Catatan Kaki 64: Dengan Gaji Lima Puluh Ribuan, Bisa Tentram Hidup Sebulan

Standar

Pintu museum telah terbuka, berarti pengunjung sudah boleh memasukinya.

Namun begitu melangkahkan kaki ke sana, suasana yang lengang sangat terasa. Mungkin karena aku yang terlalu pagi datangnya.  Sempat kulirik jam di hapeku, dan ternyata baru pukul setengah sepuluh lebih lima.

Sejenak aku jadi ragu, karena kutengokkan ke mana-mana,  tak juga kulihat seorang pun penjaga ada di sana. Termasuk petugas jaga yang biasanya bertugas menyobek tiket pengunjung yang masuk, sebagai tanda telah diperiksa.

Tapi dengan penuh keyakinan, aku beranikan diri melewatinya. Dengan tiket masih utuh di tangan, aku berjalan sendirian melewati ruangan-ruangan yang sunyi senyap. Melihat pajangan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan yang kusam dan berdebu.

Aku jadi teringat penolakan temanku, yang tak pernah mau kuajak ke museum. Katanya, ke museum hanyalah kerjaan orang nekad yang ingin bertemu hantu. Bangunan tua yang sepi, merupakan tempat yang tepat bagi mereka yang ingin mengikuti ajang uji nyali.

Sambil melihat foto-foto lama, yang mengisahkan kebesaran upacara kerajaan, aku mencoba mencerna setiap peristiwanya. Dan aku pun berjalan terus menyusuri lorong-lorong museum yang tenang dan sunyi. Udara yang pengap membuat suasana museum semakin senyap. Lampu yang temaram menambah rasa mencekam. Seakan sedang tersesat masuk masa silam yang asing. Hingga hanya bisa mencoba memaknai setiap benda-benda, dari keterangan yang bisa terbaca dari papan nama yang tertera.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba kulihat ada bayangan orang. Dan kuperhatikan seksama dari belakang. Ternyata di ruangan sebelah, ada sepasang turis asing yang juga sedang berkeliling museum juga. Namun mereka bersama seorang pemandu laki-laki.

Ketika turis itu telah pergi, baru kuketahui bahwa ternyata pemandu itu adalah penjaga tiket museum. Aku pun segera mendekatinya, dan mengatakan padanya bahwa tiketku belum diperiksa. Juga sampaikan bahwa untuk berkeliling museum, aku memerlukan seorang pemandu. Untuk bisa menerangkan dan memberikan banyak penjelasan.

Namun ternyata pemuda berbaju batik itu menolak permintaanku. Karena katanya, tugasnya hanyalah menjaga tiket di pintu masuk saja. Bukan pemandu wisata.

Sambil mencoba tersenyum mendengar alasannya, batinku pun merutuk, “Kalau tugasnya hanya menyobek karcis, kenapa tadi sama turis asing mau jadi pemandu?!”

Aku pun kemudian meninggalkannya, yang tengah sibuk menghitung uang pemberian turis asing tadi. Dan aku kembali tersenyum pahit, karena sepagi ini sudah dua kali ditolak guide.

Dengan sedikit menyimpan kecewa, aku kemudian meninggalkan lorong-lorong pengap. Beralih menuju pelataran keraton, yang letaknya di sebelah barat bangunan museum.

Ternyata, untuk masuk pelataran ada peraturan untuk melepas sandal.Terbaca pada papan larangan besar yang terpasang pada dinding gerbang. Bahwa seluruh alas kaki berbentuk sandal harus dilepas, sebagai tanda penghormatan pada kawasan kerajaan. Namun anehnya, bagi pengunjung yang bersepatu justru boleh untuk tidak melepas sepatunya.

Aku pun melepaskan sandal jepit butut yang kupakai. Dengan tersenyum kecut kembali merutuk, “Ini peninggalan mental feodal, atau sebuah diskriminatif warisan kolonial?!”

Dan begitu memasuki pelataran, kulihat hamparan pasir tebal membentang memenuhi halaman. Pasir hitam halus yang konon pada jaman dulu diambil langsung dari pantai selatan. Karena diyakini, telah terjadi hubungan raja-raja keraton Solo dengan penguasa pantai selatan. Sebuah pernikahan mistik sejak jaman Panembahan Senopati.

Karena masih pagi, pelataran masih sepi dan belum ada pengunjung. Aku pun berjalan-jalan dengan kaki telanjang, menikmati kedamaian di dalam lingkungan dalam keraton.

Udara segar yang berhembus pelan terasa sangat menentramkan jiwa. Tembok tebal yang melingkupi keraton, benar-benar seperti peredam suara, yang mampu membuat hilang semua suara apa pun yang datang dari luar. Hanya hembusan angin lembut berdesir di sela-sela pohon sawo saja yang terdengar bagaikan nyanyian penuh aura.

Sambil berjalan berkeliling, aku melihat banyak abdi dalem yang sedang membersihkan pelataran. Menyapu daun-daun kering pohon sawo yang memenuhi hamparan pasir.

Aku menjadi tertarik memotret kegiatan mereka. Yang kulihat ada yang sedang menyapu rontokan daun-daunan, ada yang kemudian membawa gerobak sampah untuk mengangkutnya. Juga memotret kepatuhan mereka pada orang-orang yang lewat, yang dia itu mungkin adalah salah satu dari bangsawan keraton.

Sebab ketika kulihat penghormatan luar biasa di sana. Yakni saat para abdi dalem itu sedang sibuk bekerja, kemudian melihat lelaki muda lewat di dekatnya, serentak mereka menghentikan kegiatannya, untuk bersama-sama melakukan sembah padanya.

