Catatan Kaki 55: Burung-Burung Benteng Vastenburg

Standar

 

Aku keluar dari kerubutan tukang becak,  ketika kudengar sebuah suara meraung keras.

Segera berlari perlahan ke depan gapura Gladhag, mengikuti kerumunan orang-orang yang tiba-tiba berlarian. Kemudian dari arah barat kulihat sebuah kereta api berjalan lambat. Namun lengkingannya sangat keras memekakan telinga.

Sejenak, ingatanku terkenang pada buku ‘Babad Solo’ yang pernah ku baca. Tentang kereta trem yang pertama ada di Solo. Mungkin itulah salah satu sisa sejarahnya.

Karena konon, di tahun 1900an masuk kendaraan baru di Solo, bernama Sepur Trem.

Sebuah kereta yang ditarik kuda, dan muat 20 penumpang. Sebuah kendaraan eksklusif pada masa itu, hingga yang naik hanyalah orang-orang Belanda dan Cina saja. Jalurnya bermula dari Benteng Vastenburg di arah timur, melewati gapura Gladag, dan terus lurus ke barat menuju Purwosari, lalu dilanjutkan ke barat lagi ke pabrik gula Gembongan di Kartasura. Bentuk keretanya hanya satu gerbong, dan dengan ditarik kuda empat ekor. Untuk menjaga kencang lari kereta, setiap 4 km kuda penariknya diganti.

Baru pada tahun 1905an, kereta bertenaga kuda itu diganti dengan lokomotif. Gerbongnya pun bertambah menjadi 10 rangkai, hingga muat lebih banyak orang. Para penumpangnya pun tak lagi hanya orang-orang Belanda dan Cina.

Dan pada tahun 1916an, jalur keretanya diubah. Yang ke arah timur ditambah hingga menuju Wonogiri, dan yang ke arah barat bertambah sampai di Boyolali. Nama perusahaannya adalah Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Kereta ini berjalan pelan dan berhenti di setiap pasar, karena banyak mengangkut pedagang dari desa-desa di sepanjang Boyolali sampai Wonogiri.

Ketika raungan makin keras, dan kereta makin mendekat, lamunanku mendadak buyar. Dan aku justru mengikuti laju kereta yang pelan dengan memotretnya dari belakang. Kereta yang selalu membuat kalang kabut orang-orang yang berada di atas jalur rel yang melintas dari timur ke barat. Tepat di depan gapura Gladag.

Raungannya yang sangat keras, memberi tanda pada para pemakai jalan untuk minggir dari jalur kereta, karena sang kereta memang berjalan membelah kota.

Karena asyiknya mengikuti laju kereta, tak terasa aku berjalan terus ke arah timur. Sampailah di depan sebuah bangunan tua yang mengingatkanku pada sebuah benteng peninggalan Belanda. Orang-orang lebih akrab menyebutnya dengan Beteng.

Benteng ini dulu didirikan Belanda untuk mengawasi kegiatan keraton. Sebagai bentuk penindasan kolonial yang makin kuat mencengkeram, hingga keraton semakin kehilangan kekuasaannya dan tak bisa menentukan kehidupannya sendiri. Maka letaknya pun tepat di depan pintu masuk keraton, di sebelah timur Gladag.

Bangunan yang sangat kokoh ini bernama Benteng Vastenburg, yang berarti ‘istana yang dikelilingi tembok kuat’. Didirikan Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff  pada tahun 1775 hingga 1779, sekitar 32 tahun setelah berdirinya Keraton Solo.

Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang sama untuk teknik peperangan yang disebut seleka. Di sekelilingnya terdapat parit lebar yang berfungsi sebagai pertahanan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Di dalamnya terdiri dari beberapa bangunan barak militer. Dengan di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan.

Sebuah benteng pertahanan yang sangat penting di jamannya. Bahkan konon tentara Belanda yang diberangkatkan untuk menghancurkan pasukan Pangeran Diponegoro adalah prajurit dari benteng ini.

Aku ingin masuk ke dalamnya. Karena menurut kabar, katanya kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Sebagian besar bentuk bangunan telah hancur. Hanya tembok benteng dan pintu gerbang utama yang masih kokoh. Keseluruhan lahan ditumbuhi ilalang lebat dan tinggi. Parit-paritnya pun ditumbuhi semak belukar tempat ular berbisa.

