Catatan Kaki 47: Menafsir Ulang Joko Tingkir Sang Pemenang

Standar

di petilasan Pajang, keraton Joko Tingkir setelah memindahkan takhta dari Kesultanan Demak.

Aku menulis novel Penangsang, bermula dari rasa penasaran.

Kok bisa, keraton Solo yang konon kelanjutan dari Kesultanan Demak, kekhalifahan Islam di Tanah Jawa, hanya menyisakan sinkretisme-nya saja. Demikian pula dengan keraton lainnya, yakni Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran.

Sama sekali tak ada warna Islam yang lurus yang bisa kutemui di sana. Benar-benar bertolak belakang dengan yang kupahami dari kisah awal Maulana Malik Ibrahim, ketika pertama kali datang ke Jawa. Ketika bersama 8 ulama lainnya, sebagai utusan Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki yang datang di akhir kekuasaan Majapahit di tangan Wikramawardhana. Juga para ulama Wali Songo yang melanjutkan tugas sucinya, menyebarkan Islam sebagai jalan keselamatan yang anti kemistikan.

Karena penasaran itulah, aku menjadi rakus terhadap bacaan yang berkisah tentang sejarah Jawa. Bermacam serat dan babad aku lahap, untuk memenuhi dahaga atas keingintahuan itu. Aku pun menjadi banyak datang ke teman-teman yang mempunyai minat serupa. Para pemerhati sejarah Jawa dan beberapa budayawan.

Dan setelah banyak membaca juga diskusi dengan mereka, aku temukanlah dugaan sementara. Semua bermula sejak wafatnya Sultan Trenggono yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Prawoto. Namun tak lama, karena raja yang buta dan sakit-sakitan itu pun wafat setelah berkuasa selama 3 tahun. Dan kekuasaan yang kosong itu digantikan oleh Joko Tingkir, sang menantu Sultan Trenggono.

Sejak itulah, semangat Demak sebagai kekhalifahan Islam sebagaimana amanat suci Sunan Ampel telah hilang. Bahkan kekuasaan sebagai kerajaan maritim pun runtuh ketika dipindahkan ke Pajang, yang berada di pedalaman selatan Jawa.

Pada masa kerajaan Pajang itulah, kemurnian Islam mulai bercampur dengan budaya lama yang telah mengakar di Jawa. Hingga Islam yang berkembang di Jawa bukanlah Islam murni, seperti yang pertama kali disebarkan oleh Walisongo.

Bahkan yang menyedihkan pula, kisah para ulama penyebar agama Islam itupun tak lepas dari pengaruh itu. Bahkan sampai hari ini, yang terkenal dari kisah para wali adalah kehebatannya yang sering kali lebih berbau mistik bercampur takhayul. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kisah awal perkembangan Islam di Indonesia, sebagai sebuah agama yang sangat keras menentang kemusyrikan.

Kita lebih mengenal sosok-sosok para ulama penyebar Islam itu sebagai pendekar tanpa tanding, yang kisah hidupnya sarat kemistikan. Kisah Sunan Kalijogo, yang tertanam di benak kita adalah karena beliau sangat setia menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang di sebuah tepian kali. Hingga ditumbuhi semak belukar yang menutupi seluruh tubuhnya selama sekian lama, karena sang guru terlupa menjenguknya. Dari kisah itulah muncul nama Kalijaga, karena sang Sunan belajar Islam diawali dari menjaga kali.

Begitupun dengan kisah para sunan lainnya. Seperti Sunan Giri yang menghadapi serbuan prajurit majapahit hanya dengan sebilah pena. Dari pena yang dilemparkan bisa berubah menjadi keris sakti yang berputar kencang menghancurkan wadyabala Majapahit. Keris yang berputar itu kemudian dikenal sebagai Keris Kolomunyeng. Bahkan juga Sunan Ampel yang mempunyai pembantu, yang bisa menentukan arah masjid Ampel dengan mengintip dari lubang angin ke arah Makkah.

Dan hampir semua kisah para Sunan tak pernah lepas dari mitos yang melingkupinya. Dengan cerita mistik yang melengkapi kehebatannya. Padahal mestinya, tidak seperti itu adanya, karena Islam adalah agama lurus yang menentang kemistikan. Sebab Rasulullah sendiri, sang pembawa risalah Islam tidak mengenal mistik. Dalam bermacam kisah peperangan yang dipimpinnya, tak pernah bertindak di luar kehebatan manusiawi. Maka beliau pun terluka ketika berdakwah di Tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud.

