Catatan Kaki 32: Alangkah Indahnya Dunia Tanpa Suara Nyanyianmu….

Standar

Suara bisa melegakan tenggorokan. Bahkan konon bermanfaat untuk menghangatkan wajah, memijat hati, dan meningkatkan semangat.

Aku pun mencoba mengamini. Dengan kembali belajar bernyanyi.

Karena dari dulu sebenarnya aku senang menyanyi. Paling tidak punya ketertarikan pada seni suara. Itu terbukti dengan suka menyanyi sendiri di kamar mandi. Intinya, senang menirukan bermacam-macam lagu, meski jauh dari kesan merdu.

Aku mulai suka menyanyi sejak mengenal lagu ‘Mentok-Mentok’ yang diajarkan di TK. Lalu menghafalkan lagu ‘Indonesia Raya’ setelah menginjak SD. Kemudian merapal bermacam lagu nasional lainnya yang selalu dinyanyian tiap upacara bendera.

Dan kesukaan itu bertambah ketika naik kelas 2. Melalui pelajaran Bahasa Jawa, mulai mengenal bermacam tembang Macapat. Aku suka menyanyikannya. Bahkan dengan penuh kekaguman. Hingga waktu kelas 4, aku sudah hafal 12 nama tembang macapat, dari Mijil hingga Pocung, berikut makna yang terkandung tiap lagunya. Ketertarikan itu berlanjut, untuk mempelajari cara penulisannya.Tentang guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan yang menjadi acuan baku dalam penulisan seni sastra suara Jawa itu.

Dan ketertarikan pada nyanyian semakin terlihat di kelas 5. Waktu aku mulai menyukai lagu-lagu pop cengeng yang sedang menjadi selera. Tiap sore melalui siaran RRI, aku turut menirukan lagu-lagu yang syairnya selalu didiktekan penyiarnya. Maka berkenalanlah aku dengan lagu pop berirama sendu yang banyak bertemakan cinta.

Hingga aku sempat berpikir, sifat romantisku mungkin bermula dari pasokan lagu cinta yang tiap sore kudengar. Menjadi hafal seluruh lagu yang dinyanyikan Nia Daniati, Dian Pisesha, Betharia Sonata, Diana Nasution, Eddy Silitonga, lis Sugiarto, Christine Pandjaitan, Rita Butarbutar, Hetty Koes Endang, Emilia Contessa, Grace Simon, Rita Dinah Kandi, Maya Rumantir, hingga Nurafni Octavia. Lagu-lagu mellow yang banyak diciptakan oleh Obby Mesakh, Rinto Harahap dan Pance F. Pondaag.

Dan kenangan masa kecil itu sesekali masih sering muncul tanpa sengaja. Di saat menulis, aku suka tiba-tiba menyanyikan lagu yang dulu sangat kuhafal di luar kepala.

Ummi suka tersenyum meledek, “Abi tuh emang wajah Rambo, hati Rinto, ya?!”

Ledekan yang sering kubalas, “Abi ini hati Rinto, tapi wajah Romeo. Makanya dapatnya Yuliet!” Istriku pun semakin tertawa. Karena kebetulan nama Ummi adalah Yuli.

Jadi sebenarnya aku suka menyanyi. Hanya sayangnya, di antara adik-adik, suarakulah yang paling jelek. Tidak berirama. Sember dan sumbang. Hingga kalau aku bernyanyi, mereka suka meledek, “Alangkah indahnya dunia, tanpa suara nyanyianmu, Mas….”

Namun ‘pujian’ itu tak mengurangi minatku pada nyanyian.

Suara jelek tak menghalangi cintaku pada lagu-lagu. Hingga ketika remaja, aku mulai mencintai keroncong sebagai musik yang bisa membuatku damai. Setelah sebelumnya bergelut dengan bermacam ‘nasyid-nasyid’ di awal-awal kemunculannya. Nasyid tanpa rebana yang kemudian dikenal sebagai ‘accapela’. Hingga sekarang, setelah tua lebih menggemari musik klasik, terutama gendhing-gendhing gamelan Jawa.

