Catatan Kaki 63: Ketika Seorang Raja Dikenang Bukan Karena Kekuasannya, Tapi Justru Karena Tulisannya!

Standar

Setelah ditolak guide, aku pun memasuki keraton sendirian.

Dan begitu melangkah memasuki gerbang, kedatanganku langsung disambut oleh raja Solo. Yakni sosok Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI yang tengah berdiri tegak di beranda. Meski, hanya dalam bentuk patungnya saja.

Melihat sosok patung Paku Buwono VI itu mendadak ingatanku melayang pada sebuah buku tebal yang belum lama kubaca.

Yang dari buku itulah kemudian aku tahu, bahwa ia adalah seorang raja yang dibuang ke Ambon. Dengan tuduhan kesalahan, melakukan persekongkolan jahat dengan membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Paku Buwono VI adalah seorang raja yang masih sangat muda ketika naik takhta menggantikan ayahnya. Dilantik waktu masih berusia 16 tahun pada 23 September 1823. Kemudian dicopot dari singgasananya ketika berumur 23 tahun pada 14 Juni 1830.

Akhirnya raja muda yang memerintah keraton Solo tak lebih dari 7 tahun itu meninggal dalam pembuangannya. Wafat secara misterius pada Februari 1849 dalam usia 42 tahun.

Dan berita yang terkirim dari Ambon, sang raja terbuang meninggal karena terjatuh dari kudanya. Namun dengan alasan yang tak jelas, Belanda tidak mengijinkan jenazahnya dikembalikan ke Jawa. Hingga baru setelah Indonesia merdeka, pada 8 Maret 1957 kerangkanya digali kembali dan dipulangkan untuk dimakamkan secara terhormat.

Kemudian dari penggalian kerangka itulah, misteri kematian sang raja terkuak. Karena dari lubang bulat yang terdapat pada tengkorak kepalanya, diyakini ia meninggal dengan ditembak dalam jarak dekat. Lalu melalui penelitian panjang, akhirnya pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 17 November 1964.

Terkenang kisah itu, aku pun lama memandangi patung Paku Buwono VI yang berdiri gagah di depanku. Dengan sorot mata tajam dan kumis yang lebat melintang. Mendadak tatapan keharuan mengusap batinku yang tiba-tiba sendu melihat roman mukanya. Melihat sosoknya yang terlihat masih sangat muda dan penuh semangat yang menyala.

Namun keharuanku saat itu, bukan terkenang pada peran besarnya dalam perang Diponegoro. Perang yang dipimpin oleh pangeran dari keraton Jogja yang mampu membangkrutkan Belanda itu. Aku justru tengah terharu pada kisah Paku Buwono VI dalam episode kehidupan berikutnya, setelah perang Jawa itu berakhir.

Bahwa untuk mengganti biaya perang, Belanda kembali melancarkan taktik kelicikannya. Dengan menggelar perjanjian lagi dengan keraton Solo dan Jogja, untuk menggerogoti wilayah kekuasaan keraton Jawa. Yang salah satu keputusannya memaksa Paku Buwono VI sebagai raja Solo, menyerahkan daerah Banyumas dan Purworejo.

Ketika sang raja menolak mentah-mentah paksaan itu, Belanda yang sudah curiga dan tak lagi suka dengannya, semakin meyakininya sebagai kebenaran. Bahwa raja pembangkang itu telah membantu pendanaan perang Diponegoro dari belakang. Belanda pun langsung mengancam untuk menurunkannya dari takhta kerajaan.

Dan tepat pada saat yang sangat gawat tersebut, dalam kepemimpinannya di lingkungan keraton dia juga sedang menghadapi masalah pelik. Permasalahan atas pengangkatannya menjadi raja yang dianggap bermasalah oleh beberapa pihak. Karena dia sesungguhnya bukan putra mahkota dari permaisuri ayahnya. Melainkan hanya seorang anak dari istri selir Paku Buwono V. Sedangkan kedua permaisuri ayahnya tidak mempunyai anak seorang pun juga.

Menurut undang-undang keraton, yang berhak menjadi pengganti raja adalah anak dari permaisuri. Namun ketika permaisuri raja tidak mempunyai anak, yang menggantikan naik takhta adalah adik raja yang lahir dari ibu permaisuri yang sama. Jadi sebenarnya, yang seharusnya menggantikan Paku Buwono V bukanlah dia, melainkan pamannya.

Tapi berkat usaha Patih Sosodiningrat II, yang juga ayah angkatnya, Paku Buwono VI akhirnya berhasil menggantikan takhta ayahnya. Tentu dengan terlebih dulu mendapatkan persetujuan Belanda, karena patih bertanggungjawab kepada gubernur jenderal.

Maka selama ia memerintah, rongrongan dari pamannya, yakni Pangeran Purbaya, terus menerus membuatnya tak tenang menduduki singgasana.

Selain dua permasalahan politik yang pelik itu, dia sendiri juga tengah menghadapi persoalan berat satu lagi. Yakni masalah dalam kehidupan pribadinya, sebagai seorang raja dan seorang suami, dengan para istri-istrinya.

Sebagai raja ia mempunyai empat orang istri, yaitu Kanjeng Ratu Kencono, Kanjeng Ratu Emas, Kanjeng Ratu Maduretno, dan Kanjeng Ratu Anom. Namun di antara keempat istrinya, istri paling muda lah yang sangat dicintainya. Perasaan itu kemudian menyebabkan ketiga istrinya yang lain terus menerus dibakar cemburu, bahkan kecewa.

Apalagi ketika istri muda tersebut menuntut, bila ia melahirkan maka anaknyalah yang harus menggantikan kedudukannya sebagai raja.

