Catatan Kaki 68: Ketika Penjara adalah Sebuah ‘Tempat yang Mulia’

Standar

Sepanjang perjalanan mengelilingi Baluwarti, banyak hal yang kudapatkan.

Selain pengalaman, pengetahuan, pelajaran, renungan, juga rasa penasaran.

Salah satu yang sempat membuatku penasaran, adalah keberadaan pintu kecil pada tiap pemukiman. Pintu yang seolah menjadi semacam ‘jendela’ bagi para penghuninya untuk berhubungan dengan dunia luar. Sementara orang luar sepertiku tetap tidak bisa masuk ke dalamnya. Apalagi mengetahui seperti apa denyut kehidupan mereka.

Termasuk tentang penghuni yang sekarang mendiami. Apakah mereka masih keturunan leluhur mereka, yang namanya sekarang diabadikan menjadi nama kampungnya. Ataukah sudah orang biasa yang tak ada trah apa pun dalam hubungannya dengan Baluwarti.

Misalnya para warga yang mendiami kampung Baluwarti bagian selatan. Para warga di sana, apakah masih keturunan dari para prajurit keraton. Yang namanya sekarang dilekatkan menjadi nama kampung, yakni Tamtaman, Wirengan, dan Carangan.

Namun selain pintu-pintu kecil yang menawarkan penasaran itu, aku pun terusik dengan keberadaan beberapa Dalem yang masih tersisa. Bangunan tua yang darinya kudapatkan pelajaran tentang sejarah masa silam yang penuh keagungan, kemegahan, kemewahan, dan kebahagiaan. Juga renungan perjalanan jaman yang menyisakan kepedihan.

Dalem adalah bangunan  rumah luas dan besar yang dulunya diperuntukkan bagi para putra raja. Yang bangunannya sangat khas arsitekur Jawa. Lengkap dengan serambi depan berupa aula luas dan megah bernama pendopo. Di belakangnya berdiri rumah besar bernama Dalem, yang di dalamnya terdapat tiga kamar utama. Yaitu ruangan senthong kiwo yang berada di kiri, dan senthong tengen yang berada di sebelah kanan. Dengan di tengahnya terdapat ruangan sakral yang bernama krobongan.

Dan ketika aku jalan-jalan, tercatat ada empat Dalem yang sempat kulihat di lingkungan Baluwarti. Yang pertama Dalem Mloyokusuman, yang berada di timur laut keraton. Tempat di mana makam Ki Gede Solo berada. Kemudian Dalem Brotodiningratan dan Purwodiningratan yang berada di selatan keraton. Lalu Dalem Suryohamijayan yang letaknya kutemukan di barat daya keraton. Tepat pada pertigaan yang merupakan jalan keluar dari Baluwarti, melewati pintu Butulan sebelah barat.

Sementara yang satunya lagi adalah Dalem Sasono Mulyo, yang kudapati berada di barat laut Kamandungan. Yang kalau masuk dari arah barat melewati Kori Gapit, hanya berjarak tak lebih dari 200an meter saja. Berada di kanan jalan melingkar dari arah pintu masuk Kori Brojonolo Lor menuju pintu keluar Kori Brojonolo Kidul.

Dari keempat itu, aku hanya sempat masuk ke Dalem Sasono Mulyo. Karena dari semua Dalem yang ada, hanya Sasono Mulyo yang gerbangnya terbuka. Sementara, yang lainnya tertutup, hanya menyisakan regol sebagai pintu kecil yang sedikit terbuka.

Dan aku tertarik masuk ke dalamnya, karena ada sedikit pengetahuan sejarah yang masih kuingat. Sejarah kelam tentang keberadaan rumah besar yang dari luar terlihat angker tersebut. Sejarah yang sampai ketika meninggalkannya aku masih larut dalam renungan.

Bangunan ini konon didirikan pada masa Paku Buwono IV di atas tanah 11.000 meter persegi. Merupakan rumah yang diperuntukan untuk putranya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi untuk didiami hingga akhir hayatnya. Namun karena Hangabehi kemudian naik takhta menjadi Paku Buwono VIII, ia pun pindah ke Dalem Praba Suyasa di dalam lingkungan keratin. Yang otomatis meninggalkan Sasono Mulyo.

Karena bangunan itu merupakan rumah kediaman putra mahkota, maka kemegahan dan keanggunan pun masih tersisa sampai sekarang. Terlihat pada bentuk bangunan pendopo yang sangat luas (konon berukuran 37 x 25 m), dengan Dalem di belakangnya, dan gandok yang melingkar di sekelilingnya. Gandok-gandok yang sekarang terlihat tak terawat dan tak lagi berpenghuni. Padahal dulunya adalah bangunan untuk menampung puluhan keluarga abdi dalem yang mengurusi keperluan sang putra mahkota.

Bangunan lainnya yang kurasa masih mempesona, adalah loji di sebelah baratnya. Sebuah sisa kejayaan masa silam berupa rumah cantik dan indah hasil perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda. Bangunan penuh ornamen unik yang konon didirikan oleh putra mahkota Paku Buwono X yang pernah bersekolah di Belanda.

