Catatan Kaki 46: Inilah Kidung Senjakala, Ketika Umara Tidak Tunduk Pada Ulama!

Standar

 di belakang masjid demak, situs yang tersisa dari kebesaran kesultanan demak bintoro, terbaring tiga makam sultan: raden patah, pati unus, dan trenggono!

“Datanya hebat, Mas. Nggak nyangka, namanya Purwokartun, tapi novelnya dahsyat dan sangat berat! Benar kata Langit Kresna Hariadi, novel ini seperti disertasi.”

Pagi itu, seseorang yang mengaku baru saja selesai membaca novel Penangsang, langsung menelponku. Sepanjang pembicaraan, aku hanya diam mendengarkan. Dan sepertinya ia terprovokasi endorsment Langit Kresna Hariadi, novelis best seller Gajah Mada itu.

Sejenak aku jadi teringat seorang temanku yang lain. Yang sempat memberikan tanggapan sebelum novelku diterbitkan. Katanya, “Novelmu ini sangat berat, sarat semangat. Kayaknya mending penulisnya jangan pakai nama NasSirun PurwOkartun. Biar warna sejarahnya ikut terangkat. Pakai nama asli saja, Nasirun Wijaya!”

Aku tersenyum. Namun seminggu kemudian, usul itu mengganggu benakku. Sempat membuatku ragu, apakah tetap pakai nama PurwOkartun ataukah meninggalkannya.

Karena bingung, aku pun minta pendapat Ummi. Setelah menimbang dan memerhatikan (hehehehe), akhirnya kami memutuskan. Mantap tetap memakai nama PurwOkartun!

Alasan Ummi, karena selama ini aku sudah terlanjur memakai nama itu. Meski pun tidak terkenal-terkenal amat, tapi paling tidak ada satu dua orang yang telah mengenalku. Hingga kalau mereka melihat novelku nanti, pasti langsung mengingat nama itu. Sementara kalau pakai nama asli, malah jadi asing, dan tak ada satu pun yang mengenali. Mungkin yang tahu nama Nasirun Wijaya, hanya orang tua, pak RT, dan Ummi saja.

Sedangkan alasan kedua datang dariku. Sebagai penulis sajakkartun, sekali-sekali pengin juga menghayati hasil karyanya. “Buah manggis buah kedondong, seorang kartunis boleh serius dong?” Buah manggis rasanya manis, enak juga kalau dibikin jus, seorang kartunis boleh dong jadi novelis, apalagi kalau novelnya berat dan serius. Hehehe.

Maka kemudian nama PurwOkartun pun terpasang di novelku. Novel yang berusaha untuk menawarkan tafsir ulang tentang sejarah Penangsang. Novel yang berawal dari rasa penasaran pada kisah tragis dan konflik yang melengkapinya. Penasaran yang bermula dari sebuah pagelaran kethoprak tobong, pada 20 tahun silam.

Penasaran masa kecil yang terus menguntit hingga aku remaja, bahkan setelah dewasa.

Entah mengapa, ada pertanyaan yang selalu berkembang dan tak juga mendapatkan jawaban memuaskan, meski bermacam buku telah tuntas kubaca. Ada penasaran yang kemudian berbuah curiga, hingga berujung pada rasa tidak percaya. Aku menyangsikan bahwa begitulah yang sebenarnya terjadi, pada kisah di seputar Penangsang.

Penasaran dan pertanyaan itu pada mulanya hanya ada dua.

Satu, apakah mungkin sosok Sultan yang dijagokan oleh Sunan Kudus, sebagai ulama ahli fikih yang dikenal lurus aqidahnya adalah seorang pribadi yang berangasan?

Dua. Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Islam, selain Pura Pakualaman Jogja dan Pura Mangkunegaran Solo. Sedangkan Mataram Islam adalah kelanjutan dari Kesultanan Pajang, yang merupakan peralihan dari Demak Bintoro. Padahal Kesultanan Demak adalah pemerintahan yang didirikan oleh para ulama untuk menyebarkan Islam lewat jalan kekuasaan. Namun mengapa justru sinkretisme yang begitu kental yang tersisa, pada keempat keraton tersebut?

Dan dalam proses pencarian, ternyata jawaban atas pertanyaan kedualah yang justru pertama kutemukan. Yakni ketika kuurut jauh ke belakang, ke masa sandyakalaning Majapahit. Ketika kerajaan besar itu runtuh dan Demak muncul menggantikan.

