Catatan Kaki 21: Catatanku Catatan Kaki!

Standar

“Kok tulisan Kang Nass namanya ‘Catatan Kaki’, apa menulisnya pakai kaki?”

Kali ini, seorang teman berkomentar lagi.

Meski kalau dibaca koment-nya dengan seksama, sepertinya sekadar main-main saja. Tapi entah kenapa aku terpancing menjawabnya. Dan catatan ini adalah sekadar koment balik untuk dia. Mengapa ‘Catatan Kaki’ menjadi penting adanya.

Seperti kita tahu bersama, dalam setiap buku ilmiah, catatan kaki adalah keterangan khusus yang digunakan untuk memberikan keterangan atau komentar. Catatan kaki juga berfungsi untuk menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan. Dan catatan kaki ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab. Karena posisinya di bawah itulah, maka disebut sebagai catatan kaki. Mungkin kalau diletakkan di atas, jadi catatan kepala.

Jadi ketika aku menulis catatan harianku, aku sedang membayangkan, bahwa  kehidupanku selama ini adalah sebuah buku tebal. Sebuah kitab sejarah yang besar dan sangat tebal. Yang kalau dihitung lembar, dan tiap hari adalah lembaran baru, maka ketebalan buku itu sudah lebih dari 12.000 halaman. Ini sesuai dengan usiaku yang telah lebih dari 30 tahun.

Dengan pengandaian begitulah, maka catatan ini hanya berfungsi layaknya catatan kaki dari sebuah Kitab Keseharian yang telah ditulis Sang Pencatat.

Harap kembali diingat, bahwa tanpa kita sadari, selalu ada malaikat pencatat yang selalu menulis tingkah laku kita. Sejak kita lahir hingga mati nanti. Sejak dalam buaian hingga kita dikuburkan. Dan itu berlangsung tiap hari, konon, di sebelah kanan dan kiri kita. Catatan itulah ‘biografi’ hidup kita, yang telah dibakukan. Dan akan dipertontonkan kelak di hari kemudian. Tanpa bisa kita tolak, karena itulah senyata kenyataan. Senyata catatan perjalanan kehidupan. Biografi tanpa pretensi!

Nah, karena biografi besar itu telah ditulis oleh sang pencatat dengan teliti dan telaten, maka tinggal kita mencoba menyesuaikan saja. Agar tidak banyak yang berbeda. Dan itu membutuhkan kejujuran dari kita, sebagai tokoh utamanya. Maka kejujuran itulah yang sedang kupelajari kembali. Sedang kuhayati untuk kemudian kuajarkan pada anakku nanti.

Meski kita sadar, ‘biografi’ yang merupakan buku yang sangat ilmiah dan tak diragukan kebenarannya, sebetulnya tak lagi memerlukan catatan kaki dari kita. Dari tokoh utamanya. Karena sang penulis utama lebih mengetahui, bahkan tanpa memerlukan adanya catatan kaki.

Tapi karena ‘biografi’ itu hanya akan dibuka di hari kemudian, padahal hari ini aku membutuhkan, maka kucoba tuliskan kenangan-kenangan itu. Kenangan kecil dan remeh temeh yang telah lalu. Di hari-hari masa kecilku, yang waktu itu sangat kurasakan sama sekali tidak menyenangkan. Namun hari ini, akan kunikmati sebagai kenangan yang membahagiakan.

Maka kalau pun ada kejadian pahit di mana lalu, kesedihan itu tak akan kuceritakan pada anakku. Biarlah kesedihan hanya menjadi milikku sendiri, tak perlu dibagikan. Justru kesedihan masa lalu kukalikan, agar bisa berlipat pangkat menjadi kebahagiaan dengan penuh hikmah kebijaksanaan. Mencoba membingkai masa lalu dengan tatapan penuh pembelajaran. Reframing!

Mungkin ini kesannya sok bijak. Tapi sesekali aku ingin melakukannya. Paling tidak untuk diriku sendiri, agar mencoba mensyukuri apa yang telah terjadi. Itulah mengapa catatan harian ini kunamakan ‘Catatan Kaki’. Catatan yang hanya ada di bawah kaki tulisan utama kita sendiri.