Hingga makin mantaplah aku ingin menuliskan Penangsang, karena kebetulan ia adalah murid Sunan Kudus, seorang ulama yang dikenal tegas dan lurus. Seorang ulama ahli fikih, ahli ekonomi, ahli perang, dan ahli pemerintahan, yang juga seorang saudagar kaya. Jadi bertemulah penasaran pada kisah di seputar Penangsang yang meragukan, dengan semangat ingin menceritakan kisah wali yang terbebas dari kisah-kisah mistik.

Maka penelusuran pun dilanjutkan. Hingga bertemu pada sosok Joko Tingkir, yang dalam perbincangan kami menjadi titik kunci awal mula kekisruhan di Demak. Yang membuat kekhalifahan Islam Demak berubah menjadi sebuah kerajaan yang sarat dengan pencampuradukan ajaran Islam dan budaya lama. Yang ternyata itu berlanjut hingga kini, sepanjang hampir lima abad lamanya.

Maka aku pun tertarik mengamati sosok Joko Tingkir, karena dialah orang yang telah menyingkirkan Penangsang dalam perebutan takhta Demak.

Sebab kalau ditelusuri, sesungguhnya sebuah keanehan telah terjadi di akhir keruntuhan Demak. Ketika Sunan Prawoto wafat, Joko Tingkir yang hanya seorang menantu bisa naik takhta melanjutkan kakak iparnya. Karena mestinya yang menjadi Sultan adalah anak cucu Raden Patah. Yang di dalamnya ada nama Penangsang.

Secara hak, Penangsang lebih tepat menggantikan Sunan Prawoto, karena dia adalah anak dari Pangeran Sekar Sedo Lepen. Penangsang adalah cucu dari Raden Patah, Sultan pertama Demak yang berhasil mengokohkan kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Namun dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja, Penangsang sang pewaris syah atas takhta Demak pun terpinggirkan. Mengikuti nasib Sunan Kudus, gurunya yang juga pemimpin Dewan Wali, yang telah lebih dulu terkucilkan dari Kesultanan.

Padahal jauh-jauh hari, Sunan Kudus sebenarnya telah lama mencium gelagat masuknya Joko Tingkir dalam keluarga Kesultanan Demak, yang menurutnya bukan tanpa alasan.

Pada masa lalu, kakek Joko Tingkir yang bernama prabu Handayaningrat menolak tunduk pada Demak di masa pemerintahan Raden Patah. Penguasa keraton Pengging itu bersekutu dengan Girindrawardhana, penguasa Majapahit untuk menghancurkan Demak. Dalam pertempuran itu, prabu Handayaningrat yang juga menantu Prabu Kertabumi, terbunuh oleh Sunan Kudus, yang saat itu menjabat panglima perang Demak.

Setelah terbunuhnya Handayaningrat, anaknya yang bernama Kebo Kenongo menjadi penerus takhta Pengging. Namun ia berbeda dengan ayahnya yang tak mau masuk Islam. Kebo Kenongo bersedia masuk Islam. Namun belum lama belajar pada Sunan Bonang, ia tertarik pada ajaran Syekh Siti Jenar. Kebo Kenongo yang telah menjadi murid Syekh Siti Jenar itu pun mengganti namanya dengan sebutan Ki Ageng Pengging.

Dan Ki Ageng Pengging pun mengikuti jejak ayahnya, yang tak mau tunduk pada Demak. Bahkan melecehkan musyawarah ulama Waliyyul Amri, yang telah menyatakan pemahaman Syekh Siti Jenar sebagai ajaran sesat.

Ki Ageng Pengging menggalang kekuatan 40 murid Syekh Siti Jenar, untuk tetap menyebarkan ajaran manunggaling kawulo gusti. Maka Sunan Giri sebagai pemimpin Waliyyul Amri menjatuhkan hukuman mati padanya. Sunan Kudus yang diberi amanah menjatuhkan hukuman pada sang pemimpin padepokan Pengging itu. Sebuah nasib yang sama seperti gurunya, Syekh Siti Jenar yang juga telah dijatuhi hukuman mati. Dan yang menjadi pelaksananya pun Sunan Kudus juga.

