Catatan Kaki 36: Kartunis yang Tidak Ingin ‘Gagal Maning-Gagal Maning’!

Standar

numpang nampang di depan karya mas darta. “oom pasikom di tangan kananku, hati nurani di tangan kiriku.”

Sms shubuh itu sungguh mengagetkan.

“Mas Darta masuk rumah sakit. Dirawat di Panti Rapih. Mohon doa kesembuhan.”

Begitulah sms yang kuterima dari Pak Pram sekitar setengah tahun silam.

Sehari sebelumnya, dalam kesempatan persiapan pameran kartun kanvas nasional ‘JogjaKARTUN hadiningART’, sebenarnya kabar itu telah disampaikan. Bahwa kesehatan mas Darta telah semakin menurun sejak kepulangannya dari Jepang, sebagai Profesor Tamu di Seika University, Kyoto.

Dan kami sudah berencana hendak menengok sekalian memohon mas Darta turut mengirimkan karyanya untuk dipamerkan. Tapi rencana itu urung karena tiba-tiba ada agenda mendadak dalam waktu bersamaan.

Maka setelah mendapatkan sms itu, segera saja kami membuat kesepakatan, pekan depan ke Jogja lagi. Sambil mematangkan persiapan pameran yang akan digelar di Bentara Budaya, sekalian menjenguk untuk mendoakan kesembuhan mas Darta.

Namun ketika kami ke Jogja, mas Darta sudah tidak dirawat di rumah sakit lagi. Sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Maka kami pun menjenguknya ke Sleman, bukan rumahnya yang di Klaten. Konon, rumah besarnya itu ditinggalkan selama proses penyembuhan. Rumah dengan luas 1000 m dengan desain perpaduan Jepang dan Jawa klasik yang lebih mirip galeri.

Di rumahnya yang mungil dan artistik sekarang ini, kami pun berbincang dengan mas Darta yang terlihat lemah setelah menjalani opname. Menurut dokter, ia terkena Hepatitis C. Yang untuk penyembuhan penyakit yang menyerang hati itu, harus menjalani pengobatan rutin selama satu tahun. Tiap minggu harus cek dokter untuk penyuntikan anti-Hepatitic C. Konon butuh lima juta setiap kali suntik yang rutin seminggu sekali tersebut.

Sepulang menjenguk mas Darta, aku langsung bikin status facebook. Kusebar ke teman-teman kartunis seluruh Indonesia. Karena yakinku, kabar ini belum sampai ke mereka. Dan ternyata benar, hampir semua tersentak. Karena dalam pertemuan di Museum Kartun Bali, mas Darta masih terlihat segar bugar dalam balutan busana serba hitam favoritnya. Hingga kabar itu pun menyebar menjadi perbincangan, bahwa ‘Oom Pasikom sedang sakit’!

Dalam persiapan pameran, mendadak Pak Pram mengirimkan smsnya lagi.

“Mas Darta masuk Panti Rapih lagi. Jatuh terpeleset di kamar mandi. Dirawat di Ruang Carolus lantai 5 nomer 28. Mohon doa kesembuhan.”

Aku pun kembali menelpon pak Pram. Dan didapatkan kabar, karena jatuh tersebut tulang kering kaki kirinya harus dioperasi untuk dipasang platina. Hingga kami pun sepakat, dalam pameran nanti, sekaligus mendoakan bagi kesembuhannya. Karena di kala sakit pun, mas Darta tetap berkarya untuk ikut berpameran. Dan tetap rutin mengisi kartun ‘Oom Pasikom’ di Kompas. Bahkan baginya, “Meski GM Sudarta terkapar, tapi Oom Pasikom harus tetap segar bugar.”

Dan dua pekan kemarin aku menelpon Mas Darta. Sekadar meminta maaf, belum sempat lagi mampir ke Sleman. Sekalian memberi kabar, bahwa kami ingin mengundang Dewan Pembina untuk membahas PAKARTI setelah berumur lebih dari 20 tahun. Namun karena keadaannya yang tak memungkinkan, mas Darta ijin tak bisa datang. Sebab setelah operasi tulang kering itu, ke mana-mana harus dengan bantuan kursi roda. Aku pun memakluminya. Dan menyampaikan salam mewakili jajaaran pengurus PAKARTI. Semoga mas Darta lekas sembuh seperti semula.

Sungguh, sampai hari ini aku tak bisa membayangkan bahwa aku akan bisa akrab dengan mas Darta. Maka bagiku, kesempatan ini adalah sebuah kebahagiaan juga. Bahwa hari ini, aku bisa sangat akrab dengan para maestro kartun Indonesia. Sosok yang pada 20 tahun lalu, ketika aku baru mulai belajar menggambar kartun, gambar-gambar merekalah yang kujadikan acuan. Menjadi contoh membuat ‘gambar sarat kritik’ yang baik.

