Catatan Kaki 57: BTC atau Bathangan Trade Centre Atau Pusat Perbelanjaan Yang Terletak Di Tempat Bangkai

Standar

 

BTC atau Bathangan Trade Centre artinya adalah pusat perbelanjaan yang terletak di tempat bangkai.

Dan aku kemarin baru saja berziarah dari tempat itu. Sebuah nama yang mengusikku sekian lama, sejak aku SD di kelas lima.

Ketika SD dulu, aku banyak belajar dari buku yang kupinjam di perpustakaan. Buku-buku pelajaran itu kubawa pulang, untuk teman belajarku di rumah. Dan kurasa, buku bantuan pemerintah itulah yang sangat membantuku bisa berprestasi di sekolah.

Karena seringnya membuka buku itu, aku sampai hafal seluruh tulisan di tiap halamannya. Bahkan sampai tulisan nama penerbitnya, yang bisa kulihat dari sampul belakang buku-buku tersebut. Salah satu yang masih kuingat adalah Penerbit Pabelan, sebuah penerbit buku pelajaran dari Solo.

Sejak itu, nama Pabelan terkenang di ingatanku, bahkan sampai dewasa. Hingga sepuluh tahun kemudian aku ke Solo, dan menemukan kantor penerbit itu. Berdiri megah di tepi jalan Jogja-Solo, di sebuah kampung bernama Pabelan.

Dan nama Pabelan pun semakin lekat di hati, karena setelah satu tahun bekerja, aku pindah ke kos di sebuah perumahan yang berada di kampung Pabelan. Letaknya di sebelah utara penerbit Pabelan, tepat di belakang komplek kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dengan beberapa mantan karyawan penerbit Pabelan, aku kemudian mendirikan usaha penerbitan.

Namun aku berdiam di kampung Pabelan hanya bertahan 4 tahun, karena harus pindah kontrakan. Rumah yang aku kontrak selama 2 tahun, dan baru kutempati 1 tahun mendadak dijual oleh pemiliknya karena bisnisnya bermasalah. Konon, untuk menutupi tanggungan hutang, ia jual mobil, tanah, dan rumah yang kutempati.

Aku pun pindah ke arah selatan, ke sebuah kampung bernama Gembongan. Dan sampai hari ini, aku betah berdiam di kampung ini. Dengan ketentraman yang lebih nyaman dibanding ketika masih di Pabelan, yang berada di batas kota Solo.

Dan nama Pabelan itu membuatku terkenang pada Raden Joko Pabelan. Sebuah nama yang pada waktu SD kutemukan dalam sebuah pagelaran kethoprak tobong.

Diceritakan dalam panggung kethoprak, Pabelan adalah seorang anak tunggal Tumenggung Mayang. Pemuda rupawan yang suka sekali memikat para perawan dengan paras ketampanannya. Telah banyak gadis-gadis yang terpikat dan merelakan kehormatannya. Bahkan juga istri-istri pejabat yang dibuat tergila-gila kepadanya.

Sang ayah sangat tidak suka dengan perilaku anaknya tersebut. Yang dianggap bisa menurunkan kewibawaannya, sebagai seorang tumenggung bawahan Kerajaan Pajang.

Telah berkali-kali Pabelan dinasehati ayahnya, agar menghentikan kebiasaannya. Menodai banyak gadis dan istri pejabat. Bahkan juga ditawari untuk segera menikah, dengan putri pejabat mana pun. Asal bisa berhenti dari kebiasaannya merenggut kehormatan para perawan, dan merusak kebahagiaan rumah tangga orang.

Tapi Pabelan menolak segala tawaran untuk melakukan pinangan. Ia tetap menyukai hidup melajang sebagai seorang kumbang jalang. Yang terus menghisap madu sari dari sebanyak mungkin kembang di kadipaten Pajang.

Tumenggung Mayang sangat jengkel dan marah pada anak tunggalnya. Yang semakin hari bertambah mencemarkan nama baiknya. Hingga saking marah dan bingungnya menghentikan kebejatan Pabelan, ia pun menantang Pabelan anaknya.