Setelah meninggalnya Ki Ageng Pengging, sang anak yang masih bayi diasuh dan dirawat oleh keluarga Ki Ageng Tingkir. Bayi bernama Mas Karebet itu pun kemudian lebih dikenal sebagai Joko Tingkir. Dalam asuhannya, ia banyak mendapat pelajaran dari Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Ki Ageng Banyubiru. Para guru yang juga adalah sahabat Ki Ageng Pengging, sebagai sesama murid Syekh Siti Jenar. Hingga dipastikan bahwa Joko Tingkir dibesarkan dalam ajaran manunggaling kawulo gusti.

Setelah remaja, Joko Tingkir masuk Kesultanan Demak, dengan diawali sebagai prajurit pengawal Sultan. Kemudian naik pangkat menjadi pemimpin prajurit tamtama. Hingga bisa mempersunting putri Sultan Trenggono, dan diberikan takhta menjadi adipati Pajang.

Kecurigaan Sunan Kudus terbukti, ketika Joko Tingkir menjadi adipati Pajang, ia yang merupakan bawahan Demak tak melakukan ajaran Islam secara murni. Yang dikembangkannya di Pajang adalah ajaran Syekh Siti Jenar.

Maka kalau Joko Tingkir menjadi raja Demak, sudah pasti kebijakan Kesultanan Demak pun akan dibawa seperti kebijakannya di kadipaten Jipang. Kesultanan Demak yang berlandaskan islam akan terwarnai dengan pemahaman manunggaling kawulo gusti.

Sunan Kudus pun mendukung Penangsang untuk merebut takhta Demak. Pemimpin Waliyyul Amri itu ingin mengembalikan Demak sebagaimana ketika awal mula diririkan. Menjadi penerus amanat suci Sunan Ampel untuk mengukuhkan Islam dengan jalur kekuasaan. Di samping dengan jalan pendidikan yang telah ditempuh dengan banyaknya didirikan pesantren oleh para wali. Seperti pesantren Ampeldenta, pesantren Girikedaton, pesantren Glagahwangi, pesantren Panti Kudus, dan juga pesantren Gunung Jati.

Maka dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja Demak, Sunan Kudus sangat khawatir kemurnian dakwah Islam di Tanah Jawa akan semakin terancam. Karena itu pula, Penangsang pun melawan. Ia tak mau tunduk pada kekuasaan Joko Tingkir.

Namun dengan penuh kelicikan, Penangsang akhirnya berhasil dimusnahkan. Dan Sunan Kudus pun semakin tersingkir dan terpinggkirkan.

Maka sejak itu, Demak pun runtuh. Tak ada lagi kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Itulah dugaan sementara yang kudapatkan. Yang sedikit mampu mengobati rasa penasaranku. Dan penasaran itu kini telah kutuliskan dalam novel panjang yang telah masuk jilid ke dua. Semoga bermanfaat untuk membuka wawasan kita bersama.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Februari 2011 pukul 19:04

6 responses »

  1. Saya termasuk yg mencari2 dan penasaran dg ‘hilangnya’ syariat dari tanah jawa, kalau di buat komiknya tentu akan lebih bisa di sebar untuk pembaca remaja nih mas…. tfs

  2. Bersyukur karena joko tingkir muncul…sehingga pancasila muncul di muka bumi nusantara.klo pingin murni ke arab aja

    p

    • justru Pancasila muncul dari ide syariat islam, gak perlu jauh2 ke Arab, karena kemurnian Islam bisa diterapkan dimana saja…

  3. Saya jadi paham, mengapa di lingkungan daerah mbah buyut saya di Sawit Boyolali -tak jauh dr Pengging- banyak islam abangan, penganut kepercayaan dan sinkretisme. Rupanya pengaruh Pengging dan Pajang.

    Menjadi menarik ketika kesentralan tokoh Joko Tingkir kemudian ditarik dalam scope yg lebih luas. Seperti dimana Sunan Kalijaga? Bagaimana tanggapan, reaksi dsb? dimana sunan lainnya? Mengapa para santri dari berbagai pesantren tidak bereaksi, membuat kekuasaan tandingan? Mengapa Sunan Kudus tidak menggalang kekuatan?

    Rentang waktu yang cukup panjang untuk menghilangkan pengaruh Islam, bukan?

    Mohon tanggapannya.

  4. itu pendapat anda terhadap satu versi. sedangkan versi lain menyebutkan, akal-akalan sunan kuduslah yang menyebabkan kematian arya penangsang. sampai sekarang pun, di wilayah bekas kekuasaan arya penangsang (jipang panolan) versi yang saya sebutkan yang paling dipercaya masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s