Catatan Kaki 29: Dalam Kamar Gelap yang Pengap

Standar

Kesadaran itu seperti sebuah sorotan cahaya. Begitu petuah bijak berkata.

Sebelum mampu memancarkan cahaya batin pada apa yang terjadi dalam diri, kemungkinan akan terus merasa tersesat, bingung berada dalam kegelapan.

Dan itulah sungguh yang sedang kurasakan. Paling tidak seharian ini. Sejak pagi hingga sore tadi, aku bingung akan mengerjakan apa. Mau membaca, malas. Mau menulis, berat. Menggambar, enggan. Hingga suntuk sungguh rasa di jiwa.

Seolah hidup tak ada gairah. Tak ada semangat untuk melakukan apa pun, mengerjakan apa pun. Bahkan sekadar berpikir pun, otak terasa tumpul. Hati turut beku. Kaku. Dingin.

Aku seakan berada dalam gelap yang pengap. Tanpa ada cercah sinar, pertanda ada harapan memancar. Seolah berada dalam ruang hampa udara, yang menyesakkan.

Aku terjebak dalam gelap kamar kebosanan yang menjemukan.

Untuk sekadar membuang penat, aku pun masuk dalam kamar buku. Telentang di tengah ruangan, dengan beralaskan tikar pandan yang kubentangkan. Kutatap rak-rak buku yang menyesak di kamarku. Keempat sisi dindingnya penuh dengan jajaran lemari, dari lantai hingga menyentuh atap. Hanya meluangkan ruang pintu dan jendela saja. Aku lihat satu per satu dari lemari kiri ke kanan. Seolah mengabsen buku yang pernah kubaca, dan kuingat isinya. Dari lemari buku agama, sejarah, budaya, sastra, hingga humaniora.

Ingin sekali menuangkan pengetahuan yang ada dari ribuan buku itu, untuk kemudian kutuliskan menjadi buku. Menjadi warisan pemikiran untuk kedua anakku, sekadar kebanggaan yang ingin kusematkan di namaku. Tapi kebosanan itu mendadak menyergap. Hari ini aku sangat malas membaca, sekaligus berat menulis.

Benarlah kata-kata Ali Thantawi, “Kemalasan yang ada pada diri kita, seringkali terasa lebih manis dibandingkan madu.”

Kaca mata kubuka. Kuletakkan di rak buku terdekat, agar tak lupa. Sudah berulangkali aku kebingungan mencarinya setiap bangun tidur. Bahkan beberapa kali pecah, karena tak sengaja mendudukinya.

Kemudian lampu kamar kumatikan. Tiduran lagi dalam suasana gelap. Mata sengaja tidak dipejamkan. Berdiam diri dalam gelapnya kamar buku, yang hanya menyisakan cahaya dari kisi-kisi di atas jendela.

Aku terdiam. Tidak melakukan kegiatan apa pun. Membisu.

Dalam gelap, membuat kita tenang, tapi sekaligus membawa kesadaran.

Perenungan datang ketika dalam kegelapan. Kesadaran pun datang, ketika ruang tak ada lampu yang menyala. Gelap yang membuat hati lebih lembut untuk menangkap segala lintasan pikiran dan perasaan.

Bahkan dalam kamar gelap, membuatku banyak menemukan ide-ide brilian.

Gelap. Ah, ini bisa diasosiasikan sebagai kegelapan batin juga. Ketika hati kita sedang mengalami kegelapan, mengalami kegelisahan, kecemasan, keresahan. Itulah di saat asa serasa hampir putus, tak ada bayangan harapan yang membuat hidup lebih bergairah.

Itulah yang kurasa saat ini. Berdiam dalam kamar buku yang gelap. Membayangkan ribuan buku yang telah menyesak dalam otakku. Namun tetap tak membuatku bijak dalam meniti liku kehidupan. Pengetahuan hanya menjadi wawasan tanpa pengamalan.

Dan itu pulalah yang mungkin membuatku sesak. Seolah merasakan kepengapan hidup, dalam suasana yang semakin gelap. Aku hidup dengan nafas yang selalu terburu, bergegas seolah dikejar waktu. Hingga waktu habis untuk kerja, kerja, dan kerja.

Sesekali mungkin memang harus merasakan bosan. Agar bisa masuk dalam gelap perenungan. Untuk kemudian menemukan cahaya, yang bermakna kesadaran.

Maka mestinya aku pun tak perlu mengutuk kegelapan itu. Kegelapan batin dan jiwa. Karena kegelapan itu pun sesungguhnya aku sendiri yang membuatnya. Seperti ruangan kamar bukuku yang menjadi gelap, karena aku pula yang mematikan lampunya.

Aku harus mulai menyalakan lampu, agar suasana kamar menjadi benderang.

Aku pun harus menyalakan pelita hatiku, agar suasana jiwa menjadi terang. Lapang.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Januari 2011 pukul 22:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s