“Kalau engkau merasa seorang perayu yang hebat, jangan kepalang tanggung. Jangan hanya perempuan desa dan istri-istri pejabat yang kau berikan rayuan. Tapi cobalah kau taklukan hati Sekar Kedaton Ratu Hemas sang putri Sultan Pajang. Kalau kamu berhasil memikatnya, barulah kau boleh berbangga. Kau akan menjadi pembicaraan rakyat Pajang, dan akan tersohor namamu. Menikahi putri terkasih seorang raja terbesar di Tanah Jawa. Tidak seperti sekarang, hanya menjadi pergunjingan karena perbuatan nistamu yang selalu mengganggu anak dan istri orang.”

Dengan senyum jumawa, Pabelan pun menerima sindiran ayahnya yang bernada tantangan. Ia akan membuktikan kemampuannya dalam memikat hati perempuan. Dan akan dibuktikan keampuhan rayuannya.

Hanya saja, ia mempunyai kendala, “Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengan putri Sekar Kedaton, yang tak pernah keluar dari kaputrennya?”

Dengan senyuman Tumenggung Mayang memberikan pertolongan, “Putri Sekar Kedaton terkenal sangat menyukai bunga. Dan tiap hari, embannya selalu datang ke pasar untuk mencari kembang segar bagi putrinya. Kau temuilah emban itu di pasar, dan berikanlah kembang untuk tuan putrinya.”

Tumenggung Mayang pun membekali sang anak seikat bunga cempaka, untuk jalan mendekati sang putri raja. Dan rencana itu pun dijalankan oleh Pabelan, untuk bisa berkenalan dengan Sekar Kedaton. Bunga cempaka yang telah diberi mantra pengasihan oleh ayahnya, dititipkan Pabelan pada emban putri raja Pajang tersebut.

Dan lancarlah rencana Tumenggung Mayang untuk sang anak tunggal tersebut. Karena keesokan harinya si emban menyampaikan pesan tuan putrinya, yang bermaksud mengundang Pabelan datang ke keputren Pajang.

Pabelan pun meminta kembali bantuan ayahnya, “Kerajaan Pajang sangat tinggi dan tebal temboknya. Tak mungkin bisa masuk, kalau harus meloncat. Dan tak mungkin diijinkan prajurit jaga, kalau melewati gerbangnya. Bagaimana caranya, ayah?”

Tumenggung Mayang memberikan jalan,” Tembok Pajang akan ayah turunkan dengan kekuatanku. Setelah itu kau bisa meloncat, dan tembok aku kembalikan semula. Dan hafalkan mantraku, ketika nanti kau akan kembali meninggalkan kaputren, agar tembok itu memendek kembali.”

Dengan mantra Tumenggung Mayang, tembok benteng Pajang pun bisa diloncati Pabelan. Dan malam itu ia pun berhasil menebarkan rayuannya. Sang putri kerajaan Pajang berhasil takluk bahkan tergila-gila kepadanya. Pabelan akhirnya bisa asyik masyuk dengan sang putri Sekar Kedaton, anak Joko Tingkir dari seorang istri selir.

Paginya, Pabelan ingin keluar dari kaputren Pajang. Rapal mantra dari ayahnya dibacakan untuk bisa menundukkan benteng keraton. Namun berkali-kali dibaca, benteng tembok tebal yang melingkari kawasan keraton tak juga menunduk. Karena tanpa sepengetahuan Pabelan, sebenarnya Tumenggung Mayang tak memberikan mantra yang sebenarnya. Dan menantang Pabelan untuk menaklukan hati Sekar Kedaton hanyalah cara untuk memberi pelajaran baginya, yang tak bisa lagi mendengarkan nasehatnya.

Karena tak bisa keluar dari kaputren, akhirnya Pabelan berdiam di kamar Sekar Kedaton. Dan berhari-hari Sekar Kedaton tak keluar kamarnya. Asyik bercengkerama dengan Pabelan, yang telah membuatnya tergila-gila. Karena mantra pengasihan dari bunga cempaka yang telah diterimanya.