Aku mengamati pekerjaan mereka sampai selesai. Dan setelah halaman dibersihkan, kulihat ada seorang abdi dalem yang kemudian beristirahat. Aku pun berjalan mendekatinya untuk mengobrol dengannya.

Dari dialah kemudian aku tahu, mengapa pelataran keraton ditanami pohon sawo.

“Ini namanya pohon sawo kecik, merupakan perlambang agar kita  berlaku yang sarwo becik. Yakni melakukan pikiran, ucapan, dan tindakan yang serba baik.”

Aku pun mengangguk. Dalam bahasa Jawa, sarwo adalah serba, dan becik adalah baik.

Pohon-pohon itu katanya ditanam oleh Paku Buwono X. Penanaman 76 pohon sarwo kecik yang dimaknai sebagai bentuk ramalan masa depan tentang kemerdekaan Indonesia. Karena angka 76 melambangkan tahun Jawa 1876, yang bertepatan dengan tahun 1945. Maka penanaman pohon sawo kecik mengisyaratkan ramalan bahwa pada tahun 1876 akan terjadi keadaan yang sarwo becik, yang serba lebih baik.

Selain mendapatkan keterangan tentang bangunan-bangunan di dalam keraton, aku pun menanyakan soal kehidupan para abdi dalem. Sesuatu yang sudah lama mengusik penasaaranku, karena kepatuhan mereka terhadap keraton sangatlah luar biasa. Padahal konon gaji mereka sangatlah sedikit. Tak lebih dari 50 ribu saja tiap bulannya.

Aku pun bertanya penuh penasaran, “Bagaimana bisa menghidupi keluarga?”

Dan lelaki tua itu pun dengan mantap menjelaskan, bahwa bagi mereka menjadi abdi dalem adalah sebuah pengabdian. Yang tidak bisa dinilai dengan uang sebagai penghargaan. Ketika mereka yakin dengan nilai pengabdian, maka kehidupan pun akan tentram. Segala kebutuhan sehari-hari akan tercukupi dengan hati tenang. Karean telah mereka yakini, semua itu karena berkah yang didapatkan dari sebuah pengabdian.

“Tapi bagaimana dengan gaji yang hanya 50 ribu per bulan?”.

Kembali dengan senyum mantap, ia menyatakan bahwa selalu saja ada jalan dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

“Ketika yakin dengan kebesaran Gusti Allah kang murbeng dumadi, maka kepasrahan akan dibayar dengan kehidupan yang tentram dan tercukupinya segala kebutuhan. Menjadi abdi dalem adalah bentuk kepasrahan itu, yang dilambangkan dengan mengabdi bagi raja. Namun sesungguhnya pengabdian ini bukan kepada rajanya, tapi pada Allah tangala. Sinuwun hanya sarana saja, karena raja adalah kalipatuloh ing tanah Jawi.”

Sejenak aku tercenung dengan penuturan si mbah itu, yang aku lupa bertanya namanya. Maka tak heran kalau kepatuhan mereka, seolah tanpa keraguan. Karena ia sendiri telah menjalani kehidupan sebagai abdi dalem selama 50 tahun lebih. Dimulai sejak dia masih anak-anak berumur 15 tahun, hingga sekarang telah beranak cucu banyak.

“Menjadi abdi membuat batin tentram, Nakmas,” ucapnya menutup penuturan.

Aku pun kembali tercenung tersindir. Ketika kita mengaku sebagai ummat Tuhan, meyakini kebesaranNya, namun mengapa tak pernah terlintas sepenuh hidup menjadi abdiNya. Padahal dengan itulah, seluruh kehidupan kita akan dipenuhi olehNya. Kita justru kadang meremehkan kekuasaan Tuhan atas rejeki, meski mungkin tanpa sadar.

Aku kemudian mengucapkan terima kasih pada lelaki tua itu. sebagai balas jasa, anggaran yang sebelumnya hendak kuberikan ke guide pun, kuberikan padanya.

Kakek itu pun tersenyum bijak, “Nah, apa tadi saya bilang. Rejeki selalu datang tanpa pernah kita duga dari mana asalnya. Seperti sekarang ini, Gusti Allah paring rejeki lewat Nakmas. Pokoknya asal kita yakin dengan kewelas asihan Gusti Allah, hidup manusia akan dijamin tanpa pernah disia-siakan. Ngabdi, ngabekti, nggayuh tentreming ati.”

Aku kembali tersadarkan akan makna penghambaan. Dan sebagai kenang-kenangan, aku meminta ijin untuk memotretnya, yang berbaju hitam lengkap dengan samir kuning berplisir merah di lehernya.

Bagi mereka, samir adalah sebuah pusaka agar selamat selama berada di dalam keraton. Dengan samir yang terikat di lehernya, para jin-jin penunggu keraton menganggap mereka sebagai kerabatnya yang turut dijaga keselamatannya.

Meski pun ada juga yang mengatakan, bahwa pada jaman dulu, tanda samir adalah bentuk lain dari sebuah kepatuhan. Sebagaimana layaknya kalung tali pada hewan ternak. Dengan samir melingkar di lehernya, seakan tanda kepasrahan untuk rela melakukan apa saja titah rajanya.

Bahkan sang raja tinggal menarik kencang samir di lehernya, ketika sudah tidak berkenan. Seperti binatang yang dijerat untuk dibawa ke batu penyembelihan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Maret 2011 pukul 22:41

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s