Catatan Kaki 28: Siapa Mau Membeli Rongsokan Batinku?

Standar

Kebanyakan kita menjaga sisi gelap kita, untuk tetap tersembunyi.

Karena kita tidak pernah ingin kejelekan kita diketahui orang lain. Hingga kita sembunyikan rapat-rapat, seperti kebiasaan menyimpan sampah kecil di dalam laci.

Padahal konon, bersembunyi dari bagian diri yang terlihat cacat ini, sebenarnya hanya menghalangi perkembangan kita sebagai manusia. Karena justru, menghadapi kebaikan, keburukan, dan kejelekan lah yang akan benar-benar melepaskan energi negatif. Yang akibatnya bisa meningkatkan rasa kecintaan pada diri.

Maka hari ini aku jadi teringat tentang ‘dendamku’ pada laci lemari.

Sudah lama aku memendam rencana untuk membersihkan laci bawah lemari pakaian Ummi. Laci yang selama ini kugunakan untuk menyimpan benda-benda peralatan listrik dan segala macam alat pertukangan.

Tempat penyimpanan paku-paku dalam beragam bentuk dan ukuran. Dari paku pinus, paku jamur, paku payung, paku besi, hingga paku beton. Berikut gergaji kayu, gergaji besi, gergaji triplek, palu, pencabut, tang, behel, kabel-kabel listrik, obeng, skrup, mur, baut, dan segala peralatan kecil lainnya.

Awalnya aku menyimpan peralatanku di laci tempat penyimpanan kain-kain Ummi, karena lemari itu berada di gudang. Maka laci itu sangat tepat menjadi tempat paling aman, karena sulit dan jauh dari jangkauan anak-anak. Apalagi rak yang menjadi kotak laci tersebut terbuat dari papan jati tebal. Yang karenanya, semakin membuat anak-anak tak bisa mengambilnya. Tak bisa menarik dan membukanya, karena saking beratnya. Jadi aku tak khawatir barang-barang yang bisa berbahaya itu menjadi mainan anak-anak.

Tapi lama kelamaan, tempat yang aman itu justru menjadi tempat yang ternyaman untuk menyimpan segala benda lainnya. Bahkan benda-benda yang tak diketahui kegunaannya. Bekas-bekas alat listrik yang tak terpakai kemudian ikut tersimpan di dalamnya. Dari mulai kabel-kabel, stop kontak, jek, dan segala barang elektronik yang bekas dipakai.

Semacam ada rasa sayang untuk membuangnya, seteleah mengganti kabel lama dengan kabel baru, atau stop kontak dan jeknya. Akhirnya aku pun menyimpannya di rak laci tersebut. Pertimbangannya hanya satu, siapa tahu kapan-kapan bisa dipakai lagi. Dan disimpan di tempat yang tidak kelihatan, jadi tidak mengonggok seperti sampah.

Padahal setelah kupikir ulang, semua barang itu sesungguhnya adalah sampah.

Maka kemarin aku ingin merapikannya. Apalagi setelah paku-paku bekas pun semakin banyak. Yang sebelumnya tersimpan dalam toples-toples kecil, suatu kali pernah tumpah tersenggol tangan. Hingga paku-paku kecil itu pun memenuhi seluruh rak.

Ini semakin membuat berantakan isi laci. Dan semakin menyulitkan ketika hendak mencari sesuatu yang diperlukan. Membuatku tak bisa mendapatkannya dengan cepat. Karena harus diteliti, menghindari tertusuk paku yang berserak. Dan harus menyibak bermacam barang-barang rongsokan yang telah memenuhi ruangan rak.

Maka yang barang-barang pengganggu semacam itu harus disingkirkan.

Rak pun aku tarik dari lacinya. Dua-duanya, yang kiri dan yang kanan. Semua peralatan listrik yang tak terpakai dan kemungkinan besar tak layak pakai lagi, aku masukkan kardus. Juga alat-alat yang lain, yang menurut perkiraan sudah sedikit kegunaannya..

Semua harus disingkirkan. Laci harus dibersihkan. Hanya barang yang kuanggap berguna, dan benar-benar bermanfaat saja yang boleh berada dalam rak.

