menanam) kartun-kartunku.

Begitu pula kalau harus mengaku sebagai penulis. Mestinya kerjaku adalah benar-benar menulis (seperti petani yang tiap hari bekerja di sawah menanam padi), dan menghasilkan tulisan (seperti petani yang kemudian memanen padi). Aku malu menyebut diriku penulis, karena sampai setua ini belum mempunyai 1 pun buku yang diterbitkan, sebagai bukti bahwa pekerjaanku adalah menulis.

Bermula dari pertanyaan itu, aku bertekad memastikan posisiku.

Bahwa aku harus menjawabnya. Bukan menjawab pertanyaan temanku, tapi memberikan jawaban kepada diriku sendiri. Bukan dengan ucapan lagi, tapi dengan tindakan dan aksi. Aku harus kembali menulis, agar tidak malu ketika mengenalkan diri sebagai seorang penulis. Aku harus terus menggambar kartun, agar sah ketika menyebut diri sebagai kartunis.

Maka kalau pertanyaan itu diulang lagi, sekarang bisa kujawab dengan penuh percaya diri.

Hari ini aku bekerja di media (menjadi kartunis Koran O, koran peristiwa terkini), yang menuntutku harus menggambar kartun setiap hari. Yang setiap hari pula kartun-kartun stripku diterbitkan.

Hari ini pula aku sedang menyelesaikan trilogi novelku, Penangsang. Yang telah masuk jilid kedua, hingga menuntutku harus rajin menulis setiap hari. Maka ketika aku mengenalkan diri sebagai penulis, novelkulah yang dengan bangga kusebut sebagai ‘kartu nama’ perkenalannya.

Sekarang setiap malam aku harus menggambar 1 kartun strip, untuk diterbitkan tiap pagi. Kartun dengan 3 panel yang meyoroti perbincangan isyu terkini, dengan sindiran khas orang pinggiran.

Seorang teman pernah bertanya, “Kok bisa Kang Nass menggambar tiap hari, menyoroti peristiwa terkini? Apa mampu menjaga stamina agar tidak kehabisan ide yang dikuras tiap pagi?”

Aku kembali menjawabnya dengan senyuman. Karena ingin menjelaskan dengan pembuktian.

Bahwa menggambar komik tiap hari, adalah bagian cita-cita masa kecil. Keingingan yang telah kuidamkan sejak 26 tahun lalu. Ketika pertama terpesona dengan strip yang ada pada sobekan koran.

Sobekan koran yang waktu itu aku menyebutnya dengan nama ‘Koran Doyok’. Karena pada sobekan itu ada tulisan ‘DOYOK’ di pojok kanan atas. Dan di bawahnya terdapat kartun strip dengan tokoh utamanya bernama Doyok. Seorang laki-laki pengangguran dengan pakaian khas pembantu Jawa. Memakai celana cingkrang tiga perempat, baju surjan lurik merah, dan blangkon hitam sebagai penutup kepala.

Dan itulah komik pertama yang pernah kulihat. Komik yang langsung membuatku meniru gambarnya. Bahkan bercita-cita, suatu saat kelak aku bisa membuat komik serupa pada sebuah koran.

Aku mendapatkan koran itu, bukan dengan membelinya. Namun diperoleh ibu ketika membeli nasi bungkus buatku. Sobekan koran itulah yang menjadi pembungkus luarnya.

Pembungkus yang kemudian aku perhatikan seksama, setelah kuhabiskan nasinya.

Sungguh membuatku terpesona. Hingga sobekan itu aku simpan. Aku amati gambar tiap panelnya. Tiap perpindahan adegannya. Gaya garis gambarnya. Ekspresi wajah tokohnya. Bentuk tubuhnya. Balon kata-katanya. Ucapan tokohnya. Dan semua yang tergambar di sana, kujadikan pelajaran untuk menirukan. Aku gambar berulang-ulang hingga bisa kubuat tanpa perlu lagi melihatnya. Aku menjiplak betulan.

Dan setelah itu, tiap ibu berangkat ke pasar, aku selalu nitip agar beli nasi di warung makan itu. Dan minta agar dibungkus dengan ‘Koran Doyok’. Ibu pun selalu memenuhi permintaan itu. Hingga tiap ibu pulang dari pasar, bukan jajan yang kunantikan. Tapi bungkus nasi yang ada gambar strip kartun Doyok.

Setelah menginjak SMP baru aku tahu, bahwa ‘Koran Doyok’ itu adalah sisipan dari Koran Pos Kota. Koran berita dan peristiwa ibu kota, yang merupakan surat kabar dengan oplah terbesar di Jakarta. Dengan pangsa pembaca kelas bawah, yang banyak memberitakan peristiwa kejahatan. Hingga GM Sudarta (kartunis KOMPAS) pernah berseloroh, bahwa kalau Koran Pos Kota diperas akan mengucur darah. Karena banyaknya berita-berita criminal yang memenuhi halaman pertamanya.

Jadi kalau hari ini aku membuat komik strip untuk koran tempatku bekerja, itu semua adalah hasil belajarku ketika kelas 4 SD dulu. Mata pelajaran yang pernah kupelajari dengan seksama pada 20 tahun lalu. Ketika aku mencermati betul komik strip Doyok , hasil gambar kartunis bernama senior Keliek Siswoyo. Komik strip yang muncul tiap hari, hingga menjadi ikon branding dari Koran Pos Kota. Menjadi sosok yang mewakili suara rakyat bawah, penduduk urban ibu kota yang dipinggirkan.

Hingga aku pun berbangga, ketika pada kelas 2 SMA, kartunku masuk dalam Pameran Kartun Nasional di Purna Budaya Jogja. Pameran yang membuatku bertemu Keliek Siswoyo. Kukatakan padanya, bahwa komik stripnya adalah pelajaran pertama yang kupelajari ketika memahami komik strip. Aku pun berfoto bersama dengannya, sebagai kenang-kenangan yang membahagiakan.

Dan kejadian 16 tahun lalu itu terulang lagi 2 tahun lalu. Pada tahun 2008, ketika ketemu lagi di Bali dalam peresmian Museum Kartun Indonesia. Ada bahagia yang terulang. Seperti seorang murid yang bertemu dengan guru besarnya. Guru imajiner yang mengajariku membuat komik strip tiap hari.

Jadi kalau sekarang aku mampu membuat komik strip setiap hari, semua karena jasa sobekan koran pembungkus nasi. Dan kalau sekarang pun aku mau membuat komik strip setiap hari, semua karena keinginan untuk mencari sesuap nasi. Karena kata Arswendo Atmowiloto, tugas utama seorang penulis (dan semestinya demikian juga dengan kartunis!) adalah memberi makan untuk anak istri.

Tentunya bukan dengan memberikan sobekan koran. Tapi dengan nasi yang mengenyangkan.

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Desember 2010 pukul 9:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s