Yang pertama adalah Gerardus Mayela Sudarta atau yang lebih dikenal dengan nama GM Sudarta. Kartunis yang akrab dipanggil dengan panggilan ‘Pak GM’. Namun karena ikut teman-teman kartunis senior, aku memanggilnya dengan nama ‘Mas Darta’. Sedikit sok akrab, lah!

Mas Darta adalah kartunis KOMPAS yang telah mengartun sejak tahun 1967. Jejak karyanya telah terbentang selama 43 tahun. Berbarengan dengan kemunculan koran terbesar di Indonesia tesebut. Aku menyukai kartunnya karena goresannya yang tegas dan rapi. Tapi selain itu, karena gaya berkartunnya yang lembut menggelitik. Khas guyon parikeno dalam dagelan Mataram. Sebuah kritikan ala Jawa yang tidak menyakitkan. Tidak membuat marah bagi yang disindir.

Dalam suatu perbincangan, mas Darta pernah menyampaikan bahwa salah satu pencerahan yang dicapainya adalah “Jangankan presiden, menteri, pejabat atau pihak lain tidak akan marah saat menerima kritik, kita sendiri, yang orang biasa, yang tidak punya andalan apa-apa juga marah atau berkecenderungan marah.” Maka aku pun selalu meniatkan, ketika menggambar kartun, bukan untuk membuat orang marah. Tapi untuk menjadikannya tertawa. Paling tidak tersenyum.

Kartunis berikutnya adalah Pramono R. Pramoedjo, yang akrab kupanggil ‘Pak Pram’. Kartunis senior Sinar Harapan, sekaligus pendiri PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia) yang telah mendedikasikan hidupnya di kartun selama 40 tahun sejak tahun 1970.

Pak Pram merupakan kawan akrab mas Darta sejak masih kuliah di ASRI Jogja. Bahkan ketika kemudian sama-sama hijrah ke Jakarta, saat ditunjuk sebagai Designer Diorama Monas di tahun 1963, dan Monumes Kesaktian Pancasila pada tahun 1966. Hubungan yang telah terjalin hampir separoh abad, membuat keduanya akrab seperti saudara hingga sekarang.

Aku menyukai kartun Pak Pram juga karena goresannya yang tegas dan khas. Rapi dan bersih gelap terangnya, dipadu dengan kritikan yang cerdas menghibur. Sebagai kartunis, Pak Pram mengaku dirinya adalah kartunis yang demokratis. Yang tidak melalui karyanya hendak menghakimi seseorang atau situasi. Tapi sebaliknya, kartun-kartunnya ingin menawarkan alternative pikiran dan opini. “Bahwa kemudian ada orang yang tersinggung, itu masalah lain. Yang jelas karya kartun saya tidak penah diniatkan untuk membuat pihak lain tersinggung,” begitu ungkapnya suatu kali ketika aku main ke galerinya di Salatiga.

Keakrabanku dengan kedua maestro kartun Indonesia, aku anggap sebagai bentuk kebahagiaan. Karena 20 tahun lalu, aku hanya mengenal karya-karya mereka saja. Tanpa pernah bisa membayangkan bahwa aku akan bisa bertemu. Apalagi akrab seperti sekarang ini.

Dulu, pertama aku mendapatkan kartun ‘Oom Pasikom’ dari sobekan koran pembungkus tempe yang dibeli ibu. Sedangkan kartun Pak Pram aku peroleh dari koran bungkus baju yang didapatkan ibu dari tempat jahitan seragam sekolahku. Sobekan kartun tahun 1985an yang masih kukliping hingga sekarang.

Maka ketika pekan lalu, Ketua Umum PAKARTI mengundurkan diri karena kesibukannya, aku yang selama ini sebagai Sekjend diminta menggantikan. Walau dalam hati sempat tersenyum sendiri juga ketika menerimanya. Karena takut menjadi keajaiban dunia yang ke delapan, ketika seorang penulis mengurusi organisasi kartunis. Aneh tapi nyata. Tapi, biar lucu, aku terima saja. Mungkin memang beginilah Indonesia.

Namun setelah pulang, aku menganggap ini amanah yang membawa berkah. Paling tidak mencoba menerimanya dengan bahagia. Karena dengan begini, aku jadi bisa belajar langsung dari para pendekar kartun Indonesia. Dengan mimpiku yang baru lagi, “Siapa tahu puluhan tahun ke depan, aku pun bisa seperti mereka. NasSirun PurwOkartun, maestro kartun dunia!”

Siapa tahu. Wong ingin jadi penulis, 20 tahun belajar masih terus terbata-bata. Mosok hanya sekadar mimpi jadi kartunis pun gagal juga.

Apa nasibku harus sesial Sontol dan Bongol, yang selalu “Gagal maning, gagal maning, son?”

Semoga tidak. Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Januari 2011 pukul 10:54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s