Catatan Kaki 19: Ilmu Bekasan dari Kampus Loakan

Standar

seorang teman suka meledekku, dengan menuliskan ‘gelar luar biasa’ pada alamat paket yang dikirim padaku. hwahahahaha

“Endingnya monoton! Ujung-ujungnya pasar loak!”

Tadi malam, seorang teman istimewa mengirimkan komentar ‘istimewa’nya.

Dari pertemanan di facebook, dia adalah salah satu teman dari jenis ‘spesies langka’. Selalu membaca statusku, namun tak pernah berkomentar. Kalau pun koment, tidak ditulis di status, namun sms yang dikirimkan. Dan tak kuduga, catatan harian yang kutulis ini pun dibacanya. Konon sejak hari pertama, hingga yang ku upload semalam. Dan tetap, dia tak memberikan komentar apa pun di catatanku. Hanya semalam dia sempat bertanya, “Kenapa harus pasar loak terus, sih?”

Namun sms-nya itu tak sempat kujawab, karena aku sedang padat acara. Kalau pun dijawab, dia pun telah lari entah ke mana. Karena selalu begitu tabiatnya. Maka catatan yang kutulis ini, untuk menjawab tanyanya.

Bahwa sesungguhnya tulisan ini hanyalah sebuah catatan harian. Bukan semacam cerpen yang membutuhkan ending. Kalau pun catatan ini berujung pada kios loak, itu pun bukanlah ending. Karena kios loak hanyalah suatu tempat di mana selama ini aku sering hunting.

Aku memang sedang mengumpulkan barang-barang yang dulu kumiliki. Benda-benda yang sekarang telah hilang entah ke mana pergi, padahal bagiku sangatlah berarti. Aku berusaha untuk memilikinya kembali, sebagai sebuah prasasti diri. Sekadar melengkapi museum kecil untuk sendiri.

Aku sadar, semua barang itu bukanlah benda berharga, apalagi bersejarah. Karena itu tak mungkin aku mencarinya ke museum-museum pemerintah. Maka benda yang bagi orang lain dianggap sampah itu, mau tidak mau harus kucari lagi di pasar loak atau, yang juga disebut pasar ‘sampah’.

Disebut pasar sampah karena di situ tersedia benda-benda yang telah dianggap sampah oleh pemiliknya. Segala benda yang tak dibutuhkan lagi dan sudah dibuang pemakainya. Dari majalah bekas, buku bekas, kaset bekas, baju bekas, hiasan bekas, telepon bekas, jam bekas, hingga peralatan makan bekas. Seluruh benda yang tidak digunakan, hingga telah dibuang ke tempat sampah. Namun ternyata, sampah bagi seseorang bisa jadi merupakan harta karun bagi orang lain.

Demikian pula denganku. Aku yang ingin mengumpulkan segala benda-benda bersejarah dalam kehidupanku, menemukannya di situ. Dari buku yang pertama kali kubaca, majalah yang pertama kali kukenal, hingga bermacam kaset yang pertama kali kudengar. Semua kenangan itu pun kembali kudapatkan.

Maka aku pun menjadi petualang pasar loak. Karena ternyata, ada keasyikan tersendiri ketika berburu ‘sampah-sampah’ itu. Persis seorang pemburu yang mengincar binatang buruan, aku pun berkelana ke sejumlah pasar klithikan. Untuk di Solo, bisa dipastikan dua hari sekali aku pasti jalan-jalan ke Gladhag. Kalau ke Jogja, sebulan sekali pasti dolan ke Shoping. Aku punya langganan yang masih menyediakan buku loak, di tengah kepungan kios yang menawarkan buku baru dengan harga diskon. Demikian juga kalau ke Semarang untuk mencari kaset bekas di pinggiran pasar Johar. Begitu pula kalau Malang, pasti mampir ke Jalan Wilis atau pun kios loakan yang ada di depan stasiun kota.

