Catatan Kaki 38: Habis Kartunis Terbitlah Penulis!

Standar

majalah Ishlah dalam dekapan. yang menolongku membuat percaya diri sebagai kartunis! ah, wajah jadulku….

Tak ada kata terlambat untuk belajar, begitu bunyi petuah lama.

Maka aku pun ingin mengulang belajar lagi, di usia yang sudah begini tua.

Tepatnya, mengulang mewujudkan cita-cita yang telah tertunda 20 tahun lamanya. Cita-cita kecil dan sederhana, yang telah kuimpikan sejak SD kelas 5. Waktu itu aku ingin menjadi penulis ternama, seperti Arswendo Atmowiloto atau pun Hilman Hariwijaya.

Dan baru 2 tahun lalu kusadari, bahwa aku telah terlewat masa sejak 15 tahun silam. Ketika karena sebuah pilihan, aku harus melupakan keinginan kecil dan sederhana itu.

Jujur saja, ketika kelas 1 STM, aku sempat bimbang. Kebimbangan yang mengulang kebingunganku waktu SD dulu. Waktu aku ragu memilih ‘kalau besar nanti aku’ akan menjadi seorang penulis ataukah wartawan. Sementara kebimbangan pada masa remaja itu, karena aku harus memilih ‘jalan hidup’ sebagai penulis ataukah sebagai kartunis.

Dan pada saat itu, ternyata aku lebih tergoda untuk dikenal orang. Intinya ingin dikenal saat berkumpul bersama seniman Purwokerto di Gedung Kesenian Soetedjo. Aku ingin namaku dikenal oleh mereka, sebagai ‘siapa aku’ dan ‘siapa diriku’.

Di gedung kesenian yang namanya mengabadikan komposer Purwokerto pencipta lagu ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ itu, sering berkumpul para penyair, penulis, pelukis, budayawan, dan juga seniman teater. Di antara para seniman itu, hanya akulah ‘anak bawang’ yang sama sekali tak punya nama, yang berani bergaul dengan mereka.

Ketika harus mengenalkan diri, aku selalu merasa tak punya nama yang bisa dibanggakan. Kalau mengaku penulis, wong sejak SMP cerpenku berkali-kali kukirim, tak pernah sekali pun dimuat. Hanya puisi yang kemudian dimuat 2 kali di Bernas Jogja. Namun rasanya itu tak pantas dijadikan ‘ijazah’ bahwa aku telah sah sebagai penulis.

Hingga kemudian terbersit pemikiran, agar keberadaanku bisa diperhitungkan, maka aku harus beda dengan mereka. Kalau mengenalkan diri sebagai penulis, sampai kapan pun aku akan habis di bawah bayang-bayang Ahmad Tohari yang novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’nya telah mendunia. Kalau aku mengaku penyair, di Purwokerto hampir semua seniman yang ada adalah peneriak sajak yang telah menghayatinya sepenuh jiwa. Kalau mengaku pelukis, aku tak pandai melukis. Apalagi bergabung dengan aktor teater, aku yang pemalu tak mungkin mampu mengikuti gaya keliaran mereka.

Akhirnya aku memilih untuk mengenalkan diri sebagai kartunis.

Dan caranya adalah dengan menunjukkan bukti, bahwa aku memang benar-benar menghasilkan kartun. Aku seorang seniman yang karyanya berupa kartun. Dan untuk mendukung itu, aku pun bergabung dalam Keluarga Kartunis Purwokerto (Kelakar).

Sejak itu niatan pun kupancangkan dalam tindakan. Tiap hari menjadi giat sekali menggambar kartun. Dengan target minimal 20 gambar sehari, untuk bisa dikirimkan ke dua majalah ibu kota. Bahkan ketika sedang semangat, ide mengalir sangat deras hingga aku mampu menggambar 70 hingga 80an kartun.

Dengan perkiraan setiap hari mengirim 2 amplop, seminggu sudah 12 amplop yang tersebar ke media. Kalau dari 120 kartun itu ada 1 atau 2 yang bisa termuat di media, sudah lumayan sebagai pengakuan bahwa aku benar-benar seorang kartunis.

