Catatan Kaki 62: Membaca Kode Rahasia Songgo Buwono yang Penuh Sandi Angka

Standar

Dari Sitinggil, aku meneruskan perjalanan ke arah selatan. Menuju gerbang keraton Solo yang bernama Kori Kamandungan.

Sebelum masuk pelataran Kamandungan yang bernama Bale Rata, aku melewati pintu masuk bernama Kori Brojonolo. Sebuah jalan masuk berupa sebuah gerbang besar dengan sepasang daun pintu kayu tebal bercat biru yang sangat kokoh.

Di atas pintu gerbang tersebut, konon terpahat sebuah penanda berupa kulit sapi berbentuk segi empat. Suatu sandi dari ungkapan lulang sapi siji, yang berarti ‘selembar kulit sapi’. Namun sebenarnya, lulang sapi siji merupakan kepanjangan dari wolu ilang sapi siji yang menerangkan tahun pembuatan gerbang utama tersebut.

Dalam kode sandi tahun candrasengkala, wolu adalah angka 8, ilang pengganti angka 0, sapi angka 7, sedangkan siji berarti angka 1. Maka ketika dibaca dari belakang, terbaca angka 1708. Yang berarti bangunan tersebut dibuat pada tahun Jawa 1708 atau 1782 M.

Kori Brojonolo berasal dari kata brojo dan nolo. Brojo berarti senjata tajam, dan nolo berarti hati. Sebagai peringatan agar kita memiliki ketajaman hati. Karena untuk mencapai kesempurnaan kehidupan, haruslah memiliki ketajaman perasaan yang bersifat rohaniah. Caranya adalah dengan terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di kanan kiri gerbang tersebut kita temukan empat pos jaga. Bangunan berbentuk gardu yang berada di luar bernama Bangsal Brojonolo, sedang yang ada di dalam bernama Bangsal Wisomarto. Keempat gardu bangsal itu dulunya dipakai berjaga prajurit keraton.

Wisomarto berasal dari kata wiso yang berarti racun, dan marto yang berarti penawar. Sebuah perlambang agar kita harus bisa menjadikan racun yang berbahaya tidak lagi berbisa. Sebab dalam usaha kita menuju kesempurnaan kehidupan, harus bisa meninggalkan perbuatan tercela yang bisa meracuni jiwa kita.

Namun sekarang keempat bangsal itu tak lagi ada yang menjaga. Yang menempati justru para penjual es yang menjual dagangannya. Dan menjadikan Bangsal Brojonolo dan Wisomarto menjadi tempat lesehan yang asyik untuk menikmati es jualan mereka.

Akupun berhenti sejenak di bangsal itu. Namun tidak sambil beli es, karena hari masih pagi. Aku hanya beli roti, yang kunikmati sambil mengamati dengan seksama bentuk ukiran yang terpahat di atas Kori Kamandungan. Ukiran berbentuk padi dan kapas yang melintang di atas lisplang, yang konon melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Kori Kamandungan berarti pintu gerbang Kamandungan. Merupakan bangunan terdepan dari keraton bagian dalam. Bangunan peninggalan Paku Buwono IV yang didirikan pada tahun 1819, dan kemudian dibangun kembali oleh Paku Buwono IX pada tahun 1889.

Kamandungan berasal dari kata mandu, yang berarti calon. Sebuah perlambang bahwa setiap kita sesungguhnya adalah calon mayat. Mengingatkan pada semua manusia yang tengah menikmati kehidupan, bahwa pada saatnya nanti pasti akan mengalami kematian.

Maka untuk mengajarkan itu, di sisi kiri dan kanan Kori Kamandungan terpasang tiga cermin besar. Dan sebelum masuk keraton disarankan untuk bercermin, memeriksa pakaian yang dikenakan. Yang sesungguhnya perlambang untuk mengingatkan agar kita selalu bercermin diri terhadap tingkah laku perbuatan kita, demi menjaga kesucian jiwa.

Dan sama seperti di gapura Gladag, di depan Kori Kamandungan pun terdapat dua patung raksasa yang menyeramkan. Arca Pandhita Yaksa yang menjadi perlambang, bahwa setiap niatan untuk menjaga perbuatan dan kesucian hati, pasti ada halangan dan rintangan yang akan menghadang.

Dari arah pelataran Kamandungan, dengan menatap ke atas sebelah kiri akan terlihat sebuah menara. Bangunan keraton yang tinggi menjulang, dan  dari jauh pun sudah kelihatan. Sebuah bangunan menara berbentuk segi delapan dengan ketinggian 30 meter, yang terbagi dalam 4 lantai. Inilah yang disebut dengan Panggung Songgo Buwono.

Panggung Songgo Buwono berarti menara penyangga semesta. Konon bangunan itu menjadi tempat bertemunya Raja-Raja Solo dengan Ratu Pantai Selatan yang dipercaya sebagai istrinya. Namun sesungguhnya juga menjadi tempat pengintaian, untuk mengawasi gerak-gerik Belanda yang berada di Benteng Vastenburg.

