Catatan Kaki 26: Gigi Tua Belajar Mengunyah

Standar

Mengunyah merupakan aktivitas yang utama. Sekaligus memuaskan.

Kita jarang benar-benar merasakan manisnya makanan, karena tidak meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh menikmatinya. Dengan sepenuh perasaan

Dan ini yang sekian lama kuabaikan. Tidak menikmati makanan yang sudah kumakan. Lidah hanya selintas saja merasakannya. Begitu terasa enak, langsung ditelan. Kalau tidak enak, dimuntahkan. Aku tak meluangkan waktu untuk merasakan nikmatnya makanan.

Namun kemarin, tiba-tiba aku terbetik untuk menikmati nikmatnya makanan.

Aku teringat pada sebuah pengetahuan, yang kudapatkan dari buku yang pernah kubaca. Yang dengan berlalunya waktu, buku itu habis kubaca, namun ilmunya tak kulaksanakan. Hanya berhenti menjadi pengetahuan. Sesuatu yang menambah wawasan dan pemahaman, namun tak berlanjut menjadi penghayatan. Padahal untuk menjadi ilmu, pengetahuan harus dilakukan.

Maka aku pun mengingat petunjuk di buku yang telah kubaca 2 tahun lalu. Cara sederhana untuk bisa mendatangkan kebahagiaan, dengan jalan menikmati manisnya makanan.

Caranya sangat sederhana. “Hanya dengan memasukan potongan kecil buah-buahan yang dapat dikunyah di mulut. Gelindingkan di sekitar lidah untuk bisa merasakan teksturnya. Lalu kunyah dengan sangat lambat. Perhatikan betapa rasa manis yang sangat kaya merembes keluar penuh cita rasa. Nikmati rasa tersebut dan jangan buru-buru menelannya. Hal ini mungkin sulit, karena tidak terbiasa dengan cara seperti itu. Tapi bagaimana pun, cobalah.”

Ya. Ini akan kucoba. Harus kulakukan. Apalagi aku yang sekian lama menganggap bahwa kegiatan makan adalah peristiwa yang hanya membuang waktu saja. Sebuah aktivitas yang harus segera kuselesaikan, untuk melanjutkan pada aktivitas yang lebih penting lainnya.

Hingga aku sempat terpikir, andaikata ada obat pengenyang yang bisa membuang lapar, alangkah nikmatnya. Biar aku tak perlu repot-repot sarapan, makan siang, makan malam, yang membuang waktu minimal setengah hingga 1 jam. Kalau itu bisa digantikan dengan meminum tablet dan langsung kenyang, sekali makan hanya cukup 1 menit saja. Alangkah praktisnya.

Apalagi selama ini, aku makan memang karena faktor lapar saja. Kalau sedang banyak kegiatan, bahkan sampai lupa makan. Dan hasilnya beberapa harus kali kena magh dan typus. Aku makan karena lapar, bukan karena ingin makan enak. Maka jarang kunikmati makanan yang masuk dalam mulutku. Karena kuingin, kegiatan makan tidak mengganggu aktivitasku. Jadi makan yang hanya sekadar memakan makanan saja, sungguh buang-buang waktu percuma.

Hingga jalan tengahnya, aku sering makan dengan tetap melakukan kegiatan. Bisa sambil menulis, menggambar, baca buku, koran, majalah, atau dengan melihat berita.

Tapi justru karena ingin cepat-cepat selesai, maka tak sempat kunikmati makanan yang kumakan. Hanya sekilas saja merasa enak, makan dilanjutkan. Begitu seterusnya, sampai selesai. Dan tak pernah berpikir untuk menikmatinya ketika tengah mengunyahnya.

Karena prinsipku, semakin cepat selesai semakin baik. Maka nasi pun, aku minta pada Ummi untuk selalu dibuatkan yang lembek. Yang banyak airnya, hingga ketika matang mirip bubur. Yang sudah sangat liat. Jadi tinggal kunyah sebentar, langsung bisa menelannya.

Namun kemarin, semua itu ingin kuhentikan. Aku ingin menikmati setiap makanan yang masuk mulutku. Aku ingin benar-benar meluangkan waktu untuk menikmatinya. Kufungsikan secara maksimal lidahku, dan seluruh indera perasa agar apa pun yang masuk, bisa terasa manisnya.

Maka ketika Ummi akan belanja, aku nitip untuk dibelikan buah apel yang murah. Aku pernah melihatnya di warung sebelah.

