Catatan Kaki 25: Kupinang Kau dengan Puisi

Standar

Ummi! kelebihanmu adalah menerima lamaranku, walau tak membaca puisiku!

aku ingin kau tak jadi aku

seperti aku pun tak ingin jadi kau

kau dan aku tak perlu saling mengaku

aku dan kau telah saling menyatu”

Ya, sekali lagi kukatakan, “Aku ingin kau tak jadi aku.” Karena aku membutuhkan perbedaan itu. Jadi berbanggalah kau dengan ke’engkau’anmu. Tetaplah dengan seluruh apa yang ada pada dirimu. Dengan keramahanmu, keluwesanmu, dan segala yang membuatmu berbeda total denganku.

Sungguh, aku sangat membutuhkan perbedaanmu. Karena aku telah terlanjur menjadi ‘aku’. Yang dingin dan beku. Yang tak bisa hangat dan ramah. Tidak sepertimu. Maka aku tak bisa untuk menjadi sepertimu. Biarlah aku berbahagia dengan segala kekuranganku, kau berbangga dengan kelebihanmu. Berikut seluruh kelebihanku, semua kekuranganmu. Aku tak akan pernah memaksamu menjadi sepertiku. Karena aku membutuhkan ke’engkau’anmu. Kau yang betul-betul berbeda denganku.

Kau tetaplah menjadi engkau, yang mempunyai kemampuan berpikir logis dan sistematis. Aku pun tetap menjadi aku, yang melebihkan perasaan sebagai bekal emosi liris melankolis. Kau tak perlu menjadi aku, introvert yang mencintai kesendirian dalam perenungan yang panjang. Dan aku pun tak harus menjadi kau, ekstrovert yang menikmati hubungan dalam pergaulan dengan banyak orang.

Biarlah semua perbedaan menjadi niatan untuk saling menghargai dan menghormati. Biarlah segala ketidaksamaan menjadi jalan untuk terus menerus saling mengerti dan memahami.

Mungkin seperti yin dan yang atau pun adanya gelap dan terang. Atau bahkan seperti siang dan malam yang sangat nyata segala bedanya. Namun perbedaan itu ada, bukan saling membedakan untuk kemudian mempertentangkan. Sejak dulu aku mencintai perbedaan, karena agar tak ada warna serupa dalam kanvas kehidupan. Justru tinggal disepakati, perbedaan adalah jalan untuk saling mengisi dan melengkapi. Saling sinergi. Karena aku yakin, kau dan aku telah saling menyatukan hati.

Seperti dzikir yang selalu kita baca tiap sore dan pagi, “Ya Allah, Engkau tahu, hati-hati kami telah berpadu, dalam cinta dan taat hanya kepadaMu. Ya Allah, Engkau tahu hati-hati kami telah bersatu, untuk dakwah dan menegakkan syariatMu. Ya Allah, teguhkan hati kami, abadikan cintanya. Tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahyaMu. Ya Allah, lapangkan dada ini, dengan iman dan tawakal. Hidupkan dengan ma’rifah, matikan kami sebagai syuhada. ”

hanya waktu dan bukan menunggu

akulah panas dari airmu

engkaulah dingin dalam apiku

kau dan aku sering panas dingin

mencair dan membeku”

“Demi Masa,” demikian Allah bersaksi dengan jelasnya, bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian sepanjang waktunya. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Maka aku pun mengamininya, “Hanya waktu, dan bukan menunggu.” Waktu akan membunuh segala kesempatan, ketika kita tak bisa memanfaatkan. Muhammad Iqbal telah mengisyaratkan, “Berhenti tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang akan maju ke depan. Mereka yang menunggu, meski hanya sekilas, pasti tergilas.”

Dan aku tak ingin menunggu. Aku telah memilih untuk maju. Bahkan dengan segala kekuranganku. Dengan langkah pertama, mampu menundukkan waktu. Sekadar untuk melepaskan diri dari barisan orang-orang yang mengalami kerugian. Yang hari ini sama, atau bahkan lebih buruk dari kemarinku. Aku mau kini dan esokku, lebih baik dari kemarin. Maka sekali lagi, hanya waktu, dan bukan menunggu.

Untuk itulah, kita harus bersatu.

Akulah panas yang selalu ada dalam dingin batinmu. Dan engkaulah dingin yang selalu ada dalam panas jiwaku. Keluasan dan kedalaman samudera kesabaranmu, menjadi muara sungai ketergesaanku. Namun aku sadar, proses saling memertemukan pemahaman kadang membutuhkan gesekan. Mencoba menggembalakan ego yang seringkali harus membuat otak dan hati panas dingin, saling menahan emosi.

aku di sini kau di situ

mari berpadu, mari berpacu

menata laku meniti liku

mencari sebenar Pintu

kau atau aku

kan sampai lebih dulu”

Aku di sini dengan jiwa kesenimananku yang acak abstrak tak terpeta. Dan kau di situ dengan logika berpikirmu yang lurus dan tertata. Aku berpijak di duniaku yang kadang maya dan tak teraba. Kau pun tegak di duniamu yang tegar di dada semesta. Dan marilah kita berpadu, dalam semangat yang sama menuju pintu yang senantiasa terbuka, pintu kebahagiaan untuk kita bersama. Pintu gerbang Surga.

Kita berpacu dengan segala potensiku dan juga potensimu. Maksimalkan apa yang telah menjadi kelebihanku, sekecil apa pun itu. Menyempurnakana kekuranganmu, apa juga itu. Kubur rasa mindermu, karena di mataku kekuranganmu tak ada, meski hanya seujung kuku. Dan aku tak pernah meributkan itu.

Tinggal bagaimana kita menata laku jalan kita, untuk meniti liku tanjak jalanNya. Telah kupahami, perbedaan pasti membuahkan ketidaksamaan pandangan. Tapi untuk saling menemukan sebenar kebahagiaan, cukuplah kita agungkan persamaan. Memahami perbedaan, menyepakati persamaan.

Niatan itulah yang membuat kita harus berlomba. Berlomba dalam kebaikan menjadi sebenar-benar diriku, dan sebenar-benar dirimu. Berlomba menjadi sebaik-baik diriku dan sebaik-baik dirimu.

Dan sepertinya kau yang akan sampai lebih dulu. Yakinku, kau lebih segalanya daripada aku.

(Inilah terjemahan bebas dari puisiku yang berjudul ‘Hanya Waktu dan Bukan Menunggu’.

Puisi yang sangat kuhafal di luar kepala, karena kutuliskan sepenuh jiwa. Waktu itu kucipta dengan satu tujuan, untuk melamar calon istriku. Mungkin inilah puisi cinta paling tidak romantis yang pernah ada.

Maka tak heran kalau kemudian lamaran keluargaku diterima olehnya. Tentu aku sangat bahagia, karena kita belum saling kenal sebelumnya. Namun pasti karena ia telah dulu membaca puisiku.

Maka beberapa bulan setelah menikah, aku pun penasaran dan mencoba meminta komentarnya.

Dan jawabannya sungguh membuat hatiku melayang berbahagia, “Ummi kan orangnya nggak suka puisi. Jadi ya sama sekali nggak bisa mengerti kata-kata dan makna dalam puisi Abi.”

Alhamdulillah!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Januari 2011 pukul 18:38

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s