Maka mulai saat itu, waktuku habis untuk menggambar kartun, di sela setumpuk tugas menggambar teknik bangunan gedung dari sekolah. Dan hasilnya memang lumayan memuaskan. Hampir tiap minggu kartunku ada yang dimuat di media nasional. Dan aku pun mulai percaya diri ketika mengenalkan diri sebagai seorang kartunis.

Apalagi menginjak kelas 2 STM, lamaranku menjadi koresponden kartun di majalah Ishlah (Jakarta) diterima. Majalah berita Islam yang terbit dua mingguan itu membuka rubrik kartun perjuangan Islam di seluruh dunia. Dan redaksi selalu meminta untuk mengirimkan kartun dengan tema kekejian Zerbia di Bosnia, kebiadaban Israel di Palestina, hingga kejahatan kemanusiaan di Khasmir, Moro, dan negeri lainnya.

Aku pahami betul konflik yang ada di dunia. Untuk kemudian kutuangkan sebagai kartun editorial pada media pergerakan itu. Majalah yang redakturnya antara lain Anis Matta dan Heru Susetyo. Sosok yang beberapa tahun kemudian sudah dikenal orang sebagai Sekjend Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Direktur Pusat Advokasi dan Hak Asasi Manusia (PAHAM). Bersyukur aku bisa bertemu keduanya waktu datang ke Purwokerto.

Di majalah itu pula aku kenal nama Izzatul Jannah yang cerita-ceritanya sering mengisi rubrik fiksi dengan kisah-kisah epiknya. Sosok yang beberapa tahun kemudian mengajakku pindah ke Solo untuk bergabung dengan majalah yang dipimpinnya.

Dan aku pun makin bangga mengaku diri kartunis, ketika empat karyaku turut dipamerkan dalam Pameran Kartun Nasional. Sebuah pameran kartun yang digelar oleh Persatuan Kartunis Indonesia di Purna Budaya Jogja. Dan aku berangkat dengan dana yang didapatkan dari Pemda Banyumas. Untuk biaya dan transportasi selama di sana.

Sejak itu, aku makin merasa keberadaanku menjadi ada, ketika duduk dalam lingkaran diskusi panjang bersama para seniman Purwokerto.

Namun ternyata, tanpa disadari sejak itu pula aku perlahan mundur dari kegiatan menulis.

Waktuku habis untuk menggambar kartun. Hingga menulis pun hanya menulis puisi, untuk sekadar dibacakan keliling sekolahan. Dan juga ketika ada acara-acara di sekolah juga kelurahan. Aku semakin jarang menulis cerpen, seperti waktu masih di SMP dulu.

Rutinitas yang masih tersisa hanyalah menulis catatan harian, setiap bangun tidur dan hendak tidur. Bangun tidur menuliskan renungan harian, sementara ketika berangkat tidur menuliskan kejadian berkesan yang telah terjadi sepanjang siang.

Dan tanpa disadari pula, karena terbius ingin dikenal sebagai kartunis, aku benar-benar meninggalkan cita-cita masa kecil sebagai penulis.

Maka kalau sekarang aku ingin kembali menulis, rasanya, perjuangan yang harus kulakukan adalah sama seperti ketika ingin menjadi kartunis. Menulis tiap hari, dengan target yang keras, yang harus kupenuhi. Dan itu telah kulakukan dua tahun ini. Sejak novelku pertama kutulis tahun lalu, yang sekarang telah masuk ke sekuel kedua.

Dan rasanya tak perlu menyesali langkah kalau harus mengulang belajar menulis kembali di usia yang sudah sedemikian tua.

Paling tidak cita-citaku tak hilang begitu saja. Bahkan dengan banyaknya kartun yang dimuat, banyak honor pula yang didapat. Dan sejak kelas 2 STM aku sudah bisa membiayai hidup sendiri, dari  menjadi kontributor kartun di majalah Ishlah.

Dari honor kartun pula, aku bisa membeli banyak buku sastra. Buku-buku tebal dan mahal yang sangat sulit terbeli oleh ukuran kantong remaja miskin macam aku waktu itu. Namun dari buku-buku itu pula, meski pun orang mengenalku sebagai kartunis, aku paham ketika diajak diskusi sastra dan budaya.

Maka rasanya, aku memang harus belajar menulis kembali. Agar impian masa kecil tidak terlanjur dikuburkan sebelum sempat dikibarkan.

Habis kartunis, terbitlah penulis!

Bismillah…

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Januari 2011 pukul 22:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s