Catatan Kaki 42: Sajakkartun atawa Sajak Penjorangan!

Standar

 

 

Sajak ada yo ben!

 

buah manggis buah kedondong

seorang kartunis boleh necis dong

 

kalau ada sumur di ladang

boleh kita menumpang mandi

kalau ada umur yang panjang

mandi yang sehat sehari dua kali

 

bunga mawar bunga kamboja

itu semua namanama bunga

kalau ada yang bilang itu nama kuda

mungkin sedang sakit mata

atau baru lepas dari rumah sakit jiwa

 

buah duku buah duren

ora lucu yo ben

 

Sajakkartun adalah sajak yang sangat sederhana.

Dan justru dengan kesederhanaannya, aku berharap ia bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat pembaca.

Karena dengan sajakkartun, aku hanya sekadar ingin membuka pintu komunikasi antara seniman dan masyarakat. Dengan terus mencoba menemukan pengungkapan yang jujur, lugas, bernas, dan cerdas.

Aku tidak ingin menjadi penyair elit, yang mempunyai kecakapan berbahasa, namun hanya dapat dinikmati oleh para pecinta sastra saja. Sebab keberhasilan berkarya bagiku adalah ketika komunikasiku mampu mengajak berbagai lapisan masyarakat, dengan beragam tingkat kecerdasan, untuk kemudian bisa saling berinteraksi.

Hingga terjalin dialog, untuk saling tersenyum dan merenung. Kemampuan yang efektif untuk bisa  berkomunikasi langsung dengan masyarakat luas, menjadi landasan setiap penciptaan sajakkartunku. Dan itulah tanggungjawab terindah sebagai seniman.

Sajak ada kencing cinta

 

guru kencing berdiri

murid kencing berlari

guru sibuk demonstrasi

murid asyik berkelahi

 

berakitrakit ke hulu

berenangrenang ke tepian

bersakitsakit dahulu

lolos hukuman kemudian

 

ada gula ada semut

ada udang di balik batu

ada apa dengan cinta

istriku bilang aku mirip rangga

 

 

Sajak ada tong reformasi

 

ada banyak negeri

yang agenda reformasinya

menjadi tonggak sejarah

 

tapi hanya satu negeri

yang agenda reformasinya

menjadi isi tong sampah

 

Sajak ada demokratisasi reformasi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melahirkan anarki

dalam setiap pemilihan bupati

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melegakan demonstrasi

sebagai bukti tegaknya demokratisasi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menurukan diktator yang sakti

menjadi pesakitan yang tibatiba sakit

setiap mau diadili

Pergulatan proses kreatif  sajakkartun, mungkin tak bisa dilupakan dari asal muasalku yang asli Banyumas.

Daerah Banyumas dengan kebudayaannnya yang mempunyai kekhasan tersendiri. Dengan sifat egaliter, sederhana, penuh kesahajaan, karena berbasis pada kehidupan masyarakat tradisional agraris. Hingga dialek Banyumasan pun, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari memiliki corak yang bersahaja, sederhana, egalitarian, dan tidak mengenal pelapisan strata. Dan secara tak sengaja, semangat itulah yang kemudian menjadi ruh dari seluruh sajakkartunku.

Karena secara tidak disadari juga, aku ternyata memunculkan salah satu pergaulan khas Banyumasan dalam sajak-sajakkau. Yakni gaya pergaulan dalam bermasyarakat Banyumas yang disebut dengan penjorangan.

Penjorangan adalah cara mengungkapkan sesuatu yang serius dengan gaya bercanda. Dalam balutan gaya dan kata yang penuh jenaka, untuk menyampaikan hal yang seberanya penting. Dengan sindiran, cemoohan, dan kelakar untuk menyampaikan maksud kritikan agar tidak menyakitkan bagi yang mendengar.

Dan melalui gaya penjorangan itulah, kritikan dilontarkan bukan untuk memukul dan menghantam. Melainkan justru untuk merangkul dan mengingatkan.

Dengan gaya penjorangan pula, kita mengingatkan lawan bukan sebagai musuh yang sekadar harus disalahkan. Melainkan sahabat dekat yang akrab untuk disadarkan.

Sajak goyang presiden

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang professor

menjadi presiden yang melepaskan wilayah timor

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang wali

sebagai presiden terlucu republik ini

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang ibu rumah tangga

sebagai presiden yang dianggap titisan bapaknya

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menjadikan seorang yang gagah perkasa

sebagai presiden yang selalu bimbang langkahnya

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu memilih presiden empat kali silih berganti

semudah memilih kontestan

dalam ajang AFI atau goyang KDI

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Januari 2011 pukul 22:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s