Catatan Kaki 27: Pagi Ini adalah Pagi yang Baru, dan Aku Ingin Menjadi Aku yang Baru, pada Pagi Ini

Standar

bahagia! wong dapat 15 juta!

“Tataplah diri di depan cermin. Berdirilah dengan tenang dan benar-benar melihat. Pertama menggunakan mata kiri, kemudian ganti dengan mata yang kanan. Bisikanlah pertanyaan, ‘Siapa aku ini?’ Lagi. Dan lagi. Kemudian buka kedua mata sekaligus, yang kiri dan yang kanan. Maka temukanlah diri Anda berada dalam keadaan baru dan mengejutkan. Diri Anda yang baru!”

Dan aku pun melakukannya.

Berdiri di depan cermin kamar bukuku. Ku tarik nafas dalam-dalam. Mata kupicingkan. Aku ingin melihat diriku yang baru. Diriku yang berbeda dengan yang kemarin.

Pagi ini aku ingin bangun menjadi diriku yang baru. Meski pun semalam baru bisa tidur jam setengah tiga. Lalu tadi pagi kupaksakan bisa bangun jam empat. Demi untuk menyambut pagi yang baru. Pagiku yang baru. Pagi yang berbeda dengan pagi yang kemarin.

Maka pagi ini, pagi dan aku, sama-sama baru. Pagi yang baru dan aku yang baru, bertemu dalam rasa syukur. Dan aku benar-benar ingin melihat diriku yang baru, ketika menatap cermin itu.

Cukup lama aku berdiri di depan cermin. Karena ini memang kesenanganku sejak kecil. Dulu, aku sering mengamati diriku sendiri. Memerhatikan wajah dan segala apa yang ada di mukaku. Kadang dengan tatapan mata memicing. Kadang dengan melotot. Kadang dengan memejamkan salah satu. Dengan mulut rapat terkunci. Dengan senyum tersungging. Atau bahkan dibuka lebar seperti menguap. Aku juga suka menggerak-gerakkan bibirku ke samping. Lalu ke atas, ke bawah, ke depan. Seperti sedang senam mulut. Sendirian. KarEna malu juga kalau ketahuan.

Dan aku sangat menikmati itu. Menikmati memainkan wajah di depan cermin. Kebiasaan yang berlanjut sampai sekarang. Hingga di kamar kerja dan kamar bukuku kupasang cermin setinggi badan. Tentu selain untuk memberi kesan luas pada ruangan yang sempit. Yang pada ketiga sisi dindingnya, telah penuh dengan rak buku yang menyentuh hingga langit-langit.

Aku juga suka berbicara sendiri di depan cermin. Mengungkapkan kata-kata yang kadang ada maknanya, kadang hanya sekadar celoteh dan olok-olok belaka. Tapi ketika terpaku pada wajahku, kuperhatikan sorot mata yang memancarkan jiwa, sering juga terlontar ucapan untuk mensugesti diri sendiri. Kata-kata untuk memotivasi diri. Ucapan yang seolah hanya celoteh, tapi justru tanpa disadari sepenuhnya, datang dari jiwa yang terpendam. Dan diucapkan untuk jiwa yang terdalam. Kata-kata yang terbukti seringkali mampu membangkitkan keterpurukanku.

Dan pagi ini, aku pun menatap cermin kembali. Untuk bertanya, “Siapakah aku ini?”

Aku ingin menemukan diriku yang baru. Yang tertangkap dalam cermin di kamar bukuku. Aku yang terlihat sangat kuyu dan kusam. Karena tidur yang tak lebih dari satu jam.

Namun dalam kekuyuan itu, masih jelas terlihat wajah asliku. Yang nampak tegang. Sangat angker dan mengerikan. Tatapan matanya dingin dan dalam. Pandangannya tak bercahaya. Tak memancarkan sinar persahabatan yang hangat. Beku dan kaku. Seram dan menakutkan.

Wajah yang membuatku tersenyum sendiri, “Inikah wajahku yang sejati?”

Namun begitu ujung bibir kutarik kiri kanan. Senyum kusunggingkan. Selarik kecerahan mulai memancar. Apalagi ketika sedikit dibuka dengan memerlihatkan jajaran ujung giginya. Sungguh, keangkeran itu mendadak sirna. Beku, kaku, dan wajah dingin, seketika lenyap. Pandangan pun menjadi bersinar hangat. Sangat menampakkan wajah bersahabat. Renyah dan ramah.

Aku pun semakin menikmati wajah itu. Wajah yang tengah tersenyum malu-malu. Senyuman yang menurut Ummi, “Penuh pesona dan kharisma. Lembut dan berwibawa. Memancarkan kedamaian dan ketenangan. Senyuman yang menawan.”

Maka pagi ini, senyuman itu pun kuulang berkali-kali.

Aku menyunggingkan senyuman seperti kalau hendak difoto. Entah mengapa, aku memang selalu tersenyum ketika sedang difoto. Aku suka dengan gaya sedang tertawa. Seolah memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang bahagia, dan suka bercanda.

