Catatan Kaki 24: Bersenang-senang Bersama ‘Senang’

Standar

senanglah, meski sedang tak ingin senang. senangkan orang lain, agar diri turut senang. senang melihat orang lain senang!

Angka tujuh, konon angka paling laku.

Seminggu terdiri dari 7 hari, dari Senin sampai Minggu. Not lagu ada 7 jenis nada, dari do sampai si. Warna pelangi ada 7 macam, mejikuhibiniu dari merah sampai ungu.

Kita kenal cerita detektif cilik, Sapta Siaga. Di dunia prajurit Indonesia ada Sapta Marga. Di dunia Pariwisata ada Sapta Pesona. Dalam cerita anak-anak, Putri Salju selalu ditemani 7 kurcaci. Dan James Bond detektif ciptaan Ian Fleming punya kode sandi 007.

Angka 7 juga lekat dengan tradisi Jawa, seperti mandi bunga 7 warna, puasa 7 hari 7 malam, dan minum dari 7 sumber mata air. Anga 7 sering dipakai untuk istilah, pusing 7 keliling, tobat 7 turunan, juga kaya 7 turunan. Dan konon, jembatan shirotol mustaqim pun ibarat sebuah titian rambut dibelah 7.

Supaya senang, tahun ini mestinya kita tidak mendengar lagi, kalau SMAnya tanpa jurusan, lulusannya nanti juga tanpa tujuan. Ada 19 remaja Malang yang  malang nasibnya, ditangkap dan dituduh pesta seks. Ada kakek usia 62 tahun memperkosa gadis usia 4,5 tahun. Ada PM Singapura menghina Presiden RI pertama dan memuji Presiden RI kedua. Ada gelar baru bagi bus malam, Bus Pencabut Nyawa.

Aku senang Meriam bellina, karena aku mantan penembak meriam di artileri. Aku senang Adrianus Mooy gubernur Bank Indonesia, karena gubernur non propinsi. Aku senang Munawir Sazali, karena dihimbau mundur malah maju. Aku senang Saddam Husein karena aku penjual obat kumis.

Aku senang TV swasta, karena dari TK sampai kuliah aku sekolah di swasta. Aku senang polantas, karena punya ajian sakti, sekali gerakkan tangan puluhan mobil berhenti. Aku senang iklan, karena tidak mau jadi yang nomor 2. Aku senang telepon, karena bukan jam beker tapi bisa membangunkan orang.

Perang adalah kerjaan rutinku bersama istriku. Penjajah adalah melarang istri ikut arisan. Mafia adalah kelompok orang sadis bertampang modis. BBM adalah bawa banyak masalah. Disesuaikan adalah kebijakan pemerintah yang belum pernah berarti turun. Nampang adalah jongos berlagak bos.

Ada banyak Hari-Hari yang terkenal. Ada Hari Rusli, cucu sastrawan Marah Rusli yang jawara musik. Ada Hari Sabar, komposer musik film Saur Sepuh. Ada Hari Capri, bintang film yang pengusaha restoran Padang. Ada Hari Mukti sang rocker kutu loncat. Ada Hari Toos, pencipta lagu Hati Selembut Salju. Ada Hari Darsono, perancang mode pesohor. Ada Hari van Hoeve, pencipta lagu yang sering muncul di Aneka Ria Safari. Ada juga Hilman Hariwijaya, pengarang novel Lupus yang banyak digandrungi remaja.

“Senang itu menyangkut rasa. Sulit dijabarkan dengan kata-kata, gampang dicontohkan. Seperti saat pertama ‘Senang’ diedarkan tanggal 16 Juni 1989. Ada perasaan dag dig dug. Laku apa tidak  ya?”

Demikian Arswendo memberikan sambutan dalam selamatan satu tahun majalahnya. Ketika ternyata majalah buatannya meledak di pasaran, menjadi majalah dua mingguan terbesar di Indonesia. Setiap dua minggu sekali 200 ribu eksemplar majalah habis dibeli dan dibaca masyarakat. Bahkan menjadi majalah teratas dan terlucu di antara 37 majalah dua mingguan lainnya, yang terbit di Indonesia.

Senangnya bersenang-senang bersama ‘Senang’.

Kutipan di atas adalah sebagian kecil kenanganku bersama majalah Senang. Majalah yang kulihat pertama kali waktu kelas 5 SD, ketika aku ikut ibu ke tempat saudara yang baru pulang dari Jakarta. Ketika  anak yang lainnya asyik berebut jajan yang dibawa, aku asyik membuka-buka majalah yang tegeletak di ruang tengah. Majalah Senang, namanya. Langka, nyata, bahagia, menjadi slogannya.

Majalah yang isinya menceritakan hal-hal yang langka tapi nyata, dan membuat pembacanya bahagia. Kumpulan berita-berita yang ‘ter’ terangkum semua di sana. Dari manusia terkuat, tertinggi, terbesar, terkecil, hingga manusia terpendek yang ada di Indonesia.

