Catatan Kaki 31: Kamu Selalu Tak Percaya Kalau Aku Sangatlah Pemalu

Standar

Orang selalu tak percaya kalau sifat asliku adalah pemalu.

Hingga ketika kutulis di biodata saat menjadi pembicara, bahwa aku adalah seorang yang penakut dan pemalu (terutama pada perempuan) tak seorang pun memercayai itu. Bahkan semua menertawakanku. Seolah aku sedang menyampaikan kebohongan, atau bahkan sekedar sedang ingin melucu.

Padahal itulah seasli-aslinya diriku.

Bahwa kemudian seakarang aku  terlihat seperti orang yang PD, semua itu adalah berkat perjuangan panjangku. Penderitaan membangkitan kepercayaan diri yang telah bertahun-tahun menggurita menjerat langkahku, jauh sejak masa kecil dulu.

Hingga hari ini pun orang sering tak percaya, kalau aku sebenarnya tak punya keberanian berbicara di depan umum. Namun justru di sini anehnya. Bahwa aku bisa tampil di atas panggung, dengan audiens ratusan orang hingga ribuan. Ketika menjadi MC, aku bisa berbicara bagai tanpa beban. Cuek ceria dengan celetukan-celetukan nakalnya. Dengan puisi-puisi ‘remeh temeh’ yang tak ada mutunya, namun kemudian banyak orang suka.

Tapi kalau disuruh berbicara di depan empat atau lima orang, aku sangat-sangat tak bisa. Apalagi kalau harus duduk melingkar, yang jarak antara aku mereka tak lebih dari sedepa. Aku mendadak gemetar, dan hilang keberanian. Entah karena apa. Tapi itulah faktanya. Karena aku memang orang yang pernah mengidap minder yang parah.

Maka pagi ini, aku ingin mengenang kembali minderku. Yang sudah pernah aku kubur, namun kurasakan sedang bangkit kembali. Hari-hari ini, aku seperti menjadi orang yang tak punya kepercayaan diri lagi. Menjadi orang yang menderita keminderan akut lagi.

Untuk kepentingan itulah, aku mengenang hal apa yang dulu pernah membuatku mampu membunuh minder. Untuk kemudian menumbuhkan percaya diri, pada hari-hari ini.

Dan setelah semalaman kurenungkan, sesuatu yang mampu membuatku bisa bangkit dari keminderan ternyata karena menulis. Karena aku menulis.

Ya. Menulis. Menulislah yang kemudian menolongku berdiri tegak sebagai manusia, yang ternyata punya sedikit kelebihan di antara unggunan kekuranganku.

Maka dengan sedikit GR, menulis pulalah yang juga telah menjadikanku dikenal banyak orang. Sekaligus mengenal orang lebih banyak. Orang menjadi kenal siapa Nassirun Purwokartun, karena aku telah menulis. Kalau tidak menulis, mungkin tak ada yang mau menyebut namaku hari ini. Bahkan sampai kelak aku mati nanti.

Jadi benar kuyakini bahwa menulislah yang telah membuatku lebih dikenal di banding orang lain. Paling tidak daripada saudara-saudara dan tetangga-tetangga sekampungku.

Namun setelah kurenungkan ulang, sepertinya bukan karena dikenal orang itu yang membahagiakan. Karena ketika seseorang menulis kemudian terkenal, bagiku  itu hanyalah sebatas efek samping saja. Maka aku pun tak pernah merasa iri dengan keterkenalan teman-temanku, yang sekarang telah menjadi penulis tersohor.

Karena ternyata, efek utama menulis yang sangat terasa membahagiakanku adalah meningkatnya kelasku. Meningkatnya martabat dan, katakanlah, derajatku. Aku betul-betul merasakan peningkatan itu. Dan sungguh sangat merasakan kebahagiaannya. Sekali lagi bukan karena terkenal, tapi karena meningkat derajat statusku..

