Melodi Sunyi 3: Mendo’akan Khatib Jum’at Agar Mendo’akan

Standar

Berminggu-minggu asap dan debu menghantu. Lahar merapi muntah menyebar hawa panas. Menyusupi desa dan kota menawarkan petaka. Beratus ribu saudara kita jatuh sengsara.

Di Kalimantan berjuta hektar hutan terbakar. Asapnya menutupi Asia Tenggara. Apinya berpijar menjalar-jalar. Membakar berkas HPH liar tak pernah terbongkar. Gempa bumi melanda Liwa di Lampung Barat. Menyusul ke Bengkulu membagi derita. Tanah longsor banjir bandang. Cilacap, Purworejo, sampai Lebak sempurna tergenang. Rakyat sengsara makin menderita.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Ada perang panjang di Palestina, Pakistan, Khasmir, Afghanistan, dan Pilipina Selatan. Beratus ribu perempuan, lelaki, dan kanak-kanak digilas penderitaan. Di atas Baghdad, pesawat pembom menderu berminggu-minggu. Membuat puing dan kawah di tengah kota. Mencecerkan bahan mesiu dari sang Angkara.

Di Palestina tak ada lagi perdamaian. Berlembar-lembar berkas perjanjian hangus terbakar. Tak ada lagi perlindungan HAM bagi saudara kita. Dari sesiapa pun mereka yang berlagak polisi dunia.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Ada pembantaian panjang terpampang di depan mata. Dari Aceh, Ambon, Sampit, sampai Halmahera. Beratus ribu pengungsi tanah air, kini terusir dari kampung halaman sendiri. Mereka berteduh di bawah tenda-tenda sederhana sekali. Di lapangan terbuka, dipukul angin dan gerimis malam hari. Tubuh memar hasil menyelamatkan diri. Jerit tertelan habis sunyi. Rintih anak gadis janda dan istri. Ada bayi menjerit mengiris hati. Tak tahu ayah dan ibu tiada lagi.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Tak kudengar qunut nazilah dibacakan imam di raka’at kedua.

Pembantaian makin membudaya. Di Ambon darah tak lagi merah. Di Halmahera tubuh tak lagi utuh. Di Tual kepala banyak terpenggal. Di Sampit kekejian makin beringas, makin sengit.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Berjuta penduduk miskin dicekik permainan judi. Beribu warung menderetkan beratus ribu botol alkohol. Beribu anak-anak berkeliaran di jalanan. Beribu lainnya berkeliaran di pusat-pusat perbelanjaan. Menjajakan diri mencari kesenangan.

Yang kaya semakin meraja lela, menutup mata menutup telinga. Saudara kita yang tak berpunya, semakin tertelungkup miskin. Mereka bukan pemalas. Hanya sempit dalam rejeki.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Marsinah yang dibunuh, masuk kubur, keluar kubur, dan lagi masuk kubur. Pusaranya dibongkar namun kasusnya tak kunjung terbongkar. Kasus Santi makin sepi. Tak terdengar episode setelah sandiwara tak jadi.

Kasus korupsi yang dilindungi, tak boleh diutak-atik lagi. Upah kerja yang sungguh rendah di bawah ukurang minimum, sangat gampang menggelincir ke jurang kufur. Saudara kita yang melarat tergelepar sekarat. Utang Negara membubung, harga naik makin menjerat.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Mengapa khatibku tak mendo’akan ummat miskin yang tertindas itu.

Dua tahun reformasi, kebobrokan negeri tak kunjung direformasi. Asyik mengelem kuat dudukan kursi. Agar tak bisa turun, walau tak kuasa memperbaiki. Sibuk menghabiskan anggaran ke luar negeri. Sibuk mengisi kekebalan pasukan berani mati, agar tak mati-mati.

Sementara di Ambon, Tual, dan Halmahera, saudara kita menjerit minta bantuan mati-matian. Tak dilirik dan didengarkan. Beratus ribu terkapar terpenggal parang. Kepala menggelinding dijadikan tendangan. Bayi menangis mengiris hati. Kepala hancur dibentur pecahkan ke pintu besi.

Berapa sudah  saudara kita menjadi korban kebencian kekejian. Tanpa pernah dikirimi bantuan pembela kebenaran. Membela persatuan Indonesia dan saudara yang teraniaya.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Mana itu qunut nazilah pada raka’at kedua.

Krisis ekonomi melanda nusantara. Lima puluh juta kehilangan kerja. Tangan-tangan menggapai harga. Menggantung di awan sana. Lapar dan sengsara tak pulih dibalut guyonan dan kata-kata.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Tak kudengar khatib menghibur, berjuta-juta ummat yang menganggur.

Apakah khatibtuku terlalu sibuk mengatur, merumuskan fatwa bughat bagi para penuntut agar presiden segera mundur. Apakah khatibku terlena, membiarkan sesama saudara menggelar perang terbuka.

Sementara di atas sana, lawan sejati yang yang nyata, tepuk tangan tertawa tiada habisnya. Menonton pertandingan adu domba perpecahan tiada terkira. Tanpa perlu susah-susah kerja.

Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam. Dadaku nyeri, paru-paruku sesak dijepit tulang dada. Sumpek, mampat, di ruang sempit hampa ukhuwah.

Begini sajalah, aku ingin kita sama-sama berdoa. Mendoakan khatib-khatib setiap sebelum shalat Jumat. Di depan gerbang masjid kita masing-masing. Agar mereka tidak lupa, mendoakan penderitaan ummat manusia.

Ummat yang nun jauh di sana. Terutama ummat yang terdekat dengan kita.

Supaya kita bisa, supaya aku bisa, ikut mengamininya.

 

CATATAN:

Tulisan ini aku buat tahun 2000. Sengaja aku ketik ulang, setelah kemarin dunia sastra Indonesia digegerkan dengan tuduhan plagiat puisi penyair America, Douglas Malloch, oleh penyair Indonesia, Taufiq Ismail.

Aku percaya, Taufiq tidak memplagiat. Seperti pengakuannya. Aku sejak SD telah mengaguminya. Dan tahun 2000, aku berhasil bertemu dengannya. Ketika tak sengaja, Forum Lingkar Pena Purwokerto bisa mengundangnya. Dan tanpa bayaran. Karena donatur FLP Purwokerto, kebetulan teman sekolah Taufiq Ismail.

Sejak itu, hubungan dengan Taufiq pun terjalin.

Dan berbicara soal ‘plagiat’, puisi yang aku tulis di atas, sesungguhnya bermula dari puisi Taufiq Ismail. Yang kemudian aku tambah di sana sini, disesuaikan isu yang sedang terjadi saat itu. Dan aku bacakan pula di depan Taufiq Ismail.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 April 2011 pukul 23:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s