Catatan Kaki 33: Pada Suatu Sriban, Pada Suatu Sore di Bulan Ramadhan

Standar

Sore hari di bulan ramadhan.

Aku bersama anak istri baru pulang jalan-jalan ke Manahan, naik motor berboncengan. Di ujung pertigaan ada seorang anak berusia belasan, dengan dua buah sriban dagangan. Dua buah kursi panjang dari kayu dengan bentuk sederhana yang diikatkan pada boncengan sepeda onthelnya. Sampai sesore itu, sepertinya belum laku satu pun barang dagangannya.

Ketika melihat bentuknya, aku sudah timbul rasa tertarik. Sebuah kursi panjang yang tiba-tiba mengingatkanku pada sriban yang ada di rumahku, di kampong dulu.

Tapi karena sebentar lagi saat berbuka akan tiba, Ummi tak mau berhenti. Hingga kami pun langsung pulang ke rumah.

Waktu sudah hampir maghrib. Petang meremang.

Ketika mau menyalakan lampu jalan, aku melihat anak yang jualan kursi panjang sedang termangu di depan pagar rumahku. Badannya kurus, rambutnya tak terurus. Kaosnya coklat kusut dengan topi hitam kumal. Pada wajahnya terlihat lelehan keringat kelelahan. Mungkin kecapaian menuntun sepeda dengan dua buah kursi panjang melintang pada boncengan.

Aku langsung turun ke jalan, dan kutanyakan harganya. Katanya satunya 100 ribu rupiah.

Aku mencoba menawar, “Kalau kubeli dua-duanya jadi 150 ribu, bisa?”

Dia menggeleng, “Kalau beli semua, 190 ribu, Pak!”

Dan tanpa tawar menawar lagi, aku sepakati harga yang diberikan.

Anak itu pun langsung menurunkan kursi dagangannya dari boncengan. Tali-tali pengikat dilepas dari kaitannya. Dua kursi panjang itu pun diturunkan dan diletakkan di pinggir jalan. Lalu satu per satu digotong ke teras rumahku.

Adzan dari masjid belakang rumah sudah berkumandang. Waktu berbuka telah tiba. Aku masuk ke dalam rumah untuk sekadar minum teh panas. Dilanjutkan minuman wajib berbuka, es kelapa muda dengan gula merah plus irisan buah nangka.

Setelah minum teh aku pun ke depan lagi, Dan dua kursi panjang telah terpajang di teras sebelah kanan. Aku dan anakku duduk di atasnya sambil meminum es kelapa muda. Anak penjual sriban itu kupanggil ke teras. Ummi menawarkan es kelapa muda yang sudah dituang dalam gelas.

Awalnya ia menolak. Sibuk membenarkan letak sepedanya, dan juga tali temali pengikatnya. Tapi karena Ummi terus memaksa, akhirnya anak itu mau juga.

Dan seperti kehausan yang sangat, ia langsung menghabiskan esnya dengan sekali tegukan hingga tandas. Juga ketika makan nasi gudeg, dengan lauk ayam bakar. Plus lalap dan sambal mentah nikmat ulekan Ummi.

Aku dan anakku pun makan bersamanya di teras depan rumah. Sekedar menemaninya makan dengan mengambil nasi sedikit, karena aku tak biasa langsung makan setelah waktu berbuka. Dan seperti masih kehausan, dia nambah es kelapanya satu gelas besar lagi. Kuperhatikan, nikmat benar makannya. Kutanyakan dari mana asalnya. Dia menyebut sebuah nama Kecamatan di daerah Boyolali yang sudah kulupa. Konon jaraknya sekitar 1 jam naik sepeda dari rumahku.

Menurut ceritanya, dia berangkat jam delapan pagi dari rumahnya. Telah seharian keliling Solo untuk menjajakan kursi panjang dagangannya. Dan sampai dengan jam enam sore, ternyata belum laku satu pun juga. Sebenarnya dia sudah ingin pulang karena putus asa. Tapi ada rasa tak enak juga pada keluarga, karena seharian tak mendapatkan uang untuk ibunya.

Mungkin memang aku sudah berjodoh kursi panjang itu. Hingga aku lah yang kemudian membelinya. Karena sebenarnya sudah lama ingin mempunyai kursi panjang yang demikian bentuknya. Hanya saja belum ketemu penjualnya. Tak ada yang pernah lewat depan rumah. Padahal di jalan-jalan sering terlihat orang menjajakan dengan diboncengkan sepeda.

Aku dan anakku sudah selesai makan, dan sudah bersiap ke masjid. Anak itu pun telah menyelesaikan makannya. Juga menghabiskan es kelapa untuk yang ketiga kalinya.

Setelah merapikan tali pengikat kursi panjang ke boncengan sepeda, ia pun pamitan. Dan langsung kubayar dengan uang pas, 190 ribu rupiah!

Sebelum keluar halaman Ummi memanggilnya, “Mas, kalau diberi beras mau apa tidak?”

Anak itu menjawab malu-malu, “Beras gimana to Bu?”

Kebetulan kami di kampung masih dianggap miskin. Mungkin karena rumah kami statusnya masih mengontrak. Jadi masih mendapat jatah raskin dari kelurahan. Beras untuk kami, orang-orang yang memang berada di bawah garis kemiskinan.

Dengan cepat Ummi langsung membagi beras 20 kg beras dari kantong gandum  menjadi dua. Separoh untuk kami sendiri, sebagai persediaan hingga lebaran. Yang separoh dimasukkan kantong plastik hitam untuk diberikan pada si anak penjual sriban.

Maka sejak itu, kursi kayu panjang itu pun berada dengan manisnya di teras rumahku.

Kuletakkan tepat di depan jajaran pot-pot bunga yang ditanam Ummi. Tempat aku sering mengobati kebosanan dengan melihat warna-warna bunga dan hijaunya daun-daunan. Tempat aku menimba kembali kesegaran kehidupan dari kuningnya daun yang jatuh dan kemudian luruh.

Bahkan dengan adanya kursi itu di rumah kontrakanku, seolah bisa mengobati kangen pada sriban tua yang ada dirumahku. Sriban yang telah menemaniku menemukan diri, hingga menjadi diriku yang sekarang ini. Sriban panjang tempatku dulu memahat jiwa, dengan banyak-banyak membaca, menulis, dan menggambar setiap hari.

Sriban yang bagiku sangat bersejarah, hingga kuanggap sebagai salah satu prasasti kecilku.

Maka sekarang, aku sering mengobati kerinduan itu dengan membaca dan menulis di atas sriban itu. Kursi kayu sederhana yang kuanggap sebagai pengganti sribanku yang di rumahku dulu.

Dan di kursi itu pula, sekarang aku ingin kembali memulai langkah sebagai seorang penulis.

Setiap pagi aku menulis catatan harian yang kunamakan ‘catatan kaki’. Seperti yang sedang kulakukan sekarang ini. Dua kursi panjang itu kudekatkan saling berhadapan. Kedua kaki kunaikkan dan kuselonjorkan ke depan. Lalu laptop kuletakkan di atas pangkuan.

Aku pun mulai terbang melayang ke masa silam. Mengenang semua kenangan yang bisa kujadikan pelajaran. Dan mencoba mengikat dengan menuliskannya dalam waktu satu jam.

Sambil menghirup segarnya udara pagi, belajar menuliskan hal-hal kecil yang tak berarti. Seperti tentang kursi panjang yang sedang kududuki ini. Kursi panjang yang kubeli tiga tahun silam. Pada suatu sore hari di bulan ramadhan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 16 Januari 2011 pukul 22:30

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s