“Untuk apa to, Bi?”

“Untuk belajar mengunyah.”

Ummi ketawa, “Gigi udah tua masih belajar mengunyah? Kaya’ Iqro saja!”

Aku pun jadi ikut tertawa.

Dan kubuka kantong plastik dari Ummi. Sekantong apel murah. Harganya 3 ribu rupiah, isinya 7 buah. Besarnya sekepalan tangan bayi. Aku pun langsung mencicipi. Asamnya sangat terasa, wong apel belum matang. Dan sama sekali bukan apel yang menggiurkan untuk dinikmati. Apel kelas teri. Yang tak dijual di toko-toko buah.

Aku ambil pisau, dan kukupas kulitnya. Kemudian kuiris kecil-kecil. Satu buah diiris jadi 4 potongan. Dengan ukuran sekecil itu, sekali masuk mulut, bisa langsung kukunyah, dan segera kutelan.

Tapi kali ini, aku akan mengunyahnya dengan pelan. Akan kurasakan betul nikmatnya apel yang asam itu. Dan akan kunikmati betul, bahwa apel asam itu adalah salah satu kenikmatan juga. Jadi nikmatnya rasa buah apel, dan nikmatnya  masih bisa makan apel.

Potongan apel kecil itu aku gigit. Aku potong lagi menjadi 3 bagian. Kumasukkan dalam mulut. Kukunyah pelan. Sambil kuratakan ke seluruh lidah. Pelan, dan kurasakan benar rasanya. Kukecap-kecap dan kusedot dengan sepenuh rasa. Kunikmati rasanya secara sempurna.

Dan ternyata betul. Rasa apel yang selama ini terasa tidak manis, bahkan kadang amat asam, sekarang manisnya sangat terasa di lidah. Tercecap sangat manis. Sungguh ini sesuatu yang selama ini tak sempat ternikmati. Sesuatu yang kuabaikan. Dan kulewatkan.

Potongan-potongan apel itu pun satu per satu masuk dalam mulutku. Satu per satu kukunyah dengan pelan, dan kunikmati dengan sempurna. Pelan, nikmat, penuh perasaan. Penghayatan.

Ternyata benar. Setidak nikmat apa pun makanan yang kita makan, kalau mengunyahnya dengan sempurna, rasa nikmat itu akan datang. Bahkan ternyata bukan sekadar di lidah, tapi jauh di dalam perasaan, nikmat itu akan lebih terasa. Dan baru sekarang aku tersadarkan.

Maka setelah menghayati nikmatnya mengunyah pelan, aku ingin menjadikannya kebiasaan. Termasuk ketika kemarin aku mengunyah tempe goreng ketika makan siang. Aku jadi lebih merasakan kenikmatan pada sepotong tempe. Sungguh lebih nikmat dari biasanya. Meski tetap tempe, ketika dikecap dengan sepenuh rasa, nikmatnya benar-benar berubah luar biasa.

Ya nikmatnya sepotong tempe sebagai makanan, dan nikmatnya sebagai karunia Allah. Nikmat sebagai makanan yang telah aku suka sejak lama. Juga nikmat sebagai karunia Allah, yang harus selalu aku syukuri, bahwa sampai hari ini aku masih bisa makan.

Rasa nikmat. Ini soal rasa yang selalu kulewatkan untuk dinikmati. Padahal rasa ternyata dapat menyenangkan. Karena konon, sebuah survey pernah menemukan kesimpulan demikian. Bahwa para manula yang berumur lebih dari 80 tahun amat mendambakan dapat menikmati sensasi rasa luar biasa, yang didapatkan ketika mengunyah.

Maka benar adanya, kenikmatan baru terasakan ketika sudah terlewatkan.

Dan aku tak mau seperti mereka, yang ingin merasakan nikmatnya mengunyah di saat sudah tak lagi bisa mengunyah. Sekarang gigiku masih kuat. Masih banyak kenikmatan-kenikmatan yang bisa kudapatkan. Dan akan kulakukan betul, sebagai sebuah syukur nikmat.

Sebuah pelajaran luar biasa, tiba-tiba kudapatkan dari cara yang sangat sederhana. Mengunyah dengan sempurna. Pelajaran untuk bersabar . Agar segala ketidaknikmatan, apa pun bentuknya, tetap menjadi nikmat yang senantiasa mendatangkan kebahagiaan.

Sungguh aku tergugah, ternyata mengunyah pun bisa menjadi laku ibadah.

Subhanallah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s