Bahwa Kesultanan Demak adalah sebuah kekhalifahan Islam yang didirikan oleh 13 murid Sunan Ampel, sebagai kelanjutan dakwah Maulana Malik Ibrahim. Sebuah amanat suci untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa dengan jalur kekuasaan. Dan untuk menjaga agar kebijakan penguasa tidak melenceng dari aturan hukum-hukum agama, dibentuklah musyawarah Waliyyul Amri, yang menjadi cikal bakal sebutan Wali Songo.

Sebagai pemegang pemerintahan, diberikan amanah pada Sunan Demak, yang kemudian dikenal sebagai Raden Patah. Kesepakatan ini dibuat, karena Raden Patah adalah anak dari Prabu Kertabumi, raja Majapahit. Sebuah kebutuhan legitimasi bagi rakyat Tanah Jawa atas berdirinya kerajaan baru setelah keruntuhan Majapahit. Selain itu, Raden Patah juga merupakan murid utama sekaligus menantu Sunan Ampel.

Sedangkan sebagai pemimpin Waliyyul Amri yang bertugas menjadi penasehat Kesultanan, dimandatkan pada Sunan Giri. Seorang ulama yang dikenal sebagai mufti Tanah Jawa, yang merupakan anak Sunan Ampel sendiri.

Kekhalifahan Islam pun berdiri tegak sebagai penopang penyebaran Islam di Tanah Jawa. Namun kemesraan antara pemegang kekuasaan dan penasehatnya hanya berumur setengah abad. Hubungan umaro sebagai panotoprojo dan ulama sebagai panotogomo mulai merenggang dengan beralihnya generasi, setelah wafatnya Raden Patah.

Awal kerenggangan itu bermula ketika Sultan Trenggono naik takhta.

Anak Raden Patah yang naik takhta menggantikan sang adik, Pati Unus, ini lebih condong pada pendapat mertuanya, Sunan Kalijogo, daripada kesepakatan musyawarah Dewan Wali di bawah pimpinan Sunan Bonang. Sebuah perbedaan pendapat, yang menjadi sebab sang pemimpin Dewan Wali meletakkan jabatannya sebagai penasehat Kesultanan.

Sunan Bonang memilih mundur dari jalan dakwah lewat kekuasaan, dengan beralih cara menjadi seorang pujangga. Sunan Bonang pun pamit dari Demak, dan menetap di Tuban hingga akhir hayatnya. Dari tangannya banyak menghasilkan karya-karya seni sastra yang sarat perenungan tentang ketuhanan. Salah satu yang paling terkenal adalah Suluk Wujil yang indah dan dalam penuturannya, tentang hakikat ketuhanan. Serta  tembang ‘Tombo Ati’ yang sampai sekarang masih sering dinyanyikan orang.

Sepeninggal Sunan Bonang, jabatan penghulu Waliyyul Amri diberikan pada Sunan Kudus, yang tak lain adalah menantunya. Namun jumlah ulama penasehat Kesultanan telah berkurang, dengan meninggalnya Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Hanya tersisa Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, dan Sunan Muria.

Secara pemahaman, hanya Sunan Gunung Jati lah yang sepemikiran dengan Sunan Kudus. Sunan Gunung Jati adalah ulama Samudra Pasai ahli fikih, seperti juga Sunan Kudus yang keturunan Sayyid Usman Haji, ulama Palestina. Kedua ulama inilah yang berkeras agar kemurnian Islam disebarkan di Tanah Jawa, seperti amanat Sunan Ampel.

Namun Sunan Kalijogo menentangnya. Karena menurutnya, yang penting ajaran Islam menyebar terlebih dahulu hingga seluruh pelosok Tanah Jawa. Asal seluruh rakyat Jawa telah beralih keyakinan, sementara pemurnian pemahaman dikerjakan belakangan. Maka dipakailah jalan kebudayaan untuk memasukan ajaran Islam. Pemahaman yang mendapat dukungan dari Sunan Muria, yang tak lain adalah anak Sunan Kalijogo.