Namun pagar seng yang mengitari lahan seluas 40 ribuan meter persegi ini menghalangiku untuk melihat ke dalamnya. Hingga hanya bisa berkeliling melihatnya dari luar pagar.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada serombongan anak-anak kecil yang sedang berkerumun di bawah pohon klandingan yang lebat. Pohon rindang yang tumbuh di depan gerbang benteng yang telah melapuk. Tanpa pikir panjang, aku pun meloncat melompati pagar pembatas.

Ternyata anak-anak kecil itu sedang berburu burung prenjak. Aku pun berkenalan dengan mereka. Dan menanyakan caranya menjebak burung prenjak. Lalu ramai-ramai enam oran anak kecil itu menceritakan padaku dengan bangganya. Tentang keahlian mereka.

Caranya yaitu dengan menggunakan umpan seekor burung dan sebatang kayu berpulut. Burung umpan mereka letakkan dalam sangkar dan digantungkan di salah satu dahan. Sementara sebatang kayu kering melintang di bawahnya, dengan balutan pulut (getah pohon nangka) untuk menjebak burung yang terpikat kicauan sang umpan.

Burung umpan yang telah pandai berkicau, terus menyanyi di dalam sangkarnya. Kicauannya tersebut akan memancing burung-burung yang sedang bebas beterbangan.

Ketika mereka tertarik, burung-burung itu akan mendekat pada sang umpan. Mereka akan hinggap di sekitar sangkar, untuk berkicau bersamanya. Ketika mereka menginjak kayu berpulut, maka mereka terjebak dan tak bisa terbang lagi. Getah nangka yang sangat lengket akan membuat kaki dan badannya tak bisa bergerak. Burung prenjak pun terjebak, anak-anak bahagia bersorak.

Aku pun asyik berburu burung bersama anak-anak itu.

Kenanganku teringat pada masa kecil dulu di kampung. Yang juga suka menjebak burung. Cuma caranya berbeda. Bukan dengan sangkar dan getah nangka. Tapi cukup dengan tali panjang dan tebaran biji-bijian.

Tali panjang dibuat sebagai penjebak, dan biji-bijian sebagai umpan. Burung yang mendekat untuk memakan biji-bijian itu akan menggerakkan tali penjebak, dan membuat kaki sang burung terikat kencang dan terentang tak bisa terbang.

Sungguh aku bahagia hari itu. Dan aku tak menyangka, di tengah-tengah jantung kota, kehidupan berburu burung yang dulu kulakukan di pinggiran hutan, ternyata masih ada.

Bahkan ketika berjalan keluar dari halaman beteng yang lebih menyerupai hutan kota, kulihat beberapa kelompok orang yang juga tengah berburu burung yang sama.

Aku pun bertanya pada mereka.Yang menurutku beda dengan anak-anak kecil tadi, yang mencari burung sekedar untuk iseng saja. Orang-orang ini sepertinya telah menjadikan mencari burung sebagai pekerjaannya.

“Lumayan, mas. Kalau dapat yang sudah bisa berkicau, bisa dijual hingga laku sampai 200 ribu. Tapi kalau yang belum berkicau, ya paling 50 ribu.”

Aku pun tersenyum, mendengarkan cerita mereka. Yang tengah membanggakan nasib mujurnya, ketika dalam sehari pernah menjebak lima ekor burung. Hingga kerja sehari, mendapatkan satu juta.

“Apesnya kalau dapat yang warnanya kelabu. Nggak laku di pasaran. Paling-paling cuma dihargai 5 ribu,” tuturnya menutup perbincangan, karena konon hari itu dia belum mendapatkan satu pun burung.

“Rejeki memang kadang seperti burung. Kadang dikejar susah payah tak didapatkan, namun kadang tanpa disangka bisa datang tiba-tiba,” batinku tersenyum.

Kemudian ku meloncat lagi melompati pagar pembatas untuk keluar dari Beteng. Pagar pembatas yang dibangun pengembang yang mengklaim sebagai pemilik lahan Beteng.

Bangunan yang sarat nilai sejarah itu tengah terancam keberadaannya. Monumen sejarah bangsa yang seharusnya dikuasai oleh negara, entah bagaimana ceritanya, sekarang justru dimiliki oleh swasta. Bahkan sempat beredar kabar akan dihancurkan karena hendak dibangun pusat belanja dan hotel berbintang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 15 Februari 2011 pukul 22:26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s