Jadi kalau orang lain ke luar kota, yang didatangi tempat wisata berikut tempat kuliner atau mall-mallnya, tidak demikian denganku. Aku lebih memilih pergi ke museum atau pun pasar-pasar loaknya.

Mungkin benar kata sosiolog, bahwa sesungguhnya pasar loak pun tak ubahnya museum. Karena ia turut menyimpan jejak peradaban. Bahkan kalau museum resmi sifatnya monoton dan menjejalkan pesan satu arah bagi pengunjungnya, tidak demikian dengan pasar loak. Pasar barang bekas itu justru mampu menjadi museum parsitipatif, di mana semua orang bisa bertemu dan bertukar pesan tentang masa lalu mereka. Sebuah ruang publik yang membuat warga saling berbagi pemahaman dan pengalaman masa lalunya masing-masing dengan benda yang mereka inginkan.

Tapi aku tidak sedang bercerita pasar loak sebagai museum peradaban. Karena dalam pengalamanku sendiri, pasar loak justru merupakan kampus bagi seluruh proses pembelajaran.

Sebab sejak aku keranjingan bacaan, kios loakan adalah mata air segar di tengah padang kehausan pengetahuan. Dengan harga yang murah, bisa kudapatkan buku-buku lama, yang tak mungkin mampu kubeli baru di toko buku. Dengan harga yang murah pula, bisa mendapatkan bermacam pengetahuan yang kubutuhkan. Apalagi bagiku, pengetahuan bukan barang yang gampang basi dengan berlalunya waktu. Karena ia bukan berita, yang seperti dinyanyikan Rita Rubby Hartland: hari ini dibaca, esok jadi pembungkus, lusa di tempat sampah.

Bermula dari buku dan majalah yang kudapat di pasar loaklah, aku sekarang bisa mengambar dan menulis. Bisa dengan sedikit PD mengenalkan diri sebagai seorang kartunis atau pun penulis.

Sekadar contoh, ketika ingin menjadi penulis, aku banyak belajar pada majalah ‘hai’. Majalah remaja yang waktu itu dikomandani Arswendo Atmowiloto, penulis ternama dengan segudang karya. Dan di dalam asuhannya, lahirlah barisan penulis muda yang karyanya banyak menghiasi majalah remaja. Semacam Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Zarra Zettira, Adra P. Daniel, Bubin Lantang, Arini Suryokusumo, Yanti Raharjo, Gustin Suradji, dan banyak lagi yang lainnya. Dari cerita-cerita karya merekalah aku mencoba mencicipi mimpi menjadi remaja yang menikmati masa-masa indah. Meski pun sampai dewasa, mimpi itu hanya ada dalam cerita. Karena aku tidak memilih jalan ‘cinta’nya.

Untuk mendapatkan majalah ‘hai’ edisi bekasan itu aku harus mengayuh sepeda 15 km ke kota Purwokerto dari kampungku. Perjalanan yang cukup membuat keringat yang kulakukan setiap minggu. Demi membeli majalah dengan bekal uang jajan yang kukumpulkan selama sepekan. Dengan uang sekitar 500 hingga 1000 rupiah aku bisa mendapatkan 3 – 5 majalah bekasan.

Dan aku memilih naik sepeda, karena agar irit ongkos tentunya. Sebab uang tabunganku tidak seberapa. Sementara kalau naik angkot, harus jalan dulu ke Pasar Patikraja yang lumayan jauh dari rumahku. Sedangkan dari Pasar ke Purwokerto, sekali jalan sudah 200 rupiah. Pulang pergi menghabiskan 400 rupiah. Kalau tidak mau jalan kaki, untuk menitipkan sepeda di Pasar, 100 rupiah. Sudah menghabiskan 500 rupiah, yang semestinya aku bisa dapatkan 3 majalah.

Jadi sebenarnya bukan hari ini saja aku akrab dengan pasar loak. Karena sudah sejak dulu, barang-barang loakan sudah sangat akrab dengan kehidupanku. Dan bukan hanya majalah ‘hai’ yang kudapatkan di sana. Karena seluruh pengetahuanku, ternyata bermula dari buku dan majalah bekas.

