Catatan Kaki 56: Mulut Sobek Sang Tejamantri

Standar

 

Niatku ke Gladag sebenarnya untuk mengganti kaca mata, yang pecah karena keinjak tanpa sengaja.

Di sepanjang Gladag memang bertebaran kios-kios optik kaki lima. Dan aku punya langganan di sana. Harganya murah, hasilnya memuaskan, namun tak berkesan murahan.

Kiosnya asyik dan unik. Ada sebatang beringin rindang berdiri tepat di depannya. Di pohon itu terpasang nama kiosnya, plus peraga pengukur mata. Jadi kalau di optik besar pengukur plus minus terpasang di dinding, ini cukup di salah satu batang beringin.

Dan untuk mengukur berapa minusnya, aku duduk di kursi kiosnya, dengan memandang ke pohon beringin. Menatap alat peraga itu. Mataku pun mulai dites, untuk membaca huruf-huruf yang tertera di sana, dengan berganti-ganti ukuran lensa.

“Coba Mas, dibaca baris ke dua dari bawah,” katanya sambil memasang lensa minus tiga di kaca mata peraga, yang terpasang di depan mataku.

“Gak kelihatan, mas,” jawabku karena baris-baris kecil itu memang kabur dalam pandangan mataku.

“Tapi Sampeyan gak buta huruf, kan?” tukasnya bercanda, sambil mengganti lagi dengan lensa yang lebih tebal ukuran minusnya.

“Sialan,” batinku merutuk mendengar celetukannya. Namun justru itu, aku cocok dengan pelayanannya, bahkan kemudian menjadi pelanggannya, selama hampir lima tahun ini.

Dan di pohon itu, bukan hanya plang papan nama dan peraga saja yang terpasang.  Tapi juga bertengger sangkar-sangkar burung, yang kicauannya turut menyemarakkan suasana. Aku sering memejamkan mata, ketika sedang menunggu ganti lensa. Sambil membayangkan berada di tengah alam bebas yang cukup mendamaikan jiwa.

Namun yang lebih mencengangkan adalah sebuah televisi pun turut terpasang di sana. Sebuah televise warna 20 inch yang berada di dalam kotak kayu, dan digantungkan di salah satu dahannya. Sebuah benda yang cukup menjadi hiburan di sela-sela mereka menunggu pelanggan. Juga bagi mereka yang menunggu kaca mata yang telah dipesan.

Dari televisi itu, aku sempat menikmati kehebohan nonton bersama. Ketika kasus rekaman Anggodo disiarkan di Mahkamah Konstitusi. Semua mengikuti dengan seksama dan penuh perhatian. Berkumpul orang-orang yang biasa mangkal di sepanjang Gladag. Dari tukang optik, tukang parkir, tukang stiker, pedagang kaki lima, asongan, loper koran, tukang korek gas, pemulung, pengangkut sampah, hingga pedagang hik. Beberapa bahkan berkomentar layaknya pengamat hukum dan politik. Sebuah tontonan yang sangat menghibur, melebihi sinetron dan gosip artis.

Menurut tukang optik, ternyata kacamataku agak lama dibuatnya, karena yang kupesan yang tanpa frame. Maka untuk mengisi waktu, aku pun jalan-jalan di seputar Gladag.

Aku berjalan ke sebuah gedung yang di depannya berdiri patung Bimaruci. Sebuah patung yang menggambarkan Werkudara atau Sang Bima tengah bertarung dengan naga laut. Aku tertarik karena pada waktu kecil, aku pernah menggambar adegan yang sama.

Ingin masuk, tapi terlihat gedungnya sepi seperti tanpa penghuni. Kubaca plang di atas pintu utama, tertulis ‘Balai Kerajinan Wayang Kulit’. Aku pun penasaran. Hatiku tertarik mengetahuinya, karena waktu kecil juga suka membuat wayang. Tapi yang dulu kubuat bukan dari lembaran kulit, melainkan dari kertas kardus.

Sejak kecil aku sudah suka wayang, bahkan sempat bercita-cita jadi dalang. Hingga aku pun hafal nama tokoh-tokohnya, berikut bentuk-bentuk wayangnya.

Aku pun berkeliling ruangan, melihat wayang yang sedang dibuat oleh dua orang  perajin. Yang satu sedang menggarap wayang Hanoman. Seekor kera sakti yang menjadi tokoh utama dalam cerita Ramayana. Pahlawan yang menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Waktu aku kecil, aku pun pernah membuat wayang Hanoman. Sedang orang yang satunya lagi tengah membuat wayang yang terlihat ganteng. Seorang sosok pemuda tampan yang mengingatkanku pada tokoh Samba.

