Catatan Kaki 39: Belajar ‘Koming’ Bersama Panji Koming!

Standar

pertemuan yang sangat membahagiakan, ketika aku memberi kenang-kenangan kumpulan kartun sajak. dan sobekan koran itu, masih tersimpan rapi, di lemari, dan juga di hati!

“Ya mas Nas. Saya OK saja. Dan siap bantu semampu saya. Karena tahun ini umur saya sudah 70 tahun.”

Balasan itu datang sangat cepat. Tak lama setelah smsku terkirimkan.

Dengan segera, ingatanku langsung terbang pada saat pertama kali mengenalnya. Tepatnya, hanya sekadar mengenal nama saja. Mengenal inisial yang selalu dituliskan dengan sangat menarik pada tiap kartun-kartun karyanya.

Nama panjangnya dituliskan dengan tiga larik kata; DWI, KOEN, dan BR. Dengan huruf E yang terbentuk dari tiga garis mendatar, sedang huruf R-nya dibuat dengan ekor yang melingkar. Sebuah inisial yang membuatku terpesona dengan keunikannya.

Setelah itu ingatanku langsung berkelebat pada peristiwa 20 tahun silam, waktu masih kelas 6 SD. Waktu diajak ibu ke rumah saudara yang sedang menggelar hajatan menyunatkan anaknya. Ibu membantu mengurusi barang sumbangan dari para tamu yang datang. Berupa beras beberapa kilo yang mereka bawa menggunakan baskom.

Ibu bertugas menuangkan beras dari baskom itu ke dalam karung besar. Setelah itu, baskom dibawa ke dapur untuk diisi oleh-oleh dari yang punya hajat. Oleh-oleh berupa nasi panas dengan lauk sayur pepaya muda dicampur daun so yang nikmat, dilengkapi beberapa potong rempeyek kedelai hitam. Tak lupa beberapa iris jenang dan ketan.

Aku membantu ibu, dengan membawanya ke luar. Menata baskom-baskom yang telah diisi oleh-oleh ke serambi depan. Untuk kemudian diambil kembali oleh pemiliknya.

Karena beras sumbangan itu dibawa menggunakan baskom, ada yang menutupinya dengan sobekan koran, sebelum dibungkus dengan taplak meja. Melihat lembaran koran-koran yang mengonggok di tanah itu, aku yang keranjingan membaca langsung berbinar. Hingga berpesan pada ibu, agar koran-koran bekas itu jangan dibuang. Tapi dikumpulkan saja untuk dibawa pulang, sebagai bahan bacaanku di rumah.

Maka selesai hajatan, di saat ibu membawa pulang oleh-oleh jenang dan ketan, aku pun membawa oleh-oleh juga. Setumpuk sobekan bermacam koran bekas.

Dari salah satu sobekan itulah aku menemukan kartun yang dibuat oleh Dwi Koen BR. Sosok yang bertahun kemudian kuketahui bernama asli Dwi Koendoro Brotoatmodjo.

Sampai sekarang aku masih sangat ingat selembar gambar yang kudapatkan pada hari itu. Sebuah kartun strip dengan tokoh Panji Koming yang masih kusimpan hingga sekarang. Yang dari penanda yang ada, kartun itu dimuat pada minggu ke-5 bulan ke-3 tahun 1990. Karena di bawah inisial nama, tertulis angka V-3-90. Sebuah kode yang dibuat Dwi Koen untuk menandai tanggal pemuatan kartunnya.

Pada hari itu, setelah kutemukan kartun itu, aku langsung tertarik mempelajarinya. Menatapnya lama-lama, lalu mencoba mencontohnya. Sebuah kartun yang membuatku ingin belajar menirunya. Para tokohnya berpakaian Jawa lama, seperti yang kulihat pada baju-baju pemain film ‘Saur Sepuh’ yang kulihat di layar tancap kelurahan.

Dalam kartun itu tergambar seorang tokoh utama bertubuh gemuk bernama Panji Koming. Dengan seorang teman yang kurus langsing bernama Pailul.

Pada panel pertama tergambar seorang punggawa telah memerintahkan titah pada mereka berdua, “Bikin dari kayu terbaik, dari hutan terbaik, agar kokoh dan tahan lama.”

Sosok punggawa yang mirip Buto Cakil itu kemudian kuketahui bernama Bhre Aria Kendor. Tokoh antagonis yang selalu muncul dalam strip yang terbit tiap Minggu di harian KOMPAS. Karena pemberian nama Panji Koming ternyata diambil dari singkatan Kompas Minggu. Sementara kata koming sendiri arti sebenarnya adalah jungkir balik.

Pada panel berikutnya, tergambar Panji Koming sedang menebang kayu besar di tengah hutan. Dengan sebuah kampak tajam di tangan, untuk menumbangkan pohon besar. Penebangan yang membuat binatang-binatang harus terusir dari tempatnya berlindung.

