Catatan Kaki 35: Clekidhur-clekidhur, Mundur dari Wilayah yang Penuh Clekidur!

Standar

Sambil menunggu shubuh, aku duduk di sriban kayu.

Kutarik nafas dalam-dalam, menikmati segarnya pagi yang baru.

Suasana masih gelap. Hanya langit membentang yang membuat pelataran terlihat remang-remang. Kudengarkan irama simphoni pagi dengan mata terpejam. Menikmati sisa-sisa suara suara malam.

Desir angin sangat jelas terdengar. Lalu kokok ayam jantan dari tetangga belakang. Deru kereta samar-samar dari kejauhan. Kerik jengkerik yang bersahutan. Kicau burung puter dari teras tetangga. Bunyi cecak dan suara tokek dari ujung jalan. Juga suara serangga-serangga malam yang masih menyisakan nyanyian.

Kuhirup dalam-dalam udara pagi, sambil terus memejamkan mata. Mendengarkan suara- suara-suara alam yang membuat tenteram jiwa. Musik pagi yang membuat tenang hati.

Dan di antara bunyi-bunyi itu, ada satu suara yang paling keras berdengung di telingaku. Suara yang mendadak membuat batinku terharu. Mataku makin memejam rapat, seolah ada sesuatu hawa baru yang masuk hatiku. Dan suara itu adalah sebuah kerik jengkerik!

Jengkerik yang mengerik dari kebun sebelah, membuatku terkenang masa kecil dulu. Waktu kemarau datang, ketika aku dan teman-teman menyerbu ke sawah. Beramai-ramai mencari jengkrik di antara tumpukan jerami, atau pun lobang-lobang yang rekah.

Apa lagi waktu itu desaku belum punya lapangan. Sawah yang kerontang membentang di pinggir jalan dijadikan lapangan bola dadakan. Bermain di atas tanah yang kering retak. Memperebutkan bola plastik yang murah harganya dengan penuh kegembiraan.

Dan sepertinya, untuk menciptakan kegembiraan memang tidak harus dengan sesuatu yang mahal. Karena kebahagiaan itu datang dari jiwa. Bukan dari luar diri kita.

Maka kebahagiaan bisa datang dari bola plastik murah yang kalau bocor tak perlu dipompa. Tinggal dibuang saja, karena akan kempot dan membuat sulit ditendang. Atau kalau sayang, lobang yang bocor tinggal disobek sekalian. Kemudian disumpal dengan rumput kering rapat-rapat. Dijamin bola bisa kembali diperebutkan.

Namun kebahagiaan mungkin juga tidak datang dari bola semata. Melainkan dari semangat mereka yang membuat permainan murah jadi menggembirakan. Bukan saja semangat para pemain. Juga para penonton, yang ikut bersorak dari tepi lapangan.

Hanya saja, kebahagiaan bola semacam itu tidak berlaku bagiku. Karena aku tak pernah merasa ingin ikut bermain. Entah mengapa. Mungkin karena aku memang tidak bisa main bola. Dan kalaupun ikut, itu juga karena dipaksa, dan sekadar menjadi penjaga gawang atau bek belakang. Yang sebenarnya, hanya menjadi pelengkap hitungan saja.

Maka waktu itu, kebahagiaanku justru dengan menjauh dari lapangan.

Mencari kebahagiaan sendiri, dengan berburu jengkerik. Mengendap-endap mencari jengkerik yang sedang ngerik. Pelan-pelan didatangi tempat persembunyiannya, lalu ditangkap dengan dua tangan. Kemudian dipelihara dalam kandang bambu di rumah. Kandang segi empat yang telah kubuat dari tumpukan bilah-bilah bambu kecil.

Aku suka memelihara jengkerik untuk dimanfaatkan bunyinya. Karena konon kerik jengkerik bisa untuk menakut-nakuti tikus rumah. Apalagi jengkerik jlitheng yang tubuhnya hitam legam dengan kalung warna emas di tengkuknya. Ataupun jengkerik jrabang yang kulitnya berwarna merah menyala. Maka ada kebanggaan sendiri ketika bisa menemukan jengkerik semacam itu, yang terkenal keras dan nyaring bunyinya.

Aku memelihara jengkerik seperti orang-orang tua memelihara burung kicauan. Sebagai klangenan. Hingga kuperhatikan benar makanannya tiap pagi. Dengan memberikan rumput krokot, kobis, wortel, atau cabai merah. Konon itulah makanan bergizi untuk jengkerik. Yang akan membuatnya ngenthir dengan nyaring sepanjang hari..

