Catatan Kaki 23: Hartaku Hanya Buku dan Cinta!

Standar

Sketsa kamarku sebelum menjadi ‘sarang tikus’ yang kubuat tahun 1995. yang semalam mengingatkanku, bahwa aku pernah menjadikannya mahar!

Begitu pintu kamar dibuka, maka nampaklah sebuah ranjang kayu tua.

Tapi jangan pernah berpikir, bahwa ranjang itu adalah tempat tidurku yang sesungguhnya.

Karena sejak dibuatkan kamar pada waktu kelas 5, aku jarang sekali tidur di sana. Apalagi aku tak pernah menganggap ranjang itu adalah tempat ‘resmi’ untuk melepas penatku. Hingga aku pun lebih sering tidur di mana saja kusuka. Pokoknya, begitu kantuk mendatangiku, di situlah tempat tidurku. Maka sangat beruntung kalau dalam sebulan aku bisa 4 atau 5 kali tidur di atas ranjang itu.

Dan meski namanya ranjang, jangan pernah membayangkan sebagai sebuah tempat tidur yang nyaman. Dengan sprei kencang terbentang, berikut guling dan bantal yang berwarna merah muda bergambar bunga. Jangan pernah bayangkan apa pun juga, agar tak kecewa ketika mendapatkannya.

Karena ranjang tidurku itu, justru bersepreikan buku. Maksudnya, tentu bukan sprei yang bergambar buku-buku. Tapi serakan buku yang memenuhi seluruh permukaan ranjangku. Buku-buku yang bergeletakan tak beraturan, hingga betul-betul menutupi sprei aslinya, yang bermotif batik biru.

Hingga kalau sesekali hendak tidur di ranjang itu, aku harus menyingkirkan serakan buku-buku itu lebih dulu. Harus berbagi tempat di sebelah kanan dengan buku-buku itu. Namun kalau badan sudah sangat penat dan kantuk pun menyerang tanpa bisa ditunda, aku pun langsung berbaring begitu saja di atasnya. Langsung tidur, tanpa sempat menyingkirkan serakan yang jumlahnya lebih dari seratus buku. Meski resikonya, ketika bangun ada saja buku yang rusak sampulnya karena tergesek badan.

Awalnya, ranjang itu sebenarnya rapi-rapi saja. Tidak ada satu pun serakan di atasnya. Karena di kamarku sudah ada 2 lemari besar yang menjadi tempat menyimpan buku-bukuku. Dua lemari kayu dengan 10 rak pada pintu kiri dan kanan. Lemari baju yang justru penuh dengan buku. Karena dari 20 rak itu, 18 penuh buku, dan hanya 2 rak yang berisi baju. Sepertinya aku memang lebih sering beli buku daripada beli baju.

Maka ketika ranjang itu bersih dari buku, aku pun tidur di atasnya. Ketika spreinya diganti, dan kasur pun baru dijemur. Saat itulah aku merasa tidur yang paling nyaman. Beralaskan kasur hangat dan bantal serta selimut yang harum baunya. Ketika bangun pun badan terasa lebih segar.

Tapi pada malam menjelang, ketika kantuk belum datang, aku suka menjemputnya dengan membaca buku. Awalnya hanya 1 buku yang kuambil dari lemari. Namun ketika di tengah membaca aku menemukan bahasan yang berkaitan dengan buku lainnya, aku pun mencari buku tersebut ke lemari. Dan begitu seterusnya, ketika membutuhkan cros cek dengan buku yang lain lagi. Hingga satu per satu buku-buku yang tertata rapi di lemari, keluar memenuhi ranjangku. Dan jumlahnya tak lagi satu dua, namun bisa berpuluh-puluh tergantung bahasan apa yang sedang kubutuhkan untuk dibaca.

Apalagi gaya membacaku memang tidak menyukai langsung selesai satu buku begitu saja. Bahkan ketika belum menemukan jawaban atas penasaran, buku-buku pendukung itu tak akan kukembalikan ke lemari. Hingga tiap malam bisa bertambah buku yang kubutuhkan untuk dihubungkan. Itu berlangsung berhari-hari, dan tiap hari. Maka puluhan buku pun kemudian menemani malamku, memenuhi ranjangku.

Sebenarnya, aku sendiri sangat menikmati suasana ranjang dengan serakan buku semacam itu. Karena ketika mau kembali membaca, tinggal mencarinya di antara serakan pada ranjangku. Tak perlu mencarinya di lemari buku, yang berarti harus membongkar satu per satu di antara seribuan buku.

Namun justru ibu yang selalu tak tahan melihatnya. Kalau sudah seminggu dan sangat berantakan, beliaulah yang kemudian memberikan ‘pujian’. “Ranjangmu kok makin mirip sarang tikus?!”

Tentu aku cuma tersenyum mendengar ‘pujian’nya.