Sekadar contoh saja, ketika aku ingin belajar menulis puisi, cerpen dan artikel, ilmu itu kudapatkan dari majalah Horison bekas. Ketika memahami cara menulis kolom, belajar dari tulisan Umar Kayam dan Gunawan Mohamad di majalah TEMPO bekas. Dari majalah itu pula aku juga belajar bagaimana menulis cerita yang bertutur, gaya reportase yang dikenal sebagai jurnalisme sastrawi.

Begitu pun ketika ingin menjadi seorang kartunis. Aku banyak belajar menggambar dari kartun yang ada di majalah Senang bekas. Juga sewaktu belajar menggambar komik sejarah gaya ‘Sawung Kampret’nya Dwi Koendoro, yang kupelajari semua dari majalah HumOr bekas.

Jadi harus kuakui, majalah dan buku bekaslah yang sekian lama menjadi sumber ilmuku. Dan pasar loakan lah yang menjadi tempatku menimba ilmu. Ilmu bekasan yang justru sangat berguna bagi kehidupan, dibadingkan dengan yang kudapatkan di bangku sekolahan.

Jadi bisa kukatakan, pasar loak adalah kampusku yang sesungguhnya.

Kampus yang (celakanya!) tak pernah mampu membuatku lulus apalagi diwisuda. Hingga aku pun tak pernah mendapatkan gelar sarjana apa pun juga, karena tak ketahuan siapa rektornya.

Alhamdulillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 2 Januari 2011 pukul 17:3

7 responses »

  1. Mampir ke Kudus,
    di Pasar loakan sepanjang kali gelis, suasana nya di jamin sip.
    Ada berbagai buku bekas, HP bekas , Onderdil Motor bekas, onderdil sepeda bekas, kaset bekas juga ada.

    Sebelah barat nya pun Kali Gelis ada sebidang rumah Niti Semito yang masij utoh kemploh

    Nuansa kota lama masih kuat di daerah Kali Gelis. Jembatan Kali Gelis pun peninggalan rakyat dan si bangsat Daendles ( proyek Anyer Panarukan)

    Jangan lupa nyicipi soto Kudus yang dijajakan pedagang kaki lima

    Bawa juga kamera untuk Foto Foto

  2. Maampir ke Kudus,
    di Pasar loakan sepanjang kali gelis, suasana nya di jamin sip.
    Ada berbagai buku bekas, HP bekas , Onderdil Motor bekas, onderdil sepeda bekas, kaset bekas juga ada.

    Sebelah barat nya pun Kali Gelis ada sebidang rumah Niti Semito yang masij utoh kemploh

    Nuansa kota lama masih kuat di daerah Kali Gelis. Jembatan Kali Gelis pun peninggalan rakyat dan si bangsat Daendles ( proyek Anyer Panarukan)

    Jangan lupa nyicipi soto Kudus yang dijajakan pedagang kaki lima

    Bawa juga kamera untuk Foto Foto

  3. Pasar loak adalah sorga bagi saya, sejak kecil sering diajak ayah saya ke pasar loak, meskipun hanya jalan – jalan. Saya sering diajak ke pasar bringkit (letaknya di badung, bali), dan anehnya kebiasaan tersebut hingga kini masih melekat, sampai saya kuliah di jogja saya sering mengunjungi pasar loak baik itu pasar senthir, pasar klitikan, dan pasar loak yg ada di daerah bantul (lupa namanya). Hanya keliling dan bercengkrama dengan pedagang, itu sudah cukup puas untuk saya dan sesekali membeli barang bekas baik itu hp, dan apapun itu. Kelak kebiasaan ini akan saya wariskan ke anak cucu saya, seperti ayah saya🙂 . Salam dari mahasiswa rantau

  4. Tulisan yang bagus!
    Saya jadi teringat masa2 SMA saat saya sedang senang2nya baca majalah Horison. Membaca ini, saya jadi ingin mendapatkan kembai majalah itu (terbitan 6 tahun yang lalu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s