Catatan Kaki 52: NasSirun PurwOkartun dan Nasruddin Hoja Masih Saudara!

Standar

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor saja!”

Begitu nasehat Nasruddin Hoja ketika ada yang curhat padanya. Seorang tetangganya yang terkenal bodoh, yang sedang berkeluh kesah tentang rumahnya yang sesak. Kesumpekan yang makin terasa dengan keributan 7 anaknya yang masih kecil-kecil.

Nasehat itu pun diturutinya. Namun seminggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Nasruddin. Dan keluhannya telah bertambah. Soalnya rumah yang sudah sumpek bertambah sesak dengan adanya ayam-ayam yang bebas berkeliaran.

Mendengar itu, Nasruddin pun menenangkan, “Sabar. Semua masih baik-baik saja. Jangan  terburu ingin melihat hasilnya, sebelum semua dikerjakan. Aku kan belum selesai memberikan nasehat untukmu. Sekarang, peliharalah 5 ekor merpati di rumahmu.”

Tetangga itu pun menuruti nasehat Nasruddin. Namun minggu berikutnya dia datang lagi, dan tambah berkeluh kesah. Rumahnya makin berantakan tidak karuan. Ayam dan merpati membuat suasana makin kacau. Karena menjadi mainan ke tujuh anaknya.

Nasruddin pun tersenyum saja, “ Sabar. Aku jamin bulan depan kau akan tenang tinggal di rumahmu. Tapi peliharalah dulu 2 ekor kambing di rumahmu.”

Nasehat itu pun dilakukan juga. Dan pekan depannya, tetangga itu bukan hanya berkeluh kesah, tapi malah marah-marah, “Rumahku makin berantakan. Tambah sempit dan sesak. Ayam, merpati, dan kambing bau itu telah menambah sumpek rumahku!”

Nashrudin kembali tersenyum, “Aku kan bilang butuh waktu sebulan. Coba sekarang kau jual ayam-ayammu itu. Minggu depan kita lihat keadaan rumahmu.”

Pekan berikutnya si tetangga dengan tersenyum cerah melapor padanya. “Benar juga nasehatmu. Rumahku sekarang sudah agak lega. Nah, apa nasehat berikutnya?”

“Sekarang jual semua merpatimu. Kita lihat minggu depan bagaimana keadaan rumahmu.”

Tetangga bodoh itu pun menuruti nasehat itu. Dan minggu depannya, ia menceritakan lagi, tentang rumahnya yang terasa lebih longgar. Nasruddin pun tersenyum. Dan memberikan saran terakhirnya, untuk menjual kedua ekor kambingnya.

Setelah itu, ia pun makin tersenyum lebar, “Rumahku sekarang benar-benar longgar. Terasa luas sekali. Aku bisa tinggal dengan lapang dan lega, tidak seperti sebelumnya. Terimakasih atas segala nasehatnya.”

Nashruddin, sufi bijak dari Turki itu tersenyum simpul. Menertawakan kegembiraan tetangganya yang tak menyadari kebodohannya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat kisah itu. Kisah kebijakan Nasruddin Hoja yang pernah kubaca waktu SMP, dari sebuah buku kecil yang kubeli di kios loakan. Kisah tentang kebodohan dalam melihat apa yang kita miliki, namun sering kali tidak disyukuri.

Mungkin itulah yang terjadi denganku selama ini. Membuang waktuku dengan sia-sia, hingga untuk menulis pun selalu ada alasan tak punya waktu. Dan aku ingin memerbaikinya. Dengan jalan yang sama, sesuai nasehat Nasruddin Hoja.

Maka hari-hari ini, sesungguhnya aku sedang belajar menjadi tetangga Nasruddin yang bodoh itu. Yang ingin menikmati rumahnya yang sempit menjadi longgar. Dan aku sedang ingin menikmati kelonggaran waktuku dalam seluruh kesempitan yang ada. Justru dengan cara menambah kegiatan menulis, pada waktuku yang sudah sangat sempit itu

Bahwa waktuku untuk bisa menulis hanyalah 4 jam setiap hari. Dalam waktu sesingkat itu, aku harus bisa memanfaatkannya dengan membaca, merenung, menyimpulkan, dan menjadikannya tulisan. Dengan target setiap hari menulis 2 sampai 3 halaman.

Menulis sebanyak 3 halaman sebenarnya target yang sangat keras. Karena dari waktu yang sempit itu, tak selamanya otak lancar untuk mengalirkan ide. Meski rancangan bab telah kubuat sebelumnya dan tinggal mengembangkan, namun mood tidak selamanya baik. Maka bisa saja dalam sehari aku hanya menghasilkan halaman kosong saja.

Namun kebuntuan itu, ingin aku pecahkan. Dan caranya adalah dengan menambah tulisan. Dan itulah awal mula mencetuskan ide menulis ‘Catatan Kaki’. Yakni menulis dalam waktu cepat, 1 jam saja setiap hari, sebelum mulai menulis novel. Yang itu kulakukan untuk membuka otakku, agar mood segar, dan ide pun mengalir lancar.

Selama ini aku memilih waktu menulis pada pagi hari. Karena itulah waktu yang paling memungkinkan. Setelah mengantar anakku sekolah pada jam 8 pagi. Sampai jam 12 siang, ketika bersiap dhuhur dan dilanjutkan menjemput anakku kembali.

Dalam hitungan waktu yang sangat singkat itulah, aku harus benar-benar mampu memusatkan perhatian. Sebuah kerja keras yang sangat menguras energi. Namun harus kulakukan, karena hanya itulah waktuku. Dan tak mungkin mengurangi 20 jam waktu lainnya, dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lebih penting.

Maka sesungguhnya, dengan waktu mepet itu, aku benar-benar seperti tetangga yang bodoh itu. Karena dalam waktu yang sudah sempit, aku masih harus menyempatkan menulis ‘Catatan Kaki’ tiap hari. Dengan panjang 2 sampai 3 halaman tiap pagi.

Namun ini akan aku nikmati sepenuh hati, agar makin bisa merasakan betapa nikmatnya punya waktu luang.

Aku ingin belajar menjadi orang yang cerdas, yang bisa memanfaatkan sesempit apapun waktuku. Dan semoga bisa meningkat menjadi orang bijak, yang bisa membuat seluruh kesempitan waktu menjadi kesempatan untuk tetap menghasilkan tulisan. Hingga tak ada lagi alasan tak punya waktu untuk menuliskan pikiran dan perasaaan.

Maka hari ini, sungguh luar biasa bahagia syukurku, pernah mengenal nama Nasruddin Hoja. Bukan untuk menertawakan kebijakannya. Namun untuk mencoba menghikmati nasehat-nasehatnya, yang kadang lepas dari aturan logika normal orang biasa.

Nasruddin Hoja, adalah seorang sufi yang hidup di Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Mongolia.

Sewaktu muda, ia sering membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya. Namun karena itu, teman-temannya menjadi melupakan pelajaran sekolahnya. Hingga konon gurunya yang bijak, pernah berkata: “Kelak ketika dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan mentertawakanmu.”

Maka aku pun sepertinya mempunyai nasib begitu juga. Contoh kecilnya, ketika sesekali ingin menulis status facebook yang bijak, teman-teman yang membaca malah tergelak.

Jangan-jangan aku memang masih saudaranya Nasruddin Hoja. Siapa tahu saja.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Februari 2011 pukul 22:31

3 responses »

  1. remind me with that book, but already forget the title, story…………….but like the wisdom being left

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s