Catatan Kaki 61: Ketika Meriam Hanya Menjadi Souvenir Pajangan

Standar

Sitinggil merupakan titik pusat kewibawaan kerajaan.

Karena di tengah Sitinggil terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, yang merupakan singgasana raja ketika bertahkta. Oleh karenanya, Sitinggil diyakini orang Jawa sebagai pancering prabawa yang mempunyai daya magis penuh aura.

Maka dulu hanya para sentana dan nayaka, yakni para kerabat dan pejabat kerajaan saja yang diperbolehkan memasukinya. Karena Bangsal Manguntur Tangkil merupakan tempat yang sangat terhormat, yang tak sembarang orang boleh berada di sekelilingnya.

Namun sekarang, siapa saja orang boleh datang ke sana. Terutama para wisatawan yang ingin melihat langsung singgasana raja yang terpasang di tengah Bangsal Sewayana. Berada membelakangi Bale Manguneng yang merupakan tempat sangat keramat, karena di dalamnya tersimpan pusaka kerajaan, Kyai Setomi yang siapa pun tidak boleh melihat.

Dan bukan hanya mereka yang ingin melihat singgasana raja saja. Karena sering kali kutemukan banyak pedagang asongan yang juga turut melepas lelah di aula. Bahkan tidur dengan nyenyak di sekeliling Bangsal Sewayana, Bale Manguneng dan Bangsal Witana. Sesuatu yang tak mungkin terjadi pada jaman dulu, ketika Sitinggil masih menjadi tempat yang benar-benar terhormat. Kawasan yang selalu dijaga rapat sejak dari Kori Mijil hingga Kori Mangu, yang menjadi pintu satu-satunya dari Pagelaran dan Kamandungan.

Untuk menunjukkan Sitinggil sebagai pusat kewibawaan kerajaan, kawasan ini dibuat lebih tinggi dibanding bangunan lainnya. Bahkan untuk makin memperlihatkan kewibawaannya sebagai daerah aman kerajaan, kawasan ini pun diperkuat dengan sepuluh meriam sebagai bentuk pertahanan. Maka di depan Sitinggil terpancang meriam-meriam itu dengan moncong mendongak menantang menghadang menghadap utara.

Karena kalau dilacak dari sejarah, letak keraton berada di sebelah selatan kantor gubernur jenderal Belanda. Yang juga berhadap-hadapan dengan Benteng Vastenberg, benteng pertahanan Belanda yang berada di timur laut alun-alun keraton. Jadi pemasangan meriam tersebut, seolah menggambarkan kewibawaan kerajaan, terhadap keberadaan Belanda yang selalu ingin ikut campur permasalahan.

Maka sampai hari ini, di pelataran Bangsal Sewayana terpancang delapan moncong meriam, sedangkan di depan Kori Mijil terpasang dua buah meriam. Meriam-meriam yang diyakini sebagai jimat keramat, hingga senjata pelontar bola-bola api itu pun diberi nama panggilan terhormat ‘Kanjeng Kyai’.  Bahkan karena telah dianggap sebagai pusaka, seperti juga manusia, merekapun dipasang-pasangkan satu dengan lainnya.

Misalnya meriam Kanjeng Kyai Bringsing yang terpasang di ujung barat halaman. Meriam pemberian Kerajaan Siam dari Thailand ini berpasangan dengan Kanjeng Kyai Pamecut peninggalan kerajaan Mataram yang terpasang di ujung timur halaman.

Lalu di sebelahnya, terdapat meriam Kanjeng Kyai Bagus yang berpasangan dengan Kanjeng Kyai Alus, yang keduanya adalah pemberian Belanda, melalui gubernur jenderal Van Der Leen. Kemudian pasangan berikutnya adalah meriam Kanjeng Kyai Nangkula dan Kanjeng Kyai Sadewa yang juga pemberian VOC Belanda.

Dan yang terakhir adalah meriam Kyai Kumbarawa dan Kyai Kumbarawi. Sepasang senjata peninggalan kerajaan Mataram ini sekarang terpasang di atas Kori Mijil. Tepat mengapit jalan berundak yang berada di kanan kiri jalan menuju Sitinggil.

Sementara di ujung bawah, di kanan kiri Kori Mijil terdapat sepasang meriam lagi. Meriam yang diberi nama Kyai Swuh Brastha dan Kyai Segara Wana. Kedua meriam yang konon peninggalan kerajaan Kartasura, sebelum pindah ke Surakarta.