Setelah itu, ibu pun lalu menyuruhku untuk membereskan kamarku. Kasur dan bantal dijemur, dan sprei dicuci. Aku pun harus mengembalikan buku-buku ke lemari. Namun karena saking banyaknya, aku pun asal saja memasukan begitu saja. Hingga kalau mencari 1 buku saja, harus kembali membongkarnya.

Setelah kasur dijemur, sprei diganti, ranjangku pun rapi kembali. Harum dan nyaman lagi.

Tapi keteraturan dan kerapian itu tak berlangsung lama. Tak lebih dari 3 hari, akan kembali semula. Buku dan majalah berserakan, bercampur kertas gambar dan bermacam kertas coretan. Hingga kemudian ibu meningkatkan ‘sanjungan, “Ini kalau nanti jadi menikah, kira-kira istrimu mau disuruh tidur di mana?”

Aku pun kembali memberikan senyuman sebagai jawaban ‘sanjungan’.

Dan selalu berulang begitu. Setiap diingatkan dengan ‘pujian setulus sanjungan’ dari ibu, aku pun kembali merapikan ranjangku. Buku-buku kumasukan ke dalam lemari. Majalah-majalah kumasukan dalam laci. Begitu juga dengan kertas-kertas dan bermacam  alat gambar lainnya.

Namun tak lebih dari 1 atau 2 hari, keadaan akan kembali lagi. Buku-buku akan berhamburan dan berserakan kembali. Dan ibu pun semakin meningkatkan ‘kekaguman’. “Kalau kamar saja seperti sarang tikus begini, apa ada istri yang mau tidur di sini?”

Dan sepertinya, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain senyuman sebagai balasan.

Sebab bagiku, buku-buku yang bertahun kukumpulkan inilah hartaku yang paling berharga. Biarlah orang lain banyak yang membanggakan membanggakan tabungan emas dan uangnya. Namun karena aku tak punya itu semua, cukuplah 2 lemari buku itu yang kubanggakan sebagai ‘harta simpanan’.

Kebanggaan semu, yang menurut keluargaku hanyalah barang yang tak ada gunanya. Tak lebih hanya sampah belaka. Karena setiap tahu aku membeli buku, ibu pasti memberikan ‘sambutan’, “Buku lagi, buku lagi. Apa bisa kenyang kalau dimakan anak istri? Buat apa ditumpuk-tumpuk di lemari?”

Aku dengan senyum sering menjawab, “Mau kuwariskan untuk anak cucu nanti.”

Tapi ayah biasanya turut menimpali, “Siapa anak jaman sekarang yang mau diwarisi buku? Dijual lagi pun tak akan laku. Kecuali kalau dijual kiloan untuk bungkus tempe mendoan.”

Memang sejak bisa mencari uang sendiri, anggaran terbesarku untuk membeli buku. Hingga saudara-saudara pun banyak yang turut memberikan ‘dukungan’, “Beli buku terus, apa tidak bosan? Lebih baik uangnya dikumpulkan atau dibelikan emas, biar kalau nikah sudah punya mas kawinnya.”

Maka setiap ‘dukungan’ itu dilontarkan aku pun dengan bercanda memberikan jawaban, “Ini juga dalam pencarian istri idaman. Yang mau diberi buku dua lemari sebagai mahar pernikahan.”

Aku tahu bahwa duniaku memang berbeda dengan keluargaku. Dan aku pun sadar, bahwa aku tak bisa menerangkan mengapa aku begitu ‘gila’ dalam membeli dan membaca buku. Bahkan aku pun juga sangat memahami, jawabanku selama ini pun sulit diterima oleh pemikiran mereka. Karena justru aku yang kemudian dianggap ‘tidak punya pikiran’, ketika uangku justru banyak untuk beli buku. Apalagi ketika kukatakan buku-buku hendak kuwariskan dan akan kujadikan mas kawin pernikahan.

Dan aku memang sedang memikirkan penikahan. Mencari sesiapa pun dia yang bersedia menerima apa adanya. Tanpa meminta apa yang aku tidak punya. Karena konon, kebahagiaan terbesar dalam kehidupan adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Lebih tepatnya, dicintai sebagaimana apa adanya diri kita.

Maka hari ini, yang aku nanti hanyalah yang mau mengerti dan memahami. Yang aku tunggu hanyalah yang mau tahu siapa diriku.

Bukan yang salut, apalagi terkejut.

Solo, 10 Agustus 2003

(Catatan ini hanyalah petikan ‘surat cinta’ yang 7 tahun lalu pernah kusampaikan pada Ummi. Kukirimkan seminggu setelah lamaran, tepat sebulan sebelum pernikahan. Surat cinta yang aslinya setebal 20 lembar, dan isinya sama sekali tidak romantis. Kuyakinkan pada ‘si dia’, bahwa mahar untuknya telah kusiapkan. Berupa 2 lemari ‘harta karun’ dan seperangkat ‘sarang tikus’. Tunai!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Januari 2011 pukul 10:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s