Tapi aku tidak yakin, karena tokoh itu tidak persis benar dengan Samba anak Sri Kresna. Aku pun bertanya pada perajin yang sedang mbabar (memberi warna) wayang tersebut.

“Ini namanya Tejamantri. Togog waktu masih muda…”

Aku tersentak sejenak. Ternyata sungguh berbeda dengan yang selama ini kita ketahui. Dan aku benar-benar baru tahu seperti inilah sosok Togog ketika masih tampan.

Waktu kecil kudapatkan dongengan tentang asal usul Togog. Bahwa konon, Sang Hyang Wenang mempunyai anak bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal ini mempunyai istri bernama Dewi Rekawati , putri raja kepiting raksasa bernama Rekatama.

Pada suatu hari Dewi Rekawati, sang putri kepiting itu beranak dengan cara bertelur. Dan seketika itu juga anak yang berwujud telur itu terbang ke kahyangan menuju Sang Hyang Wenang. Telur itu menetas sendiri kemudian muncul tiga makhluk yang berasal dari kulit telur, putih telur dan kuning telur.  Dan sebagai seorang ayah, ia menamai ketiga anak yang lahir bersamaan tersebut. Anak yang berasal dari kulit telur dinamai Tejamantri , dari putih telur adalah Ismaya dan yang dari kuning telur itu Manikmaya.

Pada suatu hari mereka terlibat pertengkaran karena mempermasalahkan siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak, sebagai penguasa bumi dan langit. Manikmaya menyarankan agar diadakan pertandingan saja, untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan bagi yang  menang, dialah yang berhak menjadi pewaris penguasa alam raya. Dan mereka sepakat, pertandingannya adalah dengan menelan gunung Mahameru dan kemudian memuntahkannya kembali.

Tejamantri yang sangat bernafsu melakukannya lebih dulu. Ia berusaha menelan dengan memasukkan ke mulut dengan dikulum terlebih dulu. Tapi ternyata mulutnya tidak sanggup, bahkan menjadikan bibirnya melebar dan sobek.

Sedangkan Ismaya mencoba dengan langsung menelannya, tanpa mengulum. Memaksanya langsung masuk kerongkongan untuk kemudian ke perut. Tapi ternyata, ia tak bias melanjutkan pertandingan. Karena ia tidak bisa mengeluarkannya kembali. Akhirnya perut Ismaya melebar membesar seperti hendak meletus.

Pertandingan itu tidak bisa dilanjutkan, karena gunung yang jadi alat perlombaan tidak bisa dikeluarkan dari perut Ismaya. Maka dengan kelicikan, Manikmaya menyatakan diri sebagai pemenangnya. Dan dialah yang melanjutkan takhta atas alam raya, dan bermukim di kahyangan. Sementara kedua saudaranya harus turun ke bumi, menjadi pengasuh dan punakawan di dunia.

Tejamantri yang mulutnya sobek kemudian menjadi Togog, menjadi penasehat para tokoh jahat. Sementara Ismaya yang perutnya membesar menjadi tokoh yang bernama Semar, yang menjadi sang pamomong para kesatria.

“Wayang adalah bayang-bayang. Menjadi gambaran perlambang untuk manusia. Karena sesungguhnya wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan,” kata sang perajin sambil terus memberi warna pada tokoh Tejamantri, sebelum berubah menjadi Togog.

“Sepeti Tejamantri ini. Bagus rupanya, tampan wajahnya. Tapi sombong akan kesaktiannya, gunung yang besar hendak ditelan. Maka beginilah akibatnya. Mulutnya sobek sangat lebarnya. Dan meskipun anak Dewa, hanya menjadi seorang Togog hina. Yang omongannya tak pernah dihiraukan, meski penuh petuah kebijakan!”

Perajin yang sedang mbabar Hanoman menimpali,  “Itu persis seperti koruptor di Indonesia, yang rakusnya bukan kepalang. Ingin menelan apa saja. Bukan hanya uang rakyat, tapi seluruh kesejahteraan kita disikat juga. Semoga besok di akhirat mereka itu sobek semua mulutnya. Togog-togog Indonesia yang bakal menjadi isi dasar neraka!”

Aku tersenyum mendengar serapahnya. Yang mendadak seperti pengamat politik saja.

“Beda dengan Hanoman. Meski pun kera, binatang yang hina, namun karena berbudi pekerti tinggi, maka kita mengenangnya sebagai seorang Resi, sosok yang suci.”

Aku sempat mengiyakan, sambil berpamitan untuk melanjutkan jalan-jalan.

Mandadak teringat ucapan seorang kawan, yang sekarang telah menjadi anggota Dewan. Bahwa perilaku kita kadang memang lebih buas dari para binatang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 16 Februari 2011 pukul 22:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s