Kemudian soal catatan ini, mengapa harus kutulis tiap pagi. Dengan cepat sekali.

Ini sebenarnya adalah prosesku untuk belajar menulis kembali. Aku sedang belajar pada ayah yang petani sejati. Yang walaupun tak punya sawah, tetap istiqomah di jalannya dengan terus bertani tiap hari.

Mestinya demikian pula dengan yang harus kulakukan, yang ingin menjadi seorang penulis.

Aku harus selalu mengasah penaku, seperti ayah mengasah cangkul dan sabitnya setiap hari, agar bisa menghasilkan tulisan. Maka tiap pagi, sebelum atau selepas shubuh, aku melatih ingatan dan tanganku untuk menuliskan sebuah kenangan. Suatu kenangan masa kecil, yang tidak penuh keceriaan dan kegembiraan, tapi (sekali lagi!) bagiku sangat menyimpan hangat kebahagiaan.

Karena aku ingin agak PD disebut penulis. Maka caranya dengan benar-benar menulis tiap hari. Jadi kalau suatu saat anakku tanya, apa kerjaku selama ini sebagai penulis. Catatan harian ini menjadi bukti.

Aku sengaja menyediakan waktu 1 jam untuk menuliskan catatan harian ini. Di sela-sela merampungkan novel, novel kartun-grafish, membuat kartun strip, dan juga pekerjaan lainnya, baik di kantor atau pun di rumah. Waktu 1 jam tiap pagi ini untuk membuktikan pada diriku sendiri, aku bisa menjaga stamina diri. Bahkan di saat yang tak mungkin. Tak ada alasan sibuk, atau tak ada waktu!

Karena kita telah diajarkan, amal yang baik bukanlah yang banyak namun hanya sekali dilakukan. Melainkan yang sedikit, tapi terus menerus dikerjakan. Maka demikianlah yang tengah kejalankan.

Sebab bagiku, menulis catatan yang menarik dengan waktu lama, adalah hal biasa. Semua penulis bisa. Tapi menulis catatan menarik dengan waktu yang cepat, barulah luar biasa. Dengan waktu yang dibatasi, namun bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca, itu yang ingin kucapai dari pembelajaran menulis ini.

Tapi sepertinya untuk mencapai itu butuh proses. Dan ketekunan. Maka aku ambil jalan tengah saja. Yakni belajar menulis hal yang biasa dengan waktu yang cepat. Menurutku ini bukan hal biasa, juga bukan hal yang luar biasa. Tema tulisannya biasa saja, tapi waktunya yang dibatasi. Dengan waktu semepet mungkin. Apa pun yang terjadi, harus selesai dalam 1 jam!

Maka yang aku tulispun catatan remeh temeh belaka. Tentang kenangan masa kecil. Masa-masa yang membentukku di hari lalu, dan mewujud di hari ini. Aku menjadi seperti sekarang ini, adalah hasil pahatan masa laluku. Masa kecilku. Proses pembelajaran yang kutempuh sendiri, sebagai otodidak murni.

Dan karena sangat sederhananya tulisan ini, maka hanya pantas kalau disebut ‘catatan kaki’. Karena kisah ini hanya komentar dari apa yang sesunguhnya telah tertulis dengan rapi di ‘biografi’ kita. Hanya sekadar pengingat dari yang pasti telah lebih lengkap menuliskannya. Hanya mencoba mengingat sedikit apa yang masih perlu diingat.

Namun karena hanya catatan kaki, seperti juga kita sering melewatkannya dan menganggap tidak penting, maka demikian pula catatan ini. Maka aku pun sadar kalau catatan kecil ini sangat tidak penting bagi siapa saja. Tapi mungkin tidak bagiku, sama seperti penulis buku lainnya, yang selalu merasa penting dengan apa yang dituliskannya.

Jadi sekali lagi, kunamakan ‘Catatan Kaki’ bukan karena kutulis dengan kaki.

Karena aku pun sadar, menulis dengan tangan saja tulisanku sulit dibaca, apalagi kalau dituliskan dengan kaki. Dengan kaki kiri, lagi!

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 Januari 2011 pukul 17:32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s