Catatan Kaki 45: Pada Mulanya adalah Kethoprak Tobong!

Standar

terima kasih pada Anif Sirsaeba El Zhirazy yang telah memberi judul “Tembang Rindu Dendam” pada sekuel pertama PENANGSANG!

“Kang Nas kok bisa nulis novel begini tebal?”

Seorang teman pernah bertanya, ketika ia datang dalam acara bedah bukuku. Novel Penangsang jilid pertama, yang kuberi judul ‘Tembang Rindu Dendam’.

Dia merasa aneh, karena katanya,”  Selama ini aku mengenal Kang Nas sebagai tukang pembuat ketawa dengan kartun-kartun dan sajakkartun saja. Kok sekarang tiba-tiba menulis novel panjang yang berat dan serius sekaligus sangat tebal. Apalagi novel tentang sejarah Tanah Jawa yang juga mempunyai nilai kontroversial.”

Mendengar keheranannya itu, aku pun menanggapi dengan senyuman saja, “Wong aku sendiri juga tidak nyangka, mas. Kok aku bisa seserius itu ya? Hehehehe.”

Dan memang begitulah sesungguhnya. Karena selama ini, aku menulis hanya berupa puisi lucu-lucuan yang tak berarti dan remeh temeh belaka. Bukan sesuatu yang bermutu atau serius, yang dalam penulisannya membutuhkan penelitian serta riset panjang.

Maka kalau sampai membuat novel dengan ketebalan 700an halaman, dan ditulis selama 4 bulan, aku pun masih sering tidak percaya. Dan ketidakpercayaan itu ternyata sekarang berulang. Ketika naskah Penangsang jilid ke 2 yang sedang kuselesaikan, malah melonjak menjadi  800 halaman.

Namun itulah yang terjadi. Novel pertama itu telah terbit. Mendapat sambutan hangat dari para pembaca. Rata-rata menyampaikan salut atas keberanian mengungkap sejarah yang selama ini masih remang-remang. Dan dengan dukungan literatur yang banyak, hingga hampir tiap halaman terdapat footnote. Sebuah novel yang,  menurut mereka, kaya dengan pengetahuan sejarah dan budaya, hingga mampu memperluas wawasan pembacanya.

Bahkan ada yang menyejajarkan dengan karya Pramoedya dan ‘Mushashi’nya Eiji Yoshikawa. Sebuah sanjungan yang berlebihan, sebab dua nama itu adalah maestro sastra dunia. Sedangkan aku, masih benar-benar berada pada tahap belajar di tingkat dasar.

Namun terlepas dari itu semua, aku ingin sedikit bercerita di balik penulisan novel yang sesungguhnya. Bahwa novel itu memang kutulis dalam waktu 4 bulan. Tapi sebenarnya, proses di belakangnya sangatlah panjang. Bahkan untuk sekadar mengumpulkan keberanian saja, aku butuh mencari dukungan sejarawan, budayawan, dan kerabat keraton. Sekaligus mengumpulkan data-data sejarahnya, hingga membutuhkan waktu lebih dari lima tahun, sampai dengan yakin untuk memulai menuliskannya.

Semua kulakukan, karena yang kutulis adalah semangat untuk membalik pemahaman yang selama ini sudah tertanam. Bahwa Penangsang, sosok yang sekian lama dikenal sebagai antagonis, dalam novelku kuceritakan sangat berkebalikan. Menjadi sosok protagonis, bahkan bisa menjadi anutan. Suatu usaha menawarkan alternatif pembacaan kitab sejarah, yang seperti memutihkan yang telah dihitamkan.

Sementara sosok yang sekian lama dikenal sebagai protagonis, dalam ceritaku menjadi tokoh antagonis. Benar-benar sangat berkebalikan dengan pemahaman banyak orang. Namun memang itulah yang ingin kuungkap. Bahwa kecurigaanku, ada sesuatu yang sengaja dikaburkan dalam kisah Babad Tanah Jawi. Sesuatu yang tidak dituliskan sebagaimana apa adanya. Tidak yang sebenarnya, melainkan sebagaimana yang diinginkan penguasa yang kala itu memenangkan perebutan takhta.

Maka novel yang kutulis ini, secara isi memang sangat berat dan serius. Namun aku sangat semangat menuliskannya. Karena semua didasari pada ‘dendam’ lama. Pada penasaran yang terpendam 20 tahun lamanya.Yang itu semua bermula ketika aku kecil dulu. Yang sangat suka menonton kethoprak.

Waktu SD, ada rombongan kethoprak tobong yang berbulan-bulan menetap di desaku. Tiap malam mereka memanggungkan lakon-lakon cerita yang berlatarkan sejarah. Dan sepertinya, itulah pelajaran sejarah yang sangat mengena di otak dan hatiku, daripada yang tercatat dalam buku-buku pelajaran sekolah.

Dengan di-kethoprak-kan, semua rangkaian kronik sejarah sejak jaman Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, hingga Mataram menjadi mudah dicerna. Intrik kekuasaan dan konflik berdarah sejak Ken Arok hingga Trunojoyo sangat membekas dalam benak kecilku, yang waktu itu baru naik kelas 4 SD.