Kemudian untuk memudahkan pengambilan, paku-paku aku kumpulkan dan kembali kumasukan dalam toples-toples kecil. Semua kumasukkan sesuai ukuran paku-paku itu. Yang besar dan yang kecil dibedakan tempatnya. Juga untuk paku payung dan paku jamur. Berikut dengan bermacam mur dan baud yang kujadkan satu toples.

Dan selesailah semua. Rakku telah teratur. Bersih, rapi, dan tertata.

Bahkan Ummi pun lumayan gembira. Laci rak lemari kain-kainnya tak lagi penuh sampah seperti sarang tikus.

Namun yang lebih gembira lagi, karena barang-barang yang tak terpakai itu, bisa dijualnya pada pedagang rongsokan keliling. Berikut kardus, bekas kertas gambar, koran-koran, dan majalah bekas yang juga kubersihkan dari kamar buku.

“Lumayan, Bi, bisa buat beli bakso rusuk!”

Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata Ummi masih ingat dengan makanan kesukaannya. Yang sudah lumayan lama aku tak mengajaknya makan bersama.

Lalu setelah lelah beres-beres, sambil membaca buku ‘Babad Syekh Siti Jenar’, aku mendadak seperti tersadar. Bahwa rencanaku untuk membereskan laci rak peralatanku telah terlaksana. Dan ternyata hanya butuh waktu satu jam untuk merapikannya. Namun karena selalu menganggap tak begitu penting, rencana itu telah tertunda setahun lamanya.

Maka aku jadi berpikir. Setelah bisa membersihkan rak laci peralatanku, membuang semua barang yang kurasa tak ada gunanya. Menyingkirkan benda yang tidak ketahuan pasti gunanya, atau yang hanya setengah berguna, aku mestinya bisa melanjutkan pada tahap kedua. Membersihkan rak laci jiwaku. Yang sudah bertahun-tahun kuabaikan.

Mungkin hari ini, sudah menumpuk perasaan-perasaan yang tak berguna untuk kehidupan. Yang selama ini mungkin sengaja atau tak sengaja kusimpan. Atau bahkan yang memang dengan sepenuh niatan untuk dengan rapat menyembunyikan.

Aku merasa, sekaranglah saatnya untuk membuang dari penyimpanan laci batinku. Berani membuang semua hal-hal yang tak bermanfaat bagi perkembangan jiwaku. Hal-hal yang justru akan menghambat kemajuan pribadiku.

Aku harus berani memutuskan, mana yang bisa bermanfaat, dan mana yang hanya rongsokan. Yang justru akan terus menerus membuat kotor jiwa.

Harus kubuang semua rasa kecewa. Rasa tidak nyaman yang menyesakkan perasaan. Harus kubuang segera. Agar jiwaku lebih tenang. Bersih, rapi, dan tertata.

Dan akan kumulai sejak hari ini. Dengan cara mencatatnya, agar tak terlupa.

Maka selain tiap pagi menuliskan kenangan masa kecil, aku sesekali akan membuat renungan. Catatan-catan kecil tentang kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan. Yang harus kuhindari pada langkahku kemudian. Agar tidak menjadi keledai dungu yang rela dua kali masuk dalam kubangan.

Catatan-catatan yang mungkin bernada membuka kejelekanku sendiri. Tapi bagiku, biarlah itu menjadi pembelajaranku di kemudian hari. Aku mencoba tidak malu untuk mengakui, bahwa aku pernah jatuh, tergelincir, bahkan terserimpung kakiku sendiri. Aku akan menuliskannya sekadar sebagai cara untuk mengeluarkan energi negatif dalam diri.

Dan lagi, siapa tahu rongsokan batinku pun, kalau dikumpulkan ada yang mau beli.

Paling tidak sekadar untuk bisa membeli bakso uleg khas Temanggung yang konon rasanya berbeda. Kebetulan di jalan dekat rumah ada cabang yang baru buka.

Dan Ummi sedang penasaran untuk mencicipinya

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Januari 2011 pukul 22:20 ·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s