Dan sang raja yang tengah dirundung asmara pun menyanggupinya. Bahkan ketika si istri muda meminta kemantapan atas janjinya, untuk tidak hanya sekadar ucapan belaka. Melainkan dengan langkah nyata, yakni memaksanya untuk tidak berhubungan dengan istri-istrinya yang lain, sebelum ia mengandung. Agar Kanjeng Ratu Anom lah yang lebih dulu mempunyai anak, hingga keturunannya lah mempunyai hak sebagai pewaris takhta.

Namun ternyata, yang kemudian terjadi tidak seperti keinginannya. Karena yang mengandung lebih dulu justru istri kedua, yakni Kanjeng Ratu Emas. Maka setelah Kanjeng Ratu Anom mendengar bahwa istri tua suaminya telah hamil 3 bulan, terjadilah kekacauan di keraton. Istri muda yang tengah marah besar dan dicekam rasa putus asa, membuat tindakan menggemparkan. Yakni ditemukan hendak melakukan bunuh diri.

Dalam kegalauan atas nasib kerajaan dan keruwetean rumah tangganya, sang raja Paku Buwono VI berniat hendak menenangkan hati. Maka berangkatlah penguasa Jawa yang dirundung duka itu menyepi ke Mancingan, di daerah pantai Parangtritis, Jogja.

Namun kepergiannya meninggalkan kerajaan tersebut, justru menjadikannya celaka. Sebab ia justru dianggap melakukan perbuatan pembangkangan, karena pergi tanpa meminta ijin terlebih dulu pada gubernur jenderal.

Maka pada 14 Juni 1830, Belanda segera mengirim prajurit dari Benteng Vastenberg untuk menangkapnya. Dan raja yang tengah bertapa itu diseret paksa kembali ke Solo, dan langsung dicopot dari takhta keraton. Karena penangkapan ketika sang raja tengah bertapa itulah, rakyat Solo mengenangnya dengan sebutan Sinuwun Banguntapa.

Dengan diturunkan paksa Paku Buwono VI sebagai raja, Belanda kemudian mengangkat sang paman untuk menggantikan. Maka sejak itu Pangeran Purbaya dilantik gubernur jenderal Belanda menjadi Paku Buwono VII.

Sementara Paku Buwono VI sendiri langsung diringkus dan dibawa ke Semarang. Lalu ia dipenjara di Jakarta, untuk kemudian dibuang ke Ambon pada 8 Juli 1830 dengan menumpang kapal Roepel. Mengikuti pembuangan Pangeran Diponegoro ke Makasar pada bulan sebelumnya.

Sedangkan ketiga istrinya yang masih menyimpan kecewa, tak ada yang mau menemaninya ke tanah pembuangan. Hingga ia hanya ditemani seorang istri tercintanya, Kanjeng Ratu Anom, yang telah mengurungkan untuk bunuh diri.

Sejenak aku tercenung mengingat kisah menyedihkan dan memilukan itu.

Namun kenangan berikutnya datang, ketika aku teringat tentang kenang-kenangan Paku Buwono VI selama di tanah pembuangan.

Bahwa selama dalam pengasingan di Batu Gajah, Ambon, yang sepi ia mengisi waktunya dengan giat menulis. Kemampuan sastranya memang diakui oleh Jenderal de Kock, Gubernur Jenderal Belanda yang telah menipu Diponegoro dan juga memusuhinya. Menurutnya, Paku Buwono VI ini merupakan ‘raja yang berpengetahuan sejarah dan tradisi Jawa yang luas, serta cerdas dalam membaca dan menulis’.

Maka dari pengasingannya pun ia menuliskan ulang cerita sejarah Jawa. Sebuah karya sastra berjudul Babad Jaka Tingkir, yang tercipta dalam bentuk penceritaan yang unik. Karena sang tokoh, yakni Joko Tingkir yang dijadikan judul, justru kisahnya sama sekali tak muncul dalam cerita. Yang dikisahkan dengan panjang lebar, malah masa silam dari banyak tokoh leluhur Joko Tingkir. Dan penceritaan ini semakin menarik karena dituturkan dengan trik yang unik, yakni dengan permainan babak penceritaan yang silih berganti saling menyela dalam tiap adegan. Dan juga dalam penuturan yang saling jalin menjalin berkelindan dengan bahasa tembang macapat yang indah penuh nilai sastra.

Karya sastra luar biasa yang seratus tahun kemudian membuat Nancy K Florida terpesona. Seorang peneliti naskah-naskah kuno Jawa yang gelar doktornya diperoleh dari penelitian di perpustakaan keraton Solo itu pun kemudian membahasnya dengan sangat cerdas. Pembacaan kritis yang kemudian menjadi disertasinya di Universitas Cornell yang berjudul ‘Writing the Past Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java’.

Bahkan orang bule pertama yang mendapatkan gelar ningrat Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Budayaningtyas ini menyebut Babad Jaka Tingkir sebagai ‘babad alternatif’ yang menawarkan kearifan. Merupakan sebuah kisah sejarah yang tak menjadikan salah satu tokohnya sebagai penafsir tunggal kebenaran.

Keunikan dan keindahan itu pula yang kemudian turut kurasakan. Ketika membaca tafsir kritisnya atas naskah Jawa yang juga membuatku terpesona.

Sejenak, sebelum melangkah meninggalkan sosok patung raja muda itu, aku pun merenung, “Sang raja yang pernah penuh kuasa, dikenang bukan karena kekuasaannya. Namun namanya tetap abadi sepanjang masa, karena tulisanya.”

Maka aku yang bukan raja, akan dikenang dengan apa, kalau menulis saja tak bisa, dan tidak biasa?

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Februari 2011 pukul 22:39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s