Catatan Kaki 65: Ditolak Guide Ternyata Sebuah Berkah!

Standar

“Dengan meminum air ini, penyakit apa pun pasti bisa sembuh.”

Si mbah abdi dalem itu mencoba meyakinkanku. Tentang khasiat air mentah yang ada pada sebuah gentong besar yang berada di depanku. Air yang diambil dari sumur di pelataran keraton, yang diyakini bermata air langsung ke pantai selatan.

“Pokoknya apa saja penyakit yang Nakmas derita. Akan sembuh hanya dengan meminum air ini. Syaratnya cuma satu, yakin!”

Aku pun tersenyum dalam hati, “Itulah sulitnya, Mbah! Bagaimana bisa kuyakini sebuah keyakinan yang tidak meyakinkan sebagai sebuah keyakinan…”

Namun karena wilayah keraton dianggap tempat yang sakral dan mempunyai aura magis, maka di pelataran pun banyak kutemukan sesaji. Beberapa tempat pedupaan dan kembang-kembang yang diperuntukkan bagi mereka yang hendak meminta berkah.

Bahkan sempat kulihat juga beberapa lelaki yang duduk bersila dengan memejamkan mata, terdiam sangat lama. Mungkin mereka sedang berdoa dengan cara bertapa.

“Mungkin sedang meminta Indonesia bebas sogokan,” batinku yang tiba-tiba teringat pada iklan rokok yang meminta pertolongan jin itu.

Dan sempat memerhatikan sekilas ke arah lelaki muda yang tengah bersemadi. Mungkin karena kesungguhannya, ia bersila dengan memilih di tempat yang panas. Pelataran berpasir yang tak terlindung lebatnya kerindangan pohon sawo kecik. Hingga wajahnya yang hitam kecoklatan telihat semakin mengkilat, dengan banyaknya lelehan keringat.

Namun aku hanya lewat sebentar, untuk kemudian berjalan lagi mengelilingi pelataran. Dan lama-lama kurasakan nikmat juga berjalan di atas pasir yang hangat, tanpa alas kaki.

Sambil melihat-lihat bangunan keraton, timbul anganku untuk bisa masuk ke wilayah dalam keraton. Ingin mengetahui seperti apakah kehidupan orang-orang di keraton Solo, yang konon menjadi pusatnya budaya Jawa yang adiluhung.

Namun ketika hendak mendekat, tiba-tiba ada seorang abdi dalem perempuan yang melarangku. Seorang nenek yang memintaku agar mundur dari tempatku berjalan-jalan.

Bahkan aku sedikit dimarahinya, karena dianggap telah melanggar batas yang tak boleh dilewati pengunjung. Padahal di depanku telah terpancang larangan untuk itu. Namun aku memang pura-pura tidak melihatnya, dengan menyibukkan diri memotret sana sini.

Dan untuk meredakan kejengkelannya, aku mencoba beramahtamah dengan bertanya padanya. Tentang bangunan-bangunan yang ada di lingkungan dalam keraton.

Kemudian sambil duduk bersila di tempatnya berjaga, di dekat pintu Kori Srimanganti, kami pun berbincang-bindang. Abdi perempuan yang telah berusia senja itu pun menerangkan tentang bangunan-bangungan yang kutanyakan. Salah satunya adalah bangunan pendopo besar yang disebut Pendapi Ageng Sasana Sewaka.

Konon aula besar dan luas ini merupakan tempat bersemedi raja. Juga tempat untuk merayakan upacara kebesaran keraton, seperti pisowanan agung wiyosandalem tingalan jumenengan dalem. Yakni acara kebesaran raja dalam rangka memperingati ulang tahun kenaikan sang raja dalam menduduki takhta. Yang dalam acara besar tersebut selalu dipergelarkan bedhaya ketawang. Sebuah bedhaya yang diyakini sebagai tarian sakral pertemuan raja-raja dinasti Mataram dengan Nyai Roro Kidul.

Aku pun memotret dari sudut kanan bangunan pendopo besar itu. Dan kuperhatikan benar warna bangunan peninggalan Paku Buwono  III  itu. Yang kulihat merupakan perpaduan merah kuning hijau dalam balutan keemasan. Sebuah warna yang konon mengandung filosofi padhang ning ora mblerengi, cumlorot ning ora sumulap. Yang berarti sinar cahaya yang terang namun tidak menyilaukan. Sebuah perlambang agar manusia tidak suka menonjolkan diri. Biarlah kelebihan itu tampak dengan sendirinya, tanpa harus kita bangga-banggakan secara berlebihan

Dan sekilas kenanganku teringat pada majalah TEMPO yang pernah kubaca di kelas 5 SD dulu. Sebuah berita yang menceritakan tentang terbakarnya Pendapi Ageng Sasana Sewaka ini. Bangunan asli yang luluh lantak terbakar pada malam Jum’at Wage, 31 Januari 1985. Dalam musibah itu pula, turut terbakar bangunan Sasana Handrawina, tempat untuk menjamu tamu keraton. Juga Dalem Ageng Prabasuyasa, yang merupakan rumah kediaman keluarga raja.