Terlihat kepanikan seekor tupai yang berusaha lari menyelamatkan diri dari amukan sang kapak. Serta sekawanan burung yang ketakutan dan terburu-buru terbang meninggalkan sarang mereka. Sebuah tindakan penebangan yang telah merusak kedamaian alam.

Lalu pada panel ketiga, terlihat Pailul tengah menggergaji kayu gelondongan tersebut. Dipotong dan dibelah hingga membentuk lembaran papan-papan kayu. Dari pohon terbaik yang tumbuh di hutan terbaik, ia akan membuat barang pesanan sang punggawa.

Dan ternyata, barang pesanan itu berupa sebuah mimbar kayu. Sebuah tempat yang biasa digunakan para punggawa untuk mengumumkan titahnya. Dan itu tergambar pada panel keempat, ketika Panji Koming dan Pailul menggotong mimbar besar itu dengan susah payah. Karena besar dan beratnya kayu terbaik yang menjadi bahan utamanya.

Setelah mimbar itu terpasang, sang punggawa pun menaikinya penuh keangkuhan. Ia siap memberikan titahnya pada seluruh rakyat agar didengarkan penuh kepatuhan.

Dan ternyata, titah yang dikeluarkan kemudian sangat bertolak belakang dengan perintah yang sebelumnya. Karena Bhre Aria Kendor justru memberikan khotbah, “Hentikan perusakan hutan! Penebangan ngawur! Atau kalian mempercepat kiamat?”

Sebuah sindiran cerdas tentang sikap pemerintah soal perlindungan hutan!

Pada saat itu, aku belum seutuhnya memahami pesan yang disampaikan. Tapi dari goresannya, telah sangat memikat minatku. Aku suka gaya penyampaiannya, yang selalu menyindir kondisi perpolitikan hari ini, dengan ditamsilkan pada masa akhir Majapahit.

Aku pun kemudian tertarik mengumpulkan kartun-kartun itu. Apabila mendapatkan koran yang ada Panji Komingnya, aku seperti menemukan mutiara. Langsung kugunting untuk kemudian kukliping. Namun karena sulitnya mendapatkan bekasan Kompas Minggu, sampai lulus SMP, 4 tahun lamanya, aku hanya mendapatkan 7 kartun saja.

Dan sobekan-sobekan itu masih kusimpan sampai sekarang. Sebagai prasasti bersejarah bagi proses belajarku dalam menggambar kartun yang lumayan panjang.

Karena dari proses meniru dulu itu, ternyata benar-benar mempengaruhi gaya gambarku. Hingga ketika aku menggambar kartun, masih terlihat jelas bekas itu. Yaitu ketika menggambar telapak kaki. Itu adalah hasil belajarku pada kaki Panji Koming dan Pailul.

Dan sungguh berbahagia hatiku, ketika 20 tahun kemudian aku bertemu langsung dengan Dwi Koendoro. Berjumpa pertama kali saat pada pembukaan Museum Kartun di Bali. Benar-benar seperti bertemu mahaguru yang telah membimbingku secara imajiner.

Sosok yang telah melatih otak dan tanganku menyampaikan sindiran dengan rumusan mengajak tersenyum dan merenung. Itulah resep kartun yang kuperolah dari seorang Dwi Koen BR. Kartunis yang telah menghidupkan Panji Koming selama 31 tahun usianya. Karena pertama kali komik itu muncul pada pertengahan tahun 1979.

Maka kalau tahun ini Dwi Koen mengatakan telah berusia 70 tahun, berarti hampir separoh umurnya telah didedikasikan untuk kartun Indonesia.

Hingga pantaslah Pakarti mengangkatnya menjadi Dewan Pembina, berikut 5 kartunis senior lainnya. Yakni GM Sudarta (KOMPAS), Pramono (Sinar Harapan), Priyanto S (TEMPO), Darminto M. Sudarmo (Suara Merdeka), dan Praba Pangripta (MERAPI).

Dan smsku hari itu adalah memberitahu pada Dwi Koendoro, tentang hasil keputusan rapat Pakarti tersebut.

Maka hari ini aku berbahagia bisa akrab dengan mereka semua, para pendekar kartun Indonesia. Guru-guru kartunku yang telah menunjukan perjuangannya dalam ‘menjaga’ Indonesia, dengan terus menerus mengajak tersenyum dalam perenungan.

Karena menurut Darminto M. Sudarmo, kartunis lahir di dunia langsung membawa fitrah dan amanah dari “Nilai Tertinggi Peradaban”, untuk menjadi “penjaga” yang tugasnya memberi peringatan di saat melihat ketidakberesan pada kekuasaan.

Sebuah tugas mulia yang membuatku selalu berbangga sebagai seorang kartunis.

Bahkan rasanya perlu selalu berterima kasih pada Dwi Koendoro. Yang telah mengajariku ‘koming’ (jungkir bali belajar kartun) bersama si Panji Koming!

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Januari 2011 pukul 22:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s