Catatan Kaki 51: Sehari Semalam Cuma 4 Jam!

Standar

 

“Tuhan benar-benar Maha Adil. Buktinya, Dia memberikan waktu yang sama pada tiap makhluknya. 24 jam sehari semalam.”

Begitu bunyi status facebook temanku, seorang kartunis ternama. Kata-kata dari orang yang gemar bercanda, namun dari kalimatnya terbaca kedalaman renungannya.

Dan hatiku tersentuh ketika membacanya. Sampai lupa memberi koment untuknya.

Kita semua, ternyata punya modal waktu yang sama. Hingga mestinya, juga mempunyai peluang yang sama, apakah akan berhasil ataukah gagal menggapai cita-cita. Karena kesempatan yang ada tidak berbeda, antara satu dan lainnya. Antara yang sukses dan gagal, sehari semalam sama-sama mempunyai waktu 24 jam.

Namun konon, hanya orang cerdas yang bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Dan hanya orang bijak yang bisa membuat semua kesempitan menjelma kesempatan.

Sayangnya, aku mungkin tidak masuk keduanya. Karena tetap saja merasa tak punya kesempatan, hingga selalu berada dalam kesempitan waktu yang ada.

Dan itulah yang membuatku sampai sekarang tak pernah bisa menulis. Hingga cita-cita masa kecil sebagai penulis pun harus tertunda sepuluhan tahun lamanya.

Entah mengapa, selama ini ada saja alasan untuk tidak menulis. Dan kambing hitam dari segala kesempatan itu adalah karena kesempitan waktu.

Aku selalu merasa kehabisan waktu untuk menulis secara rutin. Hingga selama ini, sepanjang sepuluh tahun ini, seolah tak ada waktu tersisa untuk serius menulis. Yang ada hanyalah sambil lalu saja. Ketika ada keinginan, saat itulah aku giat menulis. Sementara kalau sedang tak ada mood, maka tak ada tulisan apapun yang dihasilkan.

Maka sungguh malu, ketika merasa diriku penulis, bahkan menjadi pengurus organisasi penulis, namun justru tak pernah menulis.

Saking malunya pada diriku sendiri, aku bahkan sampai tercenung lama. Bahwa sempitnya waktu, sepertinya hanya alasan untuk menutupi kemalasan. Hingga ketika aku mengaku penulis namun tidak menulis, rasanya tidak beda dengan orang munafik. Yang mengaku diri beriman, tapi tak meyakini rukun iman. Yang mengaku muslim tapi tidak menunaikan rukun Islam.

Karena perasaan itulah, aku semakin malu untuk selalu menyalahkan sang waktu. Dan terlecut betul ketika menyadari bahwa semua kita mempunyai waktu yang sama, 24 jam sehari semalam. Hanya tinggal kebodohan kita saja, untuk selalu tidak pernah mampu memanfaatkan sebaik-baiknya. Padahal sejak kanak-kanak, sering kali kita hafalkan ayat, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian!”

Karena tak mau rugi itulah, aku tak ingin mengkambing hitamkan waktu lagi. Tak ingin membuat alasan tidak mempunyai waktu, untuk serius menulis kembali.

Pokoknya, tak ada lagi alasan apa pun, yang berkaitan soal kebobrokanku mengatur waktu, yang menjadi pembenaran untuk tidak menghasilkan tulisan. Aku harus membuang alasan, untuk meraih impian. Karena di balik setiap alasan, yang ada hanyalah kemalasan. “Dan kemalasan pada diri kita, sering kali lebih manis dibanding madu,” begitu nasihat ulama besar Mesir, Ali Thontowi, yang makin membuatku malu.

Jadi mestinya jangan pernah merasa tak punya waktu untuk menulis. Sesempit apa pun itu, harus dijadikan kesempatan. Itulah yang kupancangkan di hatiku.

Meski jujur, sesungguhnya waktuku memanglah sangat sempit. Karena setelah kuhitung-hitung, dari 24 jam waktuku, telah habis 20 jam untuk menunaikan kewajiban-kewajibanku. Hingga untuk hakku sebagai seorang penulis, hanya tersisa 4 jam saja.

Hitungannya adalah begini. Sebagai seorang ‘kuli’ yang harus ngantor tiap hari, aku harus menepati waktu kerja 8 jam sehari. Sementara untuk persiapan dan perjalanan pulang balik kantor sudah menghabiskan waktu 2 jam. Jadi total untuk kewajibanku sebagai orang yang harus ‘ngandang’, telah kehabisan waktu 10 jam tiap hari.