Hingga bisa dikatakan, kethoprak benar-benar menjadi hiburan yang mencerdaskan untuk otakku, yang memang tak akrab dengan televisi. Rumahku baru pasang listrik ketika aku kelas 6 SD. Dan tak punya televisi, hingga aku remaja, bahkan sampai dewasa.

Karena itulah, aku pun menjadi penonton setia kethoprak setiap malam.

Dengan modal nekat, karena memang tak pernah punya uang untuk membeli karcis. Namun demikian, aku tetap selalu bisa menonton dengan caraku sendiri. Kadang dengan mendompleng orang, tak jarang pula dengan menelusup dari belakang panggung.

Setiap loket mulai dibuka, aku memerhatikan orang-orang yang membeli karci. Kalau ada mereka yang membeli karcis sendirian, tidak membawa istri atau anak, aku langsung mendekatinya. Kusampaikan maksudku, untuk ndompleng karcisnya dan dianggap sebagai anaknya atau keponakannya. Dengan dituntun dan berjalan bersamanya, aku pun bisa masuk tanpa bayar. Sampai di dalam, aku berpisah dengan orang itu. Berkumpul dengan kawan-kawanku yang telah ndompleng orang duluan.

Sering pula dengan teman-teman yang nekad dan berani, aku harus main kucing-kucingan dengan petugas hansip. Yaitu masuk dengan cara menyelinap diam-diam dari belakang tobong. Pagar keliling lapangan yang terbuat dari terpal, kami singkap ke atas seukuran badan, untuk bisa mblodos masuk ke dalam. Satu per satu anak-anak masuk, sementara yang paling berani masuk terakhir, untuk melihat-lihat keadaan.

Entah mengapa ada kebanggaan luar biasa ketika berhasil masuk tanpa karcis dengan mblodos, daripada numpang masuk dengan karcis orang. Kebahagiaannya lebih terasa di dada, dan tertawanya ketika bertemu teman lain di dalam juga lebih lebar. Apalagi kalau sempat sport jantung karena hampir kena pentungan hansip sebelumnya.

Dan di antara lakon-lakon yang dipentaskan hingga tengah malam itu, adalah kisah Haryo Penangsang yang paling membetot emosiku.

Kisah yang bercerita tentang perebutan takhta antara keturunan Raden Patah. Kisah yang penuh intrik, yang kemudian (menurutku!) menjadi pangkal semua keruwetan dakwah Islam di Tanah Jawa.

Dalam panggung kethoprak, sosok Penangsang adalah orang yang gila kekuasaan dan berangasan. Hatinya panas dan jiwanya mudah marah. Dan itulah yang menjadi penyebab kekalahan, bahkan kemudian kematiannya. Sementara Mas Karebet adalah seorang pemimpin bijak dan berjiwa arif. Seorang tokoh yang kemudian menjadi pemenang dalam pertarungan melawan Penangsang.

Pemeran Penangsang selalu melotot matanya, merah wajahnya, keras tertawanya, dan berteriak membentak setiap berkata. Sebuah pancaran wajah yang garang dengan kumis lebat melintang. Sedangkan pemain Mas Karebet selalu teduh pandangannya, cerah wajahnya, senyumnya berwibawa, kata-katanya pelan dan dalam, serta lemah lembut perangainya.

Sebuah watak hitam putih yang diterjemahkan langsung dari Babad Tanah Jawi.

“Watakipoen arja penangsang sanget ing wanteripoen sarta panasbaran.”

Sifat Haryo Penangsang sangat mudah marah dan pemberang. Demikianlah Babad Tanah Jawi menggambarkan sosok Penangsang dalam salah satu baitnya.

Sebuah perkataan yang konon berasal dari Ki Juru Mertani, yang sedang bersiasat untuk menjebak Penangsang. Karena Mas Karebet tidak berani melawan Penangsang, maka ia bermain muslihat. Kelemahan Penangsang yang mudah tersulut marahnya, dijadikan pancingan untuk menikamnya dari belakang.

Dan itulah yang terjadi kemudian, kekuatannya kalah karena terpancing amarah. Penangsang pun mati mengenaskan. Ususnya terburai ketika perutnya robek panjang oleh tusukan tombak pendek Kyai Plered yang ditikamkan Sutawijaya. Usus yang kemudian terpotong oleh ketajaman kerisnya sendiri, Kyai Brongot Setan Kober.

Sebuah kematian tragis yang sampai hari ini masih membayang pada penggalan adegan tersebut. Adegan kekalahan jagonya Sunan Kudus yang terus menguntitku hingga dewasa. Yang menggangguku dengan bermacam penasaran dan rasa curiga.

Dan setelah berjarak 20 tahun dari pemanggungan kethoprak malam itu, aku baru bisa merasa lega setelah berhasil menuliskannya. Mengisahkan dengan menawarkan tafsir ulang yang berbeda dengan pemahaman yang selama ini ada di benak orang Jawa .

Maka dengan ditulisnya kisah panjang Penangsang ini, sebenarnya sebuah usaha mengengang kembali pada masa kecilku dulu. Waktu aku merasa sangat bahagia tiap kali bisa mblodos dari belakang panggung kethoprak tobong.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Februari 2011 pukul 22:26

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s