Selain bangunan loji itu, aku pun dibuat terpesona dengan bangunan gazebo yang berada di depan pendopo. Yang ketika datang, sempat kulihat anak-anak kecil sedang riang bermain sambil menari di tengahnya. Lemah gemulai gerak tubuh yang meliuk indah.

Melihat keriangan mereka, ingatanku langsung melayang pada kenangan, bahwa Dalem Sasono Mulyo ini dulunya pernah menjadi ‘kawah candradimukanya’ para seniman Solo.

Pada era tahun 1970 hingga 1980an, menjadi ajang seniman tari mengasah kemampuannya. Ketika masih digunakan sebagai kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Kampus yang menjadi cikal bakal terbentuknya Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang dikenal sebagai ISI, Institut Seni Indonesia Solo.

Sambil duduk termenung di bibir pendopo, mata kulayangkan menatap megahnya bangunan yang telah berusia seratusan tahun itu. Bangunan yang sekarang justru lebih mengesankan aura keangkerannya. Terutama karena dinding-dindingnya yang kusam, serta cat pada tiang-tiang besarnya yang memudar. Demikian pula yang kudapatkan dari hamparan tegel hitam, tempatku duduk beristirahat setelah lelah berjalan-jalan.

Namun di antara kesan angkernya yang begitu menonjol, bangunan ini juga menyimpan sejarah kelam. Sejarah yang menyisakan kegetiran dan kepedihan yang dalam.

Sebuah kepiluan sejarah, ketika pada tahun 1965, politik Indonesia dilanda awan merah komunisme. Saat itu, Solo termasuk daerah yang paling ‘merah’ di Jawa Tengah. Maka ketika terjadi kudeta di Jakarta, Solo yang dipimpin oleh seorang walikota dari PKI, langsung menyatakan dukungannya pada Dewan Revolusi Indonesia.

Maka tak heran, ketika kemudian PKI dianggap pemberontak dan harus dihancurkan ke akar-akarnya, Solo pun tak lepas dari imbasnya. Banyak rakyat simpatisan PKI yang kemudian diburu, ditangkap, dipenjara, dibuang, dan dibunuh. Termasuk pemimpin CC PKI, DN Aidit juga terbunuh di Solo, yang kemudian ditembak mati di Boyolali.

Banyaknya simpatisan PKI Solo, membuat pihak militer tak bisa menampung para tapol tersebut dalam penjara. Maka Dalem Sasono Mulyo yang luas kemudian difungsikan sebagai penjara. Penguasa militer menempatkan para tapol di gandok maupun di pendopo. Mereka membangun sekat-sekat menggunakan dinding yang dibuat dari anyaman bambu. Sekat sederhana yang difungsikan sebagai sel-sel penjara.

Konon tercatat, para tapol PKI yang pernah ditampung di Sasono Mulyo hampir mencapai jumlah 2000 orang, dalam waktu yang hanya 2 tahun. Para tapol yang harus tidur beralaskan lantai tegel yang dingin, membuat banyak yang kemudian sakit dan meninggal. Selain karena jatah makan yang sangat sedikit, dan kerja keras yang dipekerjakan untuk membersihkan pasar-pasar, bangunan pemerintahan dan militer.

Kemarin, aku hanya duduk di bibir pendopo tanpa berani masuk ke tengah. Karena dalam kenanganku, yang terbayang adalah peristiwa tragis yang pernah terjadi di sana. Ketika bangunan megah itu menjadi kamp penampungan para tapol PKI. Yang sangat mungkin mereka yang tertangkap kemudian dibunuh itu, menjadi anggota partai hanya karena ikut-ikutan saja. Dan sesungguhnya mereka tak paham apapun tentang ideologi komunisme.

Entah kenapa, karena mengingat peristiwa itu, keangkeran yang sejak awal terasa jadi tambah mencekam. Ketika membayangkan banyaknya tapol yang harus jatuh sakit dan mati, karena luas pendopo yang tak sebanding dengan tahanan yang ada. Membuat mereka harus tidur berdesak-desakan dalam penjara gedeg, beralaskan lantai tegel yang dingin. Ditambah bangunan yang sudah sangat tua dan tak terawat, ketika hujan besar selalu bocor, dan air pun menggenang di semua tempat.

Setelah lama larut dalam renungan, aku pun meninggalkan Dalem Sasono Mulyo. Bangunan tua yang mendadak mengingatkanku pada kenangan sejarah Indonesisa yang kelam. Ketika sebuah idiologi yang konon diajarkan untuk menciptakan kesejahteraan bersama, namun justru menjadi saling membinasakan sesama.

Aku sungguh tak habis mengerti. Ketika sebuah kata suci ‘revolusi’, terpaksa harus memakan dengan beringas ‘anak-anak’nya sendiri. Hingga sebuah tempat yang mulia, terpaksa harus berubah fungsi menjadi penjara.

Karena sesungguhnya, dalam bahasa Jawa, Sasono Mulyo berarti ‘tempat yang Mulia’.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Maret 2011 pukul 22:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s