Karena hampir sepekan Sekar Kedaton tak keluar kamar, hal itu mengundang curiga dari para emban pengasuhnya. Apalagi sempat terlihat, ada sosok laki-laki berada di kamarnya. Kecurigaan itu dilaporkan sang emban pada prajurit jaga, yang kemudian disampaikan pada sang Sultan Hadiwijaya, ayah Sekar Kedaton.

Amat marah Sultan Hadiwijaya sang Joko Tingkir ketika mengetahuinya. Raja Pajang itu langsung memerintahkan Tumenggung Surakerti untuk menangkap lelaki yang berada di kaputren. Kawasan yang seharunya tak boleh ada seorang pun laki-laki berada di sana.

Pabelan pun langsung ditangkap oleh prajurit Pajang. Dan tanpa ampun lagi, ia langsung digelandang keluar keraton. Dan tanpa perlawanan, puluhan prajurit  segera menghujaninya dangan tusukan keris di dadanya. Dan matilah Pabelan seketika dengan bersimbah darah.  Setelah itu, mayatnya dibuang ke Kali Laweyan.

Mayat pemuda yang hanyut itu terus terbawa arus ke arah timur. Hingga melewati aliran Sungai Pepe yang letaknya di timur desa Solo. Di situlah mayatnya tersangkut akar-akar pohon di pinggiran sungai.  Oleh Ki Gede Solo, sesepuh desa yang pertama melihatnya mencoba untuk mendorongnya ke tengah agar terbawa arus ke Bengawan Solo.

Tapi tiap didorong, selama tiga hari berturut-turut, esok paginya mayat tersebut tetap kembali ke tempatnya. Tetap menyangkut di akar-akar pohon pinggiran sungai. Seolah sebuah pertanda, bahwa ia ingin dimakamkan di desanya. Maka mayat Pabelan pun dimakamkan olehnya, tak jauh dari tempat jasadnya tersangkut, di barat desa Solo.

Tempat pembunuhan Raden Pabelan, konon yang sekarang menjadi nama kampung Pabelan. Sementara tempat dibuangnya mayat, diabadikan menjadi kampung Gembongan. Gembongan berarti tempat mayat, karena berasal dari kata gembung, yang dalam bahasa jawa berarti mayat. Dan letaknya di sebelah utara dari kampung yang sekarang bernama Mayang, yang dulu menjadi kadipaten Tumenggung Mayang.

Sedangkan tempat tersangkutnya mayat Pabelan sekarang bernama kampung Sangkrah. Berasal dari bahasa Jawa sangkrah yang artinya tersangkut. Kemudian tempatnya dikuburkan sekarang bernama kampung Bathangan. Berasal dari bahasa Jawa bathangan yang berarti tempat bangkai.

Sampai sekarang, kuburan Pabelan pun dikenang orang sebagai makam Kyai Bhatang. Dan banyak yang mendatanginya, untuk meminta berkah. Untuk mendapatkan ajian pengasihan, seperti yang dulu dimiliki Raden Joko Pabelan.

Dan kemarin aku baru datang ke sana. Setelah lama penasaran mencarinya, dan kesulitan untuk menemukan tempatnya. Karena makam itu ternyata berada di sebuah tempat yang tak pernah kukira sebelumnya. Yakni berada di tengah-tengah areal pusat perbelanjaan Benteng Trade Centre. Tepat berada di belakang kawasan pusat niaga tersebut.

Pusat perbelanjaan itu dinamakan Beteng Trade Centre, karena letaknya persis di selatan Benteng Vastenburg. Orang Solo memang menyebut ‘benteng’ dengan nama ‘beteng.’

Dan dalam perjalanan pulang, aku sempat tercenung. Karena di areal itu terdapat makam Kyai Bathang, bagus juga kalau diganti menjadi Bathangan Trade Centre. 

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Februari 2011 pukul 22:47

One response »

  1. Apart from all these facts, London today gets the recognition of being
    one from the most visited tourist destinations that draws millions
    of tourists annually for this city. Those shall forever remain
    within this bastion of civilization. There are lots of on-line corporations that assist you reserve an accommodation before for almost
    anywhere worldwide.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s