Penamaan Panggung Songgo Buwono juga menjadi penanda berdirinya bangunan ini. Sebab dalam hitungan candra sengkala, panggung bermakna angka 8, song bermakna angka 9, so bermakna angka 1, dan buwono adalah angka 1.

Dan dengan kaidah candra sengkala yang menggunakan pembacaan terbalik, maka kalimat itu akan terbaca angka 1198. Yang berarti bangunan ini didirikan pada tahun 1198 Hijriyah atau 1782 Masehi. Bangunan ini adalah peninggalan Paku Buwono III, yang berkuasa pada tahun 1782 Masehi atau 1708 tahun Jawa.

Pembangunan tahun 1708 itu pun juga terbaca dari candra sengkala lainnya yang berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma. Naga melambangkan angka 8, muluk melambangkan angka 0, tinitihan melambangkan angka 7, dan janmi yang melambangkan angka 1. Dengan pembacaan dari belakang, terbaca angka 1708.

Naga muluk tinitihan jami berarti ular naga terbang yang dikendarai manusia. Maka penandanya juga digambarkan dengan bentuk gambar seekor ular naga bermahkota yang sedang dinaiki oleh orang yang tengah memanah.

Ada lagi kepercayaan orang, yang mengatakan gambar orang yang menaiki ular tersebut memiliki makna jangkaning jaman, atau peringatan akan datangnya peristiwa yang akan terjadi. Yaitu cara membaca candra sengkala menjadi Keblat Rinaras Tri Buwono.

Dalam aturan candrasengkala, kata keblat adalah pengganti angka 4, rinaras angka 6, tri angka 3, dan buwono angka 1. Maka akan terbaca angka tahun 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tahun 1945 M. Tahun yang menjadi kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan makna figur orang yang mengendarai ular, menerangkan bahwa ular yang dalam bahasa Jawa adalah ula melambangkan kata kawula atau rakyat. Mahkota pada ular, bermakna raja yang mempunyai kekuasaan. Kemudian panah yang siap dilepaskan adalah lambang tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan manusia yang memegang panah perlambang dari sang pengendali kebijakan.

Jadi terbaca dari gambar tersebut, bahwa pada tahun 1945 akan terjadi peristiwa besar. Dimana rakyat yang akan memegang kekuasaan tertinggi dalam mengendalikan dan mengarahkan tujuan yang ingin dicapai. Konon itu maksudnya adalah Republik Indonesia akan merdeka dan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau demokrasi.

Panggung Songgo Buwono yang tegak menjulang konon perlambang laki-laki. Sementara dalam filosofi lingga-yoni sebagai asal mula kehidupan, yang menjadi perlambang perempuan adalah bangunan bernama Kori Sri Manganti.

Namun ketika meminta ijin untuk melihat Kori Srimanganti, aku dilarang oleh abdi dalem penjaga keraton yang berjaga di depan. Menurut mereka Kori Srimanganti telah masuk wilayah dalam keraton, yang tak boleh dimasuki oleh sembarang orang dari luar.

Orang yang bukan kerabat keraton tak diperkenankan masuk lewat Kori Kamandungan. Namun diperbolehkan lewat pintu timur, yang masuk melewati museum. Maka aku pun melewati pintu masuk itu, sebelum terlebih dulu membeli tiket masuknya.

Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang keraton, meski pun telah kubaca bermacam-macam buku tentang itu semua. Namun menurutku, pengetahuan itu belum terpuaskan, sebelum melihat secara langsung bentuk nyata bangunan dalam keraton berikut  suasananya yang konon sarat kesakralan ajaran Jawa.

Aku juga ingin melihat langsung sisa peninggalan keraton Mataram yang panjang sejarahnya. Yang sebenarnya kelanjutan dari kerajaan Demak dan Pajang. Yang kemudian dianggap menjadi pusatnya budaya Jawa yang adiluhung dan sarat nilai filosofinya.

Maka setelah membeli tiket, aku pun meminta seorang guide untuk menemaniku masuk museum dan menjelaskan.

Namun mendengar permintaanku, kelihatannya mereka saling enggan. Para pemandu yang berjajar di pintu loket itu hanya saling pandang dan saling lempar ucapan. Dan dari empat pemandu itu, tak ada satu pun yang memberikan jawaban kesanggupan.

Mungkin melihat penampilanku yang tak meyakinkan, karena hanya bercelana gunung dan kaos butut serta sandal jepit murahan. Dengan tampang kampungan, yang mungkin mereka anggap tak  punya uang untuk membayar jasa mereka.

Sebuah anggapan tepat yang tak perlu kubantah.

Alhamdulillah

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 22:28

2 responses »

  1. Saka kala, kala (waktu) (tahun) saka, sakala, sangkala. Asalnya tahun saka didasarkan pada tahun syamsiyah (surya), tetapi sejak Sultan Agung perhitungan waktu didasarkan pada qamariyah (candra). Sehingga seharusnya era sebelum Sultan Agung (termasuk jaman Majapahit, Demak, dan Pajang) menggunakan Suryasengkala, sedangkan setelah itu baru Candrasengkala.
    Tapi itu sekedar pendapat saya saja🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s