Maka kalau aku perhatikan dalam cermin, aku seperti punya kepribadian ganda.

Yang satu adalah yang diriku yang beku, dingin, dan kaku. Yang angker, seram, dan menakutkan. Mungkin itulah pancaran jiwa seriusku. Karena sesungguhnya aku orangnya sangat serius, ketika menghadapi sesuatu yang menarik minatku. Contohnya, untuk mengungkap sosok Penangsang yang sangat hitam dalam sejarah tanah Jawa. Aku sangat serius menggalinya.

Termasuk ketika menuliskannya. Berikut dengan konsekuensi, bahwa dengan menjadikannya novel trilogi, aku mengorbankan semuanya. Termasuk pekerjaan yang dilepas. Lalu pendapatan bulanan yang tanpa kepastian. Harus meninggalkan istri tercinta dan anak-anak tersayang. Hanya untuk menyusuri kegelapan sejarah dan berusaha menguaknya sebagai wacana tafsir ulang.

Kalau sudah begitu, aku pun sangat serius. Puluhan buku kubaca, kueja, kumakna. Aku berubah menjadi orang yang jarang tersenyum. Waktunya habis untuk berpikir dan merenung.

Namun kalau sudah lepas dari beban penasanan, aku pun mulai bisa tersenyum kembali. Wajah ramahku datang. Dan kalau sudah tertawa, tampang ceriaku memancar terang. Aku menjadi orang yang tak berhenti tertawa, ketika bercanda dengan istri dan anak-anak. Di mana saja.

Bahkan apa saja bisa kujadikan bahan pemancing ketawa. Maka sering kurasa, bahwa aku termasuk orang yang bisa dengan mudah membuat orang tertawa. Mungkin karena aku kartunis, yang mempunyai kepekaan humor di atas rata-rata.

Namun dalam batin, justru sering bertanya, “Jangan-jangan senantiasa bisa tertawa, sekadar untuk menghapus deritaku saja?”

Karena hidupku tak lebih hanya cerita duka. Kehidupanku adalah perjalanan panjang penuh luka. Maka untuk menghibur diriku sendiri, aku harus bermain sandiwara. Dengan mengungkapkan kecewa menggunakan cara penuh canda. Mengubah duka menjadi tawa. Meski sesungguhnya, dalam deritaku selalu ada tawa. Dan di balik tawaku, masih tersimpan duka.

Salahkah sifat begini? Yang angker seram sekaligus ceria ramah? Yang beku dingin namun juga hangat cair? Yang bisa sangat tidak pedulian namun juga mampu untuk amat perhatian?

Atau justru yang beku kaku dingin seram menakutkan tak bersahabat adalah sifat asliku? Sementara yang hangat ramah cair ceria penuh perhatian hanyalah pelarian jiwaku?

Jangan-jangan hanya ingin melarikan diri dari kedukaan, dengan berpura-pura bahagia. Menjadi pribadi yang ceria, karena dalam jiwa terdalamku justru memendam duka. Menjadi sosok yang suka tertawa bahagia, hanya untuk menipu diri bahwa sebagai orang yang menderita. Karena dalam perjalanan panjang kehidupanku, justru bukanlah orang yang penuh rasa bahagia.

Aku berpura-pura bahagia untuk mengubur dalam-dalam deritaku. Mengubur semua keminderan yang sekian lama mendera. Kemiskinanku, kebodohanku, ketidakpastian hidupku, kekacauan jalan hidupku, ketidaklayakan pekerjaanku, dan segala macam kebimbangan yang menggelayut, membuat aku harus berpura-pura bahagia dengan segala yang ada pada diriku.

Aku menjadi seorang pemurung yang penuh canda tawa bahagia.

Namun sering juga aku bertanya, “Atau malah sesungguhnya justru seorang perenung, yang mampu memadukan penderitaan dengan kejenakaan?”

Yang bisa menatap setiap sinisme sepenuh optimisme. Yang melihat duka bukan untuk diratapi, tapi untuk dipelajari. Yang menatap derita dengan ceria. Yang menikmati luka dengan tawa. Yang merasakan kecewa dengan gembira. Yang meyakini bahwa kesedihan tak perlu dibagi, namun dikali. Yang harus dikuadrat dan dipangkat agar justru bisa menghasilkan kebahagiaan.

Karena konon, realitas diri itu tersusun dari beberapa lapisan. Persis seperti kulit bawang merah. Dan mengajukan pertanyaan adalah salah satu cara untuk menguliti lapisan tipis itu satu per satu. Maka seperti juga mengupas bawang merah, membuka lapisan diri pun kadang membuat mata harus berkaca-kaca. Ingin menolak kenyataan yang ada. Bahwa itulah diriku yang sebenarnya.

Namun pagi ini aku telah melakukan itu. Dengan cara bertanya pada cermin di depanku. Untuk sekadar menemukan apakah yang saat ini benar-benar diriku. Diriku yang baru.

Karena pagi ini adalah pagi yang baru. Dan aku ingin menjadi diriku yang baru, mulai pagi ini.

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Januari 2011 pukul 7:23

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s