Dalam keadaan terjepit, Sunan Kudus sebagai penghulu Waliyyul Amri tak bisa lagi menyampaikan pendapatnya. Karena Sultan Trenggono pun lebih condong pada pendapat Sunan Kalijogo. Menurutnya, sang mertua lebih paham tentang Tanah Jawa, karena Sunan Kalijogo adalah putra mahkota Tuban. Ia lebih berdarah ningrat Majapahit daripada Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati yang datang dari luar Jawa.

Puncak pertentangan ketika Sunan Kudus pun mundur pelan-pelan dari Kesultanan Demak. Ia tak ingin di Waliyyul Amri terlihat seperti ada matahari kembar. Ulama Palestina itu minggir ke Tajug dengan membangun kota santri, yang sekarang dikenal sebagai Kudus. Ia lebih banyak mencurahkan pikirannya, membentuk pemerintahan yang benar-benar islami dengan menetap di Kudus. Dan menjadi penasehat kadipaten Jipang yang dipimpin oleh murid tercintanya, Haryo Penangsang.

Kebijakan Demak pun berada dalam kekuasaan Sunan Kalijogo. Sunan Gunung Jati tak bisa berbuat banyak. Setelah menaklukan Banten, Sunda Kelapa, dan Pajajaran, ia menetap di Cirebon. Melanjutkan dakwah mertuanya, Susuhunan Jati.

Demak pun mulai melenceng dari niatan semula, seperti cita-cita Sunan Ampel. Kebijakan Demak semakin menjauh dari nasehat para ulama. Sementara perseteruan diam-diam antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijogo pun semakin meruncing.

Dan permusuhan itu pun semakin nampak dengan meninggalnya Sultan Trenggono.

Sunan Kudus menjagokan Penangsang, sang adipati Jipang untuk menjadi Sultan Demak keempat. Di matanya, Penangsang adalah sosok yang pantas menjadi pengemban amanah Waliyyul Amri untuk mengembalikan Demak sebagai kekhalifahan Islam di Tanah Jawa. Ia pun mendapat dukungan dari Sunan Gunung Jati.

Namun Sunan Kalijogo lebih menjagokan Prawoto, anak Sultan Trenggono yang tak lain adalah cucunya. Ibu Prawoto yang diperistri Trenggono adalah anak Sunan Kalijogo. Pendapat ini mendapatkan dukungan dari Sunan Muria.

Menurut Sunan Kudus, Prawoto tak layak menjadi Sultan Demak, karena di masa lalu ia terlibat pembunuhan pamannya, Pangeran Sekar. Selain itu Prawoto juga seorang yang buta dan sakit-sakitan. Seorang Sultan yang lemah tak akan menjadikan Demak sebagai pemerintahan yang kuat.

Sementara menurut Sunan Kalijogo, Penangsang juga tak layak, karena ia tidak akan membawa kemajuan bagi Demak. Dengan penyebaran Islam yang tak menyatu dengan kebudayaan pedalaman, akan menyebabkan Islam hanya berkembang di daerah pesisir. Seperti yang telah terjadi dalam pemerintahan Raden Patah dan Pati Unus.

Namun dalam pertarungan itu, akhirnya Prawoto lah yang menjadi Sultan Demak.

Sunan Kudus pun semakin terdesak, bahkan Waliyyul Amri terancam dibubarkan.

Sebuah tragedi yang sekarang mendadak kurenungkan terjadi hari ini pada negeri ini. Ketika para pemuka agama telah mengingatkan para pemimpin yang sering berbohong pada rakyatnya. Namun nasihat itu diabaikan dengan bermacam alasan bahkan cemoohan.

Maka aku pun terkenang pada sandyakalaning Demak Bintoro. Ketika umara (pemimpin) tak lagi tunduk pada ulama, maka keruntuhan tengah membayanginya.

Dan inilah mungkin kidung senjakala. Sebuah kidung yang ditulis oleh seorang yang kadang tak dipercaya, “Kartunis kok nulis novel sejarah!”

Ya sudah!

(Inipun catatan kaki senja kala juga. Karena kutulis di saat senja. Karena sejak kemarin laptop error, dan komputer ikutan hank. Hingga baru tadi siang komputer bisa dipakai. Sementara laptop, katanya masih menunggu 3 hari lagi. Ya sudah, tidak jadi Thukul lagi yang  kembali ke laptop. Mulai hari ini aku kembali ke komputer!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Februari 2011 pukul 22:32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s