Nama Swuh Brastha sesungguhnya berarti memberantas musuh. Karena dalam bahasa Jawa, swuh adalah musuh dan brastha artinya memberantas. Jadi keberadaan meriam ini adalah sebuah senjata yang digunakan untuk menghancur leburkan musuh.

Namun kalau dilacak dari sejarah keraton, yang dianggap sebagai musuh bukanlah Belanda yang telah menjajah mereka. Melainkan justru para perongrong kekuasaan raja yang ingin menggulingkannya. Yakni mereka yang merasa tidak sepakat dengan kebijakan kerajaan, karena telah bertekuk lutut di bawah ketiak Belanda.

Sebab demikianlah yang terbaca dari sejarah. Termasuk berpindahnya keraton Solo dari Kartasura ke Surakarta juga karena disebabkan sebuah penyerangan ‘musuh’. Keraton Kartasura di bawah kekuasaan Paku Buwono II, diserang oleh saudaranya, Raden Mas Garendi yang tak sepakat dengan kebijakan keraton, yang tunduk pada perintah kolonial.

Dan untuk memadamkan gerakan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning itu, Paku Buwono II meminta bantukan Belanda. Hingga raja yang terbirit-terbirit terusir dari Kartasura dan berdiam di Ponorogo itu pun bisa kembali mendapatkan takhtanya. Karena Belanda yang berpusat di Semarang berhasil menghancurkan kekuatan Sunan Kuning.

Namun bantuan Belanda tentu bukan cuma-cuma. Sebab sejak jaman Mataram, ketika mereka membantu Amangkurat, selalu ada perjanjian menukarnya dengan lahan kerajaan. Hingga setiap ada konflik, Belanda dengan suka rela membantu penguasa yang bertikai, karena dengan imbalan mendapatkan daerah kekuasaan. Dan begitu terus menerus ketika kekuasaan Mataram berpindah ke Solo di bawah dinasti Paku Buwono. Hingga keraton pun makin menciut wilayah kekuasaannya.

Termasuk juga ketika Belanda diminta untuk membantu membangun kerajaan yang baru, di kota Solo sekarang. Paku Buwono II menulis surat perjanjian, yang antara lain berbunyi, “Inilah surat perkara melepaskan terhadap keraton Mataram. Dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Hing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama. Ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu, keratuan ini diserahkan pada Kanjeng Tuwan Djohan Baron Pan Hogendorep….”

Sebuah surat yang dikirimkan pada tahun 1749 pada gubernur jenderal Belanda, Djohan Baron Van Hohendorv. Yang isinya sarat dengan merendahkan diri sebagai penguasa tertinggi di Jawa. Dan meninggikan pemerintahan Belanda secara sangat berlebihan.

Belanda yang di masa Sultan Agung dianggap musuh, oleh keturunannya justru dianggap sahabat bahkan saudara. Diperlakukan sebagai sosok yang sangat dihormati oleh para penguasa Mataram. Hingga para gubernur jenderal Belanda dipanggil dengan sebutan terhormat ‘Eyang’, dan komandan militer lokal dipanggil dengan sebutan ‘Romo’. Yang setiap kedatangannya selalu disambut dengan upacara kebesaran kerajaan, sebagai bentuk penghormatan besar-besaran. Sebuah pelecehan kedaulatan yang makin menghilangkan kewibawaan keraton sebagai kekuasaaan di Jawa, yang dulu diperjuangkan leluhurnya.

Maka sepertinya, tepatlah penamaan meriam pasangan Kyai Swuh Brastha dengan nama Kyai Segara Wana. Dalam bahasa Jawa, segara adalah lautan dan wana adalah hutan. Sebagai penanda telah lepasnya kekuasaan keraton Solo atas penguasaan lautan dan hutan. Karena sang raja telah bertekuk lutut dalam cengkeraman kolonial Belanda.

Sebab kekuasaan lautan yang dimiliki kesultanan Demak telah lepas dari tangan kerajaan Pajang, yang merupakan kelanjutan dari Demak. Dan kekuasaan atas hutan-hutan yang merupakan kawasan terbesar Pajang pun kembali lepas dari tangan Mataram, sebagai kerajaan penerus kekuasaan Pajang.