Manusia terkuat adalah Cokrowiyarjo dari Jogja, yang mampu menarik mobil dengan rambutnya. Manusia tertinggi adalah Santoso dari Sragen, yang mempunyai tinggi 215 cm. Manusia terbesar adalah Tarida Gloria, dengan berat badan 114 kg. Manusia terkecil adalah Sanewi dari Madura, dengan tinggi 79 cm dan berat 25 kg pada usianya yang sudah 50 tahun. Dan manusia terpendek adalah Partimah, perempuan dari Wonosobo dengan tinggi badan 65 cm.

Karena isinya seperti kumpulan rekor yang ada di seluruh Indonesia, membuat majalah Senang pun sempat dijuluki ‘guiness magazines ot the record made in Indonesia’.

Sampai hari ini, kenangan tentang majalah Senang sulit hilang. Bukan karena pemrednya adalah Arswendo, yang di saat itu sedang kugandrungi gaya berceritanya. Tapi karena keunikannya. Majalah ini tidak berisi berita. Namun berisi pengetahuan. Sesuatu yang membuatku merasa menjadi banyak tahu. Sesuatu yang mungkin bukan berarti ilmu. Tapi wawasan yang memancingku mengetahui banyak hal.

Salah satu pengetahuan yang masih terkenang adalah cerita dari jazirah Arab dan negeri Cina.

Di Turki, hukuman mati pada abad 17 diberlakukan bagi siapa saja yang kedapatan minum kopi. Raja Jaffar dari Persia di abad 13, tak pernah malu mengakui di depan tamunya bahwa ayahnya hanya seorang buruh kasar. Kalender pertama dibuat di Mesir pada 2780 SM. Dan banyak kisah unik lainnya.

Sedangkan cerita dari Cina, rekor menangis dipegang Pangeran Chao, yang menangis selama 168 jam. Enskiklopedi sudah jadi pegangan murid di abad 15 sebanyak lebih dari 11 ribu jilid. Cara bunuh diri gaya Cina lama adalah dengan makan garam sebanyak-banyaknya. Dan banyak lagi kisah aneh lainnya.

Tapi yang sangat membekas dari pembelajaranku pada majalah Senang adalah menjadi menyukai keunikan. Membuatku berani tampil beda dan dengan itu, aku menjadi ada. Karena demikian pula dengan majalah Senang dibanding majalah lainnya. Ia beda, tidak bicara berita, justru laku luar biasa.

Senang juga mengajariku untuk berani berpikir di luar kotak. Seperti rubrik ‘Aku senang ini karena itu’ dan ‘Kata ini adalah itu’  yang secara tidak langsung memancing untuk berpikir liar. Belajar menentukan alasan yang kadang tak masuk akal tapi justru lebih menjelaskan. Atau mendefinisikan ulang sesuatu dengan cara yang sangat tidak biasa. Rangsangan untuk selalu menawarkan kebaruan. Ide brilian!

Hingga kebiasaan yang kudapatkan waktu kelas 5 itulah yang kemudian melekat dalam sikapku. Untuk berani berpikir di luar logika biasa, dan bertindak meloncat melompati keterbatasan. Mampu melihat yang tak sempat terbayangkan orang sebelumnya. Mampu membaca yang tak seluruhnya tereja mata. Yang lalu kukembang menjadi bentuk kepribadianku, yang mungkin bernama kreativitas tanpa batas.

Jadi aku merasa sangat senang mendapatkan majalah Senang, kenangan dari  saudara yang menjadi pembantu di Jakarta. Oleh-oleh yang tidak seperti diterima saudara lainnya. Yang setelah dimakan, masuk perut, dan tak ada bekasnya ketika dibuang esok harinya. Sementara oleh-olehku menjadi bahan bacaan serta pembelajaran. Dan tetap bertahan meski sudah 20 tahun lamanya. Bahkan kemudian terbukti menjadi bekal hidup menghadapi kehidupan yang sering tidak menyenangkan. Tidak mengenakkan!

Seperti ketika matinya majalah Senang pada tahun 1990. Bersamaan dengan ditahannya Arswendo dalam kasus ‘monitor’. Tabloid yang juga dipimpinnya, yang diajukan ke pengadilan karena menerbitkan survey orang-orang berpengaruh, dan menempatkan Nabi Muhammad pada urutan ke sepuluh.

Tapi paling tidak aku telah belajar banyak hal pada majalah yang hanya berumur 1 tahun itu. Belajar untuk selalu merasa senang menghadapi segala hal yang benar-benar tidak menyenangkan. Seperti cuplikan artikel Arswendo yang selalu muncul menjadi insipirasi dengan renungan-renungan segarnya.

O iya, ada satu lagi yang masih teringat dari majalah lama itu. Majalah yang kemudian kutemukan di kios loakan, setelah sepuluh tahun memburunya. Bahwa kata ‘perkara’ atau ‘masalah yang sangat rumit’ dalam bahasa Cina ditulis dalam satu bentuk huruf kanji. Huruf yang merupakan simbol dari gambar dua wanita dalam satu atap. Entah kenapa, jadi teringat pada Aa Gym yang lagi jadi berita hangat.

Sungguh, aku merasa senang pernah bersenang-senang dengan majalah ‘Senang’!

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Januari 2011 pukul 9:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s