Kalau aku memelihara jengkerik, karena bunyinya, tidak begitu dengan teman-temanku. Mereka ada yang menangkap jengkerik untuk dijadikan binatang aduan. Dan untuk pemeliharaannya, mereka jauh lebih perhatian.

Untuk merangsang keganasannya dalam menggigit lawan, jengkerik-jengkerik itu mereka kileni. Dengan ujung rumput dom-doman, mereka gelitiki mulutnya. Karena kegelian, jengkerik pun akan tergelitik, terangsang, bahkan tumbuh keberaniannya untuk bertarung. Membuat mulutnya menganga lebar, dengan badan berputar. Siap untuk menyerang.

Lalu untuk melatih kelincahan, jengkerik-jengkerik aduan pun mereka clekidhur. Yaitu dengan cara memertemukan ujung ibu jari dan keempat jari hingga membentuk lubang. Dan jangkrik itu disuruh jalan di dalamnya, dari satu tangan ke tangan lainnya.

Sambil melakukan clekidhur, mereka membacakan mantra yang bunyinya: “Clekidhur clekidhur, mungsuhmu gedhe dhuwur, cokot bae nganti ajur! Clekithet clekithet, mungsuhmu cilik pendhet, cokot bae nganti mlicet!”

Sebuah mantra anak-anak yang mengharapkan agar jengkeriknya selalu menang dalam pertarungan. Seperti apa pun musuhnya, baik besar atau pun kecil tubuhnya. Karena rapal itu artinya adalah, “Clekidur clekidur musuhmu tinggi besar, gigitlah hingga hancur. Clekitet clekitet musuhmu kecil pendek, gigitlah hingga lecet!”

Namun selain untuk piaraan dan dijadikan aduan, ada juga teman yang menangkap untuk dijadikan lauk makan. Untuk itu mereka akan menangkap jengkerik gedubur dan gasir yang bentuk badanya besar namun lembek. Atau juga plondon, anak-anak jengkerik yang belum berbulu. Namun Plondon ini juga bisa dijadikan makanan burung piaraan.

Pada musim kemarau, jengkerik- jengkerik itu melimpah banyaknya. Mereka bersembunyi di bawah tumpukan jerami kering. Pelan-pelan diambil sampai tumpukan menjadi tipis, maka bersiaplah jengkerik akan berlompatan. Dan untuk menangkapnya, tinggal kecakapan tangan yang menjadi taruhan. Seberapa banyak jengkrik yang akan masuk dalam kantong, tergantung seberapa cekatan menangkapnya.

Bagi yang tidak membawa kantong, maka jangkrik akan langsung ditusuk dengan lidi panjang. Lidi diikat ujungnya sebagai simpul, kemudian jangkrik ditusuk di bagian tengkuk yang menyerupai selongsong. Dan disusunlah jengkerik dengan tusukan lidi, yang bisa mencapai panjang sekitar 50-60 cm.

Dan pagi ini, suara jengkerik dari kebun sebelah mengingatkanku pada masa-masa itu. Waktu aku memilih kebahagiaan dengan minggir dari arena permainan sepak bola.

Aku jadi tersenyum sambil merenung. Seolah ini ada hubungannya dengan kehidupanku sekarang. Yang memilih minggir dari wilayah politik dan kekuasaan. Wilayah permaian yang dulu pernah kumasuki dengan penuh idealisme bersama teman-teman seperjuangan.

Dunia yang belakangan sering mengingatkanku pada permainan adu jengkerik. Di mana ada yang suka dikileni dan diclekidur setiap akan masuk tahun-tahun pemilihan.

Dan ternyata, aku tak seperti teman-temanku yang merasa pas terlibat aktif di dalamnya. Mungkin tempatku cukup sebagai penggembira yang menonton dari pinggir arena. Yang keberadaannya hanya menjadi pelengkap hitungan saja.

Maka seperti dulu, sekarang pun aku mencari kebahagiaan sendiri, dengan masuk wilayah gelap perjuangan. Daerah yang sedikit terabaikan dari peta teman-teman. Yakni wilayah budaya!

Dan bukankah dakwah bisa di mana saja tempatnya?

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Januari 2011 pukul 22:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s