Dan sampai kini pun aku masih suka menyanyi, tanpa peduli sering disindir istri. Sekadar aku ingin mencoba bahwa katanya menyanyi bisa bermanfaat bagi jiwa. Mencoba mendapatkan kekuatan dari keajaiban suara. Seperti panduan yang baru saja kubaca. Hanya dengan meletakkan tangan di atas tulang dada. Kemudian menyanyikan huruf voal ‘A I U E O’ terus menerus dan berulang-ulang penuh perasaan, penuh penghayatan.

Mata pun kupejamkan agar mampu merasakan vibrasi suaraku. Mencari celah untuk masuk ke dalam gaung yang tenang. Masuk lebih dalam menuju gaung yang menghanyutkan. Gaung yang menenangkan.

“Ketika kehabisan nafas, bernafaslah tanpa suara dan ulangilah. Kemudian tutupkan tangan pada kedua telinga, disertai hirupan yang ringan dan buatlah suara ‘mmmmmmmmm’ yang panjang. Anda akan merasakan gaung yang menyejukkan.” Begitu kata buku yang tadi kubaca.

Aku pun kembali mencoba untuk mendapatkan gaung yang menyejukkan. Bersenandung ‘A I U E O’ berulang-ulang dalam satu tarikan nafas. Terus menerus, sampai benar-benar tidak bisa menahan nafas. Mengulang dengan mata terpejam. Mencoba menikmati betul suara nyanyian entah bernada apa, namun keluar dari jiwa. Nyanyian  ‘A I U E O’ dengan nada berganti-ganti dan vibrasi yang sampai menyentuh hati.

Kemudian aku pun menutup telinga, sambil menghirup udara disertai desisan, “mmmmmmmmmmmm” yang berkepanjangan.

Dan ternyata benar. Aku merasakan kesegaran. Sesak di dada hilang. Gelisah pada jiwa hilang.Ada kesegaran yang menyelusup dada. Merasuk jiwa. Ada. Ya Allah, jagalah ini, agar jangan pernah pergi lagi.

Aku pun mencobanya kembali. Dengan penuh perhatian dan perasaan. Diulang dengan tahapan yang lebih konsentrasi. Ternyata suara memang bisa mendesiskan kedamaian.

Dan karena ketagihan, hal itu kuulang kembali di jalan. Dalam perjalanan pulang dan pergi ngantor aku kembali bersenandung. Dalam satu tarikan nafas, kudendangkan lagu ‘A I U E O’ yang sangat lama. Dengan nada yang berbeda-beda, dan intonasi yang berganti-ganti. Seolah sedang menciptakan irama baru, nyanyian baru, senandung baru, yang sangat merdu untuk kalbu. Untuk kalbuku sendiri, tentu.

Aku pun merasakan ketenangan. Kebuntuan berpikir, kesesakan jiwa, dan segala yang menikam dada, yang membuat merasa sedikit putus asa, kembali bangkit rasa.

Setelah merasakan itu, mendadak aku menjadi berpikir untuk belajar qiro’ah saja. Belajar membaca qur’an dengan cara dilagukan.

Bukankah itu perpaduan dari senandung jiwa dalam pembacaan perkataan Tuhan. Ayat-ayat yang mampu menenangkan batin bagi siapa yang mau membacanya. Apalagi, kalau dibaca dengan penuh perasaan dalam pengucapan. Dengan dilagukan seperti sedang meditasi dalam nada satu tarikan nafas. Aku jadi benar-benar jadi ingin belajar qiro’ah.

Tentu bukan dengan tujuan untuk dipertontonkan ketika ada acara pengajian di Kelurahan. Apalagi mencari piala dalam acara Musabaqah Tilawatil Qur’an. Tapi untuk belajar meresapi makna ayat-ayatnya, dengan penghayatan tekanan intonasi tajwid dan bermacam makhrajnya.

Meski suaraku jelek ketika bernyanyi, semoga tidak demikian ketika berqiro’ah. Dan karena yang dibaca adalah kalam suci Illahi, hatiku pun pasti akan menjadi lebih tenang. Walaupun aku sadar kalau suaraku jelek, tak merdu, sember dan sumbang.

Namun paling tidak kalau adik-adikku mendengar, mereka pasti tak akan berani lagi berkomentar, “Alangkah indahnya dunia tanpa suara tilawahmu, Mas…..”

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 Januari 2011 pukul 22:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s