Melodi Sunyi 4: Membaca Hikmah Babad Hudaibiyah

Standar

Enam tahun sudah, Rasulullah dengan kaum Muhajirin hijrah ke Madinah. Sudah selayaknya mereka merasakan rindu akan kota kelahirannya, Makkah. Kota yang belum beramah tamah menerima mereka kembali menjadi tuan rumah. Rasulullah berniat ke Makkah untuk menjalankan umrah di sisi rumah suci, Ka’bah.

Bahagia membuncah di hati kaum Muslimin demi mendengar niatan Rasulullah. Datang ke Makkah bagi mereka, bagai mencium bunga wangi namun berbisa. Dipastikan kaum Quraisy yang tak suka dengan ajaran Rasulullah, akan resah penuh curiga. Bahkan bisa saja mereka menduga kedatangannya adalah untuk menyerang Makkah.

Berkumpul beberapa kabilah mengiringi langkah Rasulullah menuju Makkah. Meninggalkan Madinah pada pagi Senin permulaan Dzulqaidah tahun ke enam Hijrah. Berduyun tak terputus sejumlah seribu lima ratus muslimin, bergerak dalam kerapian kafilah. Di Dzul Hulaifah mereka istirah. Melepas baju dan berganti ihram, pakaian umrah.

Kaum Quraisy terkejut mendengar kabar seribu lima ratusan muslimin hendak memasuki Ka’bah. Dikumpulkanlah beberapa kabilah berjaga menjaga jalan masuk Makkah. Khalid bin Walid menghadang dengan sepasukan tentara berkuda, dua ratus orang jumlahnya. Rasulullah tak hilang akal mendengar penghadangan kaum Quraisy di luar kota. Dicarilah jalan melingkar, supaya tak bertemu dengan pasukan tentara berkuda.

Tibalah kafilah Madinah di lembah Hudaibiyyah. Tiga puluh kilometer jauhnya dari arah Makkah. Berhentilah tiba-tiba unta putih Rasulullah, yang bernama Qaswah. Tubuhnya tiarap dan tak bias bangkit lagi seakan-akan benar-benar lelah. Rasulullah menangkap isyarat itu sebagai perintah Allah, untuk mendirikan kemah.

Kaum Quraisy telah bersiap senjata menyambut kaum Muslimin di dalam kota Makkah. Diutusnya Budail bin Waraqa, seorang pembesar kabilah Khuza’ah menuju Hudaibiyyah. Menanyakan niatan Rasulullah dan muslimin berkafilah hendak memasuki Baitullah.

Diterangkan oleh Rasulullah, bahwa mereka berniatan semata-mata hendak ibadah. Sebagai bukti, diperlihatkanlah tujuh puluh ekor unta yang dibawa. Yang hendak untuk qurban selepas umrah.

Setelah jelas masalah, pulanglah Budail bin Waraqa ke Makkah. Namun kaum Quraisy yang sudah termakan syak wasangka dan curiga, tak memercayai laporan Budail, tentang niatan Rasulullah.

Utusan kedua pun diberangkatkan. Mikraz bin Hafs melesat menuju lembah Hudaibiyyah. Dan jawaban yang sama pun didapatkan kembali dari Rasulullah. Namun tetap saja, para pembesar Quraisy tak percaya dengan laporan Mikraz, tentang niatan umrah Rasulullah.

Utusan ketiga pun diberangkatkan. Panglima Al Habsy, Hulaisyi bin Al-Qamah. Dan jawaban yang sama kembali didapatkan. Namun tetap saja pembesar Quraisy tidak memercayainya. Hingga utusan ke empat pun diberangkatkan. Seorang tua bijak cendekian bernama Urwah. Dan jawaban yang sama pun kembali didapatkannya.

Kaum Quraisy Makkah bertambah resah semakin gelisah. Bimbang apakah diijinkan, ataukah ditolak mentah-mentah keinginan Rasulullah memasuki Makkah.

Sementara dari lembah Hudaibiyyah, Rasulullah mengutus Khirasyi bin Umayyah, untuk meminta jawaban dari Makkah. Namun unta yang dikendarainya ditikam orang Quraisy di perbatasan Makkah.

Rasulullah kemudian mengutus Ummar bin Khathab untuk menjelaskan masalah. Namun Ummar menolak titah Rasulullah, dan minta digantikan Utsman bin Affan yang masih keturunan Bani Umayyah. Dengan maksud agar aman selama berada di Makkah. Karena kaum Quraisy juga berasal dari Bani Umayyah. Dan keluarga Utsman adalah orang terpandang yang punya pengaruh besar di Makkah.

Maka sesampai di Makkah, Utsman pun menyampaikan amanat Rasulullah. Bahwa kedatangan mereka benar-benar hanya berniat ibadah umrah di Baitullah.

Setelah berdebat panjang, akhirnya kaum Quraisy mengijinkan. Namun hanya untuk Utsman. Tidak berlaku bagi kaum muslimin Madinah yang dipimpin Rasulullah.

Utsman pun menampik tawaran sendirian berumarh. Ia tak mau berthawaf di Baitullah tanpa muslimin Madinah, tanpa bimbingan Rasulullah.