Bayangkan, dari seorang anak kampung yang sangat minder karena kemiskinan dan kebodohan keluarganya. Anak desa tertinggal yang tak berpendidikan tinggi, dengan orang tua yang buta huruf bahkan tak sempat lulus SD. Yang tidak pernah merasakan hangatnya bangku kuliah apalagi mengenyam gelar sarjana, kemudian setapak demi setapak beranjak naik tingkat merasa sederajat dengan para penulis terkenal di kota.

Di masa remaja, aku bunuh minder dengan mengaku sebagai penulis, ketika berkumpul dengan seniman di Gedung Kesenian Soetedja.

Dan sejak itu aku lebih sering berada di kota, dengan meninggalkan kehidupan sebagai anak desa. Berada di tengah pusaran dinamika diskusi para budayawan. Menjadi bagian dari perbincangan tentang budaya dan humaniora.

Lingkaran yang kemudian membuatku berkutat lekat dengan dunia perbukuan dan penerbitan. Yang kesemuanya menjadi sarana terbentuknya masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas, di mana aku ingin terlibat di dalamnya.

Dari lingkaran sederhana itu, kemudian kepercayaanku semakin berkembang. Bahkan dengan mengaku sebagai ‘penulis’, kemudian bisa keliling sekolah dan kampus-kampus. Untuk mengajak membudayakan membaca dan menulis pada para mahasiswa.

Dan semua itu terraih, karena aku menulis.

Aku yang sangat minder dengan kebodohan dan kemiskinanku, sedikit demi sedikit terkikis, hingga terpupuklah rasa percaya diri itu. Bermula dari seorang yang tak punya kebanggaan apa pun, karena tak punya apa pun yang layak untuk dibanggakan, menjadi seorang yang bisa mengajak orang lain untuk bangga dengan kemampuan dirinya. Bangga dengan segala kelebihannya. Bahkan bangga dengan segala kekurangannya. Bangga dengan segala potensinya. Termasuk potensi menulis.

Sungguh, sangat kurasakan, bahwa menulis telah merubah segala yang ada pada diriku.

Dengan menulis, aku menjadi mampu mensyukuri apa pun yang terjadi dengan diriku. Aku tak lagi meratapi nasib burukku, ketika tak sempat kuliah, karena tak ada dana yang dipunya orang tuaku. Justru menjadikanku pelecut untuk terus belajar, meski pun tak didapat dari bangku kuliah. Dan itulah yang kulakukan bertahun-tahun kemudian.

Maka sekarang aku telah memantapkan hati, bahwa menulis telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupanku. Karena menulislah yang mengangkat harkatku sebagai manusia, yang punya kelebihan. Yang mampu membuatku percaya, bahwa aku punya potensi.

Maka untuk kembali memupuknya, aku tak boleh meninggalkan menulis setiap hari. Dan ini kupancangkan dalam hati, bahwa menulis adalah ibadah wajibku. Ibadah wajib untuk diriku sendiri. Sesuatu yang wajib dikerjakan setiap hari. Dan ketika meninggalkan, maka sama saja dengan berdosa. Seperti juga hukum bagi meninggalkan shalat fardhu.

Ini bukan untuk memelencengkan fikih tentang mana yang wajib mana yang sunah. Karena ini hanya berlaku bagi diriku sendiri. Wajib untuk diriku sendiri. Menulis menjadi kewajiban hidupku. Maka begitu tak lagi menulis, sama saja dengan akan datang kematianku.  Dan kalau tak menulis, berdosa besarlah aku.

Dosa besarnya dalam agama ditebus dengan dimasukan ke neraka jahanam. Sedangkan dosa besar dalam ‘karya’ dimasukan ke neraka ‘kreativitas’. Yang itu berarti aku menjadi kreator yang gagal! Yang selalu menemui jalan kegagalan. Tak ada kesuksesan. Tak ada kemanfaatan!

Dan aku tak ingin masuk neraka, karena dosa yang kuperbuat dengan sengaja. Aku sangat ingin menjadi penghuni surga, yang bangga dengan amal baiknya.

Amal baik sebagai seorang penulis, adalah karya-karyanya. Sedangkan amal buruknya, adalah pengingkaran atas niatannya.

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 Januari 2011 pukul 22:30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s