Dan kawasan Dalem Ageng itulah, tempat yang paling terlarang bagi orang luar. Yang menurut abdi dalem itu, hanya kerabat raja saja yang boleh masuk ke dalamnya. Termasuk kawasan kaputren yang menjadi tempat para putri-putri keraton.

Mendengar penjelasan bangunan terlarang itu, tiba-tiba kenanganku teringat pada sosok Joko Karewed. Sebuah cerita yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit, sebagai satu potongan kisah yang tertulis dalam Babad Joko Tingkir.

Seorang pemuda gembala yang menemukan tunas beringin ajaib di sebuah hutan. Tunas yang membentuk sumping, seperti hiasan telinga pada pakaian para bangsawan. Yang ketika dipasangkan di telinga, ternyata mampu menjadikannya menghilang dan keberadaannya tidak terlihat orang lain.

Maka dengan kemampuan itu ia pun melunaskan penasarannya. Sebagai anak desa, seorang cucu tukang jagal, sudah lama ia ingin mengetahui seperti apa kehidupan di dalam keraton Majapahit. Ia ingin melihat bangunan gedung batu yang indah dan megah, yang selama ini tak boleh seorang pun melihatnya. Juga dengan bermacam makanan enak dalam pesta yang seumur hidup tak pernah dicicipinya. Dan putri-putri yang sudah terkenal akan kecantikannya. Yang selama ini hanya didengarnya dari cerita-cerita saja.

Maka kemudian, dengan menggunakan sumping ajaib itu, ia pun datang ke keraton. Dan sejak melewati gerbang hingga ke dalam keraton, tak seorang pun yang bisa menghalangi langkahnya. Karena kedatangannya tak dilihat oleh seorang pun prajurit jaga.

Kesempatan itu pun ia gunakan untuk berkeliling kediaman raja, bahkan sampai tempat pembaringannya. Juga masuk ke bilik-bilik kaputren, menikmati kecantikan putri raja yang sedang mandi di kolam, seperti yang selama ini ada dalam khayalannya.

Bahkan yang kemudian menjadi kesukaannya, adalah juga turut dalam perjamuan pesta kerajaan. Dengan seenaknya, ia ikut makan sepiring dengan raja, tanpa ada yang mengetahuinya. Juga meminum tuak kegemarannya, dalam gelas anggur yang sama.

Sambil berpikiran nakal ingin seperti Karewed, aku pun membayangkan bisa masuk ke dalam kawasan Dalem Ageng tanpa kelihatan. Namun tentu, tidak ingin seperti Karewed yang kemudian gemar mabuk-mabukan di istana. Hingga karena keteledorannya, hiasan yang ada pada telinganya terlepas, ketika ia ambruk dalam mabuknya.

Dan keteledoran itu menjadi kesialan baginya. Karena keberadaannya pun menjadi kelihatan. Hingga terlihat dalam pandangan para prajurit jaga yang kemudian menangkapnya untuk dihadapkan pada Raja Brawijaya.

Setelah ditanya asal usulnya, ternyata Karewed adalah anak Brawijaya sendiri. Yang berasal dari salah seorang abdi dalem kerajaan yang dulu pernah dihamilinya. Namun karena hamil besar, perempuan anak tukang jagal istana tak mau melayani keinginan sang raja, hingga akhirnya diusir dari kerajaan. Dan akhirnya melahirkan di desa.

Maka kalau aku bisa masuk ke dalam keraton, sebenarnya sekadar ingin bisa menyaksikan kehidupan para keluarga raja secara langsung. Yang kondisinya hari ini mungkin telah berbeda dengan jaman dulu kala. Ketika etika ningrat masih sangat melekat, dan penghormatan pada raja masih erat mengikat.

Dengan berjalannya waktu, sepertinya hal semacam itu hanya tinggal kenangan berdebu. Dan adat istiadat dalam keraton pun mungkin sudah tidak sekaku dulu. Yang menurutku, kelapukannya pun tinggal menunggu waktu.

Setelah mendapatkan banyak pengetahuan dari abdi dalem perempuan yang sudah puluhan tahun mengabdi di keraton itu, aku pun berpamitan padanya. Dengan memberikan sedikit balas jasa yang rencananya kuanggarkan untuk membayar guide.

Kemudian sambil berjalan berkeliling lagi,  kulihat banyak rombongan wisatawan mulai berdatangan. Berjalan berkelompok dengan bimbingan seorang pemandu. Iseng-iseng, aku ikut nimbrung dengan berjalan di belakang rombongan itu.

Dan semakin siang, bertambah banyak rombongan yang datang. Aku pun berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Dan turut kudengarkan penjelasan guide yang masih muda-muda itu.

Namun setelah kubandingkan, kurasa penjelasan dua abdi dalem yang telah kuajak ngobrol sebelumnya, lebih dalam daripada keterangan yang disampaikan para pemandu.

Sambil meninggalkan pelataran berpasir, hatiku pun tersenyum bahagia.

Alhamdulillah. Ditolak guide ternyata berkah juga!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 2 Maret 2011 pukul 22:30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s