Catatan Kaki 41: Ketika Kartun Politik Dibungkam, Sajak Bloon Harus Bicara!

Standar

ketika sajakkartun dipanggungkan di teater arena taman budaya jawa tengah. makasih, mas wijang!

Sajak ada hukum puisi

sehebat-hebat masalah hukum

yang terdakwanya tak bisa dihukum

 

sehebat-hebat terdakwa

yang tak bisa diperiksa

 

sehebat-hebat periksa

membaca puisi sambil tertawa

 

sehebat-hebat yang kubaca ini

jangan pernah dianggap puisi

 

Pada awal-awal dulu sebenarnya aku ragu, apakah tulisanku itu bisa disebut puisi?

Namun dengan berjalannya waktu, aku kemudian abai dengan keagungan kaidah puisi. Karena setelah kurenungkan, aku menulis puisi bukan bermaksud menjadi penyair. Namun lebih karena kebutuhanku untuk sekadarkan mengabarkan berita.

Aku ingin berkomunikasi. Hanya ingin berdiskusi. Ingin berdialog dengan sebanyak mungkin orang tentang permasalahan yang melanda. Berusaha untuk saling mengingatkan atau sekadar memberi isyarat dan pertanda.

Maka sejak itu aku tak peduli dengan penilaian apakah layak disebut puisi, atau sekadar celetukan yang tak berarti. Karena bagiku, yang penting apa yang tak boleh kugambar bisa kusampaikan dengan tulisan, untuk kemudian dibacakan.

Maka aku pun semakin banyak saja menuliskan sajak-sajak bodoh dan sederhana itu.

Namun meskipun dengan bahasa yang sederhana dan tak perlu membuat kening berkerut, aku tetap menjaganya agar tidak vulgar. Karena puisi-puisiku bukan sekadar sajak protes sosial murni. Jadi selalu kuusahakan tetap mampu memancing senyuman.

Kalimat-kalimatnya selalu kubuat segar dan jernih. Syukur-syukur cerdas. Dengan dibalut metafor yang penuh guyonan dan humor. Namun bukan sekadar lelucon. Karena diharapkan mampu menjadi senjata ampuh untuk melakukan perubahan.

Persis seperti guyonan para punakawan dalam mengkritik Pandawa, begitulah resep kartun yang kudapatkan dari GM Sudarta. Awalnya lebih membuat ger-geran saja. Membuat tertawa riuh dengan tepuk sorak para penonton penikmatnya.

Namun meski penuh canda tawa, aku yakin sajakkartunku tetap bisa sampai dan penuh makna.

Dan meskipun sajakkartun itu berbentuk teks literer, aku masih menganggap diriku tetaplah seorang kartunis. Bukan penyair.

Bagiku, sajak itu tak lebih dari sebuah media. Sementara materinya sendiri, sesungguhnya tetaplah kartun. Tempat di mana aku merasa bisa bebas berbisik dan berteriak dalam suasana canda tawa. Agar kenyataan-kenyataan menyakitkan yang membanjir di sekitar kita bisa diterima secara ringan dan renyah. Dan tidak cenderung menyalahkan siapa pun, kecuali diri sendiri.

Dengan sajakkartun, aku hanya ingin mengajak kita semua arif untuk berani menertawakan diri sendiri. Karena konon orang yang cerdas dan bijak adalah yang mampu menertawakan dirinya, dan rela menerima kelemahannya sendiri. Siapa pun dia!

Dalam kebimbangan apakah sajakkartunku masih layak disebut puisi atau tidak, aku menemukan buku ‘Dongeng dari Negeri Sembako’ karya Acep Zamzam Noor. Membaca larik-larik puisi penyair besar Tasikmalaya, yang konyol kocak dan sarat kritik itu, semakin memantapkanku untuk menekuni sajakkartun.

Bahwa ternyata, seorang maestro macam Acep pun menulis sajak macam itu. Maka makin semangatlah aku menulis sajak bloon. Bahkan ada beberapa sajaknya yang aku ambil sebagai awalan, untuk kemudian kuteruskan menjadi satu kesatuan.

Contohnya adalah yang ini.

Sajak ada banyak partai

membentuk partai baru

semudah mengganti baju

 

karena banyak rakyat yang suka berjoget

seorang vokalis mendirikan PUDI

Partai Uni Dangdut Indonesia

 

masyarakat yang menganggap protes dan unjukrasa

sebagai obat mujarab untuk menghilangkan pusing

ramairamai mencoblos PDIP

Partai Demonstrasi Itu Penting

 

para bujang yang berjenggot

ada baiknya mendirikan partai bughot

partai bujang berjenggot

 

para bujangan yang selalu raguragu

perlu membentuk partai lelaki tak lakulaku

 

para bujangan yang bosan ditolak melulu

sibuk membentuk partai kasihan deh lu

 

para gadis yang malumalu

segera mendirikan partai setia menunggu

dengan slogan jomblo pasti berlalu

 

para gadis yang bosan jenuh menunggu

sepakat berserikat dalam partai manajemen qalbu

bervisi mengobati kebatkebit hatiku

 

para gadis yang suka kartunis necis

silahkan mendukungku mendirikan PKS

partai kartunis sejahtera

 

dengan banyaknya bencana

terbuka peluang untuk membentuk partai tandingan

 

PKB, partai korban bencana

PDIP, partai derita Indonesia perjuangan

PBB, partai banjir banding

PAN, partai amat nelangsa

Partai GOLKAR, partai golongan tuna karya

PKS, partai korban sunami

 

Indonesia sebenarnya tidak memerlukan banyak partai

karena sudah terlalu banyak memiliki partai

ada partai sanur, partai kuta, partai pangandaran,

partai parangtritis, dan masih banyak yang lainnya

 

Dan karena keasyikan itu, membuatku semakin abai dengan penilaian apakah sajak bloon ini layak atau tidak disebut puisi.

Aku benar-benar tak lagi peduli, wong aku juga tak bermaksud ingin menjadi penyair. Aku tetap seorang kartunis, yang tidak sedang menggambar menggunakan goresan, tapi tengah beralih senjata menggunakan tulisan.

Maka seolah mengikut Seno Gumira Ajidarma yang berstrategi ‘ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara’, demikian pula denganku.

Aku mengamini jurus liukan bambu itu dengan ‘ketika kartun politik dibungkam, sajak bloon harus bicara’.

 oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Januari 2011 pukul 22:23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s