Maka setelah itu, waktuku masih tersisa 14 jam lagi.

Namun itu pun harus terbagi lagi untuk kewajiban yang lain. Yang lebih banyak dan seringkali menghabiskan seluruh waktuku. Yakni kewajibanku sebagai manusia, kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga, serta kewajibanku sebagai seorang ayah.

Kewajiban pertama adalah hakku sebagai manusia normal yang butuh makan, minum, mandi, buang air, menonton berita, membaca, istirahat, tidur, berdoa, berolahraga, dan beberapa kesenangan ‘manusiawi’ lainnya.

Juga kewajiban sebagai seorang suami yang wajib memerhatikan hak istri dan keluarga. Menyediakan waktu untuk membina kehidupan rumah tangga normal, dengan komunikasi yang selalu terjaga. Meski waktu yang ada selalu membuatnya tak bisa berlama-lama menikmati kehangatan keluarga. “Yang penting kualitas, kan, Mi”, begitu alibiku yang sering ku’gombal’kan pada Ummi.

Plus sebagai ayah yang mempunyai anak kecil yang baru bersekolah TK. Harus mengantar jemput sekolah, dan memenuhi kebutuhannya bermain setiap pulang sekolah. Karena anakku memang lebih suka membuat mainan sendiri, daripada membeli mainan yang sudah jadi. Dan mengetahui ayahnya bisa membantu kreativitasnya, selalu membuatku harus meluangkan waktu untuk mengembangkan minatnya. Ada saja mainan yang dibuat tiap hari, dari barang-barang bekas yang ditemukan di mana dia  bermain.

Juga waktu yang harus kusediakan dan perhatian lebih untuk anakku yang kedua. Yang karena menderita mikrosefalus (penderita otak kecil), hingga membutuhkan perawatan ekstra. Harus terapi rutin dua hari sekali ke Rumah Sakit, karena perkembangannya terlambat. Yang mestinya umur 2 tahun sudah bisa apa saja, anakku baru bisa merangkak. Pertumbuhannnya masih seperti bayi 8 bulan. Belum bisa berdiri, memegang makanan, mengunyah makanan, bicara, apalagi berjalan. Dan terapi itu harus dilakukan selama empat tahun ke depan. Butuh kesabaran.

Hingga untuk menunaikan kewajiban-kewajiban itulah, aku sering merasa tak punya waktu untuk memenuhi hakku. Benar-benar kalau dihitung matematis, dengan keinginan untuk menjadi suami idaman dan ayah teladan, tak ada waktu untuk meluangkan memenuhi hakku menulis.

Karena kalau ingin benar-benar total, aku tak ada lagi waktu tersisa. Dari 14 jam itu, telah habis untuk menunaikan ketiga kewajiban itu.

Namun karena aku mau kembali menulis, maka semua itu tak ingin kujadikan alasan.

Dan dengan sepenuh ‘ketegaan’ pada anak istri, aku memberikan waktu 10 jam untuk semuanya. Untungnya, istriku sosok luar biasa, yang selalu mendukungku ‘segila’ apa pun rencana hidupku. Termasuk membagi waktu dengan hitungan sangat matematis begitu. Yang mungkin bagi orang lain terlalu ‘vivere pericoloso’, menyerempet bahaya.

Jadi aku merasa bukan suami yang baik, yang selalu penuh perhatian pada anak istri, karena sedikitnya waktu yang ada. Padahal itu pun sudah dengan konsekuensi berat. Aku harus sangat mengurangi jatah tidurku, yang dulu bisa sampai 4-5 jam.

Karena aku bekerja di koran, maka waktu kerjanya adalah malam hari. Berangkat pukul 4 sore, dan pulang pagi pukul 2 dini hari. Jadi waktu tidurku harus cukup hanya dengan 2 sampai 3 jam saja dalam sehari. Sepulang kerja, hingga menjelang shubuh.

Jadi dari 24 jam, telah habis total 20 jam untuk kewajibanku. Tinggal tersisa 4 jam sebagai hakku. Dan aku harus bisa membaginya untuk menulis, membaca, menggambar.

Dan semua berjalan lancar. Penulisan novel ‘Penangsang’ jilid dua pun bisa kelar. Juga novelgrafis ‘Slow in Solo’ yang penuh gambar.

Karena keadilan Tuhan, aku masih diberikan waktu utuh 24 jam. Namun yang penting lagi, selalu diberi nikmat kesehatan.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Februari 2011 pukul 22:31

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s