Sementara nun jauh tiga puluh kilometer di lembah Hudaibiyyah, kaum muslimin terus dilanda gelisah. Karena Utsman sang utusan tak kunjung pulang, bahkan mereka mengira telah ditangap dan dibunuh di makkah.

Untuk membalas pembunuhan Utsman, muslimin Madinah berkumpul dan bersumpah. Di tengah lembah Hudaibiyyah, di bawah rindang pohon besar, mereka berikrar. Bersatu padu mengikatkan hati, dalam Bai’ah Tahtas Syajarah. Itulah Bai’atur Ridwan yang dicatat dalam Syirah. Sebuah perjanjian yang diridhai Allah.

Namun baru saja mereka berikrar, tiba-tiba Utsman yang disangka telah mati di Makkah, pulang ke Hudaibiyyah. Memberitahukan bahwak kafir Quraisy tidak mau membukakan pintu gerbang kota Makkah. Apalagi mengijinkan umrah di Baitullah.

Untuk menghadang muslimin Madinah, datanglah lagi utusan Makkah. Suhail bin ‘Amr, pembesar Quraisy, menemui Rasulullah. Utusan Quraisy kali ini, bukan hendak menanyakan niatan Rasulullah yang hendak masuk Makkah. Namun mengajak Rasulullah untuk bermusyawarah.

Perundingan pun dimulai.

Di bawah rindang pohon, di tengah lembah Hudaibiyyah. Suhail sang saudagar menggunakan taktik perdagangannya dalam bermusyawarah. Watak pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan melimpah, dengan modal yang murah. Hal itu membuat Ummar yang mendampingi Rasulullah geram menahan amarah. Baginya, lebih baik berperang tanding, daripada berunding dengan orang yang serakah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang terkenang dalam sejarah. Perjanjian menghentikan peperangan antara muslimin Madinah dan kafirin Makkah. Sebuah perjanjian yang mencerminkan kebijakan Rasulullah dan strategi Allah. Suhail mewakili kafirin Makkah, dan Rasulullah mewakili muslimin Madinah. Ali bin Abi Tholib sang pemuda cerdas menantu Rasulullah bertugas mencatat hasil musyawarah.

Rasulullah menyuruh Ali menuliskan pembukaan.

“Bismillahi Rahmaani Rahiim. Dengan menyebut nama Allah yang Rahmin dan Rahiim.”

Namun Suahil menolak. Membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Saya tahu Allah, akan tetapi tak mengakui sifat Rahman tau Rahiim. Tuliskan saja Bismika Allahumma. Dengan ini Engkau ya Allah.”

Dengan kebijakannya, Rasulullah pun mengalah. Maka menulislah Ali, ‘Bismika Allahumma’, setelah mendapat anggukan Rasulullah.

Rasulullah kemudian menyuruh Ali mulai mencatakan isi perjanjian.

“Inilah syarat-syaranya, atas nama Muhammad Rasulullah…”

Namun Suail kembali menolak. Kembali membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Jika aku percaya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, aku tak akan memerangi engkau. Tulislah saja Muhammad bin Abdullah…”

Kembali dengan kebijakannya, Rasulullah mengalah,. Maka ditulislah kalimat pembuka, “Muhammad bin Abdullah”, setelah mendapat persetujuan Rasulullah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah, yang dikenang harumnya dalam kitab sejarah.

 

“Bismika Allahumma.

Inilah syarat-syaratnya, atas nama Muhammad bin Abdullah.

Menyatakan perdamaian degnan Suhail bin ‘Amr dari Makkah.

Menyatakan:

Selama sepuluh tahun tidak akan menyerang Makkah, atau menyerang Madinah.

Jika ada seorang Quraisy datang ke Madinah, tanpa disertai wali dari Makkah, maka orang tersebut harus dikembalikan ke Makkah.

Jika ada seorang muslimin Madinah datang ke Makkah, maka orang tersebut tidak diharuskan kembali ke Madinah.

Sesiapapun yang hendak bersekutu dengan Muhammad di Madinah, diberi keluasan sepenuhnya.

Sesiapa pun yang hendak bersekutu dengan Quraisy di Makkah, diberi keleluasaan sepenuhnya.”

 

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang harumnya dalam syirah. Perjanjian yang sempat membuat muslimin Madinah meragukan kerasulan Rasulullah. Perjanjian yang berat sebelah menurut kaum muslimin Madinah. Namun Rasulullah telah menyetujuinya, karena yakin akan kehendak Allah

Selepas pernjanjian di lembah Hudaibiyyah, resah dan amarah merasuk dalam dada kaum muslimin Madinah. Rencana umrah ke Baitullah batal, dengan menahan kecewa mereka pun pulang kembali ke Madinah. Dengan dijanjikan tahun depan bulan Dzulqaidah, mereka akan kembali berumrah.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah pun menerima wahyu dari Allah. Ayat pertama hingga dua puluh sembilan dalam surat Al-Fath.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang dalam sejarah. Perjanjian yang dianggap telah berat sebelah, namun dengan kehendak Allah, menjadi rahmat dan berkah.

 

CATATAN:

sebuah naskah yang tak sengaja aku temukan.

yang kutulis 15 tahun silam.

ketika masih suka menulis cerita anak.

yang kurencanakan sebagai bacaan anak usia SD.

hmmmmm

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 April 2011 pukul 17:43

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s