Catatan Kaki 66: Tour de Bolwerk atau Muteri Baluwarti

Standar

“Naik becak saja, Mas. Keliling Baluwarti cuma lima ribu!”

Seorang tukang becak kembali berbaik hati mencoba menawariku. Yang sedang berjalan kaki sendirian mengeliling benteng keraton pada siang yang terik itu.

Dan itu adalah tawaran becak kelima yang sudah kuterima. Saat aku tengah kepanasan keringatan mengelilingi benteng keraton yang disebut orang dengan nama Baluwarti.

Namun semuanya telah kutolak, karena aku ingin berjalan kaki saja. Ingin menikmati  setiap langkah dalam perjalanan mengelilingi bangunan sejarah yang masih berdiri kukuh selama satu abad. Tembok tebal yang penamaannya diambil dari kata Belanda, bolwerk yang berarti benteng. Yang oleh lidah Jawa diplesetkan menjadi Baluwarti.

Dan aku yakin bisa berkeliling sendiri, tanpa pemandu lagi. Karena untuk jalan-jalan tour de bolwerk ini sudah kubawa bekal perjalanan, berupa peta Baluwarti. Pada samping kanan pintu masuk kudapatkan sebuah papan baliho besar bergambar peta kawasan ini. Peta besar itu sudah kupotret, dan diprint di kertas untuk kujadikan denah. Dengan bekal denah lengkap itulah aku akan berjalan kaki mengelilingi bangunan tembok keraton yang tebal dan tinggi.

Baluwarti dibangun sebagai benteng pertahanan yang mengelilingi bangunan inti keraton. Yang dalam strategi pertahanan, sebenarnya merupakan ‘benteng hidup’ bagi keraton, yang adalah kediaman raja. Karena di dalam lingkungan tersebut dibangun rumah tinggal para pangeran, bangsawan, dan kelompok prajurit pengaman.

Wilayah yang luas ini hanya mempunyai dua buah pintu masuk dan pintu keluar. Yakni Kori Brojonolo Lor di sebelah utara dan Kori Brojonolo Kidul di ujung selatan. Antara kedua pintu besar itu hanya dihubungkan oleh dua jalur jalan yang sejajar dan melingkar. Merupakan bangunan peninggalan Paku Buwono X, berupa tembok keliling setebal 2 meter dengan tinggi 6 meter. Jalan inilah yang sedang kulalui untuk menikmati perjalanan kali ini.

Karena Baluwarti merupakan ‘benteng hidup’ bagi raja, maka di dalam bangunan itu pun menjadi kediaman orang terdekat raja. Yang sekarang, dari nama para penghuninya pada jaman dahulu itu, telah diabadikan menjadi nama perkampungan.

Misalnya untuk tempat kediaman pangeran atau para putra raja, kutemukan kampung bernama Ngabean. Yang itu diambil dari nama putra laki-laki pertama raja, yakni Pangeran Hangabehi. Kampung yang sekarang berada di Baluwarti sebelah barat, karena di situlah terdapat kraton kilen atau keraton barat. Yang dulunya merupakan tempat kediaman bagi permaisuri raja, yang darinya kemudian lahir putra mahkota.

Lalu di Baluwarti sebelah timur kutemukan kampung Mlayasuman. Yang dulunya merupakan tempat tinggal keluarga besar Pangeran Mlayakusuma. Kemudian kutemui pula kampung Sindusenan, yang dulunya kediaman Pangeran Sindusena, dan kampung Prajamijayan yang merupakan tempat tinggal Pangeran Prajahamijaya.

Sementara untuk kediaman pejabat keraton, didapati kampung Widaningratan yang diambil dari nama bupati Widaningrat. Kemudian kampung Purwadiningratan dari nama nayaka Purwadiningrat yang dulu menempati daerah itu.Lalu kampung Mangkuyudan yang dulunya rumah seorang bupati arsitek bernama Mangkuyuda.

Begitu pun dengan kampung Suryaningratan yang merupakan rumah dari bupati gedong Suryaningrat. Juga kampung Gandarasan yang dulunya rumah tinggal Nyai Lurah Gandarasa, serta kampung Sekulanggen juga kediaman dari Nyai Lurah Sekullanggi. Dua orang wanita yang sangat dihormati pada jaman dulu, karena jabatannya sebagai pemimpin abdi dalem perempuan.

Sementara untuk kesatuan prajurit pengaman keraton,menjadi nama kampung Tamtaman, Carangan,dan Wirengan. Prajurit Tamtama pada jaman dulu adalah sebuah kesatuan prajurit pengawal raja. Sementara Carangan adalah prajurit yang bertugas menjaga keamanan bangunan keraton. Sedangkan Wirengan merupakan prajurit yang bertugas menjaga jalannya gunungan dalam acara Grebeg yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun.

Penempatan perumahan prajurit berada di lingkungan Baluwarti, sebenarnya sebuah strategi pengamanan dari pihak keraton. Sebagai antisipasi agar tidak terulang penyerbuan dari pihak luar, seperti yang terjadi pada keraton Kartasura. Yang bisa digempur oleh kekuatan Mas Garendi, hingga membuat raja harus melarikan diri. Dan Paku Buwono yang terpaksa pindah ke Surakarta tidak menginginkan hal itu terjadi lagi. Maka prajurit Tamtama, Carangan, dan Wirengan ditempatkan di lapis kedua keraton.

Dan sekarang, ketiga kampung itu mendiami kawasan Baluwarti bagian tenggara dan sebelah selatan. Berada di kanan kiri Kori Brojonolo Kidul, yang merupakan jalan ke alun-alun selatan, dengan berujung di Gapura Gading.

Karena kawasan Baluwarti memang dibangun sebagai benteng, maka perkampungan itu pun berada di dalam bangunan benteng. Dengan pintu-pintu kecil pada setiap kampung sebagai jalan utama untuk keluar masuk pemukiman. Yang membuat orang luar pun tidak tahu kehidupan di dalam bangunan tembok tersebut. Sebuah misteri yang kurasakan sebagai bisikan sejarah dari masa silam.

Namun dari lingkungan yang tertutup rapat itu, kulihat ada kemodernan yang telah mewarnainya. Karena bagaimanapun, meski mereka hidup di dalam benteng masa lalu, tapi kehidupan mereka ada di masa kini.

Dan warga Baluwarti pun manusia hari ini yang hidup dan berkembang, bukan peninggalan mati di masa lalu. Yang itu terlihat dari bertebarannya baliho, umbul-umbul, dan poster iklan yang terpasang semrawut di tiap kampung yang kulalui.

Meski kurasa bahwa pesona kampung dalam benteng ini menyimpan nilai eksotik tersendiri. Sebagai sebuah keunikan arsitektur peninggalan masa kejayaan keraton di masa silam. Yang mungkin bisa menjadi obyek wisata, selain hanya mengunjungi keraton dan museum saja. Hingga kita bisa lebih dalam lagi mengenali budaya kita sendiri, dari tata ruang keraton yang masih tersisa hingga kini.

Sebuah wisata yang bisa dikemas sebagai sebuah jalan-jalan sejarah. Yang mungkin bernama Tour de Bolwerk, atau Muteri Baluwarti.

Dan aku sudah memulainya, seorang diri.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Maret 2011 pukul 22:42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s