Melodi Sunyi 5 : Aku Ingin Jadi Cahaya

Standar

Buku yang kubaca ini adalah buku seri kedua.

Buku ini kubeli setelah aku tertarik dengan buku seri pertama. Sekarang sudah terbit buku seri ketiga. Tapi buku yang pertama belum juga aku baca. Dan buku ketiga aku sudah ingin membelinya. Dan sepertinya, selalu begitulah aku adanya.

Sekarang aku sedang membaca buku yang kedua, judulnya ‘Pelajaran dari Tiongkok’. Buku seri pertama judulnya ‘Ganti Hati’, sedang buku seri ketiga berjudul ‘Hati Baru’. Ganti hati bercerita tentang pengalamannya ketika ia mengganti hati. Hatinya yang rusak, diganti dengan hati baru. Hati orang lain, disambungkan ke hatinya yang tak lagi berfungsi. Sementara buku ‘Hati Baru’ mungkin cerita pengalaman setelah sukses mengganti hati. Pengalaman dengan hati cangkokan yang baru. Hati orang lain yang masuk dalam tubuhnya.

Itulah alasan mengapa aku ingin membeli buku seri ketiga. Karena buku ketiga sangat erat kaitannya dengan  buku yang pertama. Dari ketika harus ‘ganti hati’, sampai kemudian benar-benar memiliki ‘hati baru’. Sementara buku kedua yang kubaca sekarang, seperti lepas dari proses dari hati ke hati itu.

Buku ini sebenarnya juga sudah lama kubeli, namun selalu terlewatkan untuk membacanya, karena masih ada buku lain yang lebih menantang, atau lebih kubutuhkan.  Hingga aku memaksanya, dengan membawanya ke kamar kecil. Dan akan kuambil hikmahnya di sana, di tempat aku biasa membuang kotoran. Sebagai penantang pada diriku, kalau sampai buku ini selesai kubaca dan aku tak bisa mengambil apa-apa, berarti aku memang bisanya hanya makan untuk kembali kubuang. Tak lebih, tak kurang!

Sekali lagi, judulnya ‘Pelajaran dari Tiongkok’. Ini cerita pengalamannya selama di negeri Tiongkok sana. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanannya ke dataran Cina daratan itu. Ternyata, sering sekali dia datang ke sana. Dalam setahun, bisa sampai 15 kali kunjungan ke sana. Maka tak aneh, kalau Cina kemudian menjadi sangat melekat dalam hatinya.  Dan diambillah pelajaran yang didapat di sana. Seperti belanja ‘hikmah’, begitulah istilah yang diberikannya.

Maka dari buku itu pun, aku ingin mendapatkan hikmah darinya. Agar aku bisa melakukan seperti yang dikerjakannya. Sesuatu yang baginya sangat sepele, tapi bagiku luar biasa sulitnya. Sesuatu yang sedang ingin kuperjuangkan. Dan segera kulakukan, agar bisa melahirkan kebaruan kehidupan. ‘Aku’ yang baru.

Inilah pelajaran yang sudah bisa kudapatkan, meski baru beberapa halaman kuhabiskan.

Satu. Dia yang super sibuk saja, dengan bermacam perusahaan yang dipimpinnya, masih bisa menuliskan catatan harian. Dan bukan sekadar catatan harian biasa, tapi sesuatu yang selalu penuh makna. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap hari-hari yang dijalaninya. Sesuatu yang kadang tak terlihat mata kita, ternyata dengan jeli bisa ditangkapnya.

Dua. Dia yang super sibuk, bisa meluangkan waktu untuk menangkap keajaiban-keajaiban di sela-sela kehidupannya. Tak melewatkan sedikitpun untuk terus belajar pada kehidupan. Tak ada kata capai, lelah, hingga melewatkan hikmah yang datang padanya.

Tiga. Dia bisa menceritakan sesuatu yang rumit dengan cara yang sangat ringan dan menghibur. Gaya berceritanya renyah, tapi penuh hikmah. Menulis dengan kalimat yang mudah dicerna. Jernih dan efisien. Semuanya penuh dengan informasi, tanpa ada rasa sok tahu dan sok pintar. Selalu memberikan kabar dengan cerita yang menyenangkan.

Empat. Di setiap ceritanya selalu ada pelajaran, yang setiap aku amati, selalu ada ending yang menarik di paragraf akhir. Selalu ada hikmah bahkan kejutan pelajaran di paragraf ujung. Aku selalu menemukan sesuatu yang luar biasa dalam ceritanya yang biasa-biasa saja.

Lima. Dia bisa menuliskan dengan waktu yang sangat mepet. Di mana saja bisa menulis dengan konsentrasi yang sama. Bahkan dengan mutu yang tak beda. Baik di kantor, di perjalanan, bahkan di bandara sambil menunggu pesawat. Tak ada waktu khusus yang benar-benar dikhususkan untuk menulis. Semua waktu sama saja.

Itu pelajaran tentang kepenulisan yang bisa aku ambil, setelah aku membaca sedikit. Aku belum baca semuanya. Baru sekitar 5% mungkin. Tapi hikmah yang bertebaran, semakin membuatku yakin, bahwa menulis adalah memang ibadah.

Ibadah menangkap cahaya, untuk diberikan pada yang lain. Cahaya yang ditangkap, kemudian dibagikan pada yang tak bisa menangkapnya, agar semua terang dalam cahaya. Menulis adalah menangkap hikmah. Dan hikmah itu berguna bagi siapa saja. Bukan hanya yang menangkapnya. Bukan hanya yang menuliskannya. Tapi juga yang membacanya.

Maka kan kukonsentrasikan sepenuh hati, agar aku bisa menangkap cahaya dengan sempurna. Sekali lagi, aku ingin menangkap cahaya. Agar bisa turut serta membagi-bagikan cahaya. Karena rasanya, kebahagiaan itu ada, ketika kita menjadi bagian dari cahaya. Ketika kita menjadi cahaya.

Maka sejak hari ini, sungguh, aku ingin jadi cahaya.

Jumat, 08 Mei 2009

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 12 April 2011 pukul 19:20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s