Maka sesungguhnya, keberadaan meriam yang terpasang sedemikian banyaknya, sepertinya tidak benar-benar untuk menjaga kewibawaan raja. Bahkan kalau pun diniatkan begitu, sebenarnya hanya kekuasaan semu saja. Karena keraton tak lagi mempunyai kekuasaan yang mutlak atas keputusannya sendiri.

Sebab setiap kebijakan kerajaan, harus selalu melalui persetujuan Belanda. Dan karena terikat perjanjian, raja pun tak lagi bisa berkutik. Bahkan sosok patih, yang merupakan perdana menteri, bukan hanya bertanggungjawab terhadap raja. Melainkan juga kepada gubernur jenderal Belanda, yang mempunyai hak mengangkat dan memberhentikannya.

Karenanya tak heran, keberadaan meriam pun tak lagi untuk menghancurkan musuh. Dan  tak pernah sekali pun senjata-senjata itu digunakan sebagai mana mestinya sebuah senjata. Sebab dalam sejarah keraton Solo, meriam-meriam itu justru dialih fungsikan sebagai penanda dimulainya acara-acara kebesaran kerajaan. Dibunyikan ketika kerajaan akan mengadakan grebegan, jumenengan, jendralan, dan upacara lainnya.

Dan masih tersisa satu meriam lagi yang berada di Sitinggil. Yakni meriam yang tersimpan di Bangsal Manguneng, di belakang singgasana raja. Meriam yang dianggap pusaka paling sakral yang bernama Kanjeng Nyai Setomi. Sebuah meriam yang dianggap keramat, hingga tak boleh sesiapa pun boleh melihat. Maka tempat penyimpanannya pun dibuat rapat dengan dikelilingi tirai tebal yang menutupinya.

Kalau kita pernah ke Musium Fatahillah di Jakarta, pasti pernah melihat Meriam Si Jagur. Meriam besar yang pada ujungnya membentuk tangan dengan jempol terjepit antara telunjuk dan jari tengah. Meriam yang konon juga dipercaya bisa menjadi perantara terkabulnya keinginan untuk memiliki keturunan. Dengan jalan mengusapkan perut perempuan di ujung jempol meriam Si Jagur.

Nah, meriam Nyai Setomi ini dipercaya merupakan pasangan Si Jagur. Karena Meriam Si Jagur nama lainnya adalah Kanjeng Kyai Setomo. Konon keduanya adalah meriam pemberian Portugis pada Pangeran Jayakarta, sebagai tanda kerjasama dengan Pajajaran.

Pada masa Sultan Agung, kedua meriam itu dibawa ke Mataram. Tapi Kyai Setomo kemudian dikembalikan ke Jakarta lagi karena tidak betah. Setiap malam Selasa Kliwon selalu terdengar suara meraung-raung seperti orang menangis yang diyakini berasal dari meriam laki-laki itu. Dan di Jakarta meriam itu kemudian diletakan di dekat jembatan Kota Intan di kota lama, sebelum sekarang dipindah ke Museum Fatahillah.

Sementara Nyai Setomi tetap berada di Jogja, di keraton Mataram. Dan ketika kekuasaan Mataram pindah ke Kartasura, meriam itu turut dibawa. Hingga saat berpindah lagi ke Surakarta, meriam tua itu pun kemudian makin dianggap sebagai pusaka utama.

Tentang penamaan Kyai Setomo dan Nyai Setomi, ada pendapat yang mengatakan karena kedua meriam ini adalah buatan Portugis. Dibuat di pabrik Santo Thomas, sebuah kota jajahan Portugis di India yang sekarang bernama Madras. Dan pada meriam-meriam buatan pabrik itu, cirinya ada cetakan nama ‘Sant-Thome’ pada badannya. Dan dari tulisan Sant-Tomi itulah, lidah Jawa mengucapkannya menjadi Setomo dan Setomi.

Namun apa pun namanya, pada mulanya meriam dibuat sebagai senjata penghancur lawan. Tapi seampuh apa pun senjata itu, ketika sang empunya tak lagi punya kewibawaan, maka kekuatannya pun akan hilang. Apalagi setelah si pemilik takluk di balik ketiak lawan. Maka keberadaannya tak lebih hanya sekadar benda pajangan.

Ia tak lebih dari sekadar souvenir pemanis. Sungguh, sebuah sejarah yang tragis!

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 16:12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s